
Saat ini mereka berada di ruang kerja Dinda, duduk berempat di sofa yang panjang. Sebenarnya Rahimah ingin segera pulang, tapi saat melihat wajah Dinda yang murung di lapisi kabut hitam tebal membuatnya urung.
"Angga, breengg seekk." geram Nurul.
"Apa karena wanita itu hamil? Lalu menceraikanmu?" kata Nurul bersungut-sungut kesal.
"Tapi ada baiknya kamu berpisah, sebelum kamu tau tentang kehamilan wanita itu!" ujar Soraya.
"Coba semisalnya kamu tau, kalau wanita itu hamil pas kamu masih jadi istrinya! Apa yang bakal kamu lakukan?" tanya Soraya.
"Munggin aku akan menjadi gila, tapi sekarang pun rasanya aku sudah merasa gila," ujar Dinda sambil menelungkupkan kepalanya di sela-sela tangannya di atas lutut yang di naikkannya ke atas sofa, tubuh Dinda sedikit bergetar membuat teman-temannya menatap iba.
Dinda sekarang bukan hanya sedih karena perpisahannya dengan mantan suami, tapi juga sedih karena penghianatan yang di lakukan Angga kepadanya.
Mereka semua mendekat dan memberi usapan lembut di punggung Dinda.
"Kamu gak boleh ngomong kaya gitu, kamu harus bangkit! Tetap semangat ... raih masa depan dan kebahagianmu. Jangan pernah berpikir jika kamu hanya sendiri, karena kami akan selalu bersamamu." kata Rahimah bijak.
"Ingat sama pepalah gak?" tanya Soraya menyela.
Mendengar itu, Dinda mendongkakkan kepala dan menegapkan duduknya sambil mengusap kedua pipinya yang basah. Semua menatap Soraya dan menggeleng, karena memang tidak tahu pepatah apa yang ditanyakan, mereka menunggu jawabannya.
"Belajar dari hari kemarin, hidup untuk hari ini, berharap untuk besok ...."
"Setuju, jangan menyesali masa lalu, belajarlah darinya." kata Nurul segera meancungkan jempolnya.
"Kok, aku jadi ingat pepatah China ya?" ujar Rahimah.
"Apaan?" balas Nurul.
"Bila ada cahaya dalam jiwa ,.. maka akan hadir kecantikan dalam diri seseorang. Bila ada kecantikan dalam diri seseorang ... akan hadir keharmonisan dalam rumah tangga. Bila ada keharmonisan dalam rumah tangga, akan hadir ketertiban dalam negara. Dan bila ada ketertiban di dalam negara, akan hadir kedamaian dunia." Kata Rahimah sambil mengingat-ngingat pepatah itu.
"Emang ada pepatah kaya gitu?" Tanya Dinda sedikit serak.
"Ada, tapi aku lupa baca buku itu di mana!" Ucap Rahimah nyengir.
"Jadi, usahakan sekarang kamu menyalakan cahaya dalam jiwa yang sempat padam. Biar kamu menemukan kedamaian dunia. Jangan sampai kaya gini lagi," ujar Rahimah.
"Kamu betul Imah. Buat apa aku nangisin telur yang sudah busuk itu, mending aku cari telur yang baru lagi aja." kata Dinda mencoba bergurau walau hatinya sakit.
Tapi sukses membuat yang lain tersenyum tipis, karena mendengar Dinda yang membandingkan Angga dengan telur busuk.
"Udah, jangan sedih-sedih lagi, mending kita happy." kata Soraya memeluknya dari samping kiri.
"Harus ... jangan sampai kamu lemah hanya gara-gara masalah ini," Rahimah ikut memeluknya dari sebelah kanan.
"Semangaaat Dinda, kami selalu ada untukmu," kata Nurul juga memeluk Dinda dari arah belakang Rahimah.
Saat mereka masih sibuk berpelukan, tiba-tiba telepon Nurul berbunyi dari dalam tas nya. Mengurai pelukan, Nurul bergegas mengambil Hp di dalam tas itu.
Membaca nama si penelpon lekas ia mengangkatnya, ternyata itu adalah sang Mama yang memintanya untuk cepat pulang karena Nuri yang sudah menangis mencari dirinya.
Dengan berat hati Nurul pun meminta pulang lebih dulu, begitu juga Rahimah. Mengingat Rahimah yang juga sudah cukup lama di tempat restoran tersebut, saat melihat Dinda yang sudah lebih baik dari sebelumnya dia jadi ikut-ikutan hendak pulang.
Soraya dan Dinda mengantarkan kepulangannya sampai halaman depan, setelahnya Rahimah dan Nurul berpisah di tempat parkir.
Karena kemacetan ibu kota Jakarta, membuat Rahimah memakan waktu sedikit lebih lama saat di perjalanan.
Setibanya Rahimah di halaman ruko, ia bergegas membuka pintu dan memasukkan motornya ke dalam. Naik di lantai atas seperti biasa, mencuci kaki dan tangannya terlabih dulu baru ia ke kamar melihat Rahman yang biasanya tidur sebelum berangkat ketempat latihan.
Benar saja Rahman masih tertidur, Rahimah membangunkannya agar bisa mandi lebih dulu dan bisa bersiap.
"Mandi dulu gih!" perintahnya saat Rahman sudah bangun.
"Mama kapan pulangnya?" tanya Rahman sambil berjalan di belakang Mamanya hendak ke kamar mandi.
"Barusan," ujar Rahimah sambil membuka lemari pendingin dan mengambil botol air lalu duduk di meja makan untuk minum.
"Maa, ada yang mau Rahman omongin!" ujar Rahman ikut duduk di kursi sebrang Rahimah.
Mengerutkan kening mendengar Rahman berbicara seperti itu, tidak biasanya putranya berbicara dengan serius begitu.
"Emang apa yang mau kamu omongin?" balas Rahimah sambil meletakkan gelas yang sudah kosong ke atas meja.
Menghela nafas sebelum Rahman bicara dengan Mamanya.
"Jadi gini Ma, Mama mau renovasi ruko sebelahkan?" Rahimah diam sejenak kemudian mengangkuk pelan sembari menatap Rahman lekat, menunggu penjelasan apa yang akan di sampaikan oleh anak satu-satunya itu.
"Kalau gitu, secepatnya kita renovasi," kata Rahman mantap.
"Mama juga mau secepatnya renovasi, tapi'kan uangnya buat makan kita sehari-hari?" kata Rahimah pelan.
"Rahman ada kok uangnya Ma?" seketika Rahimah menatap penuh pada Rahman.
"Dapet dari mana kamu uangnya?" Rahimah menatap tajam, ia heran dengan Rahman yang tiba-tiba mempunya uang untuk renovasi ruko.
Sekali lagi Rahman mengela nafas pelan sebelum menjawab pertanyaan Mamanya, Rahman sudah memutuskan untuk memberitahukan pekerjaan yang ia kerjakan selama ini kepada Mamanya.
"Aku kerja Ma, sama masr---"
"Siapa yang nyuruh kamu kerja?" suara Rahman terpotong oleh bentakan Rahimah, Rahman bahkan sempat tersentak kecil.
Tiba-tiba dadanya bergemuruh hebat, saat mendengar Rahman bekerja.
"Jawab, siapa yang nyuruh kamu kerja?" sekali lagi Rahimah bertanya dengan nada dingin.
Pikiran negatif tiba-tiba mulai bermunculan di benak Rahimah, membayangkan ada seseorang yang memaksa Rahman untuk bekerja.
"Enggak ada yang nyuruh Rahman kerja Ma," aku Rahman lirih, mendapat pengakuan itu Rahimah menjadi lemas.
Bayang-bayang Rahman yang bekerja sendiri tanpa sepengetahuannya, membuat Rahimah terpukul dan sedih. Ia takut jika anaknya itu menjadi tukang kuli bangunan atau pekerja serabutan seperti di sinetron-sinetron guna membantu keuangan keluarganya, mendadak Rahimah merasa tidak di akui sebagai orang tua yang bertanggung jawab.
Apa putranya mengira bahwa ia tidak sanggup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka?
Apa Rahman berpikir kalau dirinya akan menjadi beban bagi seorang ibu seperti Mamanya?
Tapi bukankah mereka masih punya uang dari hasil penjualan baju Rahimah, dan juga sisa uang tabungan Pak Ramlan dari hasil penjualan rumah di dekat Ustadzah Habibah masih banyak.
Lalu kenapa Rahman bekerja? Apa yang membuat putranya itu bekerja?
"Trus? Pekerjaan apa yang kamu kerjakan? Atas dasar apa, sampai kamu harus bekerja? Apa kamu pikir, Mama tidak sanggup mencari uang untuk makan kita sehari-hari? Bukankah kamu tau, kalau kita masih punya tabungan? Lalu untuk apa kamu bekerja? Jangan bilang kalau kamu kerja, hanya buat renovasi ruko itu, Rahman?"
Rentetan pertanyaan dari Rahimah lolos begitu saja.
"Maaa," keluh Rahman karena tidak dapat menjawab pertanyaan Mamanya sekaligus.
Menghela nafas kasar, Rahimah besedekap sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi serta membuang muka masamnya ke samping.
"Rahman kerja sabagai hacker," jawab Rahman pelan, lagi-lagi Rahimah berpikir negatif tentang jawaban yang di berikan Rahman.
Setahu Rahimah, pekerjaan hacker itu adalah seseorang yang mencuri uang melalui jalur internet.
Menoleh ke arah putranya dengan tatapan mengintimidasi, Rahimah masih menunggu penjelasan lain dari Rahman.
"Mama tenang aja, Rahman tidak pernah mencuri! Rahman pekerjaan sebagai seorang hacker agar membantu mereka untuk meambil uang yang sudah di curi dan membantu melumpuhkan musuh," seolah mengerti dengan pikiran mamanya Rahman segera menjelaskannya.
"Tidak ada dasar apapun, yang membuat Rahman mau mengerjakan pekerjaan ini!" Kata Rahman lembut.
"Pekerjaan ini jauh sebelum kita pindah ke sini, sudah hampir dua tahun terakhir ini Rahman menggeluti pekerjaan ini bersama master Candra!" jawab Rahman, henging .... Rahimah mencernah semua yang di katakan oleh Rahman.
"Setiap Rahman menyelesaikan pekerjaan itu, mereka akan membayar Rahman, Ma ...."
Tidak ada yang bisa Rahimah katakan, Rahimah terpaku dengan penjelasan anaknya itu. Ia tidak pernah menyangka jika kecerdasan Rahman di usianya sekarang akan sampai ke titik di mana seseorang akan memerlukan bantuannya.
"Mama ...." Pangil Rahman lirih.
"Apa master Candra yang mengajarimu?" Rahman mengangguk cepat.
"Mama, gak marahkan?" ujar Rahman ragu.
Rahimah tersenyum tipis dan menggeleng sambil mengurai dekapan tangannya.
"Jadi, apa kita akan merenovasi rukonya?" tanya Rahman penuh harap.
Lagi Rahimah menggeleng, membuat Rahman mengerutkan kening.
"Kita gak akan renovasi ruko itu, dengan uang kamu," seketika Rahman menghempaskan punggungnya kebelakang, ia pikir setelah membuat pengakuan itu mamanya akan segera melakukan apa yang diinginkan mamanya selama ini.
"Kenapa enggak Ma?" proten Rahman cemberut.
"Karena itu uang kamu, kamu harus menyimpannya untuk masa depan kamu sendiri," Rahimah tidak ingin menggunakan uang itu untuk kepentingannya. Akan lebih baik jika tetap di tabung untuk Rahman kelak, pikirnya.
"Tap--."
"Tidak ada tapi-tapian," ucap Rahimah tegas.
"Mama akan cari cara lain untuk merenovasinya, walau itu memerlukan waktu yang lama ... Mama gak masalah!" Rahman semakin cemberut mamandang Rahimah.
"Ayo, sekarang mandi dan bersiap!" dengan gontai Rahman berjalan ke kamar mandi, ia benar-benar kesal atas penolakan mamanya.
Rahimah melihat langkah Rahman hingga menghilang, masuk ke dalam kamar mandi.
...****************...
"Assalamu'alaikum," ucap Abdar memasuki Rumah.
"Wa'alaikumussalam." Ucap Maryam dan Intan berbarengan.
Melihat Maryam dan Intan yang duduk di ruang Tv, Abdar pun ingin bergabung. Abdar mengangkat kaki Intan ke atas pahanya yang sedang berbaring di pangkuan Maryam tanpa peduli dengan sang empuh badannya.
"Ish," kesal Intan sambil duduk, bersedekap dan bersandar pada Maryam dengan wajah tidak suka karena kenyamanannya terganggu.
Abdar tidak peduli, ia malah tersenyum tipis melihat keponakannya yang sangan mirip dengan adiknya itu.
"Gimana, udah ada belum ... guru ngajinya?" tanya Abdar sambil mengangkat satu kakinya ke atas kaki satunya.
"Kata Ustadzah Habibah, Ustadz Abizar bisa ngajarin kakak," Abdar mengerutkan dahinya dalam.
"Kenapa mesti Ustadz itu?" tanya Abdar ketus.
Ada rasa tidak suka yang Abdar rasakan kepada Ustadz Abizar, ia juga tidak tahu kenapa begitu.
Saat Abdar mengatakan itu seketika mendapat pototan mata dari Maryam, Intan juga ikut-ikutan melototi Abdar. Abdar bergedik ngeri.
"Kenapa mesti Ustadz itu?" Maryam mengulang pertanyaan Abdar dengan dana suara yang tak kalah ketus.
"Karena cuman Ustadz itu aja yang bisa, KAKAK," ucap Maryam penuh penekanan di kalimat terakhirnya.
"Maksud kakak, kenapa harus Ustadz yang rumahnya jauh ... kenapa gak nyari yang dekat-dekat sini saja," kata Abdar pelan.
"Kakak itu nyadar gak?" sungut Maryam kesal.
"Jelaslah kakak sadar," jawab Abdar tidak mengerti.
"Ishh, nyebelin," gumam Maryam.
"Om Dar itu gak punya otak ya Ma?" tanya Intan polos, Abdar melongos mendengar keponakannya sendiri mempertanyakan otaknya.
Sementara Maryam mengulum senyum, tidak tahan hendak mentertawakan kakaknya.
"Hei bocah, kamu pikir om ini bodoh?" tanya Abdar melotot, Intan mengangguk panti.
"Kaya om Dar, beneran gak punya otak deh! Soalnya ... masa nyari guru ngaji di sekitar sini?"
"Ya memangnya kenapa? Kalau om minta carikan guru ngaji sekitar sini?" Heran Abdar dengan kening berkerut.
"Tuh 'kan, om Dar emang gak punya otak," ingin sekali rasanya Abdar menjitak kepala Intan.
"Kenapa kamu bisa bilang om kaya gitu?" mencoba menahan diri.
"Di sekitar sini tuh gak ada guru ngaji? Intan aja pernah minta di carikan guru ngaji sama Mama, tapi mama bilang ... jangankan guru ngaji, orang-orang yang ada di sekitar sini tuh meragukan kalau mereka bisa ngaji ... ya gak maa!" Maryam mengangguk sambil menahan senyum, memdengar penjelasan Intan itu. Berbeda dengan Abdar yang semakin tidak mengerti.
"Kenapa meragukan?"
"Kakak ingat gak, sekarang tinggal di mana?" Abdar berpikir, tentu saja di rumah mereka pikirnya.
"Jangankan guru ngaji, masjid aja jauh," seketika Abdar tepuk dahi dan bersandar, membuat kedua wanita berbeda usia itu tertawa lepas.
Abdar baru ingat, bahwa mereka tinggal di rumah warisan kedua orang tuanya yang mayoritas beragama kristen. Jelas saja tidak ada guru mengaji.
"Jadi, kapan Ustadz itu mengajar?" tanya Abdar pasrah.
"Kata Ustadzah Habibah, besok juga bisa. Di mulai dari jam tiga, setiap senin sampai kamis." ucap Maryam santai.
Abdar segera menegapkan tubuhnya, hendak protes.
"Kenapa harus jam tiga?"
"Karena itu jam kosongnya, udah gak usah banyak protes ... terima aja biar cepat bisa, kalau gak mau? Gak akan aku cari'in lagi." kata Maryam saat melihat Abdar hendak bersuara lagi.
Menghela nafas pasrah, mendengar ultimatum dari Maryam. Mau tidak mau ... suka tidak suka ... ia harus terima apapun itu.
"Iya, iya ... besokkan? Oke!" Abdar berdiri dan beranjak dari duduknya pergi ke lantai atas.
Ia yakin, Adit akan sangat kesal kepadanya karena harus menyerahkan banyak pekerjaan pada asistennya itu.
Dengan gontai dan malas-malasan, Abdar memasuki kamarnya lalu menghempaskan tubuhnya kasar.
Pikirannya melayang pada kejadian tadi siang, Rahimah yang jatuh di dada bidangnya, entah kenapa ia suka dengan kejadian itu. Menatap langit-langit kamarnya, Abdar tersenyum merekah saat mengingat bau harum buah yang terasa manis di indra menciumannya dari wajah Rahimah.
Tapi seketika senyumnya menggilang, ketika ingatan sepuluh tahun lalu bermunculan. Ia sedikit terganggu jika pikirannya, kalau Rahimah tidak mau memaafkannya. Maka bagai mana Ia bisa bertanggung jawab?
Terlepas dari rasa tanggung jawab itu, di sudut hatinya mulai ada rasa suka saat menolong Rahimah tadi. Entah ini terlalu cepat, atau sebenarnya sangatlah terlambat? Tapi Ia akan mencoba yang terbaik.
"Semangatt." Gumamnya dalam hati.
BERSAMBUNG ....
Salam dari Urang Banua😘
Noormy Aliansyah