Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 42



Langit senja sudah mulai menampakan diri dari persembunyiannya, tidak terasa siang akan segera tergantikan oleh malam.


Sekarang ini Abdar selalu bersemangat jika itu bersangkutan dengan ibadah, kalau waktu pertama Adit yang harus menunggu Abdar untuk bersiap guna pergi ke Masjid ... maka sekarang adalah giliran Abdar yang menunggu.


Bukan karena Adit yang datang terlambat, bukan ... tapi memang Abdar yang bersiap lebih awal dari biasanya. Hingga ia merasakan apa yang Adit rasakan jika sedang menunggunya, membosankan dan jenuh itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya.


Ingin marah, tapi itu adalah kesalahan sendiri karena tidak mengatakan kepada Adit bahwa ia sudah siap.


Tapi kalau pun ia juga mengatankan sudah siap, tetap saja waktu salat magrib belumlah di mulai karena jam baru saja menunjukan 16:45, mungkin masih beberapa menit lagi barulah Adit akan datang karena biasanya Adit datang di antara jam 17:10 dan berangkat 17:30, jika jalanan macet tiba di masjid tidak lama langsung sholat. Abdar hanya menghela nafas pasrah.


"Wiihh, om Dar udah siap aja nih?" tiba-tiba saja Intan mendatanginya dan ikut duduk di ruang tamu di safo yang berbeda.


Mengalihkan perhatiannya dari HP di tangannya ke Intan sejenak, kemudian kembali melirik HP nya sambil bergumam.


"Emang ada masalah?" yang masih di dengar oleh Intan.


"Gak dong, bagus malah! Biasanya'kan jam segini Om Dar itu baru pulang kerja, tapi sekarang udah siap. Jadi kaya, gimaanaaa gitu."


Abdar tersenyum tipis mendengar Intan yang bicara sudah seperti orang dewasa, itu dikarenakan pengaruh Maryam yang selalu menceramahinya di hadapan Intan membuat keponakan itu hampir meniru prilaku adiknya tersebut tapi seketika senyum itu menghilang saat ia menyadari sesewatu yang mengusik pendengarannya


"Om Dar, om Darr ... Om Abdar," ralatnya kesal karena keponakannya itu keukeuh memanggilnya Dar.


"Iih, gak ada bedanya kali Om? Kan itu masih namanya Om Dar," cetus Intan santai sambil membuka toptes kue yang ada di atas meja.


Abdar melotot, keponakannya itu sangat sulit untuk di atur prihal namanya. Tapi bukannya takut Intan malah nyengir sebelum memakan kue bulat berselai nanas di dalamnya.


Mendengus kesal melihat deretan gigi putih Intan, ia kembali mencek kerjaannya melalui HP agar mengisi waktu luang menunggu Adit.


Mereka sudah janjian selepas sholat Ashar tadi bahwa Adit akan datang menjemputnya, bukan Abdar tidak bisa berangkat sendiri hanya saja ia takut melakukan kesalahan saat beribadah jadi ada baiknya ia pergi besama Adit agar mudah bertanya sesuatu dulu yang mungkin saja tidak ia tahu tentang agama baru kemudian melakukannya dan Adit juga tidak keberatan memberi tahu yang diketahuinya.


"Om Dar, besok belajar ngaji'kan?" kembali suara Intan mengudara di ruangan itu, tapi dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Hemmm," sahut Abdar bergumam malas.


"Intan besok juga ngaji lo!" ucap Intan di sela kunyahannya.


"Memang biasanya kamu juga ngaji'kan sama mama-mu?" sahutnya tanpa melirik, Abdar mencoba menghilangkan bosan dengan adanya Intan walau kadang membuatnya jengkel dan kesal.


"Tapi kata mama, kalau besok ada guru ngajinya ... Intan ngaji sama guru aja," menatap ke arah Intan dengan kening berkerut.


"Kenapa bisa gitu? Bukannya mama kamu nyari'in guru ngaji buat Om ...? Kenapa kamu yang akan mengaji besok?" Abdar merasa aneh dengan penuturan Intan.


"Mungkin habis ngajarin Intan, baru ngajarin Om Dar," katanya sambil mengambil kue nastar dan memasukkannya ke dalam mulut, terus menguyah tanpa peduli sekitar.


"Ish, kenapa kamu gak mengaji sama mama kamu saja?" Abdar jelas tidak setuju jika ia harus menunggu giliran.


"Kata mama, lebih bagus itu mengajinya sama guru beneran ... jadi besok mengajinya sama guru aja," ucap Intan dengan kaki yang di naik turunkan ke udara bergantian dengan santai.


"Ya sudah .., besok Om dulu yang mengaji baru giliran kamu," ucapnya.


"Egaklah, Intan dulu dong ... baru giliran Om Dar." Balas Intan.


"Om dulu ... baru kamu," tolak Abdar tidak setuju.


"Yang muda lebih dulu, baru yang tua." keukeu Intan.


Tanpa sadar Abdar sudah berdepat dengan Intan, jika anak buah di kantornya melihat kalau ia yang berdepat dengan anak kecil pasti mereka akan terperangah. Karena yang mereka tahu, bosnya itu adalah orang yang dingin dan tidak banyak bicara.


Entah kenapa sekarang-sekarang ini Abdar sangat suka berdebat dengan Intan, mungkin karena Abdar menemukan Maryam kecil di tubuhnya Intan ... sehingga ia rindu masa-masa dulu.


"Enak aja kamu, yang lebih muda yang harus mengalah." Abdar mulai jengah dengan Intan.


"Yang muda dulu dong ...." dengan menegapkan punggungnya Intan menatap Abdar kesal.


Tidak ingin kalah dari keponakan Abdar juga duduk dengan tegap, balas menatap Intan.


"Yang tua dulu ...."


"Om yang ngalah."


"Kamu yang ngalah!"


"Om ...."


"Kamu ...."


"Om ...."


"Kamu ...."


Perdebatan keduanya terhenti saat kedatangan Maryam.


"Ada apa?" Keduanya tidak menyahut.


Abdar mengarahkan satu tangannya dengan jari telunjuk dan tengah ke matanya dan ke mata Intan. Dengan soron mata yang sama-sama melotot.


"Kenapa sih?" Maryam melihat keduanya secara bergantian.


"Gak kenapa-kenapa." Kali ini kompak keduanya menyahut.


Abdar kembali sibuk dengan HP di tangannya begitu juga dengan Intan, ia kembali sibuk memakan kue.


Maryam heran dengan keduanya yang kompak, "Sayang ... ada apa sih?" bisik Maryam mencari tahu tapi Intan hanya menggeleng sambil menguyah makanannya.


Maryam mendengus kesal karena tidak tahu dengan perdepatan keduanya, padahal tadi waktu ia mendekat sangat jelas mendengar Kakak dan anaknya itu yang saling bilang 'Om-kamu' tapi saat ditanya tidak ada yang meberitahukan.


Maryam sudah membuka mulut ingin mengeluh pada keduanya, tapi belum suaranya keluar suara lain yang datang mendekat seketika mendapat perhatian mereka.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Sahut ketiganya serempak.


"Tumben, lo udah siap?" Abdar segera berdiri dan beranjak saat Adit mendekat.


"Ayo," ajak Abdar sambil menyimpan HP membuat Adit putar haluan, tapi kembali Abdar berbalik saat sudah dua langkah dan Adit menyadari akan hal itu ia pun juga ikut berbalik.


"Kakak berangkat dulu," ujar Abdar menyalami Maryam yang segera di sambut adiknya itu.


Saat Intan menyalaminya, mereka seolah tidak terjadi apa-apa.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Masuk ke dalam mobil sport miliknya yang di kemudikan oleh Adit. Perlahan mobil meninggalkan halaman luas tersebut.


"Gue hampir lupa, loe mau buat syukuran gak di kantor atas berubahan agama sama nama loe? Secara'kan di kantor belum ada yang tau kalau itu udah di ganti!" kata Adit sambil memegang kemudi.


Abdar membetulkan peci putih yang menutupi sebagian rambutnya sebelum menjawab.


"Enggak usah, biar aja dulu ... tunggu sampai gue bisa ngaji dulu baru buat syukuran sekalian."


"Apa gak kelamaan?" Adit melirik Abdar sekilas kemudian kembali fokus melihat jalanan di depan.


"Gak masalah, gue belum bisa mastiin."


"Tapi apa lo bakalan kasih tau para karyawan kalau nama lo udah ganti?"


"Belum tau gue, liat nanti aja." Adit mengangguk-nganggukkan kepala tanda mengerti.


"Berkas-berkas sama KK dan KTP lo udah gua ganti, tadi siang gua taroh di kantor." Abdar mengangguk.


Tiba di halaman masjid, iqomah sudah berkumandang. Kali ini Adit kebagian tempat parkir, mereka segera turun saat mobil sudah terparkir sempurna.


Menuju samping masjid guna mengambil whudu. Mengantri sebentar karena orang-orang yang juga sedang berwhudu lumanyan banyak.


Memasuki masjid Abdar melihat anak kecil yang kemarin sempat menolongnya. Ia agak penasaran dengan wajah yang sedikit mirip dengannya, walau tidak kentara tapi memang ada kemiripannya.


Rahman mengambil shaf di barisan pertama dekat ujung kanan. Adit pun masuk ke barisan pertama, hanya berjarang dua orang dari Rahman tapi tidak dengan Abdar ia memilih tepat di belakang Adit karena ia takut salah jika ikut ke depan.


Seorang imam meminta makmumnya untuk meluruskan dan merapatkan shafnya. Kemudian menyerukan adzan magrib setelahnya menjankan sholat wajib tiga raka'at.


Usai salam imam memimpin do'a yang di amini para jama'ah, kemudian saling bersalaman guna membangun silaturahmi.


Abdar tersentak saat Rahman memangilnya, ia pikir Rahman tidak mengenalinya dan sekarang anak itu mengulurkan tangan hendak bersalaman dengannya.


Tersenyum sambil menyambut tangan Rahman, hatinya bergetar kala Rahman mencium punggung tangannya.


Sebagian jama'ah ada yang pergi dan ada yang menetap, Abdar dan Adit memilih untuk tinggal sampai waktu sholat isya tiba. Beberapa orang memanfaatkan waktu luangnya untuk tadarus dan ada juga berdo'a begitu juga dengan Rahman.


Sebenarnya Abdar ingin ikut mengaji dengan yang lain, tapi minimnya pengetahuan tentang huruf hijaiyah membuatnya urung untuk ikut serta. Jadi ia hanya duduk di samping Adit yang mengaji di pojok sendiri, ikut menyimak apa yang di baca oleh Adit.


Padahal bisa saja jika Abdar ingin minta di ajarkan mengaji pada Adit tapi saran dari Maryam sebaiknya mengaji dengan guru saja itu lebih baik, walau seperti itu yang di katakan Maryam ... terkadang Adit juga memberitahu pada Abdar tentang surat yang ia baca.


Hampir satu jam mereka menunggu, waktu sholat isya akhirnya tiba sudah. Adit memutuskan untuk mengambil whudu bersama sebagian jama'ah yang lain, Abdar mengekor di belakang Adit hingga tiba gilirannya.


Para jama'ah yang tadi sempat pulang juga sudah berdatangan.


Tidak jauh berbeda dari sholat magrib tadi, hanya menambah satu raka'at dan Abdar sudah faham akan hal itu jadi ia tidak bertanya lagi kepada Adit.


Abdar lebih dulu keluar masjid saat selesai sholat dan bersalaman, ia tidak sengaja kembali bertemu Rahman di teras saat menunggu Adit.


"Apa om Abdar akan menyebrang lagi?" tanya Rahman saat berjalan beriringan menuju tempat sendalnya.


"Tidak, mobil om parkir di situ." Rahman mengikuti arah tunjuk Abdar, mengarah kepada sebuah mobil sport mewah dan mencolok.



Rahman mengangguk mengerti. "Apa om akan pulang sekarang?" Abdar menggeleng.


"Om ke sini sama teman, dia tadi ke toilet."


"Apa perlu di temanin?"


"Kalau kamu tidak keberatan?"


"Tidak sama sekali," mereka memilih duduk di anak tangga paling ujung agar tidak mengganggu orang lain yang berlalu lalang hendak pulang.


"Rahman ...." orang yang di panggil lantas menoleh.


"Ada apa, om?"


"Apa kamu hanya tinggal berdua dengan, mamamu?"


"Kenapa om bisa tau?" Abdar sedikit bingung ingin menjawabnya, tidak mungkin'kan ia mengaku bahwa sempat mencari tahu tentang Rahimah yang tidak lain ialah mama-nya.


"Emm ... itu .., waktu om ke rumah kamu, om lihat kalian hanya akan makan berdua!" untungnya Abdar teringat kunjungannya kemarin.


"Iya, om ... kami hanya tinggal berdua ..!!"


"Apa sudah lama kalian tinggal berdua?" Abdar semakin tergelitik untuk bertanya lebih tentang hal pribadi Rahman.


"Engga juga, dulu kita tinggal bertiga waktu di Bandung om," Abdar ingat dengan laporan anak buahnya yang mengatakan kalau Rahimah adalah pindahan dari Bandung.


"Siapa?" ia jadi penasaran.


"Sama kakek!" jawab Rahman.


"Lalu, ayah kamu?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Abdar. Ia tidak menangkap raut wajah Rahman yang sedikit berubah saat di tanya prihal ayahnya.


"Dari kecil saya tidak punya ayah om," Abdar mengutuk dirinya di dalam hati, ia lupa bahwa Ustadzah Habibah pernah mengatakan hal tersebut waktu mengenalkan Rahimah kapan hari itu.


"Maaf om gak bermaksud menyinggung perasaanmu," ucap Abdar menyesal.


"Engga apa-apa kok om, Rahman sudah biasa. Sering di tanyain kaya gitu sama orang-orang yang gak pernah liat ayahnya saya." Abdar merasa kasihan mendengarnya.


"Biasanya kalau ada mbak Hawa, pasti dia yang jelasin sama orang yang tanya-tanya kaya gitu. Kata mbak Hawa saya anak yatim."


"Di sini rupanya?" mendengar ada orang yang mebicara, mereka segera menoleh.


"Gue nyari'in dari tadi. Loh ... kamu anak yang tadi dekat om kan sholatnya?"


Rahman mengangguk, sebenarnya Rahman ingat betul dengan Adit yang kapan mana mereka pernah bekerja sama.


"Tunggu dulu," Adit melihat Rahman dan Abdar bergantian, ia teringat sesutu.


"Kamu yang dulu ikut dengan, pak Candra itu'kan?" Rahman tersenyum mendapat pertanyaan itu.


"Om, juga ingat?" dari pertanyaan itu bisa di simpulkan kalau Rahman lebih dulu menyadarinya.


"Jadi beneran, kamu yang sama pak Candra? Kalau gak salah, Rahman 'kan ...?" Rahman mengangguk mengiyakan.


Abdar yang tidak mengerti menjadi bingung. "Apa kalian saling kenal?" Ia menyimpulkan Adit dan Rahman sudah kenal.


"Ingat sama Pak Candra 'kan?" Adit malah menjawab dengan pertanyaan.


Diam sejenak sebelum menjawab tanda berpikir, Abdar pun mengangguk. "Pak Candra yang membantu kita dalam masalah hacker itu?" ia mencari kepastian apakah orang itu.


"Iya, orang itu. Kebetulan waktu pertemuan dengannya, Rahman juga ikut. Dia anak didik pak Candra." tunjuk Adit.


"Kalau gitu saya pamit pulang om? Kasian mama saya sudah menunggu," Rahman berdiri yang di ikuti Abdar, setelah saling bersalanan Rahman langsung pulang.


"Lo ngerasa gak? Kalau mukanya Rahman tuh, mirip sama lo?" Abdar menghentikan pergerakkannya yang hendak membuka pintu mobil, tersadar saat pintu mobil di tutup oleh Adit.


"Jadi lo, ngerasa dia mirip gue?" Langsung menatap Adit saat Abdar sudah duduk.


"Iya, lumayan mirip. Bukan cuman itu aja kemiripan tuh anak sama lo, fakta yang gua tau ... dia alergi sama udang," Abdar mengerjapkan mata, ia terperangah mendengar itu.


"Gua penasaran sama mamanya, kira-kira siapa ya? Kok bisa samaan alerginya." Abdar diam, ia tidak bisa mengatakan apa-apa.


"Apa jangan-jangaann?"


"Jangan-jangan apa?" tanya Abdar dengan dahinya yang berkerut.


Memiringkan sedikit badannya agar menghadap kepada Abdar, mereka belum lagi pergi dari tempat parkir itu walau sudah lumayan sepi.


"Jangan-jangan, mamanya Rahman itu ... cewek yang dulu pernah tidur sama lo?" Abdar kalah telak mendengar dugaan Adit yang sangat tepat, ia menelan ludah dengan susah payah.


"Kenapa lo jadi berpikir ke situ?" Abdar mencoba bersikap biasa, padahal di dalam hatinya ada sedikit gugup.


"Yaa, siapa tau cewek itu hamil saat dia tidur sama lo ... dan lahirlah Rahman." Ucap Adit sambil membetulkan duduknya dan menghidupkan mobil kemudian pergi meninggalkan halaman masjid.


Abdar berpikir keras guna meresapi ucapan dari Adit, ia teringat tentang percakapannya dengan Maryam kala kapan mana mereka sedang membahas tentang kasus kriminal yang salah satu stasiun TV memberitakan kasus pemerkos**n.


Apakah ada kemungkinan yang di katakan Adit dan Maryam itu sekarang terjadi padanya tanpa ia ketahui sama sekali?


Sepanjang jalan Abdar sibuk dengan pemikirannya, ia masih sulit untuk percaya. Ia pun sudah menyiapkan rencana agar mendapatkan kepastian dari semua dugaannya ini.


BERSAMBUNG ....


Noormy Aliansyah