Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 67 Rahman diberitahu semuanya



Abdar menoleh dan langsung berdiri ketika mendengar pertanyaan dari ambang pintu, ia terlonjat kaget melihat seseorang yang kini menatapnya.


Begitu juga dengan Rahimah, tidak kalah terkejutnya, bahkan air mata yang sejak tadi sudah siap meluncur seketika mengering.


Menautkan tangan sembari meremas jari-jari dengan kuat, matanya gusar melihat pemandangan dihadapannya.


Tadi malam Rahimah sudah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kepada anak sekecil Rahman yang tidak mengerti apa-apa, dan sekarang ... ia kembali dihadapkan dalam situasi yang sama. Sekarang kepala seakan mau pecah.


Jangankan untuk menjelaskan, hatinya bahkan sangat teramat sakit karena tidak tahan dengan luka lama yang tiba-tiba menganga hingga membuat lidahnya kelu dan sulit berbicara.


Ketiganya masih tetap dalam posisi masing-masing. Seorang anak dengan seragam sekolah dasar dan tas yang menggantung di punggung, tengah menatap tajam kepada Abdar. Wajah yang putih sangat kentara menjadi merah padam karena menahan amarah.


Perlahan melepas tas dan berjalan mendekati sepasang manusia yang terpaku karena kedatangannya.


"Jadi anda orang yang sudah menyakiti mama saya?" Abdar kalah telak, ia berpikir ingin menyelesaian satu masalah dulu baru masalah yang lain.


Tadi dalam benak Abdar hanya ingin meminta maaf dan pengampunan dulu kepada Rahimah. Jika wanita dihadapannya ini mengelak atau menyangkal tentang masa lalu, baru ia akan membawa surat tes DNA agar membuatnya mengaku, walau tanpa hasil itu Abdar juga sudah yakin.


Kemudian secara perlahan menarik simpati wanita itu untuk dekat dengan Rahman, mengingat penolakan Rahman kemarin yang tidak mengharapkan kedatangan ayah kandungnya, dan itu akan mempersulit dirinya.


Tapi apa boleh buat, prediksinya meleset. Abdar hanya memikirkan karena kesempatan ada di depan mata dan ia lupa jika jam pulang Rahman sudah tiba.


"Jawabbb ..!! Apa anda pelakunyaa? Brakkkk," teriak Rahman menggema di lantai satu tersebut berbarengan dengan tas yang di bantingnya ke lantai.


"Rahman," bentak Rahimah menegur karena berperilaku seperti itu.


Rahman bergeming, tak acuh dengan teguran sang mama. Abdar dapat menangkap kilat amarah dari sorot matanya.


"Apa ini, maksud dari pertanyaan anda kemarin?" tanya Rahman lagi, suaranya turun satu oktaf.


Rahimah memicing, tidak tahu arah dari pembicaraan ini. Abdar tetap diam, sengaja membiarkan Rahman meluapkan amarahnya.


"Yang akan saya lakukan ketika anda ada disini adalah, menuntun jawaban yang tidak saya dapatkan," melirik sekilas pada mamanya yang menggeleng samar.


"Di mana anda, ketika mama saya tidak punya tempat berlindung? Di mana anda, ketika mama saya dihina dan diusir dari desa sendiri? Di mana anda, ketika mama dan kakek membesarkan saya sendiri? Di mana anda, ketika saya mencari anda? Di mana anda ke----."


"Rahman, cukup," sergah Rahimah sedikit berteriak menghentikan pertanyaan bertubi-tubi dari anak tunggalnya.


Seketika Rahman diam dengan napas yang tersengal-sengal.


"Akan om, jelaskan. Tapi sebaiknya ... duduklah dulu," jawab Abdar tenang, padahal di dalam hati tengah menahan gugup dan takut yang luar biasa.


"Cerita om tidak akan lengkap tanpa cerita dari mama mu," Rahimah melirik tajam kepada Abdar.


Memangnya semudah itu bercerita? gumam Rahimah di dalam hati.


Rahman mengalah, perlahan ia berjalan mendekati kursi dan duduk dengan cepat.


"Duduklah," kata Abdar lembut kepada Rahimah.


Siapa anda, seenaknya sendiri? Dasar menyebalkan ...! Rahimah hanya bisa menggerutu di dalam hati.


Dengan terpaksa Rahimah duduk kembali di kursi tunggal, begitu juga Abdar. Posisi mereka sekarang Rahman berada di tengah, duduk bersama dengan Abdar di kursi panjang tapi ada menyisakan jarak.


Tanpa bicara, Rahman hanya melayangkan tatapan tajam seolah memberikan pertanyaan kepada orang yang duduk di sampingnya.


Ingin sekali rasanya Rahimah mengusir Abdar, tapi lidahnya kelu dan tidak bisa bicara ketika melihat kemarahan sang putra saat ini.


Apa tidak terlalu cepat, menceritakannya pada anak sekecil ini? gerutu Rahimah dalam hati.


Abdar menggaruk tengkuknya walau tidak gatal, ia bingung sendiri .... Mulai dari mana ceritanya? gumam isi hatinya.


Hening ....


"Kapan anda akan, bicara?" suara yang terdengar dingin memecah keheningan di dalam ruangan tersebut.


Membalas tatapan Rahman, Abdar meneliti. Dasar bocah, gak cuman mukanya ... tapi sikapnya juga benar-benar mirip gw.


"Ehemm," Abdar berdehem guna menghilangkan atmosfer ketegangan yang ada di sekitarnya.


"Emm .... Begini ...," Abdar menjeda kalimatnya sembari melirik Rahimah yang melotot kepadanya.


Menggemaskan ....


Menyebalkan ....


"Dulu ... om sudah mencari mama mu ketempat tinggalnya, tapi mama mu menghilang dari kota ini, dan tidak meninggalkan jejak. Dikarenakan pengusiran oleh para warga, sehingga om kesulitan untuk menemukannya," Abdar memulai cerita yang ia ingat.


"Om juga tidak tau, kalau mama mu sedang mengandung dirimu. Jika kamu mempertanyakan, dimana om berada ...? Maka jawabannya adalah ... om mencari kalian, dan sekarang tanpa sengaja kita bertemu."


"Apa anda pikir saya akan percaya?" tanya Rahman cepat.


Abdar melotot mendengarnya, tidak menyangka kalau Rahman pintar sekali dalam hal berbicara.


"Tunggu sebentar," ujar Abdar sambil mengambil Hp di saku celana kirinya.


Mengotak-ngantik Hp-nya sebentar, kemudian meletakkannya di daun telinga.


"Hallo, Tomi. Cepat ke rumah Rahman sekarang, dan bawa wanita yang membuat masalah ini terjadi," perintahnya tanpa basa-basi dan langsung mematikan telepon secara sepihak.


"Tunggu sampai anak buah om datang," Abdar melihat keduanya bergantian.


"Baik, penjelasan apa yang akan anda berikan?" balas Rahman.


Rahimah lemas, rasanya benar-benar ingin mengusir Abdar dari sini untuk mengakhiri semua pembahasan yang baginya sudah menjadi kenangan pahit masa lalu.


Lima menit .., enam menit .., tujuh menit .., hingga sampai sepuluh menit, tapi orang yang ditunggu belum juga datang. Jelas saja ... mana mungkin orang yang baru dihubungi langsung datang dan berada di tempat mereka sekarang.


"Eh, mau kemana kamu?" tanya Abdar kaget melihat Rahman yang berdiri dan melewatinya.


"Mau sholat," jawab Rahman pendek tanpa melirik.


Rahimah menghela napas lega, ia punya kesempatan untuk mengusir Abdar. Urusan dengan Rahman, ia akan memberi penjelasan menggunakan caranya sendiri, nanti. Pikirnya.


Belum sempat Rahimah membuka suara, Rahman sudah mengintruksi dari arah tangga.


"Anda bisa sholat dulu, sebelum memberikan jawaban yang membuat saya puas tentang pertanyaan saya." Kembali melangkahkan kaki sambil membawa tas yang tadi sempat dipungutnya.


"Anda membuat hidup saya rumit, seharusnya anda tidak perlu muncul di sini. Anda hanya menambah kusut benang, yang saya coba uraikan," sungut Rahimah sembari berdiri.


"Pergi saja anda dari sini, saya bisa menyelesaikannya masalah ini," ujar Rahimah menyusul Rahman ke lantai atas.


Rahimah menaiki anak tangga dengan diiringi tatapan Abdar yang tetap memperhatikan punggungnya sampai menghilang.


Setelah kepergian Rahman dan Rahimah, Abdar pun juga memilih pergi dari rumah Rahimah.


Di lantai atas ....


"Rahman, sudah cukup ... hentikan kekonyolan ini. Kamu tidak perlu lagi mencari jawaban itu, penjelasan tadi, mama rasa sudah sangat cukup." Cegat Rahimah ketika Rahman baru saja keluar dari kamar mandi. ia sudah memakai sarung dan baju koko dengan wajah yang basah karena wudhu.


"Ma, Rahman mohon ...! Jika mama tidak bisa memberikan jawaban yang Rahman minta, maka biarkan orang lain yang memberikannya."


Rahman segera masuk ke dalam mushola kecil di rumahnya.


Satu helaan napas pasrah terlepas dari lubang hidung Rahimah. Ia memutuskan untuk turut mengambil wudhu dan ikut sholat menjadi makmum.


Usai sholat Rahman bersalaman pada sang mama. "Ma ... Rahman minta maaf, karena sudah berlaku kurang ajar sama mama tadi malam," sesal Rahman.


"Rahman ... bukan maksud mama untuk melarang kamu, tapi mama rasa ini bukan waktu yang tepat untuk kamu mengetahuinya di usiamu yang masih sekecil ini," ucap Rahimah lembut memberikan pengertian.


"Rahman janji Ma, Rahman akan menjadi anak yang baik walau sudah mendengar jawaban itu. Rahman hanya minta sama mama, untuk selalu mengingatkan dan menegur Rahman jika Rahman berbuat nakal atau salah," janjinya sungguh sungguh.


"Rahman juga janji, gak akan pernah ungkit-ungkit lagi masalah ini," sambungnya.


Menarik tangannya yang berada dalam genggaman Rahman, perlahan tangan itu mendarat lembut di pipi kiri sang putra sambil mengusap sayang.


Matanya tiba-tiba mengabur ketika ingatannya melayang pada kejadian tadi malam saat ia menampar putra kesayangannya.


"Mama minta maaf, karena sudah menampar kamu," ucapnya bergetar bersamaan air mata yang jatuh.


Rahman tersenyum sembari menangkup kedua pipi mama-nya, lantas ia sapu dengan lembut jejak air matanya.


"Ini bukan salah mama, Rahman tau ... mama adalah orang yang paling terluka disini."


Rahman menyadari satu hal, ketika mencari informasi di situs resmi tadi malam. Ia kembali mencari informasi yang lebih mendalam, dan sekarang ia bisa meniyimpul, bahwa mama-nya adalah korban dari tindak asusila.


Rahimah tersentuh, tangisnya pun pecah karena yakin anaknya akan bisa bersikap bijak walau usianya masih dikatakan belum cukup umur.


Memberikan pelukan dan usapan lembut pada punggung mama-nya, Rahman pun kembali berujar.


"Rahman hanya ingin, agar kelak dikemudian hari ... jika dia datang dan mengaku bahwa dia adalah ayah Rahman disaat mama sudah menikah ... maka mama akan baik-baik saja, dan tidak perlu khawatir dengan Rahman."


"Karena Rahman, akan selalu ada untuk mama. Rahman juga tidak akan membiarkan siapapun yang akan menyakiti mama." Dengan cepat Rahimah menggangu karena sudah mengerti maksud dari ucapan Rahman.


Ia sekarang sudah yakin, bahwa Rahman sangatlah bijak dalam menyikapi masa lalunya. Hanya ia saja yang tidak bisa menangkap dari maksud Rahman tadi malam, hingga berakhir dengan tamparannya.


"Maaf, mama minta maaf ...." Mengurai pelukan dan menangkup kedua pipi Rahman, lantas ia berikan ciuman bertubi-tubi.


"Rahman juga minta maaf, ma." Kembali mereka berpelukan.


"Apa kamu setuju, kalau Ustadz Abizar menikah dengan mama?" pelukan sudah usai, kini Rahimah tengah melepas mukenanya.


"Apa pun pilihan Mama, jika itu yang terbaik. Insya Allah, Rahman akan setuju," ujarnya bijak.


"Ayo kita ke bawah," ajak Rahman.


Tiba di lantai bawah, ternyata tidak ada siapa-siapa. Tapi tiba-tiba pintu terbuka dan muncullah Abdar dengan wajah yang bersih seperti bekas sholat.


Abdar masuk setelah mengucap salam yang langsung dibalas Rahimah dan Rahman. Di belakang Abdar muncul satu orang pria yang Rahman kenal, dan satu orang wanita yang juga mereka kenal.


"Maya."


"Tante Maya," ucap keduanya terkejut.


"Mereka yang akan menjelaskan, semuanya." Abdar menjawab rasa bingung ibu dan anak itu.


"Wanita ini, yang membuat Mama mu diusir. Dan pria ini yang membantu om mencari kalian." Tunjuk Abdar kepada kedua orang yang tadi mereka tunggu.


"Mama mohon, jangan tanyakan lebih kenapa mama diusir," bisik Rahimah di telinga Rahman.


Rahimah tidak ingin, kata-kata yang tidak bermoral bisa didengar Rahman. Ia ingat betul apa yang menyebabkan mereka harus pergi dari tempat tinggalnya.


Rahman mengangguk samar.


"Kamu tau 'kan Rahman, bahwa tante sudah meminta maaf sama mama kamu? Dan itu karena masa lalu yang membuat Mama mu di usir juga perkataan tante waktu itu," Abdar tidak mengerti tapi tidak ambil pusing, asal ia sudah mendapat bantuan untuk menjelaskannya.


"Saya adalah orang yang mencari informasi tentang perginya mama kamu yang di usir, tapi saya kehilangan jejak. Dan saat saya sudah menemukannya, ternyata tuan sudah bertemu dengan kalian."


"Kamu ingatkan, Rahman? Ketika, om nyaris terserempet ... dan kamu yang menolong om. Waktu itu om memerintahkan dia untuk mencari kalian," Abdar ikut menjelaskan.


Kini Rahman dan Rahimah mengerti, antara keterkaitan kedua orang itu yang berada di sini.


"Tapi kenapa anda tidak bisa menemukan kami selama ini?" tanya Rahman tiba-tiba.


"Itu karena tuan, yang sempat menghentikan pencarian selama beberapa tahun," celetuk Tomi.


Rahman dan Rahimah tersenyum sinis mendengar jawaban itu. Sementara itu, Abdar melototi Tomi yang seenaknya memberi tahukan alasan itu.


"Sekarang saya ingat, om adalah orang yang hampir tertabrak sepeda saya waktu itukan?" Tomi meringis, ternyata ingatan Rahman sangat kuat.


"Hehe, kamu ingat ya?"


"Kapan?" bisik Abdar.


"Waktu saya mengambil rambutnya," balas Tomi berbisik.


"Apa om juga, yang menyuruh seseorang untuk jadi penguntit waktu kami di Bandung?" lagi-lagi Tomi meringis.


"Bagaimana kamu tau? Waktu itu, saya sedang mencari informasi keberadaan kalian."


Rahman tidak menjawab. Tidak mungkin ia memberi tahu, bahwa ia meretas nomor penguntit itu dan muncul informasi tentang Tomi saat itu.


"Hanya menebak," elak Rahman.


"Baiklah, kalian boleh pergi. Tomi, antar dia pulang. Nanti jemput aku," perintahnya yang segera di laksanakan Tomi.


"Siap, tuan."


"Sekarang, apa kau sudah percaya?" Abdar melayangkan pertanyaan ketika hanya mereka bertiga saja.


"Baik, saya percaya. Dan saya sudah puas mendengar di mana anda selama ini, lalu ... Apa maksud kedatangan anda sekarang?"


"Om ingin meminta maaf, dan pengampunan mama mu juga dirimu," aku Abdar jujur.


"Saya sudah memaafkan anda, dan saya tau, bahwa ini semua tidak akan terjadi jika waktu itu Maya tidak meninggalkan saya," sahut Rahimah mengingat Maya yang mendorongnya masuk ke dalam kamar Abdar saat di hotel.


"Saya juga sudah memaafkan anda," Rahman menimpali.


"Terimakasih, karena kalian sudah memaafkan ku. Sekarang aku jadi tenang."


"Apa aku bisa memanggilmu anak? Dan, apakah kau mau memanggilku ayah?" tanya Abdar semangat.


Rahimah dan Rahman saling pandang beberapa detik, kemudian mengangguk samar.


"Baik, anda bisa memanggil saya anak. Tapi maaf, saya tidak bisa memanggil anda ayah."


"Kenapa?" tanya Abdar kecewa.


"Anda memang ayah dari Rahman, tapi diantara kita tidak pernah ada ikatan pernikahan. Apa yang akan orang lain pikirkan jika mendengarnya?" Rahimah menjelaskan maksud Rahman.


"Itu hal yang sangat mudah, kita bisa menikah sekarang ... gampang kan?" ujarnya memberi solusi.


"Sudah saya katakan kemarin. Anda terlambat, karena kami tidak mengharapkan kedatangan anda sekarang."


Jeddaaaarr


BERSAMBUNG ....


Hai semua, maaf baru bisa update πŸ™. Soalnya tadi malam ketiduran gegara mengantuk habis dari rumah saudara karena ada acara hajatan. Dan sekarang baru selesai nulisnya, heheheπŸ˜…. Jangan bosan-bosan ya, buat selalu memberi dukungan. Tekan jempolnya πŸ‘, ketik komennya πŸ“¨, kirim bunganya 🌹, buat kopinya β˜•, atau masukkan vote-nya 🎞. Haha 😁 karena itu sangat berharga buat Saya, dan untuk semuanya saya ucapkan banyak-banyak terimakasih πŸ€—. Salam sayang ....


Noormy_Aliansyah 😘😘