
"Om Abdar kenapa?" Tanya Intan heran sambil berjalan masuk diikuti Rahman dibelakangnya.
"Nggak kenapa-napa kok sayang, tadi om kamu terpeleset." Kata Rahimah menahan tawa.
Abdar yang sadar Rahimah mentertawakan segera berbisik. "Awas kamu nanti malam," ancamnya.
"Nggak takut, orang masih halangan," balasnya Rahimah berbisik sok berani.
Abdar tersenyum kecut, jika nanti malam ia balas dendam ... yang ada ia sendiri yang tersiksa.
Rahimah cekikikan melihat wajah sang suami yang berubah kecut.
"Sakit nggak Om?"
"Sedikit," jawabnya pendek.
"Ma," panggil Rahman.
"Iya sayang?"
"Kata tante Maryam, makan siang sudah siap." Jelas putranya menyampaikan tujuan kedua bocah tersebut.
"Oh, iya sayang. Ayo kita keluar." Ajaknya sambil merangkul Rahman dan Intan.
Abdar menghela nafas kesal dan langsung menyusul ke ruang makan sambil tangannya terus menusap ngusap bok0ngnya.
"Ayo mbak Imah, kita makan siang dulu." Kata Maryam sembari menuangkan air ke dalam gelas-gelas.
"Maaf ya Maryam, mbak nggak bantuin tadi," sesal Rahimah tidak tahu.
"Nggak apa-apa mbak, ada bibi yang bantuin," terang Maryam.
"Ayo semuanya, kita makan dulu." Mereka pun menurut patuh, karena memang juga sedang lapar.
Tidak ada yang bicara selagi makan, Maryam memang sudah diberi tahu oleh Abdar tentang kebiasan Rahimah dan Rahman ketika makan dengan diam. Intan yang juga sering ikut sarapan di rumah istri om itu pun menjadi terbiasa.
Selesai makan mereka duduk di ruang tamu sambil membahas rencana resepsi pernikahan Rahimah dan Abdar.
"Aku dengar dari kak Adit, kakak sudah mengurus persiapan pernikahan ya?" tanya Maryam.
"Ah bukan, lebih tepatnya kakak menyuruh kak Adit untuk mengurus persiapan pernikahan kalian?" ralat Maryam kemudian.
Abdar hanya nyengir tidak menjawab, membuat Maryam mendengus kesal. Rahimah yang tidak tahu apa-apa pun tidak berani menyahut.
"Ck, kakak tega amat sih sama kak Adit. Masa dia ngurus sendiri?" ketusnya.
"Siapa bilang dia ngurus sendiri? Ada Tomi dan Hasna yang membantu," jawab Abdar cepat.
"Tapi kata kak Adit, dia ngurus sendiri!"
"Dibohongi kamu sama dia."
"Emm dasar kak Adit," kesalnya bergumam.
"Terus kapan rencananya, kak Adit tadi nggak sempat ngasih kabar ... keburu rapat."
"Seminggu lagi."
"Kalau gitu, mbak Imah sama Rahman tinggal di sini aja dulu. Nggak keberatan'kan mbak?"
Rahimah melirik Rahman meminta pendapat, yang dibalas dengan mengangkat kedua bahunya, tanda terserah saja.
Ia pun kembali melirik Abdar, dan Suaminya itu mengangguk sambil tersenyum simpul.
"Ya, kami tidak keberatan," ujar Rahimah pada akhirnya.
Mendengar jawaban Rahimah, Abdar tersenyum misterius. "Rahman, bisa kita bicara sebentar?" tanya Abdar menoleh pada sang putra.
"Iya." Jawabnya pendek sambil mengangguk.
"Kita ke ruang kerja. Kami tinggal sebentar." Ujarnya pamit sambil berdiri dan berlalu pergi.
Rahman mengekor mengikuti langkah ayahnya, diiringi tatapan ketiga wanita yang berbeda generasi tersebut.
"Ada Apa, yah?"
Kini keduanya sudah duduk berhadapan dengan meja kerja sebagai pembatasnya.
"Ini tentang bangunan kosong yang ada di samping rumah kalian," kata Abdar.
Rahman mengerutkan kening seolah sedang berpikir dan menebak, kenapa sampai membahas bangunan itu.
"Ayah sudah mencari informasi tentang siapa pemiliknya. Dan ternyata, anak buah ayah mengatakan ... kalau kau ada pemilik bangunan itu."
Rahman tetap diam menyimak apa yang akan disampaikan ayahnya lagi.
"Ayah juga sudah tau tentang pekerjaanku dari Om Candra."
Kali ini Rahman tersentak kecil, ketika pekerjaannya dibawa-bawa dan nama guru taekwondo sekaligus guru hackersnya terselip diantaranya.
"Bukan apa-apa kenapa ayah mengatakan Ini, ayah hanya ingin meminta persetujuan mu untuk merenovasi gedung itu."
"Mumpung kalian tinggal di sini, jadi para pekerja bisa mengerjakan tukasnya. Bagaimana?"
"Tapi mama ingin membuat butik." sanggah Rahman cepat.
"Ayah sudah atur itu."
"Bagus. Satu lagi, jangan beritahu mama-mu. Ini rahasia kita berdua." Anggukan Rahman menjadi jawaban atas pertanyaannya.
"Mulai besok, gedung itu sudah di rehap. Oiya ... rencananya ayah ingin menggabungkan rumah kalian dengan gedung itu. Menurutmu tidak masalahkan?"
"Lalu bagaimana dengan butiknya?"
Percayakan saja pada ayah," ujar Abdar yakin.
"Baiklah," ucapnya pasrah.
...********************...
.
Hari-hari berikutnya di lewati Abdar adalah menahan gejolak yang setiap harinya selalu memuncak dan tak tertahankan.
Setelah menunggu dan satu minggu berpuasa, hari ini tepat dihari resepsi pernikahannya Rahimah melaksanakan mandi wajib nya tanpa disadari sang suami.
Dibantu trio wewek, Rahimah dengan balutan gaun pengantin berwarna putih susu senada dengan jilbabnya berjalan memasuki aula tempat diadakannya acara.
Semua pasang mata menoleh dan langsung mengagumi kecantikan Rahimah. Di kursi pelaminan mempelai pria segera berdiri ketika tahu kalau pendampingnya sudah datang.
Menatap kagum tanpa berkedip, hingga lamunannya hilang saat para tamu undangan bertepuk tangan.
Mempelai wanita menunduk malu karena menjadi tontonan publik, sampai di pelaminan pun ia tetap menunduk tak sanggup menatap lawannya.
"Kita tinggal dulu ya, Imah." pamit teman-temannya.
Rahimah hendak melarang, tapi urung karena menyadari itu tidaklah mungkin.
"Kamu cantik sekali, walau pun tidak berdandan juga sangat cantik," puji Abdar berbisik.
Tidak ada jawaban dari Rahimah, rasa gugup dan malu menjadi satu hingga membuat lidahnya kelu yang berdaya.
Satu persatu tamu undangan datang memberikan ucapan, acara pun berlangsung hingga pukul 12 malam.
Lelah hari ini berganti oleh bahagia yang memenuhi relung hatinya.
"Kamu capek, duduk aja."
Dari semenjak Rahimah berada di pelaminan, mereka hanya duduk sebentar karena harus menyambut tamu undangan yang berpamitan pulang. Kaki Rahimah pun terasa kebas.
"Sebaiknya kalian kembali saja ke kamar, acara sebentar lagi juga sudah selesai," Ustadzah Habibah sebagai pengganti orang tua Rahimah memberi saran.
"Baiklah, kalau begitu kami ke kamar dulu," balas Abdar kasihan melihat Rahimah.
"Ayo sayang," ajaknya.
"Ibu, saya titip Rahman." Kata Rahimah sebelum berlalu pergi dan disanggupi oleh Ustadzah Habibah.
"Awww." Rintih Rahimah terpeleset ketika sudah di lorong menuju lift.
"Kamu nggak apa-apa." Buru-buru Abdar menahan punggang Rahimah yang hendak terjatuh.
"Aku kepeleset," kata Rahimah lesu. Mungkin karena kelelahan hingga membuatnya berjalan tidak seimbang.
"Biar aku gendong." Kata Abdar menariknya dalam gendongannya.
"Eh, mas." Pekik Rahimah terkejut langsung mengalungkan tangan di leher sang suami.
"Sudah, diam saja." Langsung berjalan kearah lift.
Pasrah, itulah yang sekarang ia lakukan. Karena ia yang memang kecapekan. Karena sudah larut malam jadi hotel sudah mulai sepi, bahkan ketika memasuki lift hanya mereka berdua saja.
"Ceklekk." Pintu dibuka oleh Rahimah yang masih di gendong Abdar.
Sebenarnya ia ingin turun ketika di depan pintu tadi, tapi Abdar menolaknya dan bersikukuh membawanya masuk.
Perlahan Abdar meletakkan istrinya ke atas kasur setelah lebih dulu mengunci pintu kamarnya.
"Istirahatlah, aku mau mandi dulu." Ucap Abdar meninggalkannya sendiri.
Rahimah gegas membersihkan riasannya, dan berganti baju selagi Abdar masih di kamar mandi.
"Apa kau ingin mandi?"
Rahimah tersentak kaget mendapati sang suami sudah berdiri di belakangnya dan hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya.
Selama tinggal serumah, ia tidak pernah melihat Abdar bertel4njang dada. Karena setiap pagi ia langsung ke dapur membantu Maryam dan bibi memasak.
"Kenapa? Apa kau ingin menyentuhnya?" Tanpa aba-aba Abdar mengambil tangan Rahimah dan membimbingnya, meletakkan di atas dad4nya.
"Mas." Pekiknya hendak menarik tangan tapi ditahan Abdar.
Karena saling tarik menarik akhirnya mereka terjatuh di kasur.
"Mas," protesnya.
Abdar menatap lekat Rahimah. "Apa kau sudah selesai dengan tamumu?" bisik Abdar serak.
Tidak mampu berbohong, Rahimah menunduk dan mengangguk samar. Kedua sudut Abdar terangkat sempurna.
"Yess," gumamnya senang.
BERSAMBUNG ....