
Hari ini adalah hari pertama Rahman masuk sekolah baru, karena Rahman satu sekolah dengan Rayan dan memang sekolahnya melewati tempat tinggal Rahman ... maka Soraya memerintahkan supirnya untuk sekalian singgah menjemput Rahman agar ia bisa berangkat bersama-sama dengan Rayan.
Seperti yang sudah tertera di buku rapot Rahman, ia adalah pindahan kelas empat dari sekolah yang berada di Bandung. Saat para guru di sekolah itu memeriksa nilai keseluruhan dari rapot Rahman, para guru di buat takjub oleh nilainya.
Ternyata IQ Rahman antara 225 dan 230. Terbukti waktu Rahman yang baru duduk di kelas satu, langsung loncat kelas menjadi kelas dua. Sekarang pun saat para guru melihat hasil UTS terakhirnya, mereka memutuskan menempatkan Rahman di kelas lima.
Tentu Rahimah di buat kaget atas putusan sepihak dari sekolah baru Rahman tersebut, Rahman yang bahkan baru hari ini masuk sekolah, tapi sudah di naik kelaskan.
Rahimah khawatir, takut akan ada yang menentang putusan itu. Tapi para guru menyakinkan Rahimah, kalau ini demi kebaikan Rahman. Apapun itu, asal demi kebaikan putranya ... Rahimah pasti akan setuju.
Para guru juga mengatakan, Rahman adalah pindahan dari Bandung dan pasti tidak akan ada yang menentang putusan mereka. Jika pun ada, mereka harus berlapang dada ... karena sejatinya Rahman loncat kelas berdasarkan kecerdadannya bukan karena sogokan atau semacamnya.
Rayan yang setahunya umur dirinya tidak jauh berdeda dengan Rahman pun, ikut kaget. Ia sedikit heran, kenapa jauh berbeda jika di kelas sementara umurnya sama. Ia bahkan masih duduk di kelas tiga, sementara Rahman sekarang menjadi kelas lima. Tapi Rayan tidak begitu peduli akan perbedaan itu, ia tetap diam seolah tidak tau menau.
Rayan bahkan sangat senang bisa berangkat bersama dengan Rahman, ia bahkan berniat memamerkan pada teman-temannya, bahwa ia berteman akrab dengan murid pindahan baru.
Rahman bersyukur dengan adanya Rayan, setidanya ia tidak perlu malu karena tidak mempunyai teman di sekolah baru. Sebenarnya teman-teman sekelasnya juga ingin berteman dengannya, hanya saja mereka malu untuk memulainya begitu juga dengan Rahman.
Rahman yang memang tinggi dan berotot, membuat teman sekelasnya tidak tahu jika umurnya baru genap sembilan tahun.
Saat Rahman masuk ke dalam kelasnya, ia baru mempunyai satu orang teman. Siapa lagi, jika bukan teman sebangkunya yang lebih dulu mengajaknya berkenalan dan ingin menjadi temannya.
"Perkenalkan, nama saya Rahman ... pindahan dari Bandung, salam kenal."
Saat Rahman di persilahkan oleh Pak guru, wali kelasnya untuk memperkenalkan diri.
"Salam kenaaaall," jawab mereka serempak.
"Rahman, kamu duduk di situ," tunjuk Pak guru pada sebuah meja paling ujung dekat jendela kaca.
"Baik, Pak," Rahman berjalan ke arah meja yang di maksud Pak guru, setibanya di meja itu.
"Hai, kenalin aku Hasan. Semoga kita bisa berteman baik ...!" Katanya mengulurkan tangan pada Rahman, yang segera di sambut Rahman.
"Rahman, tentu ... dengan senang hati."
"Keluarkan buku pelajaran Bahasa indonesia halaman 141," perintah pak guru menginstuksi mereka.
Semua murid pun segera mengeluarkan perlengkapan belajarnya dan mengerjakan apa yang di perintahkan pak guru dengan patuh. Tidak ada yang bersuara, hingga pelajaran usai.
Bel Istrahat pertama pun berbunyi, saat Rahman hendak keluar kelas ia di kenalkan Hasan kepada kedua temannya yang bernama Iwan dan Rudi, mereka duduk di depan meja Rahman dan Hasan.
Ternyata Hasan termasuk ekstrovert, ia suka sekali berteman dengan orang-orang baru dan juga sangat ramah, hingga selalu membuat Rahman mendapat pertanyaan trus menerus darinya. Tapi jika soal belajar, ia akan langsung serius.
Usai perkenalan, teman-teman barunya Rahman mengajaknya pergi ke kantin sekolah, tidak ada alasan bagi Rahman untuk menolaknya. Ia pun memutuskan untuk ikut, demi menghargai teman barunya ... dan juga ia memang merasa sudah lapar.
Rahman yang membawa bekal buatan mamanya, pun sekalian di bawanya ke kantin untuk menjadi makan siangnya. Di perjalanan saat sudah dekat dengan kantin, tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Kak, Rahmaaann." Teriak seseorang, refleks Rahman menoleh ke kiri dan kanan guna mencari orang yang sudah memanggilnya.
"Kak Rahmaan," kembali terdengar suara panggilan dari seseorang itu, ia pun menoleh ke arah kiri. Dapat Rahman lihat, tidak terlalu jauh ada seorang anak perempuan dengan rambut yang di kepang dua tengah melambaikan tangan kepadanya sambil tersenyum lebar.
Teman-teman Rahman yang juga tadi mendengar namanya di panggil, ikut melihat arah pandangnya sekarang dan bukan hanya mereka yang melihat, hampir semua orang yang berlalu langang ikut-ikutan menoleh.
"Kamu kenal ya, sama anak kelas satu itu?" tanya Hasan heran, pasalnya mereka yang satu sekolah saja tidak terlalu mengenalnya. Tapi Rahman yang baru pindah sudah mengenalnya.
"Enggak, cuman pernah ketemu satu kali," aku Rahman jujur.
"Di mana?" tanya Hasan lagi, Rahman melirik ke arah Hasan dan hendak menjawabnya, tapi tiba-tiba anak perempuan itu sudah mendatangi mereka.
"Kak Rahman, sekolah di sini juga?" dengan senyum yang masih lebar, anak perempuan itu bertanya kepada Rahman.
"Iya," jawabnya singkat.
"Ayo cepetan kita ke kantin," ajak Iwan.
"Aku ikut dong kak?" tanpa mempedulikan perempuan itu, mereka kembali berjalan menuju kantin yang sudah dekat.
"Intaan, kamu mau kemana?" cegah dua orang teman perempuan itu, tapi ia tetap berjalan di belakang Rahman.
"Aku mau ikut kak Rahman ke kantin," ucapnya tersenyum.
"Loh ... bukannya kita habis dari kantin yah?" tanya salah satu teman intan ikut berjalan di samping kiri dan kanannya menggapit Intan.
"Iya, tapi aku mau ajak kak Rahman ngomong dulu," ucapnya berhenti berjalan karena Rahman dan teman-temannya sudah duduk di kursi panjang.
"Ehh, memangnya kamu kenal sama anak baru kelas enam itu?" bisiknya di telinga Intan.
"Heemm." sahutnya.
Intan langsung duduk di sebrang meja Rahman, karena kantin memang belum terlalu penuh ia pun bisa duduk di situ satu meja dengan Rahman.
Tidak ingin sendirian sebagai perempuannya yang duduk di situ, ia segera menarik kedua temannya saat mereka akan pergi.
"Kalian ngapain di sini?" Tanya Rudi tidak suka.
"Gak ngapa-ngapain, cuman mau ikut duduk aja," balas Intan.
"Kita di sini mau makan, kalian kalau sudah makan ... mending pergi," usir Iwan.
"Tapi---," kalimat Intan menggantung karena kedatangan Rayan dan temannya.
"Hei kalian, minggir ... kita mau duduk di sini," usir Rayan, semua menoleh penuh padanya.
"Ayo Intan, kita pergi aja. Lagian kitakan udah makan," ajak temannya tidak enak, karena di tengah-tengah para lelaki.
"Iya oyo ...." sahut teman satunya.
"Tapikan---," Intan di tarik kedua temannya hingga berdiri dan segera menjauh. Kini tinggallah Rahman dan teman-temannya, di tambah kedatangan Rayan bersama kawannya.
"Rahman, kenalin ... ini Kandar dan Yasir, mereka teman-temanku." Rahman pun menerima perkenalan itu, Rayan ikut bergabung duduk satu meja dengan mereka.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Hasan ingin tahu.
"Iya, kita udah kenal lama ... dari bayi malah," sahut Rayan.
"Kok bisa? Bukannya Rahman pindahan dari Bandung?" Iwan ikut menyela.
"Mama kita, temenan dari SD dan sampai sekarang, jadi otomatis kita juga temenanlah," ujar Rayan.
Mendengar pengakuan Rayan, mereka semua hanya bisa ber-ohh ria. Setelahnya mereka pesan makanan, kecuali Rahman. Karena Rahman membawa bekalnya, jadi ia hanya numpang duduk memakan bekalnya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka menyantap makanannya, hanya dengan sekejap makan mereka sudah tandas. Selesai makan mereka pergi dari kantin menuju taman sekolah, tapi sebelumnya Rahman kembali dulu ke dalam kelas untuk menyimpan kotak bekalnya baru pergi ke taman.
"Kak Rahman, aku ikut gabung ya?" tanyanya, kedua temannya sudah berusaha menarik tapi di tepisnya.
"Mau ngapain anak perempuan ke sini? Ini khusus untuk anak laki-laki," dari tadi Iwan memandangnya tidak suka, karena menurutnya anak perempuan ini tidak tahu malu. Sudah jelas-jelas di sini banyak anak laki-laki, tapi malah mau ikut bergabung.
"Mana ada larangan kaya gitu, aku cuman mau ngomong sama kak, Rahman kok."
"Mau ngomong apa kamu sama dia? Jangan SKSD kamu?" ujar Rayan heran.
"Ya ngomong apa aja ... emang SKSD itu apa kak?" tanyanya santai.
"SOK KENAL SOK DEKAT ...." sahut serempang para lelaki nyaring, membuat Intan dan kawan-kawannya terperanjat kaget.
"Ehh, siapa bilang SKSD? Orang aku emang kenal kok sama kak Rahman, iya kan Kak Rahman?" tanya Intan minta dukungan pada Rahman.
"Hanya sekedar tau, tapi tidak kenal," ujar Rahman datar.
"Tuh dengar, mending pergi dari sini. Husss, husss ... husss." usir Rayan tersenyem meremehkan.
"Ish," pekik Intan sambil menghentakkan kaki ke tanah dan pergi dengan cemberut di susul kedua temannya.
Sepeninggal Intan, seperti anak-anak pada umumnya. Mereka bermain apa saja yang biasa di mainkan anak laki-laki, mereka pun memilih permainan kelereng.
Kandar dan Yasir di tugaskan untuk membeli kelereng di warung dekat sekolah mereka dan yang lain menunggunya.
Setelah membeli, setiap anak mengumpul tiga buah kelereng dan di susun di atas tanah yang bergaris segitiga, kemudian mereka masing-masing memegang satu kelereng sebagai alat untuk membidik kelereng di tanah.
Pertama-tama, mereka membuat jarak sekitar dua meter dari tempat letak kelereng berada dan tempat mereka berdiri dengan garis melintang panjang, agar membuat batasan.
Mereka melakukan pinsut, untuk memutuskan siapa yang lebih dulu melempar kelereng agar lebih dekat.
Urutannya Rayan, Iwan, Rahman, Kandar, Hasan, Rudi, dan Yasir yang terakhir.
Rayan melempar kelerengnya dan mendarat di dekat garis segitiga, di susul Iwan di belakang kelereng Rayan. Rahman juga melempar dekat garis, tapi sedikit menjauh dari kelereng mereka.
Kandar tidak ingin kalah, ia juga melempar dan berada di tengah-tengah mereka. Hasan, Rudi dan Yasir pun melempar. Mengikuti urutan, yang pertama membidik ialah Rayan.
Rayan berjongkok dan membungkukkan punggungnya, kemudian menyapit kelereng di antara jari tegah yang di lipat kedalam dan ibu jari yang menahan kelerengnya, di atas permukaan tanah.
Karena kelereng yang di dalam garis segitiga begitu banyak dan Rayan tidak ingin mati di tengah-tengah sebelum bertarung, ia pun memilih target di pinggir. Agar jika ia mengatek kelerengnya untuk mengeluarkan kelereng dari garis, kelerengnya juga bisa langsung keluar.
Memfokuskan pidikannya, bersiap melepas kelereng di tangan.
"Tiingg," kelerengnya beradu dengan beberapa kelereng di dalam garis segitiga, perhitungannya meleset, bukan membuatnya keluar dari garis malah kelerengnya berhambur di dalam ... dan tidak sampai keluar dari garis kecuali kelerengnya sendiri yang menggelinding dari garis segitiga.
Sekarang giliran Iwan, karena bidikan dari Rayan tadi sudah membuat sebagian kelereng hampir keluar garis, maka itu mempermudahnya.
Iwan pun membidik kelereng yang sudah dekat dengan garis dan ....
"Tingg," kelerengnya menggiring kelereng lain keluar, tapi hanya satu. Masih giliran Iwan, ia pun membidik yang lain.
"Tiingg." Kembali ia menggiring satu kelereng keluar dan membuat kelereng yang lain berhambur, tapi tidak dengan miliknya ... kelereng miliknya malah terkurung di dalam garis, membuatnya kalah dan sekarang giliran Rahman.
Peluang Rahman untuk menang terbuka lebar, inilah keuntungan giliran seseorang membidik di tengah-tengah. Jika tidak semua yang ia dapatkan, setidaknya separuh sudah patut ia syukuri.
"Tiinggg," tiga sekaligus dapat di giringnya keluar dari garis begitu juga kelerengnya.
Kembali Rahman berjongkong bersiap membidik, lagi-lagi ia menggiring dua kelereng keluar bersama kelerengnya membuat teman-temannya mendesah pelan karena takut kalah.
Dua lagi di dapatkan oleh Rahman, tapi ternyata itu yang terakhir. Karena kelerenggnya berada di tengah-tengah garis dan sekarang giliran Kandar.
Tidak jauh berbeda dengan Rahman, Kandar juga memperoleh banyak kelereng. Hasan, Rudi dan Yasir hanya kebagian sisa beberapa biji.
Mereka kembali mengulang permainan dan tetap dengan urutan yang sama, sampai beberapa kali mereka mengulang permainan hingga terdengar bunyi bel masuk pelajaran selanjutnya.
Menyudahi permainan, mereka berpisah di dekat kelas Rayan dan masuk je dalam kelas masing-masing.
...****************...
"Untung tuh duit kemaren bisa di tarik lagi, ya ... walaupun enggak semua. Tapi masih untung," ucap Adit kepada Cristian yang tengah duduk di ranjang kamarnya sambil membuka berkas laporan.
"Ya, kita akan meminta bantuan mereka lagi jika hal seperti ini terjadi kembail dengan sistem pelindung keuangan. Apa lo udah bayar mereka?" tanya Cristian tanpa mengalihkan perhatian dari kertas di tangannya.
"Udah, tapi dia balikin lagi separuhnya," seketika Cristian menatapnya bingung saat mendengar penuturan Adit.
"Kenapa di kembalikan?" kata Critian dengan dahi yang berkerut.
"Dia bilang, melihat kerugian kita yang begitu banyak ... membuatnya tidak enak untuk di bayar sebanyak itu," jelas Adit tapi membuat Cristian kesal.
"Ckk, dia pikir uang kita sedikit apa? Sampai-sampai dia berani mengembalikannya?" sungut Cristian tidak terima.
"Kalau dia mengembalikan uang itu, bukan berarti dia menghina lo karna punya uang sedikit ... tapi karna dia ikut prihatin sama kerugian kita," kata Adit yang faham dengan watak Cristian.
"Seharusnya lo larang dia buat ngembaliin uang itu, karna itu uang yang sudah kita janjikan untuk hasil kerjanya," kesal Cristian bersungut-sungut.
"Ya kali lo pilir gue gak maksa? Udah gue paksa tau dia ... cuman dia aja yang keukeuh gak mau," Adit ikut-ikutan kesal di buatnya.
"Lain kali tetap paksa dia sampai dia mau menerimanya." Kembali berkutat dengan berkas-berkas.
"Iya, faham gue," ucap Adit malas, dengan sengaja ia berbaring di samping Cristian.
"Ngapain lo tidur di kasur gue?" Cristian menatap tajam pada Adit, tapi Adit bergeming dengan mata yang terpejam.
"Hei, Adiiiit ... cepetan lo bangun, pergi dari ranjang gue," usir Cristian menahan geram.
"Biarin gue tidur dulu, tadi malam gue begadang ... dan sekarang gue ngantuk banget." Ucapnya memelan setengah sadar.
"Emang lo gak kasian apa sama gue? Gegara selalu begadang dan bekerja gue jadi ikut-ikutan jomblo kaya lo karena gak bisa cari pacar dan selalu bekerja di waktu libur gue," gumamnya lagi dan setelahnya hening, beberapa detik berikutnya terdengar dengkuran halus dari Adit.
Cristian hanya bisa menghela napas pasrah, karena yang di katakan Adit memang benar. Ia selalu meminta bantuan pada Adit, walau mereka tengah bertengkar tapi atas nama atasan ia tetap memerintahkan Adit.
Akhirnya Cristian membiarkan Adit tidur dan ia kembali pada kerjaan yang di bawakan Adit ke rumahnya.
BERSAMBUNG ....
Semuanya mohon dukungan, ๐ bantu like, komen dan gift ... kalau berkenan ngasih vote, aku terima dengan suka rela dan senang hati.๐ Dukungan kalian begitu berharga bagi aku, ku do'akan semoga rejekinya di perluas oleh Allah SWT. dan selalu di beri kesehatan lahir, batin. Aminn yarobb๐คฒ๐ค
Buat yang sudah ngasih, aku ucapkan banyak-banyak terima kasih๐๐
Salam dari Urang Banua๐
Noormy Aliansyah