Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 59



Rahman akhirnya akan pulang ke tanah air bersama Candra, setelah dari kantin ia kembali ke bangsal Abdar untuk berpamitan bersama polisi WNI (Warga negara Indonesia) yang akan mengantarkan mereka menggunakan helikopter.


Candra sempat berbincang dengan beberapa polisi guna membahas tindak lanjutan yang akan di lakukan kepolisian terkait penculikan.


Karena penculik berasal dari WNI dan yang di culik juga adalah WNI, maka para penculik akan di kembalikan ke tanah air dalam beberapa waktu dekat. Pihak kepolisian WNI akan bekerja sama dengan kepolisian Malaysia.


Terkait dengan pengejaran Jack beberapa waktu lalu ternyata ada bantuan yang datang menolongnya dan sempat melakukan adu tembak. Untuk sementara pengejaran akan di tunda dan mereka akan kembali melakukan pengejaran bersama setelah menyusun rencana juga bantuan kepolisian Malaysia.


Hingga akhirnya pembahasan pun terhenti karena waktu yang sudah mulai meninggi mengharuskan mereka berpisah.


"Lain kali kamu harus lebih berhati-hati jika keadaan terlihat sepi, pastikan kamu melihat orang yang berjalan mendekati mu di belakang," pesan Abdar ketika Rahman berdiri di hadapannya.


"Iya, Om. Terimakasih atas pertolongannya," jawab Rahman tulus sambil mengulurkan tangan hendak bersalaman.


Tersenyum lantas menyambut tangan Rahman. Hatinya tersentuh saat Rahman mencium punggung tangannya.


Timbul pertanyaan di benaknya. Apa dia menang anakku? Gumam Abdar sambil mengusap pucuk kepala Rahman.


Usai berpamitan Rahman dan Candra langsung pergi ke lapangan di dekat rumah sakit, di mana helikopter sudah menunggu.


Di dalam helikopter Rahman bisa melihat keindahan bumi dari atas, tidak pernah menyangka bahwa peristiwa penculikan ini bisa membuatnya merasakan pergi ke negeri tetangga dan tidak hanya jalur air ... tapi juga merasakan jalur udara.


Tersenyum, mensyukuri segala hikmah yang terjadi menimpa dirinya.


"Bagaimana, kau suka?" tanya Candra dengan sedikit mengeraskan suaranya. Suara bising dari helikopter membuat pendengaran mereka terbatas dan harus bersuara nyaring.


"Ya master, saya sangat menyukainya," aku Rahman jujur sembari tersenyum.


"Saya juga suka, jujur ... saya tidak pernah ke luar negeri, dan sekarang saya sudah merasakannya. Walau kita tidak bisa jalan-jalan," Candra terkekeh mentertawakan diri sendiri.


Mempunyai uang banyak bukan berarti selalu bisa berpergian, apa lagi dengan pekerjaannya yang menumpuk membuat batas waktu nya sedikit.


Rahman tahu, seberapa sibuk masternya itu. Selain sebagai pelatih taekwondo dia juga hacker, yang membuatnya sering berpergian ke luar kota untuk menghadiri klein.


"Nanti, kita akan ke Malaysia lagi," ujar Candra.


"Untuk apa master?" balas Rahman.


"Untuk mengganti hari buruk ini dengan hari yang indah. Kita akan datang dalam keadaan karena kita ingin, bukan karena paksaan, kita akan berjalan-jalan karena hari ini tidak sempat," kata Candra sambil melihat ke luar jendela di samping Rahman, karena di sisi lainnya adalah polisi WNI.


Rahman tersenyum mengerti, ternyata masternya ini ingin berjalan-jalan. Tapi karena keadaan yang tidak memungkinkan membuatnya penasaran ingin kembali.


"Baiklah, nanti saya akan ajak mama saya," Rahman menyetujui.


Akan menjadi hal yang menyenangkan jika ia menghabiskan hari senggangnya bersama sang mama tercinta.


Di tambah lagi mereka yang sudah berhari-hari terpisah. Pasti menjadi momen yang indah dengan mamanya guna mengganti hari yang hilang.


"Boleh juga, kita akan cari waktunya nanti."


Seketika mereka berdua tertawa senang.


Hanya menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam, dan mereka tiba di tanah air tercinta. Ibu kota Jakarta ba'da Dzuhur.


...****************...


"Apa Tomi, sudah memberikan kabar?" Abdar tengah duduk bersandar di sandaran ranjang pasien.


Adit ikut menjatuhkan punggungnya di sandaran sofa seberang ranjang atasannya itu.


"Ya, Tomi sudah memberi informasi terkait wanita itu."


"Lalu?"


"Kebetulan sekali dia ada di kota ini sedang melakukan liburan, dan Tomi sudah mengonfirmasi tempat tinggalnya."


"Baiklah, setelah gw keluar dari rumah sakit ini kita akan menemui Shandy terlebih dulu baru wanita itu."


Tadi Abdar sudah mengatakan kepada sang dokter yang memeriksa tentang keinginannya untuk pulang dan dokter memperbolehkan nya.


Sebenarnya dokter sempat melarang dan menganjurkannya untuk tetap tinggal semalam lagi, tapi Abdar bersikeras agar dapat pulang siang ini juga.


Mau tidak mau dokter memberi izin, dengan syarat harus istrahat yang cukup dan tidak boleh mengangkat beban serta seminggu lagi Abdar harus periksa perban di rumah sakit.


Abdar cepat mengiyakan agar tidak berbelit.


Tidak lama setelah mereka membahas masalah wanita yang menolong Sherlin dulu, tiba-tiba seorang perawat datang untuk melepas jarum infus di tangannya.


Usai sang perawat pergi, Adit memberikan baju ganti untuknya.


Sedikit kesulitan saat Abdar hendak mengganti baju dengan baju bersih, mengingat luka di tangan kanannya baru kemarin di operasi jadi ketika di tekuk atau di tarik kebelakang maka akan terasa nyeri dan sakit, Abdar juga masih harus memakai penyangga tangan.


Siap dengan kemejanya, Abdar dan Adit segera menuju kantor polisi. Bukan tanpa alasan kenapa Abdar memilih ke kantor polisi lebih dulu, karena ia ingin memperjelas dulu alasan di balik penculikan itu.


Menurut informasi dari Tomi, wanita itu juga masih satu minggu berada di kota Malaysia dan itu waktu yang sangat cukup untuk membawanya bertemu dengan Shandy jika di perlukan.


Tiba di kantor polisi Abdar tidak ditanya apa-apa, ia langsung di sambut karena kedatangannya sudah di ketahui oleh polisi yang tadi datang ke rumah sakit guna mengantar kepulangan polisi WNI.


"Awak tunggu sini, saya akan bawa pesalah ke sini."


(Anda tunggu disini, saya akan membawa pelaku kemari.)


Instruksi polisi membawanya kepada sebuah ruang temu dengan napi (nara pidana).


Tidak terlalu lama petugas itu pergi kemudian datang lagi bersama Shandy.


Sangat kentara jika Shandy tidak suka bertemu dengan Abdar dan Adit, terlihat jelas dari raut muka dan tatapan matanya bahwa Shandy menyimpan seribu kebencian, amarah juga nafsu ingin membunuhnya.


"Kau masih hidup?" kata itu yang terucap pertama kali dari Shandy saat berhadapan dengan Abdar.


Abdar memadang pria yang semuran dengan Maryam adiknya, tidak pernah menduga bahwa akan terlibat kasus kriminal dengan adik mantan kekasihnya itu.


Dulu kehidupan Sherlin dan keluarnya di jamin penuh olehnya, hingga ketika ia mengetahui perselingkuhan sang kekasih, Abdar segera menarik semua fasilitas itu.


Duduk di kursi seberang Abdar dan Adit, Shandy terlihat begitu angkuh.


"Ku pikir, Jack sudah membuatmu mati kemarin," ujar Shandy sinis saat sudah di tinggalkan petugas kepolisian.


Abdar hanya menatapnya datar sedang Adit menahan geram.


"Apa yang melandasi penculikan yang kau lakukan ini?" tanya Abdar dingin.


Hening sejenak ... karena Shandy yang tidak langsung menjawab.


"Hahaha," Shandy tergelak sendiri memecah keheningan.


"Jangan pura-pura tidak tahu, aku yakin jika kau sudah tahu maksudku melakukan ini," balas Shandy sambil melirik tangan Abdar yang di gendong.


"Kami bahkan tidak menduga, bahwa dalang dari penculikan ini adalah kamu. Lalu bagaimana kami tahu maksudmu menculik mereka," balas Adit geram.


Shandy tersenyum sinis mendengarnya. "Tujuan Ku, agar bisa membalas dendam untuk kakak ku, Sherlin," ujar Shandy berapi-api.


Adit melirik Abdar yang tetap diam tengah memandang Shandy dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Dendam apa yang kau maksud? Apa dendam karena kakak mu di putuskan oleh ku sepuluh tahun yang Lalu?" ujar Abdar bersuara.


"Dendam karena kau yang sudah membunuh kakak ku Sherlin," salak Shandy menatap tajam penuh amarah.


"Memang kak Sherlin di temukan gantung diri, tapi ... dia kau bunuh dulu, baru kau gantung seolah-olah bunuh diri."


"Kau pikir aku percaya? Dengan tubuh yang di temukan banyak luka lebam bisa bunuh diri? Laporan polisi juga membenarkan jika ia di bunuh. Di tambah lagi ada teman kak Sherlin yang pernah melihat Kakak ku di pukul kekasihnya beberapa hari sebelum dia meninggal," ujar Shandy pasti.


Abdar dan Adit mengerutuan dahi, Tomi tidak menginformasikan tentang ini.


"Ibu ku harus sakit, dan meninggal karena memikirkan kak Sherlin."


...___________________...


Flashback on


"Tok ... tok ... tok ...." ketukan di pintu membuat orang yang mendengarnya bergegas membuka pintu.


"Selamat siang, apa benar di sini tempat tinggal keluarga dari saudari Sherlin Sebastian?" tanya seorang polisi ketika daun pintu terbuka lebar.


"Iya, betul. Saya adiknya, ada apa ya, pak?" balas Shandy penasaran dengan kedatangan dua orang polisi.


"Kami ingin melaporkan, bahwa saudari Sherlin ditemukan gantung diri di rumahnya."


"Bruuukk." Suara sesuatu jatuh di belakang Shandy.


Semuanya menoleh dan terkesiap mendapati seorang wanita paruh baya tengah terjatuh di dekat daun pintu.


"Mama." Teriak Shandy bergegas mengangkat wanita yang tak lain adalah mamanya di susul kedua polisi itu ikut membantu.


"Terima kasih, pak." ucap Shandy tulus.


"Sama-sama, kami hanya ingin memberi tahukan tentang jasad Saudari Sherlin yang sekarang sedang berada di rumah sakit ... (menyebutkan salah satu nama rumah sakit).


"Baik, pak. Terimakasih." Kedua polisi berlalu pergi setelah tadi bersalaman terlebih dulu.


"Ma, mama gak apa-apa kan?" tanya Shandy ketika mamanya membuka mata, suaranya terdengar khawatir.


"Kakak mu Shan ...." tidak sanggup mengatakan, mama Shandy pun terisak.


"Apa mama ingin melihat jasad Kakak?" tawar Shandy yang di jawab anggukan dari mamanya.


Mereka pun segera pergi ke rumah sakit yang di maksud dan bergegas menuju kamar mayat ketika sudah memasuki gedung bertingkat itu.


"Sherlin," teriakan histeris menggema seisi kamar tersebut saat mama Shandy membuka kain penutup yang menutupi tubuh anaknya.


Tidak hanya Mamanya yang menangis tapi Shandy pun ikut terisak sambil memeluk sang mama dari samping.


Keduanya terperanjat mendapati tubuh yang sudah tak bernyawa penuh dengan luka lebam dan leher bekas lilitan tali.


Cukup lama mereka menangis hingga akhirnya datang seorang wanita yang sedikit lebih muda dari mama Shandy.


"Permisi, apa kalian keluarga Sherlin?" sapanya ramah.


"Perkenalkan, saya Tamara. Teman Sherlin, baru dua tahun terakhir ini kami menjadi teman." Shandy menyambut uluran tangannya.


"Bisa kita bicara sebentar?"


Shandy mengangguk setuju. Mereka berdua memilih sedikit menjauh dari mama Shandy.


"Maaf sebelumnya, apa saya boleh bertanya? Apakah kamu tahu jika Sherlin tinggal berdua dengan kekasihnya?" tanya Tamara sungkan.


Shandy menggeleng, karena sudah lama tidak bertemu dengan sang Kakak dan ia tidak tahu kabar terbaru dari Sherlin yang kini tinggal dimana dan dengan siapa.


Selama dua tahun terakhir ini kakak nya hanya beberapa kali berkunjung, itu pun sewaktu ia tidak ada dan hanya sendiri ... tidak bersama Cristian kekasih Sherlin yang Shandy tahu.


"Saya hanya ingin mengatakan apa yang pernah saya lihat waktu berkunjung ke rumah Sherlin. Waktu itu saya baru pulang dari berlibur dan mampir ke rumah Sherlin untuk membawakan olah-olah, tidak sengaja saya mendengar Sherlin bertengkar dengan pacarnya ketika hendak mengetuk pintu." ujarnya memulai cerita.


"Dan saya bersembunyi, ketika pacar Sherlin hendak pergi meninggalkannya," sambungnya.


"Saat pacarnya sudah pergi jauh, saya pun menemui Sherlin. Keadaan nya waktu itu sangat memprihatinkan, karena ada beberapa luka di wajah dan tangannya." Seketika Shandy meresa lemas ia bahkan merasa hilang pijakan.


"Saya sudah pernah membujuknya untuk melapor kepada polisi, tapi dia menolak dan berkata ... bahwa ini adalah balasan atas kesalahannya dulu."


"Saya tidak tahu kesalah apa yang Sherlin maksud, tapi sepertinya itu sangat besar hingga ia membiarkan dirinya sendiri tersiksa."


Kedua tangan Shandy mengepal kuat, hingga urat-urat tangannya terlihat.


"Tadi Saya sudah melihat keadaan Sherlin, sepertinya ia juga di pukul lagi sebelum akhirnya meninggal dan di gantung."


"Pihak polisi sudah memeriksa semuanya, tapi sepertinya pacar Sherlin sudah kabur sebelum di tangkap."


Shandy masih diam mendengarkan tanpa ada niat untuk menyela karena ia tidak sanggup mengeluarkan suara yang lidahnya terasa kelu.


"Apa kamu mengenal kekasih Sherlin?" Shandy pun mengangguk pasti.


"Syukurlah kalau kamu mengenalnya, saya yakin kalau kamu bisa menangkap pelakunya. Kamu bisa memanggil saya kapan pun itu, jika kamu perlu bantuan. Saya akan selalu ada, apa lagi jika di perlukan sebagai saksi."


"Ini kartu nama Saya." Menyerahkan sebuah kartu kecil kepada Shandy dan segera di terimanya.


Flashback off


"Apa kamu ingin mengelak?" tanya Shandy tajam.


"Apa kamu tahu, kalau aku dan Sherlin sudah putus sejak sepuluh tahun yang lalu? Sejak kami putus kami tidak pernah bertemu lagi, dan aku tidak pernah memukulnya," sangkal Abdar.


"Tidak mungkin ..!! Delapan tahun yang lalu kakak ku meninggal, dan sudah dua tahun dia tinggal dengan kekasihnya, jika itu bukan kau ... lalu siapa?" Menggrebek meja di hadapannya, meluapkan rasa marahnya.


Tentu Shandy tidak bisa percaya dengan semua yang di katakan Abdar. Selama ini ia sudah mengerahkan upaya dan tenaga demi bisa mengusik Abdar dan keluarganya.


Sangat sulit baginya untuk menggapai Abdar saat ia bukan sispa-siapa dan sekarang ketika ia sempet menggoyahkan pondasi Abdar ia harus menelan kecewa.


"Sherlin tinggal dengan selingkuhannya dan bukan tinggal bersama Ku," Abdar juga tidak terima dengan tuduhan Shandy.


"Maksudmu, kak Sherlin tinggal dengan orang lain?" tanya Shandy meninggikan suaranya.


"Ya." Jawab Abdar cepat.


Shandy terpaku perlahan ia terduduk dengan lemas, tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi dengan kakaknya dan siapa yang memukuli kakaknya hingga meninggal delapan tahun yang lalu.


"Aku masih tidak percaya apa yang kau katakan." Shandy menolak pernyataan Abdar.


"Kalau kau tidak percaya, kami akan datang lagi bersama dengan wanita yang kau katakan tadi." Adit segera menyela.


Shandy tidak menjawab, ia hanya tertunduk lesu dengan semua pikiran yang berkelana kemana-mana.


Lalu siapa? gumam Shandy dalam hati.


BERSAMBUNG ....


*Semuanya, terimakasih karena masih berkenan dan setia dengan cerita Rahman bin Rahimah. πŸ™ Semoga kalian selalu terhibur dan tidak merasa bosan ketika membaca bab selanjutnya. πŸ€— Saya juga sangat berterimakasih atas semua dukungan berupa like, gift dan kopi maupun vote. Dan saya juga berharap kalian masih tetap memberikan dukungan kalian untuk motivasi sang Author 😊.


Hehe maaf juga kalau UP nya selalu molor, harap di maklumi ... Karena saya juga sedang sibuk di dunia nyata. Sekali lagi saya ucapkan banyak-banyak terimakasih atas waktunya guna membaca cerita receh saya.


Oiya ... ngomong-ngomong tadi saya kehilangan kurang lebih 500 kata, karena ngak sengaja ke hapus πŸ€¦β€β™€οΈ. Ambyaaaar dah kosakata nya dan harus mengingat ulang apa yang sudah di tulis.πŸ˜…πŸ˜… Baiklah, saya akan kembali mengingat-ngingat tulisan saya buat bab selanjutnya, do'a kan saya selalu semangat ya.😘*


Noormy Aliansyah