Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
Pengumuman karya baru.



Hai, apa kabar semuanya? Semoga baik dan sehat selalu, ya! Di sini saya hanya ingin mengabarkan, jika saya kembali dengan dua karya baru sekaligus.


Novel dan Chat story.


Novel terbaru berjudul 'Bahagia (Tanpa) Denganmu ', dan Chat story berjudul 'Terjebak Di Dalam Kisah Adikku '.



Bab 1. Cinta.


-


-


"Goolll!"


Sorak sorai dari anak remaja di tengah lapangan berumput dengan sedikit penonton seusia mereka dan beberapa orang dewasa, seketika mencuri perhatian seorang gadis yang duduk sendiri di kursi bawah pohon tidak jauh dari lapangan tersebut, sambil asyik menulis sesuatu. Seragam putih abu-abu masih melekat di tubuh kecilnya.


Namun, perhatian itu hanya berlangsung seperkian detik. Sebab, ia memilih kembali menunduk dan melanjutkan kegiatan mencoret-coret kertas yang ada di atas pangkuannya.


Sekekali teriakkan berupa ejekan atau pun seperti sebelumnya kembali terdengar, membuatnya tergelitik untuk mendongkak guna melihat kawanan anak kecil yang berlari sambil menggiring sebuah bola.


"Anis!"


Gadis berambut panjang dengan ekor kuda itu menoleh ketika ada yang meneriaki namanya. Seluas senyum tipis terbit di paras cantik Anis, seiring dengan pria yang berlari mendekatinya. Lelaki itu juga mengenakan seragam yang sama, tapi ada sesuatu hingga sedikit berbeda.


"Aku cariin ke mana-mana, ternyata kamu di sini," ucapnya dengan nafas terputus-putus dan dada naik turun. Detik berikutnya ia turut duduk di samping Anis.


"Kenapa, sih?"


"Bima! Aku 'kan, kemarin udah bilang ... bajunya jangan sampai dicoret-coret, gitu!" sahut Anis ketus, "dari pada dicoret-coret, mending dikasih sama orang yang lebih membutuhkan!" imbuhnya menasehati, masih terselip nada kesal.


Gadis bernama lengkap Anisha Suhaidi, dengan latar belakang anak yatim dan terlahir dari keluarga tidak mampu itu sangat tahu betul bagaimana pentingnya sebuah seragam sekolah. Tidak seperti orang kaya, ia harus bersusah payah membantu sang ibu guna memilikinya.


Ya, tadi pagi ia baru saja menghadiri pengumuman kelulusan mereka. Anis yang tidak terlalu memiliki teman usai pulang sekolah, ia memutuskan menepi ke lapangan di sekitar rumahnya sambil menikmati waktu senggang. Ibunya pun setelah menerima rapor langsung pulang lebih dulu sebelum acara selesai. Sebab, ibunya harus kembali bekerja.


Kemarin ia sudah mewanti-wanti Bima, agar menjaga bajunya. Namun, apa yang ia lihat sekarang? Bima malah mengabaikan perkataannya tempo hari. Seandainya tidak dicoret, ia ingin menyumbangkan baju seragam sekolahnya bersamaan milik Bima untuk orang yang lebih membutuhkan. Dampak dari tindakan Bima tersebut sudah pasti merugikan diri sendiri. Selain itu, juga bisa berpengaruh dengan nama baik sekolah.


Bima adalah teman sekaligus tetangganya yang paling dekat dengannya, hanya saja nasib pria itu lebih mujur. Maka dari itu, ia tidak segan menegur dan memberi nasehat.


Sungguh disayangkan memang, jika anak negeri seperti kita masih mengembangkan pola pikir seperti Bima. Yang katanya, 'untuk kenang-kenangan semasa SMA, dan mengikuti budaya terdahulu', yakni dengan cara mencoret-coret baju seragam sekolah.


Hei! Itu bukanlah budaya yang baik dan benar ... tapi pemikiran yang sangat sempit serta kurangnya budi pekerti. Seharusnya kita sebagai generasi muda, memberikan contoh dan edukasi yang bermanfaat serta bisa dijadikan pedoman.


Masih banyak cara untuk mengungkapkan perasaan kita dikala itu. Salah satunya adalah mengisi buku khusus dengan tanda tangan teman-teman, atau bahkan meminta para guru untuk ikut serta mengisinya. Tidak lupa juga berfoto bersama sebagai kenang-kenangan.


Dilain kesempatan, kita bisa berkumpul dan berdiskusi untuk memberikan sumbangan berupa buku-buku bab dan seragam. Itu adalah sebuah tindakan yang akan selalu terkenang dalam memori kita. Nilai plusnya mendapatkan pahala jariyah.


"Hehe, maaf. Tadi nggak sempat nolak ajakan teman-teman, soalnya keburu disemprot mereka," kilah Bima sambil nyengir.


"Alasan," gumam Anis cemberut, "permintaan maaf kamu itu, sekarang tidak berguna lagi. Seharusnya nih, ya! Kamu bisa menolaknya dengan tegas, dan memikirkan apa yang sudah aku katakan sebelumnya!" cecar Anis tanpa menoleh. Sepasang matanya fokus memandang tangan mengukir kertas dengan pikiran yang terbagi di antara Bima dan buku gambar.


Yang penasaran, ayo intip dan ramaikan! πŸ˜‰