
"Hai, sayang?" Dinda menoleh kerena mengenali siapa pemilik suara tersebut.
Ia berdecak, sebab dugaannya tepat jika yang di panggil sayang itu iyalah dirinya.
"Dari tadi, aku tungguin kamu lo." Ucap Adit tersenyum manis ketika sudah berdiri di samping Dinda, berjalan beriringan masuk ke dalam restoran.
"Ngapain nungguin saya?" ketus Dinda.
"Kita sarapan dulu yuk, aku laper banget." Adit segera berbelok ke arah meja dan duduk di kursinya.
"Sarapan aja sendiri." Dinda tetap berjalan tidak menghiraukannya.
"Kamu kok gitu sih, yank? Masa nggak kasian sama sekali, pacarnya kelaparan?" Dinda memutar bola matanya malas tanpa berbalik.
Tiba di ruangan kerja, Dinda segera duduk di kursi kebanggaannya setelah menutup pintu. Berkutat dengan laporan mingguan para pegawai, setelah hampir setengah jam Dinda merasa haus dan lapar. Ia pun memutuskan menghubungi Nena untuk membawakannya minuman dan makanan.
Lima menit kemudian Nena datang dengan napan di tangannya. "Silahkan, nona Dinda," ucapnya sopan.
"Terimakasih, Nena," balasnya.
"Emm non, itu temannya yang kemarin cuman duduk aja ... nggak mau pesan. Katanya nungguin anda, biar makan bareng." Tangan Dinda menggantung di udara ketika hendak menggapai gelas berisi minuman saat mendengar penuturan pegawainya.
"Astaga." Langsung bangkit dari duduknya dan membuka pintu dengan cepat. Berjalan ke arah meja dimana tadi Adit duduk.
Ternyata apa yang dikatakan Nena benar, tidak ada pesanan barang satu pun di atas meja Adit, kendatinya dia sudah lama duduk di situ.
"Sebenarnya, mau anda apa sih?" Adit tersenyum melihat Dinda.
"Kan tadi, aku udah bilang! Aku laper ... mau Sarapan," ucap Adit santai.
"Kalau mau sarapan, kenapa nggak pesan aja?"
"Mau sarapan bareng kamu."
"Kan saya sudah, bilang ... Sarapan aja sendiri."
"Tapi aku Maunya, bareng Kamu," kukuh Adit.
"Kalau anda tidak mau pesan, sebaiknya anda segera pergi dari sini!" Dinda memberi ultimatum.
"Kamu kok, ngusir aku? Nggak kasian, sama aku yang kelaperan?" keluh Adit memelas.
"Ya ampun," gumam Dinda.
"Kalau tidak mau di usir, segeralah pesan makanan." Berbalik badan dan meninggalkan Adit.
"Tunggu dulu." Seru Adit menghentikan langkahnya.
"Apa?" tanya Dinda datar saat Adit menyusulnya.
"Mau ngasih ini." Adit mengangkat tangannya ke hadapan Dinda yang terdapat kotak kecil berwarna merah beludru.
Tentu Dinda tahu apa itu isinya. "Kenapa ngasih ke saya?" Dinda menurunkan tangan Adit tapi kembali sang empuhnya tangan mengangkatnya.
"Aku kan udah janji, mau beliin cincin yang pas buat jari kamu."
"Saya kan sudah bilang, saya tidak minta di belikan!"
"Tapi aku udah janji. Janji seorang pria sejati, adalah menepati janji yang sudah dia ucapkan ... dan aku nggak mau dibilang pria hanya umbar janji."
"Saya tegaskan, saya tidak memintanya ... lupakan janji anda kemaren."
"Anda tenang saja, saya tidak akan menuntut dan mengatai anda pria yang banyak janji, jadi sebaiknya ... bawa pulang saja." Didorongnya tangan Adit agar mempermudah jalannya.
"Baiklah," ujar Adit mengalah sambil terus menatap punggung Dinda.
Lebih baik ia memesan makanan dari pada harus di usir secara tidak hormat oleh pemilik restoran itu. Akan sangat memalukan ketimbang diturunkan dari mobil sendiri, masih banyak cara dan jalan untuk mendekatinya. Pikir Adit.
"Pelayan." Seorang pelayan mendekat setelah mendengar Adit memanggil dan melambai ke arahnya.
Memesan makanan, Adit melupakan kejadian tadi seolah tidak terjadi apa-apa. ...
...****************...
.
"Rahman," bukan hanya sang empuhnya nama yang segera menoleh ketika Maryam memanggilnya, Intan pun juga demikian ... melihat mama-nya datang bergabung bersama Abdar di halaman belakang rumah mereka.
Rahman sedang duduk lesehan di atas rumput yang hijau memberi makan kawanan kelinci dengan rumput jerami, ada sekitar enam ekor kelinci yang di pelihara Intan.
"Iya, tante," jawab Rahman sembari menghentikan suapannya pada binatang bertelinga panjang itu.
"Kamu senang nggak di sini?" tanya Maryam sambil mengusap kelinci yang berkeliaran.
"Iya, senang kok, tante," jawab Rahman jujur.
"Ma ... masa kata kak Rahman, kelincinya nggak boleh dikasih makan wartel atau buah-buah yang Lain!" adu Intan juga mengusap kelinci.
"Bukan nggak boleh, tapi jangan terlalu sering," ralat Rahman cepat.
"Kenapa?"
"Walau kelinci terkenal sebagai hewan yang suka makan wortel, tapi wortel bukanlah makanan alami kelinci."
"Iya kah?"
"Bahkan jika kelinci mengonsumsi wortel terus menerus dalam jumlah yang banyak justru berbahaya dan tidak sehat," jelas Rahman.
"Kenapa seperti itu? Bukannya wartel itu sayuran yang bisa bikin kita sehat?" cerca Intan.
"Sehat untuk kita, tapi penyakit bagi mereka. Kelinci memang merupakan hewan yang bisa mengonsumsi makanan apapun, tapi wortel sebaiknya jangan terlalu sering diberikan untuk kelinci."
"Sebelum banyak dijadikan hewan peliharaan, kelinci adalah hewan liar yang tidak memakan sayuran akar atau buah-buahan, salah satunya wortel, kamu harus tau itu."
"Kandungan gula yang tinggi di dalam wortel dan buah-buahan lainnya adalah penyebab utama kenapa kelinci nggak boleh memakannya terlalu sering, dan hanya selingan dalam jumlah kecil."
"Selain memiliki kadar gula yang tinggi, jika kelinci terlalu sering mengonsumsi wortel dan buah-buahan, maka bisa menyebabkan permasalahan lain, seperti masalah pencernaan dan masalah pada gigi."
"Loh, kok bisa?" Intan terheran-heran mendengarkannya. Abdar dan Maryam saling pandang.
"Wortel dan beberapa buah-buahan mempunyai tekstur yang keras sehingga bisa merusak gigi kelinci. Bahkan dari data yang dikeluarkan oleh sebuah organisasi amal di Inggris yang berfokus pada kesejahteraan hewan, RSPCA, menuliskan kalau ada sekitar 11 persen kelinci yang mengalami masalah pencernaan dan masalah pada gigi karena terlalu banyak mengonsumsi makanan bertekstur keras seperti wortel."
"Ohh ... makanya kak Rahman nggak kasih mereka wortel, ya?" Rahman mengangguk begitu juga dengan sepasang manusia dewasa yang ikut mendengarkan.
"Kasih makan jerami aja, karena jerami mengandung serat yang tinggi, sehingga mencegah kelinci mengalami diare, mencegah obesitas, hingga menjaga pencernaan kelinci tetap sehat."
"Selain itu, makan jerami juga membantu untuk menghentikan pertumbuhan gigi kelinci, serta menjaga kesehatan gigi seri kelinci."
"Kalau gitu, Intan juga nggak mau makan wortel, ah. Nanti gigi Intan bermasalah." Seketika ketiga orang itu tepuk jidat.
"Nggak gitu juga kali, Intan ...."
"Katanya tadi wartel teksturnya keras, bisa merusak gigi." Maryam menggeleng tidak percaya dengan pernyataan Intan.
"Kan wortelnya bisa diolah dengan banyak cara sayang. Selain dimakan mentah, kan bisa direbus, dikukus, dipanggang, dibuat jus, trus dijadikan bahan campuran untuk membuat camilan, seperti pudding. Air perasan jus wortel juga bisa digunakan sebagai pewarna alami untuk mie dan roti yang lebih sehat," Maryam menjelaskan secara perlahan.
"Manfaat wortel untuk kita sangatlah banyak dari kandungan nutrisi di dalamnya. Dalam setiap 100 gram wortel, terkandung 40 kalori dan beragam nutrisi asal kamu tau."
"9,5 gram karbohidrat, 2,8–3 gram serat, 4,8 gram gula, 0,9 gram protein, 320 miligram kalium, 70 miligram natrium, 30 miligram kalisum, 35 miligram fosfor, 20 mikrogram folat, 835 mikrogram vitamin A, dan 13 mikrogram vitamin K," papar Rahman menjelaskan.
"Selain itu, wortel juga mengandung banyak senyawa fitokimia yang bermanfaat bagi tubuh, seperti beta-karoten, antosianin, polifenol, lutein, likopen, dan zeaxanthin. Wortel juga mengandung kolin, vitamin B kompleks, vitamin C, dan vitamin E."
"Sekarang kakak, tanya! Kamu mau nggak matanya sehat?" Intan mengangguk lekas.
"Kalau tadi kelinci nggak boleh konsumsi banyak, tapi kita ... dengan rutin mengonsumsi makanan yang kaya akan vitamin A, lutein, zeaxanthin, serta antioksidan, seperti wortel, maka risiko terkena berbagai penyakit mata lebih rendah, seperti rabun senja (buta malam hari), katarak, dan degenerasi makula."
"Terus apa lagi kak?" tanya Intan semangat.
"Wah, Rahman bisa jadi gurunya Intan ini," bisik Maryam ketelinga Abdar.
"Konsumsi wortel secara rutin juga dapat menurunkan risiko menderita penyakit kanker, seperti kanker prostat, kanker usus besar, dan kanker payudara."
"Itu karena wortel merupakan salah satu sumber antioksidan yang sangat baik bagi kesehatan tubuh, seperti karoten, asam fenolat, vitamin A, vitamin C, antosianin. Kandungan tersebut mampu melawan efek radikal bebas berlebih dalam tubuh, sehingga dapat menghambat dan mencegah terbentuknya sel-sel kanker."
Ketiganya mendengarkan dengan penuh serius.
"Wortel adalah salah satu sayuran yang baik dikonsumsi untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil, baik pada pasien diabetes maupun orang yang sehat. Dengan gula darah yang terkontrol, pasien diabetes akan berisiko lebih rendah untuk mengalami komplikasi, seperti gangguan ginjal dan kerusakan saraf."
"Selain itu, pada orang yang sehat, wortel bermanfaat untuk mencegah terjadinya resistensi insulin dan melonjaknya kadar gula darah terlalu tinggi, sehingga bisa tercegah dari penyakit diabetes. Ini karena wortel mengandung serat dan antioksidan yang tinggi, tapi memiliki nilai indeks glikemik yang rendah."
"Mau tau lagi nggak, manfaatnya?"
"Mau dong," sahut Intan cepat.
"Tante juga mau tau, nih," timpal Maryam.
"Kalau mau jantungnya sehat? Komsusi wortel bisa menurunkan risiko terjadinya penyakit jantung ... Itu karena kandungan kalium, antioksidan, dan serat di dalamnya."
"Kalium pada wortel baik untuk menjaga tekanan darah normal, sedangkan serat dan antioksidannya baik untuk mengontrol kadar kolesterol jahat (LDL) yang dapat menyumbat pembuluh darah jantung."
"Nah ... Kalau tadi bakalan merusak pencernaan bagi kelinci! Maka beda hal sama kita. Serat dan air dalam wortel mampu memperlancar proses pencernaan serta membuat tinja lebih padat dan lunak, sehingga baik untuk mencegah dan mengatasi konstipasi. Tak hanya itu, wortel juga memiliki efek prebiotik yang baik untuk menjaga keseimbangan jumlah bakteri baik pada usus."
"Ada lagi nih, kebanyakan ibu-ibu komplek yang mau diet mereka suka banget makan wartel. Ini karena wortel mengandung sedikit kalori, tapi padat nutrisi, seperti protein, serat, air, vitamin, dan mineral. Kandungan serat pada wortel juga bisa membuat mereka merasa kenyang lebih lama."
"Dengan begitu, nafsu makannya akan lebih mudah terkontrol, dan bisa lebih mudah mengatur pola makan agar tidak mengalami obesitas."
"Satu lagi, kandungan vitamin A, vitamin C, folat, dan antioksidan pada wortel dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh, agar tubuh lebih kuat melawan bakteri dan virus penyebab penyakit, misalnya virus Corona."
"Waah, banyak ya manfaat warlet buat kita! Tapi nggak bagus buat kelinci," ujar Intan sambil memangku kelinci.
"Jadi, masih mau makan wartel nggak?" Maryam mencolek hidung Intan.
"Mau, mau ..." kata Intan
"Mama juga mau diet ah," celetuk Maryam.
"Diet apaan? Orang kamu sudah kurus kering gitu," balas Abdar
"Ihh ... jahatnya ngatakan aku kurus kering," ucap Maryam cemberut.
"Bukan ngatain ... tapi emang kenyataan," perkataan Abdar malah membuat wajah Maryam semakin cemberut dan sontak saja mereka tertawa melihatnya.
"Awas ya kak." Abdar langsung menghindar ketika Maryam akan menangkapnya.
Terjadilah kejar kejaran dari Abdar dan Maryam. Intan segera berdiri dan melompat-lompat kecil guna memberikan mama-nya semangat dalam usaha untuk menangkap Abdar.
Rahman juga tertawa melihat kelakuan kedua orang dewasa itu yang berlarian seperti anak kecil, tidak lupa ia juga memberi dukungannya untuk Abdar.
Mereka pun menghabiskan kebersamaan seharian dengan canda tawa, Rahman tidak merasa canggung berada di tengah-tengah keluarga ayah kandungnya. Ia malah sangat lugas dalam mengeluarkan pendapat dan menjelaskan pengetahuan yang dimilikinya.
Tentu Abdar, Maryam dan Intan sangat senang. Apa lagi Intan sangat antusias bila bersama Rahman, ia selalu bertanya dengan apa saja yang tidak diketahuinya.
Hingga sore hari Rahman akan pulang, Intan memaksa Rahman untuk menginap. Dengan penuh kesabaran mereka membujuk agar membiarkan Rahman pulang.
Karena Intan kukuh dalam pendiriannya, mau tidak mau Rahman terpaksa berjanji untuk kembali lagi ke rumah mewah itu barulah Intan mengizinkan Rahman pulang.
Usut punya usut, ternyata Maryam-lah orang yang sudah menghasut anaknya untuk memaksa Rahman berjanji agar lebih sering berkunjung di hari libur.
Maryam berencana akan mengambil hati Rahman secara perlahan, mungkin saja nanti Rahman bisa membujuk Mama-nya untuk batal menikah dengan Abizar, pikirnya.
Di perjalanan ....
"Makasih ya, sudah mau berkunjung ke rumah om," ujar Abdar melirik Rahman yang duduk di sampingnya mengemudi.
"Sama-sama, om."
Sebenarnya mulut Abdar sudah gatal untuk meminta Rahman memanggilnya Ayah, tapi ia mencoba bersabar sampai hari itu tiba.
"Kapan-kapan, maukan kamu menginap di rumah om," pinta Abdar penuh harap.
"Rahman nggak janji, om." Abdar menghela napas, sudah sering ia menerima kekecewaan yang rasanya tidak ada hentinya.
"Baiklah," ucap Abdar pasrah.
Tiba di rumah Rahimah, Rahman segera turun begitu juga Abdar.
"Rahman," panggil Abdar berjalan mendekatinya mengitari depan mobil.
"Iya, om?"
"Emm ... boleh peluk?" tanya Abdar ragu.
Rahman diam tidak menjawab. Detik berikutnya ia mengangguk membuat kedua sudut bibir Abdar terangkat sempurna.
"Terimakasih." Ucap Abdar tulus sambil memeluk Rahman erat. Hatinya berdesir karena pertama kalinya memeluk Rahman, walau Rahman tidak membalasnya tapi itu sudah membuatnya bahagia.
Kini Abdar memiliki arti tujuan hidupnya, selain menjadi seorang Mua'laf, ia ingin membahagiakan putra yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya.
"Rahman." Panggilan lembut dari arah pintu menghentikan pelukan Abdar.
Rahimah terharu melihat Rahman yang di peluk ayahnya, ia tahu bahwa anaknya dulu selalu ingin bertanya tentang ayahnya yang ia sendiri tidak bisa memberikan jawabannya.
"Assalamualaikum, ma." Mendekati Rahimah, Rahman mencium punggung tangannya.
"Wa'alaikumussalam," sahutnya.
"Terimakasih, karena sudah mengijinkan Rahman berkunjung." Abdar menatap lembut wanita yang sudah membuat perasaannya porak poranda.
"Sama-sama, terimakasih sudah menerima Rahman." Balas Rahimah tersenyum.
"Kalau begitu, saya pulang dulu."
Abdar menyalami Rahman. "Om pulang Ya, kamu harus jagain mama kamu, kalau ada apa-apa ... jangan sungkan menghubungi om," pesan Abdar seperti seorang suami yang menitipkan istrinya kepada sang anak.
"Sudah di simpan'kan nomor Hp-nya, om." Rahman mengiyakan.
"Bagus. Baiklah, terimakasih untuk hari ini. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." sahut Rahman dan Rahimah.
Mereka berdua memandang mobil yang mulai menjauh dan meninggalkan halaman rumahnya.
"Ayo kita, masuk," ajak Rahimah.
"Iya."
Sama-sama, Ayah ....
BERSAMBUNG ....
Seperti biasa, like, komen, rate bintang dan gift nya saya tunggu. Kalau vote masih ada, kirim aja ke Rahman Ya? 😁
Salam sayang ....
Noormy_Aliansyah 😘😘