Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 7



"Kakak baru pulang?" tanya seseorang yang berada di depan Tv menghentikan langkahnya sejenak.


"Heem." Jawabnya melirik sekilas kemudian kembali berjalan menuju kamarnya.


"Ya sudah buruan mandi ... kita makan malam bareng," ujarnya beranjak ke dapur. Lagi-lagi sang kakak bersikap acuh.


"Kak, gimana pesta pernikahan kemaren?" kini mereka tengah menyantap makan malamnya, kakaknya pun tidak menyahun pertanyaannya. Melihat itu ia pun sekali lagi memanggil, tapi dengan suara yang lebih nyaring.


"Kak Cristiaaan ...." teriaknya sontak sang kakak terlonjat kaget.


"Apa? Kamu kira Kakak tuli apa? Sampai teriak gitu?" sungut Cristian kesal dan pertanyaan dari kakaknya malah membuatnya juga kesal.


"Emang Kakak tuli, kalau gak tuli ... coba jawab pertanyaan Aku tadi," tantangnya memicingkan mata menatap sang Kakak. Cristian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena memang tidak mendengar apa yang di tanyakan tadi.


"Emm, emanng ... yang kamu tanyakan tadi apa?" ujarnya melihat Adiknya yang tengah cemberut menatap dirinya.


"Tuh'kan ... emang benaran tuli."


"Enaak aja Aku di bilang tuli, Kakak itu bukannya tuli ... tapi gak denger CRISTINA ALIAS MARYAM ...." Ujarnya penuh penekanan saat menyebut namanya.


"Loh, emang apa bedanya tuli sama gak denger? Dan satu lagi ... panggil Aku Maryam nama Aku itu Maryam, M-A-R-Y-A-M, MARYAM.. " Juga penuh penekanan di namanya.


"Lupakan," ujarnya kembali menyantap makanannya. Sedang sang Adik yang ingin di panggil Maryam mendengus kesal melihatnya.


"Nyebelin," gumam Maryam yang masih di dengar oleh Cristian tapi tak di hiraukannya.


Selesai makan Cristian beranjak dari duduknya meninggalkan sang Adik sendirian menuju ruang kerjanya, Maryam tetap dengan posisinya mengikuti Cristian dengan ekor matanya.


Tiba di ruang kerjanya, Cristian menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja dan bersandar. Kembali ingatannya melayang saat kejadian malam itu, samar ... tapi gambaran akan wajah wanita yang ia nodai mulai sedikit bermunculan, walau tidak terlalu jelas. Mungkin karena pengaruh minuman yang ia minum membuat ingatannya terhalang untuk menjangkau lebih jauh.


Ia pun selalu melamun akibatnya karena memikirkan wanita itu, di ambilnya sapu tangan dari dalam laci yang berlutiskan nama sepasang manusia.


Ramlan & Fatimah gumamnya dalam hati.


Telepon yang berdering mengembalikan kesadarannya dari lamunan sesaat.


"Heem." Sahutnya malas.


(x x x)


"Lo urus aja, gue terima hasilnya."


(x x x)


"Heem." Gumamnya lagi menyahut. Dan langsung mematikannya.


...----------------...


Gelap sudah berganti dengan terang, malam pun sudah tergeser oleh siang. Kini Cristian sudah duduk di kursi kebanggaannya bersama Adit yang duduk di hadapannya, menunggu seseorang yang di kabarkan oleh Adit akan datang melaporkan temuannya yang ia dapatkan semalam.


"Tok ... tok ... tok ...."


"Masuk." Seru Adit menjawab.


"Ceklek."


"Selamat pagi tuan?"


"Pagi," jawab Adit berpindah duduk ke sofa yang di ikuti Cristian dengan diam. Begitu pun dengan tamu mereka yang langsung ikut duduk di sofa.


"Apa yang sudah kau dapatkan Tomi?" tanya Adit kepada tamu yang tak lain ialah Tomi.


"Informasih tentang wanita yang sudah menghabiskan malam bersama tuan Critian adalah, bernama Rahimah." Semberi menyerahkan sebuah map.


"Di situ juga ada informasih tentang wanita yang telah mendorong Rahimah, namanya adalah Maya. Ternyata mereka juga satu komplek di ... (menyebutkan satu nama komplek).


Adit mengernyit kening mendengarnya dan segera membuka map yang terdapat dua buah data pribadi dari dua orang gadis. Berbeda dengan Cristian hanya diam menyimak tanpa ada niat untuk melihatnya.


"Yang saya dengar dari warga, Rahimah dan Ayahnya Ramlan telah di usir dari rumahnya," mendengar nama Ramlan Cristian pun tertarik untuk melihatnya. Ia pun menarik data pribadi Rahimah, di bacanya dengan seksama.


Tidak begitu lengkap data yang tertera di selembaran itu, hanya menjelaskan nama dan tempat lahir, nama sekolah yang pernah ia tempuh dan nama kedua orang tuanya.


"Ramlan dan Fatimah" Ucapnya lirih.


"Lalu apa kau sudah menemuinya setelah mereka di usir?" tanya Cristian dingin.


"Tidak tuan, saya kehilangan jejak mereka. Warga di sana tidak mengetahui kemana mereka pergi." Ujarnya menerangkan.


"Begini saja ...," Kata Cristian menjeda kalimatnya. "Jika kau sudah menemukan mereka, yang harus kau lakukan adalah ... memberi mereka ganti rugi, suruh mereka agar menutup mulutnya atas kejadian malam itu, dan jika itu sudah kau lakukan ... kabarkan kepadaku segera," permintaan dari Cristian jelas membuat Adit sangat kaget.


"Apa-apaan lo Tian? Gak segampang itu lo mau lepas tanggung jawab." Sungut Adit menatapnya kesal.


"Trus mau lo apa? Lo pengen gue menikahinya?" Katanya menatap tajam pada Adit, membuat lawan bicaranya berdecak kesal.


"Ya gak gitu juga. Seengganya lo itu datanglah ke rumahnya, dan meminta maaf atas kesalahan yang sudah elo perbuat--- Aawww bangg sattt ...." ucap Adit di akhiri sumpah serapah karena tulang keringnya yang di tendang Critian.


"Lo pikir gue bodoh, kalau gue menampakkan jati diri gue? Bisa-bisa tu cewek sama kaya Sherlin yang bakal memanfaatkan harta gue. Yang ada dia bakal memeras gue atas nama ancaman," ujar Cristian bersungut-sungut, Adit hanya meliriknya kesal. Sedangkan Tomi terperangah memperhatikan Cristian yang seperti mempunya kepribadian ganda.


Jika di depan anak buahnya Cristian bersikap dingin dan datar layaknya seperti bos-bos yang kejam, tapi di depan Adit ia tampak tidak memiliki wibawa. Memikirkan itu Tomi mengulum senyum. Ia baru menyadari akan hal itu.


Sampai dua bulan pencarian Tomi tetap tidak menemukan titik terang, Rahimah yang di carinya seperti hilang di telan bumi. Ia pun menghentikan pencariannya dan menugaskan anak buahnya yang lain.


...****************...


Sesuatu yang ia rasakan dari dalam perutnya, tiba-tiba membuatnya terpaksa membuka mata, dan segera berlari ke kamar mandi untuk menumpahkan isi perutnya.


"Houeekk ... houeekk ... houeekk ...."


"Kenapa Imah ...?" Tanya Pak Ramlan yang mendengar Rahimah muntah-muntah di kamar mandi dan segera membantu memijat tengkuknya.


"Gak tau Pak, tiba-tiba perut Aku kaya di aduk-aduk bikin Aku mual," pernyataan yang Rahimah berikan itu membuat Pak Ramlan berpikir semakin yakin akan dugaannya.


"Ya sudah, istrahat saja. Biar Bapak buatkan teh hangat," Kata Pak Ramlan yang hendak membuatkannya minuman, Rahimah lekas mencuci mulut dan tangannya ia pun bergegas keluar kamar mandi.


"Gak usah Pak, Imah masih bisa buatnya kok ... Bapak duduk aja dulu di meja makan, biar Aku yang buatin sarapannya."


"Memangnya Kamu sudah baikkan? Apa mualnya sudah hilang?" ujar Pak Ramlan tidak yakin.


"Iya Pak, mualnya udah mendingan kok. Nanti kalau Aku kelamaan istrahat bisa tambah mual dan pusing." Ucap Rahimah segera mengerjakan rutinitas paginya.


Pak Ramlan hanya diam memperhatikan Rahimah yang akan membuat sarapan untuk mereka. Selesai dengan masakannya Rahimah pun menyajikannya dalam piring dan menatanya di meja makan, di serahkannya untuk sang Ayah agar segera memakan sarapannya.


"Kamu, gak makan Nak?"


"Gak Pak, nanti aja agak siangan." Pak Ramlan mengangguk mengerti. Mungkin masih mual pikirnya, jadilah Pak Ramlan makan seorang diri yang di temani Rahimah di sampingnya.


...----------------...


"Imah ...."


"Mbak mau bicara hal yang serius sama kamu ... bisa?"


"Hal serius apa, Mbak?" mengernyit kening memikirkan hal serius apa.


"Mbak mau tanya, kapan terakhir kamu datang bulan?" mendapatkan pertanyaan seperti itu membuatnya tambah penasaran.


"Apa hubungannya datang bulanku sama hal serius yang mau Mbak bicarakan?"


Menghela nafas, berpikir sejenak mencari kosa kata yamg cocok untuk ia ucapkan.


"Udah ... jawab aja dulu pertanyaannya Mbak," Ujar Khadizah. Rahimah melirik ke kiri dan ke kanan mengingat-ngingat waktunya. Saat ia sudah ingat ia pun menatap penuh kepada Khadizah.


"Kalau gak salah, dua bulan lalu Mbak ... emang kenapa sih Mbak?"


Khadizah pun menyerahkan wadah kecil dari kantong kresek yang ada di tangannya sejak tadi, mumpung masih pagi pikirnya.


"Ini ... tampung air se*i kamu kedalam wadah kecil ini. Kalau sudah, kasih ke Mbak," ujarnya semakin membuat Rahimah bingung tapi tetap melakukannya. Mereka pun berjalan menuju kamar mandi, begitu juga dengan Hawa yang di gendong Khadizah.


Saat Rahimah sedang di kamar mandi, Khadizah pun ikut was-was untuk melihat hasilnya. Di tambah pernyataam Rahimah tadi yang mengatakan bahwa ia sudah dua bulan telat.


Kini Rahimah pun datang dengan wadah kecil di tangannya, Khadizah segera mengambilnya dan menyerahkan Hawa pada Rahimah.


Kembali mengeluarkan benda dari dalam kantong kresek, mengupasnya lalu mengeluarkan benda berukuran strip dan mencelupkannya ke dalam wadah kecil itu. Rahimah diam, ia tentu tau benda apa itu dan untuk apa pungsinya tapi untuk apa pikirnya.


Dua menit Khadizah membiarkannya tetap terendam kemudian mengangkatnya perlahan, dan mendekatkannya agar ia bisa lebih jelas melihatnya.


"Masya Allah," pekik Khadizah melihat hasil dari test pack yang ia pengang. Mengambil alih Hawa dan menyerahkannya kepada Rahimah.


"Ya Allah," ucap Rahimah lirih sembari menutup mulutnya yang bergetar, tiba-tiba saja matanya memanas, pandangannya mengabur air mata pun beranak sungai tak tahan ingin menangis. Segera pergi ke kamar dengan sedikit berlari, menumpahkan air mata yang sudah ditahannya tadi, Khadizah pun menyusul membiarkan putrinya kembali bermain.


"Imah ...."


"Heeekss ... heekss ... heekksss ... apa ini gara-gara kejadian malam itu Mbak? heekss ... heekss ...." tanyanya lirih sambil menangis, memeluk kedua lututnya bersandar di sandaran ranjang. Khadizah tidak bisa menjawab ia menatap iba pada Rahimah.


"Aku gak mau bayi ini Mbak," ujarnya sembari memukul-mukul perutnya. Dengan sigap Khadizah menahannya.


"Hisk ... hiks ... kenapa dia harus ada di perutku Mbak? Hisk ... hiks ... Aku benci sama Ayah anak ini Mbak ... Aku benci ...."


"Hiks ... hiks ... Bunuh saja bayi ini Mbak. Bunuh saja ...!"


"Astagfirullahhalazim ... istigfar Imah, istigfar ...."


"Kamu harus sabar Imah ... anggap ini semua sebagai ujian dalam hidupmu, anggap bayi yang ada di dalam perutmu adalah anugrah yang terindah yang sudah Allah titipkan padamu, walau dengan cara yang tidak sama sekali kita inginkan. Tapi ketetapan yang sudah Allah berikan kepadamu adalah suatu pembelajaran untuk mendewasakanmu." Rahimah Masih dengan tangisnya tetap pada posisinya.


"قَالَ اِنَّمَآ اَنَا۠ رَسُوْلُ رَبِّكِۖ لِاَهَبَ لَكِ غُلٰمًا زَكِيًّا


"Dia (Jibril) berkata, “Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk menyampaikan anugerah kepadamu seorang anak laki-laki yang suci.”


"Dari kutipat ayat ini mengatakan bayimu itu juga suci Imah, dia tidak tau apa-apa, dia ada atas kehendak Allah. Dan kamu harus ikhlas menerima bayimu," ujar Khazidah memberi pengertian kepadanya agar sedikit menenangkannya.


"Bagaimana sama Bapak Mbak?" tanya Rahimah serak.


"Nanti kita beritahu beliau sama-sama, pasti Bapakmu tidak akan menyalahkanmu atas semua yang sudah terjadi ini Imah." Rahimah mengangguk sembari memeluk Khadizah, mereka pun di kejutkan oleh suara anak kecil yang tiba-tiba datang.


"Peyukk ... auu peyuk ...." pintanya sambil berjalan, menghentikan rasa sedih di hati Rahimah saat melihat Hawa merentangkan tangannya ingin ikut berpelukan. Menerbitkan senyum pada kedua wanita dewasa itu, segera Khadizah menangkap putrinya dan menaruhnya di tengah-tengah mereka dan ikut berpelukan.


"Bhahaha." Tawa Hawa kegirangan membuat mereka tertawa bersama.


...----------------...


Senja sudah menampakkan dirinya menggeser matahari ke peraduan, Rahimah sedang duduk di depan teras rumahnya menunggu kepulangan sang Ayah dari penatnya bekerja seharian.


"Assalamualaikum," Ujar Pak Ramlan saat sudah sampai.


"Wa'alaikumussalam," Rahimah menyalami Ayahnya.


Mereka pun masuk ke dalam rumah bersama. Saat Pak Ramlan sudah duduk di sofa untuk istrahat sejenak, tiba-tiba Rahimah duduk di lantai bersimpuh di hadapan sang Ayah sembari menagis. Refleks membuat Pak Ramlan tersentak kaget.


"Nak ... ada apa ini? Kenapa kamu jadi menagis dan duduk di lantai? Ayo bangun," tanya Pak Ramlan.


"Hiiiks ... hiiiks .... Engga Pak ... Imah mau minta ampun sama Bapak ... hiiiks ... maafkan Imah yang belum bisa menjadi anak berbakti sama Bapak, hiiiks ...? Imah cuman bisa bikin malu Bapak ... hiikks ...."


"Apa maksud kamu Imah? Bagi Bapak kamu sudah cukup berbakti sama Bapak nak. Ayo bangun Imah ...." Sambil memegang kedua bahu Rahimah dan mengangkatnya untuk bangun dari bawah, menuntun agar duduk di dekat Pak Ramlan di sofa.


"Imah minta maaf sama Bapak ... hiiikss Imah cuman bisa bikin malu Bapak hiikss ...." Memeluk erat sembari menyandarkan kepalanya di dada sang Ayah.


Belum sempat Pak Ramlan berucap, suara salam dari depan pintu menghentikannya.


"Assalamualaikum." Melihat ke arah pintu Pak Ramlan bisa melihat Wahyu bersama istri dan Putrinya.


"Wa'alaikumussalam, mari masuk Wahyu ... sini duduk, maaf ya ... tiba-tiba Imah jadi manja begini sama Bapak." Ujar Pak Ramlan yang masih erat di peluk Rahimah.


"Gak apa-apa Pak, kami bisa maklum karenakan cuman Bapak yang Imah miliki saat ini." Mendekat dan duduk bersama Istri dan Hawa.


"Begini Pak, ini ...." Khadizah menaruh alat tes kehamilan di atas meja, Pak Ramlan pun melirik alat itu kemudian menatap Wahyu dan Khadizah bergantian. Pak Ramlan sudah bisa menebak apa maksud dari benda itu, karena dulu saat Ibunya Rahimah hamil anak kedua, pun ia juga menggunakan itu.


Khadizah mengangguk membenarkan keyakinan Pak Ramlan, tiba-tiba saja pandangan Pak Ramlan terasa kabur oleh genangan air mata. Dadanya pun terasa nyeri, tak terasa air matanya berjatuhan membasahi kedua pipinya sembari beristigfar.


"Astagfirullahhalazim ...." Gumam Pak Ramlan lirih dengan suara yang bergetar yang terdengar di pendengaran Rahimah dan kembali membuat Rahimah menangis.


"Hiiiiks ... hiiiikkkss ... hiikkss ...."


Tidak ada kata yang keluar dari mulut Rahimah begitu juga Pak Ramlan dan yang lainnya, mereka diam dalam kesedihan. Lama Ayah dan Anak itu menangis hingga Pak Ramlan pun bersuara.


"Sabarlah Nak, ini adalah ujin Tuhan untuk kita ... semoga Allah senantiasa melindungi kita dalam suka dan duka. Semoga keberkahan yang kita dapat, dari anugrah Tuhan yang ada padamu Imah." Ucap Pak Ramlan bijak.


Rahimah mengangguk dalam dekapan sang Ayah.


BERSAMBUNG.....


Maaf jika ada kesalahan kosa kata yang saya tulis di cerita ini🙏. Harap dimaklumi.. karena saya masih pemula yang masih harus banyak belajar dari Author-author senior.


Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya saya ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.🙏


Tinggalkan jejak, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. 😊✌


Noormy Aliansyah