
"Sudah saya katakan kemarin. Anda terlambat, karena kami tidak mengharapkan kedatangan anda sekarang."
Jeddaaaarr
Seketika harapan Abdar runtuh. Untuk kedua kalinya ia mendengar kalimat itu, dan keluar begitu saja dari mulut Rahman, bahkan terdengar seperti tanpa beban ketika mengucapkannya.
Ia pikir, ini akan menjadi sangat mudah setelah meminta maaf dan mendatangkan kedua saksi kepada Rahman. Tapi ternyata sama sekali tidak merubah pendirian Rahman.
Memang benar ia sudah dimaafkan, tapi tidak untuk diterima di dalam keluarga kecil Rahimah.
Sepanjang perjalanan pulang, Abdar diam. Ia bagaikan raga tanpa jiwa, matanya bahkan terus saja menatap ke arah luar jendela mobil dengan pandangan kosong.
Tidak menduga, ternyata mempunyai ikatan belum tentu menjamin dirinya bisa mendapatkan Rahimah dan Rahman, dan ia sudah merasakan kekalahan itu. Bahwa ia sekarang sudah kalah sebelum bertarung.
Sembari mengemudi Tomi sekekali melirik pada sang atasan yang berada di belakang dari kaca yang menggantung di depannya.
Setelah mengantar Maya dan menjemput Abdar kembali, Tomi begitu penasaran dengan raut wajah tuannya itu tapi tidak berani bertanya.
"Tuan, kita sudah sampai," ujar Tomi memberi tahukan.
"Hem," kesadaran Abdar kembali dari lamunannya ia bahkan sempat terlonjat kaget.
"Oh, kita sudah sampai," ulangnya.
Bergegas turun dari mobil dan masuk kedalam rumah megahnya tanpa mempedulikan Tomi di parkiran.
Sempat bertegur sapa dengan Maryam, tapi segera ia lewati dengan alasan ingin minum. obat dan beristirahat.
Memasuki kamar, dengan langkah gontai mendekati ranjang. "Brukk," Abdar menghempaskan tubuh yang tiba-tiba terasa lemas tak berdaya.
Rasa lega beberapa jam lalu karena bisa mengungkapkan isi hatinya untuk meminta maaf secara langsung akan dosa-dosanya, seketika berganti dengan rasa galau ketika mendapat penolakan dari sang putra.
Menatap langit-langit kamar, merenungi rasa kecewanya karena penolakan. Kecewa dan sakit hati ... sudah pasti itu, sebenarnya ingin rasanya ia memaksa keduanya untuk menerimanya.
Jika dirasanya ini lebih sakit dari masa lalu. Tapi utungnya sekarang ia tidak mabuk-mabukan seperti dulu, mungkin karena mendapat kekecewaan yang berbeda. Jika dulu ia dikhianati sang kekasih yang sudah berhubungan lama lalu memilih minum-minuman, tapi sekarang ... ini adalah penolakan dari anak dan ibu si anak yang baru-baru ini ia ketahui keberadaannya jadi ia bisa mengontrol diri.
Abdar teringat tentang sakit hati dan kecewanya sepuluh tahun yang lalu ketika diselingkuhi oleh Sherlin, hingga berakhir bertemu Rahimah dalam keadaan mabuk.
Ia mencoba mengingat-ngingat dan merangkai pertemuannya dengan Rahimah. Dari kejadian sepuluh tahun yang lalu hingga sekarang.
Ketika ia menarik paksa seorang wanita seksi yang kebetulan lewat didepan kamar hotelnya saat Abdar dalam keadaan mabuk, Rahimah datang menolong wanita itu dan berakhir dengan dia yang menjadi pengganti.
Mencari Rahimah guna memberi uang kompensasi tapi anak buahnya kehilangan jejak. Ya dulu ia memang mempunyai niat menemukan Rahimah hanya untuk itu, tapi setelah pertemuan-pertemuan selanjutnya ... niatnya berubah dengan sendirinya.
Kali kedua tidak sengaja ia kembali melihat Rahimah setelah sepuluh tahun, memang hanya melihat dari jarak jauh sewaktu di rumah sakit, dan di pondok pesantren-lah ia sangat memperhatikan wajah Rahimah hingga muncul niat ingin meminta maaf secara tulus.
Bertemu dengan Rahman juga mengantarkannya kepada Rahimah ketika ia hampir tertabrak. Rasa keterikatan karena adanya Rahman membuat ia ingin memiliki, merasa ada benang merah yang tak kasat mata sudah mengikatnya.
Saat kelima kalinya, ia berada di restoran Dinda. Rahimah hendak terjatuh kala itu dan ia yang kebetulan tak sengaja melihat dan memperhatikannya dengan sigap menangkap hingga masuk ke dalam pelukannya.
Dikesempatan lain ia kembali tidak menyangka akan bertemu Rahimah sebagai guru mengaji Intan, hingga penculikan yang menimpa Intan dan Rahman semakin sering membuat mereka bertemu sampai sekarang.
Tapi sekarang semuanya hanya angan belaka untuk menjadi keluarga kecil.
Lelah dengan tubuh dan pikiran, kantuk kini datang menyerang membuat mata perlahan terpejam, hingga tak terasa mengantarkannya ke alam mimpi yang menenangkan, merajut kehidupan semu dan bagai dunia khayalan yang menjadi kenyataan. Lelap ....
.
...****************...
.
Siang menjelang sore, Rahimah sudah siap untuk berangkat guna mengajari Intan mengaji. Sebenarnya setelah kejadian tadi siang Rahimah menjadi sungkan dan canggung bertemu Abdar, tapi mau bagaimana lagi ... ia pasti akan bertemu ketika mengajari Intan mengaji.
Menunggangi motor metiknya dan beriringan bersama Abizar, ia lewati dengan harap-harap cemas.
Tiba di rumah Abdar mereka disambut oleh pelayan paruh baya juga Maryam bersama Intan, dan ternyata kecemasannya tadi tidaklah terjadi. Karena Abdar memilih menunggu Abizar di ruangannya ketimbang menemui mereka terlebih dulu.
Sekarang Rahimah menyadari sesuatu, sepertinya bukan hanya ia saja yang merasa segan bila bertemu, tapi Abdar pun demikian.
Ia tahu bahwa Abdar telah menghindari pertemuan dengan dirinya dan Rahimah mensyukuri itu.
Rahimah langsung mengajari Intan begitu juga Abizar.
...----------------...
Abdar mengaji seperti biasa, selesai mengaji ia meminta waktu kepada Abizar untuk meminta sedikit pencerahan dari Ustadz muda tersebut.
Ia ingin mengeluarkan beban pikiran yang sedari tadi mengusiknya dan sekalian meminta solusi.
"Pak ustadz, boleh saya bertanya?" tanya Abdar usai menyimpan buku Iq'ro nya.
"Silahkan, apa yang ingin anda tanyakan?"
"Begini ... menurut pak Ustadz, jika kita menyukai seseorang tapi orang itu tidak menyukai kita, bagaimana?" ujar Abdar.
Abizar diam tidak langsung menjawab, ia mengerutkan kening seperti berpikir.
"Maksud saya Begini, saya menyukai seorang wanita ... tapi wanita itu tidak menyukai saya, dia malah memilih orang lain dan saya kecewa, lalu apa yang harus saya lakukan?" jelas Abdar mengungkapkan perasaan kecewanya.
"Seseorang yang disayangi tapi ternyata memilih bersama orang lain memang tidaklah mudah, tapi kita juga tidak boleh egois. Bahwa kita semua nggak bisa memaksakan seseorang untuk menyukai siapapun, sama seperti soal cinta, kita juga tidak dapat memaksa seseorang untuk membalas mencintai kita."
"Dalam kehidupan pasti akan menemukan sebuah kegagalan. Secara sadar kita pasti tahu bahwa dalam hidup nggak cuma ada rasa senang ataupun bahagia saja, terkadang juga akan merasa kesal dan sangat kecewa. Jika yang didapat adalah sebuah kebahagiaan, maka pasti tidak akan mau menolaknya."
"Namun bagaimana jika kekecewaan yang datang? Mau tidak mau, suka tidak suka kita harus menerimanya. Kecewa karena hubungan yang gagal tentu hal yang wajar, yang tak wajar adalah ketika seseorang terlalu lama hidup dalam masa lalu yang seharusnya sudah terkubur dalam-dalam."
"Nikmati saja rasa sakitnya, dan belajarlah dari itu semua. Bagaimana caranya supaya bisa menikmati sesuatu yang sangat kita benci? Caranya adalah dengan mengikhlaskannya. Sadari bahwa semua yang dipaksakan pastinya akan berakhir dengan sia-sia. Ketahuilah bahwa selama masih bernapas itu artinya kita dapat memilih jalan apapun yang akan kita lalui."
Tanpa sadar Abdar kembali mengenang kegagalannya hubungan percintaannya bersama Sherlin, karena tidak ikhlaslah yang mengantarnya kepada Rahimah.
"Berusaha untuk mempertahankan sesuatu yang diperjuangkan memang boleh-boleh saja. Namun pertanyaannya adalah jika ... sudah tahu bahwa si dia tidak memperjuangan anda, berapa lama anda akan memberikan waktu untuk diri sendiri agar sadar bahwa dia memang bukan jodoh yang dikirim dari tuhan? Sebulan, dua bulan, atau setahun? Ingat, waktu terus berjalan dan anda telah melewatkan hal-hal indah. Tuhan memang menciptakan manusia berpasang pasangan tapi jika belum berjodoh maka yakinlah, bahwa tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik."
Rasa tidak suka Abdar kepada Abizar mulai luntur ketika ia merasa kalah bersaing sebelum bertempur, ketidak sukaan nya terhadap Abizar tidak beralasan. Seharusnya ia sangat berterimakasih karena sudah diajari mengaji, dan sekarang ia mulai berdamai dengan itu semua.
"Tapi sepertinya saya masih mengharapkannya," ucap Abdar lirih sambil menunduk.
"Emm maaf mas Abdar, apa saya boleh bertanya sebelumnya?" Abdar mengangguk sambil mendongak.
"Apa wanita ini sudah menikah?"
"Belum, belum sama sekali ... pak Ustadz jangan salah paham, dia masih sendiri." jawab Abdar cepat sembari menggoyangkan tangan takut ada kesalah pahaman.
"Kalau begitu perbanyaklah berdoa. Bemunajat kepada Allah." Abdar langsung diam.
"Lakukan shalat istikharah di persetiga malam. Dalam shalat tersebut kita bisa berdoa, tapi ingat ... kita juga tidak boleh memaksa dalam berdoa. Jika dia memang jodoh anda maka tak akan kemana tapi jika bukan jodoh anda maka yakinlah bahwa jodoh yang terbaik akan segera datang menggantikannya. Saya akan mengajak do'anya."
Dengan senyum lebar Abdar mengangguk cepat. Setidaknya ia punya semangat baru setelah mendengar ada do'a untuk mengharapkan jodoh.
"Ya Allah seandainya orang ini, sebut namanya, baik untukku, untuk agamaku, untuk kehidupanku, untuk akhiratku, maka dekatkanlah aku dengannya. Dekatkan dia denganku dengan caramu yang terbaik. Dan berkahilah kami di jalan yang Engkau ridhai. Satukanlah kami dalam pernikahan.”
“Seandainya orang ini buruk untuk diriku, keluargaku, untuk agamaku, untuk duniaku, untuk akhiratku, maka jauhkanlah aku darinya, dan jauhkan dia dariku.”
"Terimakasih, atas do'anya pak Ustadz."
Usai meminta pencerahan mereka keluar, kali ini Abdar menemui Rahimah dengan senyum yang terus menempel di wajahnya.
Rahimah memandangnya heran, karena terakhir mereka bertemu wajah itu terlihat sedih dan sangat kecewa.
"Kalau begitu kami permisi, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Kenapa senyem-senyum gitu?" tanya Maryam ketika Rahimah dan Abizar sudah pergi.
"Kenapa? Gak boleh kalau kakak senyum?" balas Abdar.
"Enggak sih, cuman aneh aja. Perasan tadi siang pas kakak pulang kaya gak semangat gitu? Tapi sekarang kaya sebaliknya deh?" ujar Maryam heran.
"Hehe kamu pintar menebak ya." Berbalik badan dan berjalan hendak kembali ke kamarnya.
"Eh, benar ya tebakan aku?" pekik Maryam terperanjat.
"Mama ...," teriak Intan menyusul mamanya yang mengejar Abdar.
"Emang apa bedanya sekarang sama tadi siang?" cegat Maryam dan Intan di ujung tangga.
"Nggak ada, cuman dapat tausiah aja tadi dari pak Ustadz." Sahut Abdar tetap berjalan melewati keduanya.
"Tausiah ...? Tentang Apa?"
"Tentang jodoh," Abdar tidak bisa menahan senyum ketika mengucapkan itu.
"Wah ada kemajuan Ini? Om kamu minta pencerahan tentang jodoh," Maryam melirik Intan di sampingnya.
"Emang jodoh itu apa sih, ma?" tanya Intan polos.
"Udah kamu diam aja, kalo gak ngerti."
"Jadi kakak udah punya calonkan?" dengan menunjukkan wajah pemasarannya terus mengikuti Abdar hingga sampai di depan kamar sang Kakak.
"Liat aja nanti."
"Eh," pekik Maryam karena Abdar mehilang dari balik pintu kamarnya.
"Ish, kita di kacangin," gerutu Maryam.
"Jodoh itu apa sih, ma?"
"Jodoh itu maksudnya, om kamu bakalan punya istri dan dia akan jadi tante kamu," jelas Maryam masih di posisi yang sama sambil berhadapan dengan anak gadisnya.
"Jadi aku bakalan punya tante ma?" semangat Intan yang dibalas anggukan Mama-nya.
"Wa--." suara Intan terputus ketika pintu Abdar terbuka secara tiba-tiba.
"Do'akan saja, semoga di kabul'kan. Kata orang ... do'a orang banyak itu cepat di izabah, jadi do'akan kakak ya?" pintanya.
"Aminn."
"Aminn," beo Intan mengikuti Maryam. Detik berikutnya Abdar kembali menutup pintu dengan senyum puas.
"Ish, dasar ...." Kesal Maryam.
.
...***************...
.
"Imah," panggil Abizar ikut turun dari motornya.
"Iya, mas," Rahimah berbalik badan sambil menunduk malu.
"Kata Ustadzah Habibah, kamu sudah tahu niat saya? Dan sedang mempertimbangkannya. Lalu, apa sekarang ... kamu sudah memutuskannya?" Rahimah semakin menunduk, karena malu dan gugup.
Selama ini Rahimah tidak pernah mendapatkan pertanyaan seperti itu secara langsung dari seorang pria, dan sekarang ketika ia mendapat pertanyaan itu malah membuat tangannya berkeringat dingin.
"Tidak apa-apa jika kamu masih ragu, pertimbangkanlah dulu ... masih banyak waktu," sambungnya sedikit kecewa karena tidak menemukan jawaban.
"Bukan begitu ...," sergah Rahimah lekas mengangkat wajahnya.
Mata mereka bertemu, dalam beberapa detik kedua pasang mata itu sempat terkunci hingga akhirnya Rahimah-lah yang lebih dulu memutus kontak matanya sambil kembali menunduk tersipu malu.
Abizar yang tidak pernah melihat tingkah laku Rahimah jika sedang malu, tidak tahan untuk tidak tersenyum ketika melihatnya.
"Lalu ...." tanya Abizar bahagia.
Sedetik, dua detik, tiga detik. Mereka tetap membiarkan keheningan menguasai disekitarnya.
"Baiklah tidak usah dijawab," ujar Abizar yang merasa lucu, karena sedari tadi Rahimah hanya menunduk tanpa menjawab.
"Saya akan menjawabnya sekarang, mas."
"Insya Allah, saya bersedia." ucapnya menatap Abizar sejenak.
"Alhamdulillah," gumam Abizar. Ustadz muda itu tersenyum lebar sembari melihatnya gemas.
"Insya Allah, tiga hari lagi mas akan datang bersama kedua orang tua mas. Jadi kamu bersiaplah menunggu kedatangan mas," ujarnya lugas.
Rahimah mengangguk malu.
"Em ... kalau begitu, mas pulang dulu, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Rahimah segera masuk ke dalam rumah sambil memegang dadanya yang berdegup kencang. Tanpa sadar ia tersenyum lega, seakan tengah melepas beban dan menguap begitu saja.
"Semoga ini pilihan yang tepat dan terbaik," gumam Rahimah dalam hati.
BERSAMBUNG ....
Yang penasaran sama jodohnya Rahimah, mana komentarnya? Kok gak ada yang angkat tangan sih!🤔 Apa mungkin gak penasaran ya?🙄. Baiklah, karena gak ada yang penasaran ... jadi kita puter-puter aja jodohnya Rahimah, biar mereka pusing sendiri😂.
Jangan lupa buat selalu bayar saya ya, dengan cara tekan jempol 👍, ketik komentar 📨, kembali ke profil buat pencet bintang ⭐5, kalau punya poin lebih kirimkan kopi ☕ dan bunga 🌹, semisal vote nganggur silahkan kirim juganya 🎞.
Itu semua sangat berharga buat saya, biar tambah semangat 💪, jadi jangan sungkan-sungkan buat berbagi ke Rahman ya ...! 🤗🤗🤗
Salam sayang
Noormy Aliansyah 😘😘