Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 52



Seperti biasa, Dinda dan Nurul akan selalu berdebat dengan masalah-masalah kecil. Mereka seakan tidak pernah bosan akan pertikaian itu jika sedang berkumpul.


Bahkan di saat mereka berkumpul guna menghibur Rahimah. Mereka seolah lupa apa tujuan mereka sebenarnya berda di tempat itu.


"Perasaan aku, kamu ini gak ada berubah-rubahnya. Dari belum nikah, sampai nikah dan punya anak ... tetap aja perhitungan, gak mau kalah," keluh Dinda menatap Nurul kesal.


"Hehehe, maklum-lah sudah mendarah daging, lagian ini masih ada kok. Tapi kalau kamu 'kan punya banyak kaya gini di resto, jadi gak usah ...!" Nurul tersenyum menyebalkan.


"Tapi, gak gitu juga kaleee." Dinda memutar bola matanya kesal.


"Biarin," jawabnya cuek.


Soraya hanya menggelengkan kepala heran, karena yang mereka ributkan dan debatkan adalah sebuah kue yang Soraya bawa tadi.


Dinda kesal, kenapa Nurul menyimpan kue dalam piring orang-orang hanya sedikit. Sementara kue yang berada dalam piring Nurul lumayan banyak.


Dasar mantan akuntansi, maunya untung sendiri. Gerutu Dinda dalam hati.


Maryam tersenyum samar melihat tingkah keduanya. Ia bersyukur karena tadi mau mengikuti ajakan kakak-kakaknya untuk datang kesini. Setidaknya itu bisa memberi hiburan agar ia tidak berlarut dalam kesedihan.


Tidak jauh berbeda dengan Maryam, Rahimah juga sangat-sangat bersyukur karena Ia di keliling teman-teman seperti mereka. Walau kadang selalu bertengkar tapi ia tahu ... jauh di lubuk hati, mereka saling menyangi satu sama lain.


Saat kebersamaan seperti ini, bersama teman-temannya sejenak Rahimah ataupun Maryam lupa akan kesedihan, walau itu hanya sesaat.


Rahimah terkenang dengan perjalanan hidupnya dulu, dari semenjak sekolah saat ia di bully, saat mala petaka di malam na'as, hingga ia mengandung dan membesarkan Rahman, teman-temannya itu selalu ada untuknya.


Melihat sekelilingnya, menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di sana. Berdoa dalam hati, semoga kebersamaan ini selalu terjalin sampai mereka menua dan hanya maut yang memisahkan.


"Biarin aja tante, kayanya tante Nurul perlu banyak makan deh ... soalnya gak di kasih makan sama orang rumah," celetuk Rayan.


"Enak ajaaa, yang ada tante yang kasih makan orang rumah." Nurul mencibirkan bibirnya pada Rayan.


"Lah, terus? Itu kenapa makannya banyak banget?" Dinda menimpali.


"Soal enak," jawabnya santai.


"Sudah-sudah, jangan ribut. Dinda ... kalau kamu mau, ambil aja lagi." Ustadzah Habibah menengahi.


"Enggak kok, Bu." Dinda menggeleng.


"Ayo nak Maryam, di makan jangan sungkan-sungkan. Tidak usah hiraukan mereka." Ustadzah menyodorkan piring ke hadapannya.


Maryam hanya mengangguk lemah. Ia tidak banyak bicara sama seperti Rahimah.


"Kalian jangan terlalu banyak pikiran, Ibu yakin kita pasti akan menemukan titik terang. Karena banyak orang yang turun membantu." Menatap Rahimah dan Maryam bergantian.


Kompak keduanya mengangguk dan mengaminkan.


...****************...


"Ustadz Abizar, saya minta maaf karena kita belum bisa melakukan belajar mengaji karena keadaan," walau pun Abdar tidak terlalu suka, ia tetap harus hormat. Mengingat jika Ustadz Abizar adalah guru mengajinya.


Abdar juga sebenarnya bingung, dimana letak tidak suka dirinya kepada Ustadz itu. Ustadz Abizar tidak pernah terlipat masalah atau pun berdebat dengannya. Mengingat itu pertemuan pertama mereka.


Tapi semenjak ia mendapati Ustadz Abizar yang pernah mencuri pandang kepada Rahimah, entah kenapa ia menjadi kesal. Padahal ia juga baru pertama kali melihat Rahimah dari jarak dekat di pondok pesantren itu selain di rumah sakit.


Hatinya sudah terpaut pada Rahimah sejak pandangan pertama tanpa ia sadari.


"Tidak apa-apa, mas Abdar. Kita bisa melakukannya setelah keadaan sudah membaik."


"Saya tidak menduga akan bertemu dengan pak Ustadz Abizar di sini," Abdar bersyukur Adit menanyakan apa yang sejak tadi ada di pikirannya.


Sebelum menjawab Ia tersenyum. "Saya juga tidak menduga, tadi Ustadzah Habibah yang mengajak saya ke sini. Tapi karena saya ada kesibukan sedikit, jadi saya menyusul belakangan."


Pantas saja, Ustadzah Habibah ternyata.


Refleks Adit memajukan bibirnya membentuk huruf O. "Ooh."


"Sepertinya anda punya hubungan yang sangat baik dengan beliau?" tidak hanya Abdar, Candra pun meresa penasaran dan mungkin semua orang yang berada di sana.


Ustadz Abizar tidak langsung menjawab. Ia menunduk sambil tersenyum malu. Mendongkakkan kepala dan sedikit melirik ke bagian dalam rumah takut ada yang mendengar jawabannya.


"Emmm, sebenarnya .., Ustadzah Habibah berniat menjodohkan saya dengan Rahimah."


"Uhukkk uhukkk." Seketika Abdar tersedak karena bertepatan saat ia meminum tehnya.


Abdar terkesiap mendengar penuturan Ustadz Abizar.


"Elu gak apa-apa kan?" Adit segera mengusap punggungnya.


Tidak bisa menjawab, ia hanya menggeleng samar. Melihat tingkah Abdar, Adit merasa sedikit curiga.


"Apa dia setuju dengan perjodohan ini?" tanya Adit sambil memperhatikan wajah Abdar yang terlihat tegang dengan ekor matanya.


"Dia belum memberikan jawaban," ujarnya.


Abdar terlihat menghela nafas lega. Adit mengulum senyum saat yakin dengan dugaannya.


"Saya doa-kan yang terbaik untuk pak Ustadz," kata Adit sambil tersenyum tanpa melihat ke arah Abdar.


Sementara Abdar mendelik kesal dengan apa yang di ucapkan Adit. Ingin sekali ia menjitak keningnya.


"Amin, terima kasih atas do'anya."


"Saya juga berencana setelah Rahman di temukan, saya akan segera melamarnya." Aku Ustadz Abizar.


"Uhukkk uhukkk." Lagi-lagi Abdar tersedak mendengarnya karena ia yang minum kembali dan Adit hampir tertawa karenanya tapi segera ia tahan.


"Benarkah itu pak Ustadz?" tanya Adit pura-pura kaget.


Ustadz Abizar tersenyum dan mengangguk yakin.


Kembali Adit hendak bertanya sembari melirik Abdar. "Apa Rahman sudah tahu?" Ustadz Abizar menggeleng lemah.


"Sepertinya Rahman belum di beritahu, tentang masalah ini," paparnya.


"Bagaimana kalau Rahman tidak setuju?" dengan cepat Abdar menyahut karena merasa gemas.


Adit menunduk sambil menyembunyikan senyum bertahannya. Ia sudah lama tidak melihat Abdar yang seperti ini dan ia merasa terhibur.


Abdar melirik tajam pada Adit, ia yakin jika teman sekaligus asistennya itu telah mengejeknya..


"Entahlah, tapi jika Rahman tidak setuju ... Saya akan mendekatinya secara perlahan untuk mengambil Hatinya," ucapnya sungguh-sungguh.


Saya akan menggagalkan rencana anda, PAK USTADZ. Gumam Abdar dalam hati dengan penuh penekanan di kalimat terakhirnya


"Sekali lagi saya do'akan, semoga semua berjalan lancar, aww--" Adit meringis menahan sakit karena Abdar yang menginjak kakinya.


"Kenapa mas?" tanya Ustadz Abizar heran.


"Tidak apa-apa." Melirik ke arah Abdar dengan tatapan yang sangat mematikan. Abdar yang melihat itu balas menatap tak kalah tajamnya.


Membuang pandang, Adit yang kesal kepada atasannya sekali lagi mendoakan Ustadz Abizar, memang sengaja ingin membalas.


Padahal tadi ia mendo'akan tanpa menyebut segala niat Ustadz Abizar, ia hanya mengatakan 'mendo'akan' yang memiliki banyak arti.


"Sekali lagi saya do'kan, semoga niat pak Ustadz di beri kemudahan. Di lancarkan dari melamar dan mengambil hati Rahman," Sembari mengatakan itu, Adit menyimpan kakinya ke sisi lain saat hendak di mangsa oleh Abdar.


"Terimakasih, mohon do'a nya." Mengantupkan kedua tangan di depan dada melirik semua orang.


"Kami juga ikut mendo'akan," Zidan mewakili yang lain. Membuat Abdar melotot tidak terima.


Pembicaraan ringan itu berhenti saat menjelang sore. Mereka memutuskan pulang untuk menyiapkan keperluan penyegrapan.


Sebenarnya pihak polisi menyarankan mereka untuk tidak perlu ikut dalam penyegrapan nanti malam. Tapi mereka tetap memaksa dan bersikeras untuk ikut,. Berjanji tidak akan menggganggu dan hanya memperhatikan dari jauh. Akhirnya pihak polisi pun menyerah.


...----------------...


Seperti rencana awal mereka. Mereka melakukan janji temu dengan polisi di TKP (tempat kejadian perkara).


Mereka memakai mobil yang berbeda, Abdar bersama Adit dan Candra bersama Zidan.


Memantau keadaan dari jarang jauh agar tidak ketahuan. Hanya polisi yang akan bergerak dan mereka menunggu jika di perlukan bantuan.


Satu persatu polisi mengepung tempat tersebut dan bersiap, cukup lama hampir setengah jam mereka memindai.


Merasa tidak ada kehidupan mereka pun bergerak dan masuk. Ternyata rumah telah kosong.


Polisi pun menghubungi Abdar dan Candra untuk melaporkan jika rumah telah kosong. Polisi akan melakukan penyelidikan menyeluruh pada rumah itu.


Abdar dan yang lain meresa begitu kecewa karena mereka yang harus kembali kehilangan jejak.


...****************...


"Kakak, kita mau di bawa kemana? Kok di kasih baju bagus?" tanya Intan memperhatikan baju yang ia kenakan.


"Sepertinya mereka akan membawa kita pergi jauh," kata Rahman khawatir.


"Bagaimana agar kita bisa kabur dari sini?" keluh Intan.


Rahman menghela nafas dalam, sebenarnya ia bisa saja melawan penculik itu dan melarikan diri. Tapi keberadaan Intan yang membuat ruang geraknya terbatas, ia hanya bisa pasrah tidak bisa melawan. Ia akan menunggu kesempatan di perjalanan.


"Sangat sulit jika kita kabur dari sini, karena mereka yang terus berjaga," balas Rahman.


"Hei anak-anak manis, kita bersiap untuk energi." Seorang yang Rahman yakini dialah yang menculik mereka. Sugi.


Mendekat dan mengikat tangan mereka. "Aww," Intan meringis saat tali itu terasa begitu kencang mengikat tangannya.


Tapi Sugi bergeming tidak perduli. Rahman dan Intan di tuntun keluar gudang menuju mobil yang tergolek di halaman rumah.


Rahman memperhatikan keadaan yang terlihat begitu sepi, tidak seperti tadi saat mereka di ijinkan pergi ke kamar mandi yang terlihat orang mandar mandir.


"Masuk." Sugi yang membawanya membukakan pintu mobil.


Sekali lagi Rahman memperhatikan keadaan yang sudah sepi, hanya ada penculik dan satu rekannya yang menata barang di belang mobil.


"Cepat Masuk," sekali lagi Sugi bersuara.


Merasa ada kesempatan Rahman menendang penculik itu hingga terjatuh dan segera menarik Intan menuju pintu pagar.


"Aww, brenggg seek," peliknya.


Temannya di belakang menoleh terkejut dan segera membantunya.


"Kejar mereka," ucapnya sembari berdiri.


Rahman dan Intan yang sudah di depan pagar tak berkutik karena pagar yang terkunci.


"Mau kemana kalian? Ingin kabur?" tanya Sugi sambil mengusap perutnya bekas tendangan Rahman.


"Ini kuncinya, kalian pikir bisa kabur semudah itu?" rekannya yang tidak lain ialah Broto menunjukan kunci dan kembali menyimpan dalam saku celananya.


Perlahan Sugi maju mendekat, tangan yang terikat tidak mengurangi bela dirinya. Rahman sudah bersiap dengan kuda-kuda.


Rahman maju lebih dulu dengan tendangan cepat pada satu orang dan segera beralih ke satunya hingga mereka terjatuh bergantian.


"Aww sial, ternyata di bisa berkelahi," ujarnya sambil memegang perut menahan sakit di perut dan pinggang.


Rahman segera merogoh saku Broto, tapi di tahan oleh si empuhnya badan saat ia sudah menggenggam kuncinya.


Tidak ingin kehilangan kesempatan, Rahman menginjak tangan orang tersebut sekuat mungkin.


"Aaaaa," teriaknya kesakitan sambil melepas tangan Rahman.


Sugi bangkit hendak menangkap Rahman saat mendengar rekannya berteriak. Rahman siaga dengan itu, ia segera memberi tendangan memutar pada penculik yang mendekat.


Intan hanya diam mematung karena ketakutan.


"Intan, ambil," seru Rahman melempar kuncinya di hadapan Intan.


Selagi Intan yang membuka kunci itu, Rahman akan menjadi perisai.


Dengan gugup dan takut-takut Intan mengambil kunci itu dan memasukkannya dalam gembok itu. Karena tangan yang terikat dan pencahayaan yang jauh membuat itu tak mudah.


"Sepertinya mereka ingin main-main dengan kita?" Ujar Sugi bangkit bersama rekannya.


Karena tangan yang di ikat Rahman hanya bisa mengandalkan tendangan.


Melirik Intan yang sepertinya belum berhasil membuka kunci dan kedua penculik yang mendekat bersamaan.


Rahman kembali melakukan tendangan yang ternyata sudah terbaca oleh Sugi. Kaki Rahman tertangkap sebelum menyentuh tubuhnya.


Tidak kehilangan akal Rahman melakukan tendangan ke wajah dengan kaki yang satunya dengan gerakan cepat hingga penculik itu melepas dan terjatuh.


Hilang fokus Broto saat melihat temannya jatuh, Rahman juga melakukan tendangan memutar ke wajah dan tendangan cepat ke perut secara berganti dengan kedua kakinya.


Terkapar kerena kewalahan, Rahman mendekati Intan dan membantu membuka kunci.


Berhasil kunci terbuka mereka pun segera kabur, karena keadaan yang sudah gelap Rahman dan Intan hanya bisa berlari tanpa tahu tujuan.


...----------------...


"Ada apa Ini?" tanya Shandy yang melihat kedua anak buahnya kesakitan terkapar.


Segera bangkit sambil ketakutan. "Ma-maaf bos, me-mereka kabur." Ucapnya sambil menunduk.


"Plakkk." Wajahnya segera menoleh ke samping tatkala sang bos memberi tamparan.


"Lalu kenapa tidak kalian Kejar?" bentaknya.


"Kau, panggil yang lain di gudang bawah tanah untuk membantu. Dan kau, cepat kejar mereka ..!!" Perintahnya dengan marah.


Rupanya keadaan yang sepi disebabkan mereka yang sibuk mengemas nark**a di gudang bawah tanah.


"Baik tuan," mereka berpencar.


Shandy dengan geram ikut mencari Rahman dan Intan hanya bermodalkan cahaya malam dan senter Hp-nya.


Saat ia terus mencari dan sudah lumayan jauh, tidak sengaja melihat beberapa mobil yang mendekat dan bersembunyi. Meresa curiga Shandy pun memperhatikan dan menyimpan Hp-nya.


Ternyata itu adalah pihak kepolisian, lekas menjauh dan menghubungi teman-teman nya untuk kabur dan ia pun langsung kabur sembari mencari Rahman dan Intan.


...****************...


"Sialan, apa mereka sudah tahu jika kita akan datang?" Adit menggeram marah.


"Sepertinya begitu!" ujar Candra.


"Kemana lagi mereka membawa Intan dan Rahman?" tanya Abdar frustasi.


"Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan mereka." harap Zidan.


"Amin," mereka serempak mengamini.


Mereka pun pulang dalam keadaan yang kecewa karena tidak bisa menemukan keberadaan Rahman dan Intan.


Mereka pun seakan tidak sanggup untuk mengatakannya pada Rahimah dan Maryam.


BERSAMBUNG ....


*Hehe, maaf jika ceritanya membosankan dan selalu telat up. Jika tidak suka, saya tidak memaksa untuk dibaca ... tapi jika kalian, mohon berkenan memberi like, komen, gift dan vote nya. Karena itu sangat berharga bagi saya.


Oiya teman-teman, saya mau rekomendasi cerita senior saya yang sangat keren. Mungkin saja kalian akan suka sama cerita Ini, sambil nunggu Rahman up. πŸ€—*



Noormy Aliansyah