Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 64 Nasehat dan Mimpi



Esok harinya ....


Rahimah sudah pulang ke rumahnya usai Rahman pulang sekolah, tidak ada banyak kegiatan yang ia lakukan selain menjahit dan membuat baju, karena itulah kemampuan yang lebih menonjol dari dirinya.


Kali ini yang dijahit Rahimah adalah celana sekolah putra-nya, tadi saat dijalan menuju rumah mereka Rahman sempat bercerita, kalau celananya robek ketika membuka kaki hendak menunggangi sepeda.


"Sepertinya, celana kamu memang harus diganti, nak," kata Rahimah tanpa melihat Rahman.


Putra tunggalnya itu tengah memperhatikan sang mama duduk dikursi tunggal di samping mama-nya yang tengah menginjak nginjak mesin jahit dan tangan yang bergerak-gerak lincah.


"Tapi masih bisa kok, buat dipakai besok. Gak papa'kan kalau besok aja mama belikan?" Membolak balikkan celana agar memastikan tidak ada lagi yang perlu dijahit.


"Iya, gak papa kok ma," jawabnya.


"Gih, tidur dulu sebenar. Nanti pergi latihan'kan?"


"Iya, ma ... Rahman tidur dulu," pamitnya meninggalkan Rahimah.


"Oiya ma, apa sekarang mama kembali mengajar Intan?" tanya Rahman sambil berbalik.


"Iya, mama ngajar lagi, gak papa'kan?" balas Rahimah.


"Hmm." Gumam Rahman sembari mengangguk samar yang dibalas senyum tipis Rahimah.


Lantas kembali melanjutkan langkahnya. Rahimah memandang punggung Rahman yang menaiki anak tangga, ia pun seketika teringat tentang apa yang dikatakan oleh Ustadzah Habibah tiga hari yang lalu.


Bahwa Abizar sudah mengetahui asal usul Rahman dan tentang niat Ustadz itu ... mau menjadikannya seorang istri.


Sebenarnya ia sudah menolak, tapi Ustadzah Habibah selalu menasehati tentang keuntungan sebuah pernikahan.


.


"Menikah merupakan salah satu dari Ibadah dan sebagai penyempurna agama."


"Apabila seorang hamba menikah maka telah sempurna separuh agamanya, maka takutlah kepada Allah SWT untuk separuh sisanya. (HR. Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman)."


"Sebagai orang yang mengaku umat Rasul, tentu kita juga ingin melaksanakan sunah Rasul."


"Dari Aisyah r.a., ia berkata, Rasulullah swa. bersabda, 'Menikah itu termasuk dari sunahku, siapa yang tidak mengamalkan sunahku, maka ia tidak mengikuti jalan ku. Menikahkan, karena sungguh aku membanggakan kalian atas umat-umat yang lainnya, siapa yang mempunyai kejayaan, maka menikah-lah, dan siapa yang tidak mampu maka hendaklah ia berpuasa, karena sungguh puasa itu tameng baginya.' HR. Ibnu Makan."


"Menjaga diri dari hal-hal yang dilarang."


"Dalam islam, pernikahan merupakan hal yang mulia, karena pernikahan merupakan sebuah jalan yang paling bermanfaat dalam menjaga kehormatan diri serta terhindar dari hal-hal yang dilarang oleh agama."


"Sebuah pernikahan akan memelihara serta melindungi dari kerusakan serta kekacauan yang ada di masyarakat."


"Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberi mu rizki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?"


"Kita bisa membangun generasi beriman."


"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan. Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya (QS. At-Thur ayat 21)."


.


Setiap kalimat dan ayat yang Ustadzah Habibah sampaikan masih terngiang-ngiang membuat Rahimah merenung.


 


Sudah tiga malam ini Rahimah selalu melakukan sholat istikharah, meminta petunjuk tentang keputusannya dan baru tadi malam ia bermimpi sesuatu.


Di dalam mimpi, ia tengah dirias dan menanti acara pernikahannya sendiri, kemudian ia melihat kedua orang tuanya yang duduk tidak jauh dari tempatnya duduk menunggunya di dalam ruangan yang sama. Memandangnya dengan senyum bahagia, membuatnya merindukan kedua orang tuanya. Tadi pagi akhirnya ia sempatkan ziarah ke makam, guna mengobati rindu itu.


Tapi entah mengapa ia masih terbesit keraguan tentang lamaran Abizar, mungkin karena ia belum bertanya kepada Rahman tentang pendapat anaknya itu. Pikirnya.


Ia berniat membicarakan ini kepada Rahman nanti malam, agar ia bisa membuat keputusan secepatnya, dan tidak membuat Ustadz Abizar menunggu jawabannya terlalu lama.


.


...********************...


.


.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam. Mbak Imah, pak Ustadz ... mari masuk." Ajak Maryam sopan yang langsung diikuti Rahimah dan Abizar masuk kedalam rumahnya.


Semenjak berangkat dari rumah sebenarnya Rahimah merasa canggung berdekatan dengan Abizar, ia meresa rendah diri dan malu karena Abizar yang berniat meminangnya.


Sedang orang itu tahu keadaannya, bagaimana nanti pendapat keluarga Abizar jika tahu tentang dirinya.


Jika bukan karena terikat janji dengan Maryam, ingin rasanya Rahimah menghindar dari kedua pria di hadapannya itu.


Ia bagai berdiri di antara masa lalu dan masa depan, ia jelas ingin bahagia dimasa depan bersama Rahman. Jika menikah dengan Abizar bisa menjemput kebahagian itu, ia akan pasrah untuk menerimanya. Tapi melihat status Abizar yang seorang Ustadz membuatnya minder dan tidak yakin akan keputusannya itu.


Menengok masa lalu sedikit demi sedikit ia sudah mulai bisa melupakan kesedihan, rasa sakit dan penderitaan, apalagi melihat tangan kanan Abdar yang di gendong. Jika Abdar adalah orang yang menorehkan luka yang dalam di hidupnya, dan sekarang tanpa sengaja Abdar sudah menyembuhkan luka itu. Tapi walaupun begitu ia merasa terjepit ditengah-tengah antara Abdar dan Abizar.


"Silahkan non," Rahimah tersadar ketika seorang pelayan mempersilahkan mereka minum.


"Minum dulu Mbak, pak Ustadz ... baru belajar mengaji," suruh Maryam yang di balas senyum sungkan dari Rahimah dan anggukan Abizar.


"Terimakasih," ucap mereka berbarengan.


Dari tadi Abdar memandang Rahimah dengan pandangan yang sulit diartikan. Sebenarnya Rahimah sadar dengan itu hanya saja ia mencoba bersikap biasa.


"Apa boleh, kita mulai sekarang?" Rahimah bersyukur Abizar mengajukan pertanyaan itu. Ia merasa malu jika terus dipandang oleh Abdar.


"Iya, silahkan pak Ustadz," izin Maryam.


"Ayo tante, Imah." Intan langsung menarik tangan Rahimah dan membawanya pergi masuk kamarnya.


Selama proses mengajar Rahimah tersenyum memandang Intan yang sangat pandai dalam menyerap pelajaran, ini artinya Intan akan segera selesai dalam membaca Iq'ro.


Lain Rahimah ... lain pula Abizar, ia mah sering sekali menegur Abdar yang selalu salah baca. Raga Abdar mungkin di sini, tapi jiwanya seperti berkelana entah kemana.


Rahimah dan Intan lebih dulu selesai mengaji, mereka pun menunggu Abdar dan Abizar di ruang tamu. Karena masih banyak yang salah dalam bacaan Abdar membuat Abizar lebih lama memgajarinya.


"Oiya mbak Imah, kalau gak salah mbak Imah bisa buat baju'kan?" tanya Maryam teringat.


"Iya."


"Kalau gitu bisa dong, buatin aku baju biar samaan sama Intan?"


"Insya Allah, bisa. Memang baju yang seperti apa?" balas Rahimah.


"Sebenarnya baju buat buat lebaran, tapi masih lama ya?"


"Iya, masih lama ... kurang dari setengah bulan lagi kita akan masuk bulan rajab. Jadi terhitung dua bulan lebih baru Ramadhan," jelas Rahimah.


"Berarti tiga bulan lebih lagi dong ya, baru lebaran? Hehe, maaf ya Mbak, aku kurang hafal kalau bulan arab," aku Maryam jujur sambil cengengesan.


"Tidak apa-apa, saya juga terkadang lupa," jawab Rahimah merendah.


"Mama payah, Intan aja tau nama-nama bulan arab," celetuk Intan.


"Oya, Intan tau dari mana?" Rahimah pura-pura terkejut.


"Dari TK, tante. 'Kan selalu di nyanyikan setiap hari, jadi Intan ingat," ujar Intan bangga.


"Coba, Intan sebutin ... mama jadi penasaran, kamu masih ingat apa engga?" tantang Maryam karena dikatakan payah oleh anak sendiri.


"Mu-haram .., safarr .., rabbiull awall ...," Intan menyebutkannya sembari menyanyi menimbulkan efek jeda dan merendam disetiap kalimatnya, tidak lupa juga menggunakan jari-jarinya menghitung setiap bulan.


"Rabbiull akhirr .., rajab .., saba'an .., ramadhann .., syawal, zulkaidah dan dzulhijjah."


"Loh, kok cuman sepuluh ya?" Intan menggaruk kepala yang tidak gatal. Ia terlihat bingung, kenapa itungan bisa kurang dua.


Rahimah tersenyum tertahan melihat wajah kebingungan Intan.


"Kayanya, jumadil awal dan jumadil akhir ketinggalan deh," sahut Rahimah mengingatkan.


"Ooiya, Intan lupa, hehe," Intan tersenyum malu.


"Hem, siapa tadi bilang mama payah?" ujar Maryam menaikkan turunkan kedua alisnya menggoda Intan.


"Tapi masih mendingan Intan tau?" Intan tidak mau kalau.


"Iya, iya ... anak mama emang yang paling pinter." Puji Maryam sambil memeluk dan menciumi Intan


"Ihh, mama," protes Intan karena terlalu banyak dicium.


Rahimah memandang keduanya dengan senyum mengembang.


"Tapi, gak apa-apa 'kan mbak ... kalau misalnya aku buatnya kecepatan?" Sekarang Maryam menoleh kepada Rahimah sembari mengurai pelukannya pada Intan.


"Gak apa-apa kok, tapi kalau memang ingin dibuatkan sama Mbak? Memang bagusnya membuat di awal saja ... biar gak mentok sama yang lain. Mungkin nanti teman-teman mbak juga minta dibuatkan, semisal berbarengan dengan mereka yang ada mbak akan kerepotan," papar Rahimah panjang lebar.


"Iya deh, aku minta buatkannya sekarang saja."


"Ekhemm." Belum Maryam menjawab, mereka sudah dikagetkan dengan kedatangan Abdar dan Abizar.


"Lagi bahas apa?" tanya Abdar saat sudah dihadapan mereka.


"Ini loh kak, aku pengen minta dibuatkan baju sama mbak Imah, dan lagi bahas kainnya," jawab Maryam cepat.


"Yaah .., tapi kayanya gak sempet, kerena mbak Imah keburu akan pulang. Apa gak nanti aja, mbak Imah pulangnya?" sambung Maryam lagi dengan kecewa sekaligus bertanya.


"Emm ... gini aja deh, gimana kalau Maryam besok datang aja kerumah mbak. Sekalian kamu dan Intan ngukur badan buat baju, gimana?" bujuk Rahimah memberi solusi.


"Iya deh, gak papa. Jam berapa Mbak, aku ke tempat Mbak?"


"Kamu bisanya jam berapa."


"Gimana pas aku jemput Intan pulang sekolah aja, mbak?"


"Bisa."


"Oke deh."


"Emm, mas Abi ... apa sebaiknya kita pulang sekarang?" Abdar memandang sinis mendengar Rahimah memanggil Abizar dengan sebutan mas.


Rahimah sebenarnya masih memanggilnya Ustadz, tapi ketika Abizar menjemput untuk berangkat bersama, ia memintanya untuk di panggil mas, dan Abizar juga mengingatkan jika perkenalan pertama mereka di pondok pesantren waktu itu ... Rahimah sempet memanggilnya mas beberapa kali. Rahimah tidak terlalu ingat, tapi akhirnya dengan terpaksa ia menurut.


"Ya, mas pikir juga seperti itu, kita bisa pulang sekarang."


Abdar kesal, memutar bola mata malas mendengar mereka berdua sedang lempar kata yang membuat hatinya meradang.


"Maryam, mbak pulang dulu. Sampai ketemu besok lagi." Bersalaman sambil cipika cipiki.


"Iya Mbak, makasih buat hari ini," balasnya.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam." Kedua pergi diiringi tatapan tidak suka dari Abdar, karena melihat mereka yang jalan berdampingan walaupun ada jarak diantaranya.


.


...****************...


.


.


"Kenapa sih, kok melamun mulu kerjaannya?" Rahman tersentak kecil ketika tepukan yang cukup keras mendarat dipundak nya.


"Hah, gak papa kok," elak Rahman.


"Gak usah bohong sama kita-kita, aku perhatikan sudah tiga hari ini kamu banyak melamun. Apa ini ada kaitannya sama penculikan Kamu?" tanya Hasan yang tadi menepuk pundaknya.


"Emang aku sering melamun ya?" tanya Rahman sambil melihat semua teman-temannya yang dibalas anggukan serempak dan jawaban yang sama.


"Iya," jawab mereka berbarengan.


Rahman menghela nafas dalam, sekarang ia dan kawan-kawan tengah istrahat sebentar di depan gedung dojang sebelum pulang bersama.


"Ayo cerita, jangan di pendam sendiri?" timpal Iwan.


"Bukan karena penculikan itu," elak Rahman.


"Terus apa? Kalau kamu takut, kami akan membocorkan cerita kamu sama orang-orang ... maka kamu salah, karena kita gak bakalan mulut ember kaya anak cewek," ujar Rudi.


"Ya, betul itu." celetuk yang mereka setuju.


"Emmm, menurut kalian ... apa buruk jika punya ayah tiri?" semua terdiam dan saling pandang satu sama lain.


"Kalau itu, Hasan yang lebih tau," sedetik kemudian Iwan bersuara.


"Jadi, ayah kamu sekarang ayah tiri?" tanya Rahman sedikit terkejut.


"Iya, dan sudah dua tahun ini dia punya ayah tiri," sahut Kandar.


"Ayo San, cerita pengalaman kamu sebagai orang satu-satunya yang ber-ayah tiri disini," ujar Rayan.


"GAK ENAK," dua kata itu meluncur begitu saja dari mulut Hasan.


"Kenapa gak enak?" tanya Rahman penasaran begitu pun yang lain.


"Dengar ya kalian, waktu tuh si ayah tiri pengen nikah sama mama aku ..... Bheeeh, baiknya gak ketulungan," semua menyimak tanpa ada yang menyela.


"Tu liat." tunjuknya ke arah sepedanya yang langsung dilihat mereka.


"Mau tau gak, siapa yang beli'in?" reflek semua mengangguk.


"Ayah tiri," jawabnya pendek.


"Sampai si ayah tiri udah nikah, dia juga tetap baik. Sehari ... seminggu ... dua minggu ... bahkan sebulan ... tetap aja baik," cerita Hasan ini malah membuat mereka bingung dengan jawabannya tadi.


"Terus ... dimana gak enaknya? Itu malah bikin enak tau ...," sungut Yasir.


"Gak enaknya tuh, pas malem. Aku kan pernah tuh, ketuk pintu kamar mama gegara laper minta dimasakin ... eh malah dimarahin sama ayah tiri." ucapnya dengan mimik wajah kesal.


"Emang kamu minta masakinnya jam berapa?"


"Emmm, kalau gak salah jam satu."


"Huuu," sontak saja Hasan langsung mendapat dorongan keras dari kawan-kawannya.


"Gak cuman si ayah tiri yang marah, ayah kandung juga bakalan marah, dasar," kata Kandar bersungut-sungut.


"Hehehe." yang dibalas tawa menyebalkan dari Hasan.


...****************...


.


.


Malam harinya ....


"Rahman, mama boleh bicara sebentar?" tanya Rahimah ketika membuka daun pintu.


Saat ini Rahman sudah siap untuk tidur, tapi tiba-tiba mama-nya datang mengetuk pintu. Ia pun bergegas duduk dan mengangguk.


"Boleh kok, mah," jawabnya.


"Begini ... eemmm, sebenarnya ini masalah yang serius," kata Rahimah membuka percakapan.


"Iya, bicara saja ma, Gak papa kok ma?" Rahimah segera duduk di samping Rahman dan langsung menggenggam tangan yang besarnya sudah hampir sama dengannya.


"Apa kamu gak keberatan, jika mama menikah?" tanya Rahimah menatap lekat Rahman.


Rahman tersenyum lembut membalas tatapan mama-nya. Berkat pertanyaan Ustadz Abizar tiga hari lalu, dan Abdar kemarin ... menjadikannya tidak terlalu terkejut. Karena yakin akan ada pertanyaan yang serupa dari ibu kandungnya itu.


"Rahman gak keberatan sama sekali ma, jika itu bisa membuat mama bahagia ... maka Rahman pasti akan mendukung mama."


Rahimah terharu mendengar jawaban putranya, matanya bahkan sampai berkaca-kaca. Ia mengusap sudut matanya dengan ibu jari.


"Mama gak mau kalau kamu setuju hanya karena keterpaksaan, yang mama mau ... kamu bicara dengan apa yang hati kamu katakan dan dinginkan." Rahimah tidak ingin gegabah dalam sebuah keputusan.


"Insya Allah, ma. Rahman setuju bukan karena keterpaksaan, tapi karena hati Rahman memang demikian."


"Kamu serius dengan jawaban Kamu?" tanya Rahimah memastikan.


"Iya, Rahman serius." jawabnya cepat.


Hening sejenak.


"Apa kamu keberatan, jika Ustadz Abizar menjadi ayah Kamu?"


"Rahman gak keberatan," ucapnya sembari tersenyum membuat Rahimah ikut tersenyum.


"Tapi ...."


"Tapi apa?"


Rahman teringat pertanyaan seseorang yang membuat ia gelisah.


"Bagaimana, jika ayah kandung Rahman datang?" pertanyaan itu menohok Rahimah.


BERSAMBUNG ....


Hai teman-teman yang masih tetap setia dengan cerita Rahman 👋. Tunjukan dirimu dengan memberikan like👍, komentar📢, atau dengan sukarela memberi gift🌹dan kopi☕ ... agar saya tahu bahwa kalian ada, karena jika kalian tidak menekan like dan lain sebagainya jejak kalian enggak akan terlihat sama saya. Jadi jika ingin dilihat maka lakukan yang saya katakan tadi.😁 Hehehe maaf kalau kesannya memaksa, 🙈. Yang selalu mendukung saya ucapkan terimakasih, salam sayang ....


Noormy Aliansyah 😘😘