
Setibanya mobil yang mengantar Rahimah di halaman rumahnya, Ustadzah Habibah segera pulang, di lihatnya rumah yang masih terkunci sama saat ia pergi pagi tadi... Rahimah menduga pasti Rahman sudah berangkat ke tempat latihan.
Rahimah pun melirik ruko yang bersebelahan dengan rukonya, berjalan ke arah ruko tersebut guna melihat keadaannya.
Menghela nafas dalam, saat ia memikirkan uang untuk merehab bagunan tersebut. Walau tidak banyak yang di perbaiki, tapi cukup untuk menguras isi tabungannya.
Rahimah memutar otak, bagaimana acaranya agar ia bisa merehap bangunan tersebut tapi tidak menguras isi dari tabungannya. Mustahil memang.
Cukup lama Rahimah memandangi ruko tersebut, hingga ia terkejut saat ada orang yang menepuk pundaknya.
"Allahu akbar," pekik Rahimah sambil memegang dadanya kemudian menoleh kepada orang yang ada di belakanngnya.
"Tante Hana ...." Rahimah tersenyum melihat orang yang mengejutkannya ternyata ialah tante Hana.
"Ngapai bengong aja?" ucap tante Hana ikut menatap ruko di depan mereka.
"Bingung tante, mau merehab bangunan ini ... tapi pasti tidaklah sedikit uang yang harus di keluarkan," aku Rahimah, kembali melihat ruko tersebut dengan tatapan tidak menentu.
"Perlu suntikan dana, tapi mana ada yang mau menanam modal sama usaha yang sama sekali belum di mulai," sambung Rahimah lagi.
"Kalau itu, tante gak bisa bantu ...." kata tante Hana memandangnya prihatin.
"Engga apa-apa kok tante, aku bukan mau ngerepotin tante kok," ucap Rahimah tidak enak mengungkit masalah pribadinya kepada orang lain.
"Oiya tante, tadi aku di pasantren ketemu sama orang yang ngaku kerabat tante ..!! Namanya Ustadz Abizar," terang Rahimah merubah topik.
"Ohh, kamu ketemu sama keponakan tante?" anggukan Rahimah menjadi jawaban pertama yang di tangkap tante Hana.
"Iya tante, dia bilang Alara bakalan datang ya?"
"Insyaallah, rencananya minggu depan akan kesini kalau tidak ada halangan," ujarnya tersenyum.
"Sudah lama gak pernah ketemu Lara, apa dia masih ingat sama aku?" tanya Rahimah penasaran.
"Masih inget, kok! Kemaren waktu tante cerita kamu sudah tinggal lagi di ruko, dia heboh sendiri pengen ketemu," ujar tante Hana, Rahimah tersenyum membanyangkannya.
"Hehehe, gitu ya tente? Ehh ... apa tante mau mampir dulu, ke rumah ku? Imah jadi gak enak, masa tamunya gak di ajak-ajak ke dalam," sesalnya baru sadar.
"Gak perlu, tante cuman pengen nyapa kamu tadi! Habisnya tante lihat kamu kaya ngelamun gituh, jadi tante samperin." tolak tante Hana secara halus.
"Ya sudah, tante pulang dulu ya ... bentar lagi masuk Ashar, tante sekalian mau masak!" Rahimah mengangguk mengiyakan.
"Iya tante, kapan-kapan kita ngobrol lagi yah?" ajak Rahimah tulus.
Rahimah ikut berbalik menuju rumahnya saat melihat tante Hana yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
Mengucap salam pada rumah yang tidak ada orangnya seraya memasukkan kaki kanannya terlebih dahulu. “Assalamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish sholihiin.”
Menaiki anak tangga setelah mengunci dulu pintu rumahnya, setibanya di lantai atas Rahimah berjalan menuju kamar mandi guna mencuci kaki dan tangannya, karena sebentar lagi masuk Ashar Rahimah sekalian mengambil whudu.
Benar saja, usai mengabil whudu dan keluar dari kamar mandi kumandang Adzan terdengar dari masjid di sekitar rumahnya.
Seperti biasa, usai salam Rahimah tidak langsung pergi dari duduknya, beberapa do'a serta sholawat ia lantunkan guna memberi ketenangan hati, jiwa, dan juga rumahnya. Tidak lama setelah Rahimah mengaminkan do'a penutup sholatnya, terdengar Rahman mengucap salam di ujung tangga.
"Wa'alaikumussalam," ujarnya sembari menyimpan mukena dan sajadah ke sebuah rak yang ada di sana.
"Mama sudah lama datangnya?" ujar Rahman sambil mencium punggung tangan Rahimah.
"Sebelum Ashar, gih, kamu mandi dulu ... baru Sembahyang!" perintah Rahimah sambil berjalan menuju dapur.
Rahman pun beranjak ke kamarnya untuk mengambil handuk dan sarung, di lepasnya dulu jam di lengan kirinya, lalu pergi ke kamar mandi.
Saat Rahman mandi, Rahimah juga tengah sibuk memasak untuk makan malam. Asyik dengan kegiatan memasaknya, sejenak ia melamun memikirkan apa yang di katakan oleh Ustadzah Habibah tadi saat di perjalanan.
Apakah ia perlu menikah?
Bagaimana nanti, tanggapan dari pihak laki-laki jika mereka tahu tentang masa lalunya?
Apa itu tidak akan menjadi masalah kedepannya?
Lalu Rahman? Apa anaknya itu perlu, seorang ayah?
Bagaimana jika, anaknya tidak di terima oleh laki-laki yang akan menikahinya?
Apakah ia juga bisa berdamai dengan kejadian masa kelamnya?
Apa jika ia memilih menikah, adalah keputusan yang terbaik?
Berbagai pertanyaan hinggap di benaknya, Rahimah tersentak saat tutup dari balik pancin berbunyi, di sebabkan air yang mendidih dari dalam panci.
Tanpa pikir panjang, Rahimah bergegas membuka tutup panci itu hingga uap panas menyebul mengenai permukaan tangannya dan membuatnya kepanasan.
"Auww .... Pranggg," pekik Rahimah, bersamaan menggugurkan tutup panci tersebut.
Bunyi ribut yang di timbutkan dari suara jeritan kecil Rahimah dan tutup panci, membuat atensi Rahman yang baru saja keluar dari mushola tertuju penuh pada mamanya.
Buru-buru Rahman berlari menghampiri Rahimah yang sedang berjongkok memungut tutup panci itu.
"Ada apa Ma? Apa Mama terluka?" terlihat khawatir saat Rahman bertanya, sembari ikut berjongkok di samping Rahimah.
Ibu satu orang anak, tanpa suami itu tersenyum simpul demi mendapati sikap yang di tunjukkan anaknya kepada dirinya.
"Gak kok sayang, Mama cuman kelepasan memegang tudung pancinya."
"Syukurlah! Rahman kira tadi Mama terluka," ucapnya segera bangkit mengikuti Rahimah yang sudah berdiri di depan kompor.
"Lagi masak apa Ma?" tanya Rahman menghampiri Rahimah.
"Masak, makanan kesukaanmu," kata Rahimah sambil mengaduk isi panci itu.
"Wah sop ayam yah?" Sekilas Rahimah melirik Rahman yang tersenyum kemudian ia juga ikut tersenyum sembari mematikan kompornya.
"Iya, sayang ...," kata Rahimah sembari melepaskan celemeknya yang melekat di depan badannya.
"Kamu, mau ke Masjid?" tanya Rahimah yang baru sadar, melihat Rahman membawa sajadah di atas bahu putranya.
"Iya, Ma ..., tapi bentar lagi kok, 'kan masih lama? Mau ke kamar dulu, ada yang mau di kerjain," kata Rahman sambil menggerak-gerakkan kesepuluh jarinya ke depan seperti sedang memainkan papan keyboard.
"Ya sudah, Mama mau mandi dulu," Ujar Mamanya pergi ke kamar untuk mengambil handuk.
Sepeninggal Mamanya, Rahman juga masuk ke dalam kamarnya. Ia hendak men'cek email dari Master Candra, terkait tentang permintaan tolongnya sebelum ia berangkat ke Masjid.
Manghidupkan laptop, setelah beberapa detik lama menunggu ... balasan email dari orang yang di tunggunya pun masuk, buru-buru Rahman membukanya.
"Maaf Rahman, untuk saat ini saya masih sibuk dan belum bisa membantu. Lihat saja nanti, kapan saya ada waktu untuk membantumu."
Rahman menghela nafas lelah, memikirkannya. "Apa sebaiknya kasih tahu Mama ya?" gumam Rahman dalam hati, bimbang.
...****************...
Tak terasa matahari sudah mulai tenggelam ke barat, menampakkan langit senja yang sangat indah di pandang mata. Akan tetapi Abdar masih tertidur nyenyak dalam mimpi indahnya di sore hari yang cerah itu.
Tidurnya terganggu saat ketukan pintu yang begitu gaduh juga bertubi-tubi beriringan dengan suara teriakkan anak kecil dari balik pintu.
"Tokk ..., tok ... tok ... Om Abdaar ... tok, tok ... tok ... ooom, banguun," jelas itu adalah suara dari keponakan yang sangat amat dia sayangi. Intan.
Tidak cukup hanya sekali, bahkan hingga berkali-kali, mungkin juga tidak akan berhenti sebelum mendapat jawaban dari dalam kamar itu.
Mendengar teriakan orang dari balik pintu belum juga berhenti, buru-buru Abdar turun dari ranjangnya. Dengan asal ia memasang sendal sambil berjalan gontai, dan menyahut malas.
"Iya, iya...bentar," ucapnya hendak menggapai kunci yang bertancap di daun pintu. Saat Abdar sudah memegang kuncinya, tiba-tiba saja ia berubah kesal.
"Ckk, pintunya gak di kunci! Kenapa pakai acara gedor-gedor pintu segala, tinggal masuk aja kok repot," Abdar bersungut-sungut menatap orang di depannya dengan kepala menunduk, karena ukurun badan yang mengedor pintu itu memang masih kecil.
Sedang Intan mendongkak kepalanya sambil nyengir, "Hehehe, egak di kunci ya Om? Intan kira tadi di kunci!" Abdar melongos menatap Intan tidak percaya.
"Ada apa?" ucapnya ketus masih kesal karena merasa di permainkan oleh keponakannya.
"Ini tuh sudah sore, Mama nyuruh Om Dar siap-sisp buat Sholat di Masjid, kalau belum mandi? Cepetan mandi katanya," jelas Intan dengan mimik wajah lucunya.
"Dar, Dar ..., Om Abdar," ralatnya dengan kesal.
"Sama aja kali Om ... Daarr," ujarnya langsung berlari saat melihat mata Om nya yang melotot.
Dengan kesal Abdar menutup pintu kamarnya dan berbalik, baru satu langkah kaki jenjangnya berjalan, bunyi dari pintu yang di ketuk lagi kembali terdengar.
Berbalik dengan cepat dan segera membuka pintu. "Apaan?" kesalnya, saat lagi-lagi mendapati Intan-tah pelakunya.
"Om Adit udah datang, buat Sholat bareng sama Om Dar, ke Masj---" suara Intan menggantung karena buru-buru berlari saat Abdar akan menangkapnya.
"Blee," Intan masih sempat-sempatnya menjulurkan lidahnya pada Abdar, dan seketika menambah kecepatan laju larinya saat melihat salah satu kaki dari Om nya itu keluar dari dalam kamar.
"Mamaaa," terik Intan menuruni anak tangga.
"Ehh, Intan hati-hati ...." ia yang awalnya kesal berubah khawatir melihat Intan yang berlari di tengah-tengah anak tangga.
Menghela nafas kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepala. Abdar bersyukur dengan kehadiran adik dan keponakannya di rumah itu, setidaknya ia tidak sendiri lagi tinggal di rumah besar itu.
Semenjak kematian kedua orang tuanya, Abdar dan Maryam hanya tinggal berdua ... walau tidak sepenuhnya berdua karena masih ada beberapa pekerja dan pelayan yang menemani mereka.
Saat Maryam menikah dan ikut tinggal di rumah suaminya, ia merasa kesepian. Tapi waktu adik iparnya sudah meninggal ia bergegas menjemput adik dan keponakannya, karena ia tahu bahwa mertua dari Maryam dan mama kandung dari Adit tidak menyukai adiknya.
Setelah menutup pintu Abdar segera mandi, tidak perlu waktu lama mengingat Adit yang sudah menunggunya.
Membuka salah satu almari pakaiannya yang khusus di tata ulang oleh Marya, menampakkan berbagai baju koko yang menggantung dari macam warna begitu juga sarung yang tersusun rapi dengan lipatannya.
Semenjak Abdar mengungkapkan keinginannya untuk menjadi seorang mu'alaf, Maryam adalah orang yang paling excited dalam menyiapkan segala keperluan seorang muslim untuk kakaknya.
Mulai dari sarung, baju koko, peci, celana pendek, dan baju kaos tidak berlengan untuk ********** selalu di beli Maryam jika ia tengah pergi ke pasar atau mall yang ia kunjungi.
"Terbaik," gumam Abdar menarik salah satu sarung dengan corak warna merah maroon polos, beserta baju koko berwarna putih gading.
Sebenarnya Abdar tidak terlalu bisa memakai sarung, mengingat dulu ia bukanlah seorang muslim yang hanya bisa memakai asal. Tapi Maryam, orang yang paling, paling, dan paling excited, mengenai kepindah agamaan Abdar.
Di sela-sela pemulihan masa khitan itu, Maryam selalu otoriter dengan mengingatkan Adit untuk membantu kakaknya dalam segala hal, yakni seorang muslim.
Usaha Abdar dalam memasang sarung sudah lumayan baik, walau tidak sebaik Adit, tapi untuk pemula dalam waktu singgat sangat terbilang cukup baik.
Sudah siap dengan segala keperluan Sholatnya, Abdar menyampingkan sajadah di bahu kanannya dan berjalan keluar kamar.
Di lantai dasar Abdar sudah melihat keberadaan Adit, ia segera mendekati teman sekaligus asistennya itu.
"Sudah siap? Ayo berangkat," ujar Adit berdiri dan hendak pergi.
"Sekarang? Bukannya masih lama ya, waktunya Magrib?"
"Ehh DODOL, nyadar gak sih? Elo itu tinggal di kawasan apa? Kalau kita berangkatnya nanti-nanti, yang ada kemagrib-an di jalan ...," ujar Adit melirik Abdar kesal.
"Ooh ... ya udah ayo," ujar Abdar berjalan lebih dulu meninggalkan Adit di belakang.
"Gak pamit sama, Maryam?" Abdar langsung berhenti dan putar arah ke bagian dapur, ia yakin adiknya itu pastilah berada di ditu, Adit mengikutinya di belakang.
Benar saja, Maryam tengah mencuci piring sehabis memasak. "Dek, kakak pergi dulu," ujar Abdar menjulurkan tangan kepada Maryam begitu juga Adit, mencuci tangan dan mengeringkannya lalu menyambut tangan para kakak-kakaknya.
"Asaalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, hati-hati," kata Maryam.
Langkah kaki Abdar dan Adit terhenti, di depan pintu dapur karena tangan Intan dengan telapak yang terbuka tengah menggantung di udara sambil tersenyum manis.
Mengira Intan yang ingin menyalaminya, Abdar pun menyambut dan mendorong tangannya ke depan bibir Intan.
Intan tidak menolak, ia juga menyalimi Adit. Tapi lagi-lagi Intan kembali menanaikan tangannya.
Abdar menaikkan alis tidak mengerti, hendak berucap tapi keburu Intan yang bersuara. "Minta uang," ucapnya dengan suara pelan sambil melirik ke belakang Abdar dan Adit.
Faham dengan itu, Abdar dan Adit mengeluarkan dompet yang ada di saku baju mereka, kemudian memberi Intan uang masing-masing dengan pecahan seratus ribuan.
Mengusap pucuk kepala Intan sambil berlalu. "Yang rajin belajarnya!" seru Abdar.
"Pergunakan dengan baik, jangan di buang-buang uangnya," pesan Adit.
"Oke, makasih Om."
Adit dan Abdar beranjak ke halaman parkir mobilnya. Adit duduk dibalik kemudi, sedangkan Abdar duduk di kursi sampingnya.
Adit menyalakan mesin mobil kemudian menjalankannya perlahan meninggalkan halaman, melewati taman jalan berpaving.
"Ada rapat gak tadi?" tanya Abdar di perjalan.
"Gak tau gue," ujar Adit fokus ke depan.
Mengerutkan kening menoleh penuh pada Adit di sampingnya. "Bukannya tadi siang lo bilang ke kantor? Kenapa sampai gak tau?" tanya Abdar heran.
"Hehehe, sory, gue tadi ketiduran pas rebahan di kamar," ucap Adit meringis.
"Ckk, dasar ...." ketusnya menatap jalan di depan.
Sampai di depan masjid, ternyata parkiran penuh, Adit tidak jadi menghentikan mobilnya. Ia terus menjalankannya, mencari tempat kosong untuk mereka parkir.
"Penuhkan parkiran? Padahal kita berangkatnya sudah cepat, tapi tetap aja gak kebagian," Adit kesal sendiri.
"Di sini aja deh kita parkirnya," kata Adit saat melihat lahan kosong, yang jarangnya lumayan jahu dari masjid.
"Jauh amat, parkirnya," protes Abdar.
"Kalau mau yang dekatan, tuh ... di sebrang, emang lo mau? pake acara nyebrang segala," tunjuk Adit yang lebih dekat dari tempatnya, tapi harus menyebrang saat hendak ke masjid.
"Gak papa deh nyebrang, asal lebih dekat dari pada di sini!" kembali menjalankan mobil untuk memenuhi keinginan Abdar, memutar balik mobilnya di jalur sebrang dan segera memarkirkannya saat sudah sampai pada tempat tujuan yang di maksud.
Abdar dan Adit menyebrang jalan, menuju masjid guna menunaikan Sholat berjama'ah, ini adalah kali ke dua bagi Abdar dan ia akan belajar sungguh-sungguh melakukannya.
BERSAMBUNG ....
.
Mohon minta dukungannya ya gaes, jangan pelit buat ngasih like dan komentar ... itu sama sekali tidak merugikan kalian kok. Kalau berkenan, kasih gift dan vote sekalian😊. Yang sudah ngasih, aku ucapin makasih banyak, love you all😘😘.
.
Noormy Aliansyah