Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 101 (Extra part.)



Di tengah malam yang dingin dan sunyi, ketika semua orang tengah tertidur nyenyak. Sesuatu yang bergejolak hebat dan memaksa keluar dari dalam perut, membuat Abdar terpaksa membuka mata, bangun dan berlari cepat ke kamar mandi.


Cairan kuning bercampur makanan yang ia makan waktu berbuka puasa tadi malam langsung keluar dari mulutnya. Tidak henti-hentinya memuntahkan seluruh isi perutnya dengan suara gaduh, hingga terdengar ketelinga seseorang yang sedang di alam mimpi indahnya.


Sayup Rahimah mendengar suara Abdar yang sedang kepayahan di dalam kamar mandi. Perlahan mengerjapkan mata beberapa kali guna mengembalikan kesadarannya, hingga terbuka sempurna.


Ia yang belum mengerti tentang suara aneh di kamar mandi, tiba-tiba telinganya awas dan fokus. Menoleh ke arah samping yang ternyata kosong, kini Rahimah mendapatkan jawabannya.


Segera bangkit dari pembaringannya, lantas Rahimah menyusul Abdar di kamar mandi dengan perasaan begitu khawatir.


"Mas," panggil Rahimah sambil masuk dan membantu memijat leher belakang hingga punggung.


Abdar tidak bisa menjawab, karena dorongan dari dalam perutnya tidak mau berhenti. Rahimah menatapnya prihatin, usah untuk memuntahkan itu memakai senam otot dibagian tenggorokan dan rahangnya, sehingga sangat kentara wajah putih Abdar merubah merah padam.


Ketika Abdar mendapatkan jeda ... "Sayang ... mending ... kamu pergi ... sajaa ...," usir Abdar dengan lemah.


"Ayo Mas, cuci dulu mulutnya," tanpa peduli dengan pengusiran sang suami, Rahimah malah membantu mencuci tepian bibir Abdar.


"Kamu nggak jijik?" tanya Abdar mulai normal tapi tetap lemas.


"Ngapain jijik? Ayo kembali ke kamar, nanti aku buatkan teh hangat. Kayanya, mas masuk angin deh." Rahimah membimbing Abdar kembali ke kasur dan mendudukkannya perlahan sambil bersandar di sandaran ranjang.


"Sebentar ya, Mas?" Rahimah keluar dari kamar setelah mendapat anggukan Abdar.


Lima menit kemudian Rahimah datang dengan segelas teh hangat dan botol minyak kayu putih kecil dikedua tangannya.


"Ayo minum dulu." Rahimah menyerahkan gelas yang langsung disambut Abdar, dan mengambil kembali saat suaminya selesai meminumnya.


"Sini Mas, aku kasih minyak dulu," ucap Rahimah ikut duduk dan membaringkan Abdar di atas pahanya.


Karena merasa lemas, tanpa berkata Abdar menurut. Usapan lembu di daerah leher dada dan pijatan lembut di kening membuatnya kembali mengantuk, hingga tanpa sadar ia kembali tertidur.


Rahimah tersenyum memandang wajah polos sang suami ketika terlelap dalam buaian nya, menikmati setiap pahatan yang ter'bingkai sempurna. Ia tergelitik, perlahan jari-jari lentiknya turun menelusuri alis, hidung, pipi hingga rahang yang mulai bermunculan bulu-bulu kasar. Tak berhenti, kembali jarinya menjalar dan menetap di tepian bibir tebalnya.


Pelan sekali diusap nya agar sang empuhnya badan tidak terbangun. Puas menikmati kegiatan yang bisa dikatakan adalah hal baru, Rahimah melirik nakas di mana terletak jam weker.


Rupanya sudah jam dua dini hari. Rahimah memindahkan kepada Abdar ke bantal secara lembut, Ia pun meninggalkan suaminya untuk memasak menjelang sahur.


Seperti pada umumnya, memasak nasi, sayur dan lauk. Tidak terasa sudah satu jam ia berkutat di dapur.


Menata makanannya di meja makan, ia sempatkan dulu mencuci peralatan masaknya. Tepat jam empat, Rahimah membangunkan Rahman dan Abdar.


Tertidur kembali selama dua jam, membuat Abdar terlihat segar dan malah seperti tidak terjadi apa-apa.


Dengan Rahman sebagai pemimpin guna membaca do'a makan, ketiganya makan dalam diam.


Seperti ketika handak makan, usai makan pun Rahman yang memimpin. Mereka tidak lagi membaca do'a niat puasa, karena mereka sudah melafalkan nya saat selesai sholat tarawih.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


.


Abdar dan Rahman pergi ke masjid, sementara Rahimah sholat di rumah ditutup dengan mengaji sampai menjelang siang.


Saat Rahimah kembali ke kamar dan baru saja menutup daun pintunya, tiba-tiba saja pintu itu dibuka secara cepat dan kasar membuatnya tersentak kaget.


"Mas," pekik Rahimah semakin kaget melihat Abdar berlari ke kamar mandi.


Lagi-lagi Abdar memuntahkan makanan yang ia makan ketika sahur. Rahimah yang tahu jika Abdar muntah, segera berlari ke arah nakas dan mengambil minyak kayu putih.


"Yang ... kamu nggak jijik?" tanya Abdar sehabis mencuci mulutnya.


"Aku tanya sama Mas Abdar, apa mas akan ninggalin aku kalau dalam keadaan seperti ini?" tanya Rahimah serius.


"Enggaklah, aku pasti bantuin kamu," sanggah Abdar cepat.


"Jadi jangan tanyakan itu lagi! Sebaiknya .., mas nggak usah puasa, takutnya muntah lagi. Mending mas, minum obat ya?"


"Nggak, aku tetap mau puasa!"


"Kalau gitu kita ke rumah sakit aja ya, biar disuntik kek," ajak Rahimah.


"Ya, lebih baik disuntik ... dari pada membatalkan puasa," kata Abdar setuju.


Lima belas menit menunggu Adit menjemput, Rahimah dan Abdar kini menuju rumah sakit. Rahimah segera mendaftar, dan menunggu nomor antrian hampir satu jam.


"Abdar Bariq," seru perawat.


"Sudah dipanggil mas. Mas Adit, tunggu sebentar ya," ujar Rahimah dan dibalas jawaban Adit. " Iya."


Mengatakan keluh kesah nya. Setelah diperiksa tekanan darah dan suhu badannya ... Abdar dikatakan 100% sehat.


Rahimah dan Abdar merasa sedikit bingung dengan pemeriksaan sang dokter, jelas-jelas tadi Abdar muntah sampai dua kali. Dokter pun hanya memberi obat penahan mual, diminum setelah berbuka dan sahur. Akhirnya mereka pulang dengan hasil yang tidak memuaskan.


"Imah," panggilan seseorang menghentikan ketiga pasang kaki yang hendak ke luar gedung rumah sakit.


Seorang dokter lengkap dengan stetoskop menggantung di lehernya mendekati mereka.


"Selamat atas pernikahan kalian," seru dokter itu sembari menyodorkan tangan kehadapan Rahimah.


"Terimakasih." Abdar langsung menyambut tangan itu.


"Oiya, kalau tidak salah ... Indra tidak hadir ya di acara pernikahan Imah dan Abdar?" kata Adit menimpali.


"Iya, waktu itu ada pasien gawat darurat. Jadi aku tidak bisa datang," ucapnya sambil melirik Rahimah.


Abdar jelas tidak lupa dengan Indra, karena Indra adalah saudara kembarnya Andri. Rekan bisnis mereka. Ia memicing mata curiga, entah kenapa ia merasa ada sesuatu antara Indra dan Rahimah.


"Tapi bukan cuman lu aja yang nggak datang, Andri juga nggak datang," kesal Adit.


"Maaf soal ketidak hadiran kami. Tapi kami sudah mengirim hadiahnya," ujarnya serius.


"Ya, aku sudah menerimanya. Terimakasih untuk hadiah kalian," sahut Abdar datar.


"Baiklah, sekali lagi maaf dan selamat untuk kalian. Kalau begitu, saya permisi dulu," ijin Indar pamit.


Indra memang selalu bersikap formal dan serius, tidak seperti Andri yang cenderung homoris.


"Iya, terimakasih." Abdar menatapnya awas ketika melihat Indra mencuri-curi lirik pada istrinya.


"Ayo mas," kata Rahimah yang sama sekali tidak ikut dalam pembicaraan tadi, walau sebenarnya Indra mengajaknya bicara.


"Hmmm," gumam Abdar datar sambil berjalan lebih dulu dan di ekor Adit.


Rahimah menatapnya heran, tapi tetap mengikuti mereka walau tertinggal beberapa meter karena langkah Abdar yang sangat lebar.


Mungkin ada beberapa bab lagi 😌