Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 21



Sebuah mobil mewah berhenti di parkiran salah satu cafe terkenal di kotanya, sang supir turun membuka pintu lalu keluarlah seseorang yang sangat tampan dengan aura dinginnya.


Berjalan tegas dengan pandangan lurus kedepan tanpa menoleh kekiri dan kanannya, masuk kedalam (Cafe Jomblo) segera di sambut oleh karyawannya.


"Selamat siang tuan." Kata sang manager yang sudah menyambutnya di depan pintu. Selain seorang CEO di sebuah purasahaan besar tempat jasa pengiriman barang, Cristian juga membuka Cafe bertemakan kekinian. Sudah hampir lima tahun ini Ia menjalankan bisnis barunya.


"Hmmm." Jawabnya singat melewati sang bawahan dan menuju ruang kerjanya yang di dalamnya sudah ada seseorang menunggu kedatangannya saat pertama di beri kabar untuk bertemu, dan sang bawahan segera OTW tempat tersebut.


"Selamat siang tuan, ini berkas data yang anda minta." Meletakkan sebuah map di atas meja dihadapan bos tersebut saat Cristisn sudah duduk di kursi kerjanya.


Cristian mengambil map lalu membukanya dengan menawan, memperlihatkan lembaran kertas dengan isi data seorang perempuan yang mana juga ada fotonya sepuluh tahun yang lalu. Merperhatikan seksama, tidak seperti dulu yang hanya sepintas tapi sekarang lebih teliti.


"Selidiki lebih lanjut, tadi Aku melihatnya di kantin rumah sakit tempat Intan di rawat." Ucapnya datar, meletakkan lembaran kertas di hadapannya, setelah lama meneliti data diri wanita itu.


"Pastikan apakah itu orang yang sama atau bukan?" Sambungnya lagi.


"Baik tuan, apa ada lagi yang harus saya lakukan?" Membungkukkan sedikit badannya menunggu perintah.


"Tidak ada." Sangat kentara aura dingin yang di miliki bosnya itu.


Kembali membungkukkan badan dan berbalik untuk keluar dari dalam ruangan.


"Baik, saya permisi tuan." Ujarnya meminta izin."


"Hmmm." Seperti biasa hanya gumaman yang terdengar.


Belum sempat membuka pintu Cristian kembali memanggilnya.


"Tomi tunggu." Segera berbalik mendatangi sang atasan.


"Ya tuan."


"Jangan dulu memberitau Adit. Sebelum kepastiannya kau dapat."


"Saya mengerti tuan."


"Hmm, pergilah." Usirnya mengibaskan tangan.


Menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran kursi, Ia pun duduk memelas dengan santainya. Kembali melirik data diri seseorang, seketika ingatannya melayang pada wanita yang dulu Ia paksa masuk ke dalam kamarnya. Masalah yang sudah lama berlalu, sekarang Ia seolah mempunya hutang ketika melihatnya, dan Ia berniat menyelesaikannya dengan membayar kompensasi kepada wanita itu.


Tapi kemudian Ia teringat saat Ia melihat wanita itu di kantin rumah sakit dengan seorang anak perempuan, dilihat dari poster tubuh anak itu seperti anak usia sembilan atau sepulah tahunan. Tiba-tiba Ia perpikir keras dan menduga-duga, apakah kejadian dulu menyebabkan wanita itu hamil pikirnya.


Menghela nafas secara perlahan, menampik semua praduga yang Ia bayangkan dalam gambaran. Menyakinkan diri bahwa itu semua bisa saja hanyalah sebuah kebetulan. Mungkin Setelah kejadian malam itu, bisa saja wanita itu kembali masuk kedalam kamar lelaki lain dan hamil dengan pria lain. Kata hatinya bermonolog.


Terbukti dengan kekasihnya yang dulu dengan mudahnya menduakannya, hingga berani-beraninya tidur dengan selingkuhannya. Sekarang Ia sudah menyakini bahwa semua wanita itu sama, kecuali Adik dan keponakannya.


Bangkit dari kursi kebanggaan, berjalan menuju kamar yang ada di ruang kerjanya. Menghempaskan tubuhnya ke atas kasur embuk secara kasar, Ia pun di hinggapi rasa kantuk yang begitu melanda. Di tambah lagi Ia yang semalam tidur di kursi merasakan sakit di sekujur tubuhnya dan sekarang menemukan kasur jelas mengobati rasa penatnya.


Hingga akhirnya Ia pun kini tertidur dan berkelana ke alam bawah sadarnya, lelap.. begitu lelapnya.


...****************...


Setelah kemarin Rahman keluar dari rumah sakit, hari ini mereka semua menyempatkan diri untuk mengunjungi ruko peninggalan Ayah nya Rahimah.


Dengan menggunakan dua buah mobil mereka pun berangkat bersama. Rahimah dan Rahman ikut di mobil Ustazah Habibah yang di kemudikan oleh Khadizah, karena kemarin suaminya pulang lebih dulu untuk mencek kerjaannya yang disana jadi Khadizah yang membawa mobil Ibunya.


Khadizah dan Hawa akan di jemput kembali bersama Rahimah juga Rahman esok harinya. Sementara Dinda dan Nurul ikut di mobil Soraya, mereka pergi tanpa suami dan anaknya.


Tiba di depan ruko, Rahimah kembali mengingat kebersamaannya bersama Ibu dan Ayah nya. Perlahan mereka masuk ke dalam ruko bersama-sama.


Melihat setiap sudut ruko itu dengan perlahan kini matanya sudah berkaca-kaca, banyak kenangan yang tersimpan di tempat itu dan kini mulai bermunculan satu persatu.


Ingin rasanya Ia kembali ke masa lalu untuk merasakan kebersamaan yang dulu. Air matanya pun sudah beranak sungai, dengan sekali kedipan saja pipinya menjadi basa oleh karenanya.


"Disinikah dulu Mama di besarkan selain di rumah Kakek dan Nenek?" Pertanyaan sang putra menarik dirinya untuk kembali ke dalam kesadaran yang nyata.


"Iya sayang, dulu Mama selalu di ajak Kakek dan Nenek Kamu kesini, ruko ini sudah bagaikan rumah kedua untuk Mama." Ujar Rahimah sambil mengusap air mata yang sempat terjatuh.


"Apa kita akan tinggal disini?" Sambung Rahman.


"Iya sayang, kita akan menempati ruko ini untuk kita tinggali." Kembali Rahimah memandang semua ruangan yang di penuhi oleh debu juga sarang laba-lapa itu.


"Tapi kalau kalian mau, kalian juga bisa tinggal di rumah Ibu." Sela Ustazah Habibah.


"Enggak Bu, bukan saya tidak menghargai kebaikan Ibu, bukan.. hanya saja sayang sekali jika tempat ini dibiarkan kosong kembali, sementara Saya sudah kembali." Kata Rahimah tak enak hati menolak tawaran Ustazah Habibah.


"Iya gak apa-apa Imah, Ibu mengerti apa maksudmu." Ucap Ustazah Habibah sembari memegang pundaknya.


"Akhirnya kita kumpul lagi di kota yang sama." Celetuk Dinda girang memeluk Rahimah dari samping.


"He'eh, nah berhubung kita bakalan kumpul lagi di sini. Berarti kita bakalan bisa nih bikin butik dan memulai bisnis bersama di sini." Usul Nurul.


"Nanti Rahman deh yang bakal gambar interiornya, gimana?" Sambungnya lagi.


"Untuk saat ini gak mungkin, karena yang harus kita urus adalah kepindahan Rahimah dulu. Baru kita akan bahas masah bikin butik." Timpal Soraya.


"Lagian kalau menurut Aku, bikin butik itu mesti punya tempat yang sangat luas, buat majang patung manekin dan menyediakan beberapa kamar ganti, belum lagi menyediakan ruang kerja dan juga ruang untuk membuat baju."


"Trus kalau tempat ini bakalan jadi tempat tinggal Rahimah dan Rahman sekaligus butik, maka akan sempit walau memiliki dua lantai. Karena kapasitan yang tidak memadai." Semua mengangguk tanda setuju denga apa yang di jabarkan oleh Soraya.


"Biar kita selesaikan dulu kepindahan Rahimah, nanti baru kita bahas lagi masalah butik. Sekalian cari tempat buat kita sewa." Kata Dinda.


"Coba aja yah, ruko yang di sebelah itu di jual, pasti kita bakalan bisa buat butik. Biar jadi satu gituh sama tempat ini." Ujar Nurul tanpa pikir.


"Iya, coba aja yah kalau di JUAL." Kata Dinda penuh penekanan di akhir kalimatnya.


"Setujukan sama pendapat Aku?" Nurul girang karena merasa ada yang sependapat dengannya.


"Setuju dong.. apalagi kalau yang bayarnya itu kamu. Trus yang ngurus penyatuan tempat dan bayar tukangnya itu kamu, setuju banget Aku." Seketika Nurul menggigit ujung lidahnya angkal saat mendengar Dinda berbicara dengan penuh semangat.


"Ish, gak gitu juga kali.. Aku kan cuman ngasih saran." Semua tertawa melihat Nurul yang cemberut. Kecuali Hawa, mereka tidak menyadari perubahan mimik wajah Hawa yang datar dan dingin saat mendengar bahwa Rahimah dan Rahman yang akan menetap di Jakarta.


Membiarkan semua tertawa, dari kejauhan Hawa menatap lekat pada Rahman yang sudah Ia anggap seperti Adik sendiri. Ada keinginan di hatinya untuk melarang Rahman pindah, tapi mulutnya seolah terkunci dan Ia hanya bisa diam.


Cukup lama mereka melihat keadaan ruko tersebut hingga mereka pun memutuskan pulang saat terdengar suara Adzan.


...****************...


Sudah dua hari semenjak kepulangan Rahman dari rumah sakit, tadi malam mereka sudah mengadakan tujuh harinya Pak Ramlan meninggal.


Hari ini setelah Rahman benar-benar sehat mereka memutuskan untuk pulang ke Bandung bersama-sama. Dan saat ini Wahyu sudah datang untuk menjemput mereka.


Seperti biasa, teman-teman Rahimah datang melepas kepulangan mereka, apa lagi karena sudah tau Rahimah akan tinggal di ruko.


Mereka sangatlah heboh dan mereka sangat antusian melepas kepergian Rahimah karena Rahimah pulang untuk mengurus kepindahan mereka ke Jakarta.


Dengan semangatnya mereka menawarkan segala bantuan apa saja, seperti Soraya menawarkan untuk mengurus kepindahan sekolah Rahman di sekolahnya Rayan. Jadi Rahman aman soal teman.


Dinda membantu menewakan mencari jasa mengangkut barang-barang Rahimah dari Bandung ke Jakarta, Nurul juga tidak ketinggakan. Walau pun Nurul sangat perhitungan dengan uang tapi jika Ia melihat teman-temannya yang dengan senang hati membantu Rahimah maka Ia pun turut begitu senang membantunya, suaminya Ari pun tidak melarang selama mereka mampu.


Nurul menawarkan untuk membersihkan ruko Pak Ramlan, dan saat sudah melihat keadaan rukonya Pak Ramlan. Karena sudah sepuluh tahun tidak di huni jadi sangat-sangatlah kotor.


Setelah Nurul melihat keadaan ruko tersebut, tiba-tiba Ia menyerah dan Nurul merubah strategi menawarkan bantuan pada Rahimah. Ia memaksa Soraya yang mengurus membersihkan ruko dan Nurul yang mengurus sekolahnya Rahman. Selain dari segi meteri itu juga tidak membuat Ia terlalu repot.


Di hitung dari menyewa tukang pembersih pasti lebih banyak mengeluarkan uang dari pada mengurus sekolah Rahman, dan Nurul memberi solusi agar Soraya merekrut pegawainya di hotel untuk membantu Rahimah.


Karena usulnya itu sekarang Nurul jadi bahan bully-an mereka, yang sangatlah perhitungan dengan uang. Tapi Nurul selalu saja cuek tidak peduli.


"Tenang aja Imah, nanti kalau kalian datang semua pasti sudah beres." Ujar Nurul mengancungkan dua jempolnya.


"Iya tenang aja kamu Imah, kita percayakan sama bos besar ini." Sindir Dinda halus meunjuk dengan dagu kepada Nurul.


"Amin, semoga aja cepat jadi bos besar." Refleks Dinda menjitak keningnya Nurul karena tidak mengerti sindirannya.


"Aww, sakit DINNDA.. " Teriak Nurul yang membuat Nuri putrinya tersentak kaget dalam gendongannya.


"Hoekk.. hoekk.."


"Cup.. cup.. cup.. sabar ya Nuri karena punya Mama yang kaya toa gini." Ejek Dinda segera bersembunyi di belakang Ari suaminya Nurul.


"Mas Ari Dinda ngejek Aku.." Adunya pada sang suami.


"Kamu ini yah Dinda, jangan ngejek istriku, dia itu bukan tou." Bela Ari.


"Tapi.." Sahut Dinda cepat menyambung kalimat Ari.


"Spiker rusak." Ucap Ari keceplosan.


"Aww aww.. ampun.. ampun sayang, gak sengaja Aku." Kata Ari memelas karena pinggangnya yang di cubit kencang oleh Nurul.


"Rasain, nanti Mas Ari tidur di ruang tengah." Setelah mengatakan itu Nurul berpinda tempat duduk memberi jarak pada Ari.


"Yah.. jangan gitu dong yang, kamu gak kasian apa sama Mas." Ia segera menyusul Nurul untuk membujuknya.


"Ya udah, Mas Ari tidur aja di kamar kita." Seketika senyum merekah terbit dari bibirnya Ari.


"Imah.. Aku ikut Kamu ke bandung." Ari melotot dan ternganga mendengar Nurul yang ingin ke bandung.


"Ya sudah sana, ikut saja kamu ke bandung. Jangan salahin Aku kalau nanti kamar kita bau parfum wanita lain." Acam Ari langsung membuat wajah Nurul pucat.


"Awas yah kamu Mas Ari, kalau sampai berani-berani bawa cewek lain ke rumah dan ada niat dengetinnya..! Aku potong itu Juniormu." Salak Nurul marah, membuat semua mengulum senyum.


"Lagian juga siapa tadi yang mau ikut pulang ke Bandung sama Aku?" Bela Rahimah.


"Gak jadi.. gak jadi.. Aku awasin Kamu Mas Ari, awas nanti." Ujarnya cemberut.


"Enggak lah, gak bakal Aku mau deketin cewek selain kamu. Akukan cuman sayang dan cintanya sama kamu." Ujar Ari mentoel hidungnya Nurul.


"Idih sayang apanya, orang tadi ngatai Aku spiker rusak." Ketus Nurul masih ingat.


"Itu tadi kerjaan Dinda bikin Aku kaget, kalau kamu spiker rusak mana mungkin Aku suka samu kamu." Bujur rayu Ari.


"Sudah gak usah di ambil hati, itu tandanya suami kamu sayang. Karena udah tau kekurangan kamu, juga mau menerima kamu apa adanya bukan karena..."


"Ada apanya." Sambung yang lain di ujung kalimat Rahimah. Semua tertawa kembali yang melihat Nurul tersenyum malu.


"Iya deh, jangan di ulangin lagi yah Mas Ari." Masih dengan cemberut.


"Janji engga sayang. Sini Anaknya Ayah mau di gendong sama Ayah gak." Nuri seketika merentangkan tangannya pada Ari.


"Emm kedua bidadari kesayangan Aku ini." Seraya merangkul Nurul dalam dekapannya.


"Uhh manisnya jadi iri nih kita." Celutuk Soraya.


"Sini biar Aku peluk kamu kalau iri." Segera Zidan memeluk Istrinya sambil tersenyum membuat Soraya juga tersipu malu.


"Apa kamu juga pengen di peluk? Sini Mas Peluk." Wahyu juga ikut-ikutan memeluk Khadizah dan Hawa.


"Aku peluk Nenek aja deh." Kata Rayan mendatangi Ustazah Habibah.


"Aku juga peluk Mama ah." Rahman segera memeluk Rahimah.


"Iya deh yang lagi enak-enakan di peluk." Ucap Dinda masam.


Semua tertawa melihat Dinda dengan kesendiriannya.


Setelah di rasa cukup dengan pertemuan yang singkat itu, Rahimah dan rombongannya pun segera masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereke pulang ke Bandung.


BERSAMBUNG....


Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya saya yang kedua ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.πŸ™


Tinggalkan jejek, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. 😊


Salam sayang


Noormy Aliansyah