
Di atas kasur yang empuk dan nyaman, tempat di mana semua orang melepas lelah dan letih. Untuk menuju pintu dunia alam bawah sadar dari rasa kantuk yang mendera, mengarungi dunia mimpi pelengkap tidur dari sebagian orang.
Tapi nyatanya malam ini tidaklah dapat mengantarkan Rahimah ke alam mimpi indahnya. Jangan'kan mengantuk ... rasa nyaman dan empuk saja tidak dapat ia rasakan.
Mencoba segala posisi demi bisa membawa kantuk itu datang, berulang kali ia mengganti posisi tidurnya ke kiri dan ke kanan, bahkan juga terlentang guna menemukan kenyamanan untuk dirinya. Tapi seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal, sehingga membuatnya gelisah dan tidak dapat tidur, walau di atas kasur tempat Rahimah biasanya mengurai lelah.
Mata yang sudah dia pejamkan tapi entah mengapa terasa begitu segar, sehingga memaksanya untuk membuka mata tersebut. Menatap langit-langit kamarnya, mengingat sesosok lelaki yang tadi datang ke rumahnya tanpa di undang.
Bayang-bayang masa lalu tentang luka hatinya yang dulu sudah terkubur, tapi kini telah digali oleh seseorang yang menorehkan luka itu dan membuat ia sesak sehingga mengusik ketenangan jiwanya.
Berpikir tentang pertemuannya tadi, kemungkinan besarnya adalah kalau itu bukanlah pertemuan terakhirnya, melainkan awal dari pertemuan selanjutnya.
Kembali Rahimah memiringkan badannya kesebelah kanan sambil memeluk guling, tiba-tiba matanya mengabur oleh genanga air mata.
Sekarang kegundahan telah mengambil sebagian dari perasan dan pikirannya, mungkin Allah menjadikan pertemuan ini adalah sebagai luka sekaligus obatnya. Mencoba meyakinkan diri bahwa semua ini terjadi karena campur tangan sang pemilik kehidupan.
Cepat atau lambat pertemuan berikutnya mungkin akan terjadi, orang itu bahkan sudah tahu dimana rumahnya. Apa yang akan Rahimah lakukan jika harus berdamai dengan masa lalu, apakah ia bisa memaafkan orang yang menjadikan luka itu? Atau memberinya sebuah hukuman?
Menghela nafas dalam, Rahimah mengusap sudut matanya. "Kenapa bisa sesulit ini?" gumamnya lirih.
"Apa sebenarnya yang telah Engkau rencakan untuk hambamu ini ya Allah? Apa aku sanggup jika kami di pertemukan lagi?"
"Apa dia perlu tau tentang Rahman? Dan Rahman, apakah dia juga harus tau? Kenapa rasanya begitu sulit untukku?"
Rahimah terus bermonolog guna melepas sedikit sesak di dadanya.
Teringan sang pencipta, Rahimah melirik jam dinding yang menggantung di tempok sebrang ranjangnya. Ternyata sudah menunjukkan pukul 22:55, sudah hampir tengah malam tapi ia belum juga dapat tidur akhirnya Rahimah bangkit dari tempat peristrahatannya.
Berdiri dan beranjak dari tempat tidur, pergi ke luar kamar menuju kamar mandi untuk mengambil whudu. Ia akan mencari ke damaian dari sang penguasa pemilik bolak balikkan hati manusia, berserah diri dan meminta di lepaskan dari beban yang membelenggu dirinya.
Di hamparan sajadah yang terbentang luas dan balutan mukena yang menyelimuti seluruh tubuhnya, menundukkan pandang seraya melafalkan niat karena Allah ta'ala. Dengan khusyu dan tawadhu, Rahimah menjalankan Solat dua raka'at istikharah.
Usai salam Rahimah mengadu pada sang maha tinggi dan maha agung, mencurahkan semua isi hati yang ia rasakan saat ini karena pertemuan dengan pria itu.
“Ya Allah, sungguh aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kuasa-Mu atas masalahku dengan kuasa-Mu."
"Aku mohon sebagian dari karunia-Mu yang agung karena sungguh Engkau maha kuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya. Engkau maha mengetahui hal yang gaib."
"Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini adalah jalanku untuk berdamai dan memaafkannya lebih baik dalam agamaku, kehidupanku, dan akibatnya terhadap diriku, maka ringan'kanlah untuk hatiku di pertemuan yang tidak di sengaja, mudahkan jalannya, dan berilah berkah."
"Sebaliknya, jika Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, dunia, kehidupan, dan akibatnya terhadap diriku baik seketika maupun suatu ketika nanti."
"Maka singkirkan persoalan itu, dan jauhkan aku darinya. Takdirkanlah bagiku kebaikan di mana saja berada, dan berilah ridha-Mu untukku, amin amin ya rabbal'alamin."
Mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya, kini hatinya sedikit tenang. Melepas mukena dan melipat peralatan salat lalu menyimpannya, Rahimah kembali pergi ke kamarnya.
Berbaring di atas kasurnya Rahimah merasa lega karena kantuk tiba-tiba datang menyambanginya, membaca beberapa do'a biasa ia amalkan kemudian di tutup dengan do'a tidur perlahan mata Rahimah terpejam dan tertidur.
...****************...
Sementara itu, di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda!!
"Bagaimana?" tanya Abdar pada seseorang di sebrang sana melalu henponnya.
___
"Baru pindah?"
___
"Dengan siapa saja dia tinggal?"
___
"Kau yakin, mereka hanya berdua?"
___
"Ruko di sebelahnya?"
___
"Baiklah, kerja bagus." Abdar ingin mematikan HP-nya langsung tapi ia teringat sesuatu dan tidak jadi mematikan hp-nya.
"Terima kasih, assalamualaikum," Ucapnya sembari mematikannya.
Abdar tidak dapat tidur malam ini, apa lagi setelah mendengar laporan dari anak buahnya, turun dari ranjang luas dan besar kemudian mengambil rokok dan pemantiknya di atas nakas. Tadi saat di perjalanan hendak kembali ke mobil yang sudah di tunggui Adit, Abdar mampir ke warung kecil yang masih buka kala ia lewat kemudian membeli rokok dan koreknya.
Dulu, dulu sekali ... bila Abdar ada masalah ia selalu minum-minuman dan merokok, tapi saat ketahuan Maryam Abdar pasti akan di marahi habis-habisan oleh adiknya itu. Apa lagi setelah adiknya menikah Maryam juga mengancam tidak akan menemui dirinya lagi begitu juga Intan.
Sejak kejadian itu Abdar berjanji tidak akan mabuk-mabukkan lagi, apa lagi Abdar sadar bahwa seorang muslim sangat di haramkan untuk minuman itu tapi tidak dengan rokok.
Abdar teringat akan kejadian sepuluh tahun yang lalu, karena dirinya yang mabuklah ia bisa bersama Rahimah di dalam kamar yang sama atau lebih tepatnya ialah yang memaksa Rahimah masuk ke dalam kamar hotelnya.
Tapi entah mengapa malam ini Abdar ingin menghisap beberapa batang rokok, walau sebenarnya ia tidaklah mempunyai sebuah masalah tapi hanya pikirannya yang terpaut oleh seseorang dari masa lalu juga pertemuannya tadi.
Balkon kamarnya itulah tempat tujuannya, membuka pintu kaca itu seketika hawa dingin menerpa kulitnya yang hanya memakai baju kaos putih berlengan pendeng serta sarung biru malam yang menutupi kaki jenjangnya.
Duduk di salah satu kursi, Abdar mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya dan meletakkan kotak rokok tersebut di atas meja di samping ia duduk.
Menaruh ujung rokok yang terdapat kanpas di permukaan bibirnya Abdar sedikit mengapitnya dan menyalakan menggunakan pemantik dengan satu tangan menutupi agar tidak tertiup angin sembari menghisap guna tembakaunya cepat terbakar.
Hasil dari hisapan tadi menjadikan sebuah asap yang lantas di hembuskannya melalui hidung, berdiri dan berjalan ke arah pagar balkon yang tingginya sebalas pinggangnya.
Melipat kedua tangannya menjadikannya tumpuan di atas tepian pagar balkon, matanya lurus melihat hamparan ribuan bintang. Semakin malam bintang semakin memenuhi langit malam dan cahayanya begitu bersinar terang, kembali menghisap rokok dan menghembuskannya secara perlahan hingga memenuhi udara.
Melihat telapak tangan kirinya yang terluka, bayangan wanita cantik tanpa make up seketika melintas di memori otaknya.
Pertanyaan apakah wanita itu mengenalinya selalu mengusik pikirannya terlebih lagi kata maaf belumlah terucap untuk kejadian masa lalu, dan apakah ia pantas mendapatkan maaf dari wanita itu?
Hatinya terkelitik untuk bertemu lagi, selain meminta maaf Abdar juga sedikit penasaran dengan anaknya yang bernama Rahman.
Ada niat di hatinya untuk bertemu lagi dan berbicara secara baik-baik, mengingat kelakuannya dulu Abdar yakin bahwa tidak akan mudah untuk bertemu lagi, jika saja bukan kebetulan wanita itu pasti tidak berminat bertemu dengannya.
Tapi ia benar-benar ingin meminta maaf secara langsung walau tidak tahu apa sekuensinya yang harus ia terima dan kali ini ia akan pasrah dengan keputusan wanita itu jika ingin memenjarakannya.
Tidak terasa satu batang rokok sudah habis di hisapnya, membuang ke atas lantai lantas di injaknya menggunakan sendal. Tidak berminat lagi untuk menyalakan rokoknya, Abdar mendongkakan kepala sambil memejamkan mata.
"Rahimah, dengan segala ketulusan hati, bisakah kau menerima maaf dari seorang yang hina ini?" gumamnya.
"Asalkan kau mau memaafkan ku, apapun itu hukumannya ... akan ku terima jika bisa membuatmu puas," ujar Abdar sambil menatap tangannya yang terdapat lukanya.
Menikmati hembusan angin yang menerpa wajah dan tangannya. Bosan Abdar pun berbalik dan masuk ke dalam kamarnya lalu menguci pintu kaca itu lantas berjalan kembali ke ranjangnya.
Menghempaskan punggung tegapnya dan memejamkan mata, pelan tapi pasti Abdar pun tertidur.
...****************...
Di sebuah taman bunga yang begitu luas nan indah, Rahimah berjalan perlahan menuju ke sebuah danau kecil yang terdapat begitu banyaknya angsa di atas permukaan airnya.
Tiba di tepian danau Rahimah mendengar sebuah panggilan yang memanggil namanya dengan begitu lembut dari suara seorang pria yang begitu teramat ia rindukan.
Menoleh ke kiri dan ke kanan mencari asal suara, tapi Rahimah tidak menemukan siapa-siapa. Kembali ia mendengar suara memanggil namanya, tapi kali ini suara seorang perempuan yang entah siapa itu.
Memandang ke sebrang danau, dapat Rahimah lihat sepasang manusia berpakaian putih bersih dengan seorang bayi dalam buayan wanita yang tersenyum ke padanya.
Rahimah sangat mengenal sosok laki-laki itu, tapi perempuan di sampingnya ia tidak begitu ingat walau seperti mengenalnya, entah di mana.
Kedua orang itu bahkan memangil namanya secara bersamaan, tanpa terasa air mata Rahimah jatuh membasahi pipihnya.
"Bapaaak, Ibuuu ...," gumamnya lirik saat Rahimah menyadari siapa wanita itu.
Seketika melihat ke sebelah kiri ada sebuah jembatan penghubung, Rahimah berlari ke arah jembatan sambil melihat kedua orang tuanya di sebrang sana.
Terus berlari dan berharap bisa memeluk kedua orang tua yang ia rindukan, naik ke atas jembatan dengan terburu-buru hingga tanpa sadar kakinya tersandung dan hendak jatuh, tapi tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya hingga Rahimah tidak sempat mencium lantai jembatan itu.
Bangkit dan menoleh Rahimah terkesiap dengan orang yang ada di hadapannya, belum reda dengan rasa keter kejutannya lagi-lagi Rahimah tersentak kaget dengan anak kecil yang berada di samping pria di hadapannya itu.
"Mama ...," panggilnya.
Rahimah tidak menyahut ia hanya menatap kepada ke dua orang itu bergantian, teringat kapada kedua orang tuanya Rahimah melirik ke sebrang danau tersebut.
Tidak ada lagi Bapak dan Ibunya, membuatnya menjadi sedih karena tidak sembat memeluknya.
"Maaf," ujar orang yang tadi menolongnya.
Menatap penuh pada laki-laki di hadapannya, bisa Rahimah lihat ketulusan dari kata maafnya. Tapi ia merasa tidak terima entah tahu kenapa, tapi jika di pikirkan seharusnya ialah yang berterima kasih pada orang tersebut karena sudah menolongnya.
"Mama, ayo kita pulang," ajak Rahman yang tengah bergandengan dengan lelaki di hadapannya.
Hatinya tersentil melihat memandangan tersebut, Rahman pun meraih tangan Rahimah dan membimbingnya berjalan turun dari jembatan.
Rahimah tersentak dan terbangun dari tidur singkatnya, itu tadi adalah sebuah mimpi yang seperti nyata baginya. Di lihat Rahimah jam dinding sudah menunjukkan hampir jam empat subuh, ia pun memutuskan untung bangkit.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
"Alhamdullillahilladzi ahyaanaa bada maa amaatanaa wa ilaihin nushur." Ucapnya sebelum duduk.
Masih di tempat dudukya Rahimah mengingat mimpinya tadi, membayangkan pertemuan dengan bapak dan ibunya ... Rahimah menjadi sedih karena hanya bisa memandang dari jarak jauh, air matanya pun menetes saat teringat kebersamaannya dengan bapak juga ibunya semasa hidup mereka. Apa maksud dari mimpinya tadi? Apa ada kaitannya dengan salat malamnya tadi? Rahimah pun bangkit dari duduknya Ia memutuskan untuk memasak.
Rahimah pergi ke kamar mandi guna membuang kantung kemih yang terasa penuh, lantas ia langsung mengkosok gigi kemudian pergi ke arah dapur untuk memasakkan bekal Rahman.
Tentang mimipi yang belum ia tahu artinya itu, Rahimah memutuskan untuk bercerita dan meminta pendapat pada Ustadzah Habibah siang nanti pikirnya.
Seperti kebanyakan ibu rumah tangga lainnya, seorang ibu akan menyiapkan makanan yang bergizi dan bervitamin untuk anak-anaknya begitu juga dengan Rahimah.
Tumisan brokoli, kacang panjang, kubis, dan wartel menjadi menu bekal Rahman hari ini juga ikan tuna yang di bakar.
Selesai dengan masakannya, seperti biasa ... ibu dan anak itu menjalankan kewajibannya sebagai seorang hamba yang berserah diri kepada sang pemilik kehidupan. Rahman sudah bangun sejak Rahimah sibuk memasak tadi, dan sekarang ia pergi ke masjid.
Usai dengan salatnya Hp Rahimah berdering, ternyata panggilan vc dari grup-nya ia pun lekas menganggatnya.
"Assalamu'alaikum," ujar Rahimah.
"Wa'alaikumussalam." Sahutan serempak dari teman-temannya langsung menggema.
"Aku ngundang kalian buat datang ke restauranku," ujar Dinda.
"Cieee, mentang-mentang jadi bos?" ejek Nurul.
"Bukannya aku sombong ya? Tapi emang kenyataannya," tanggung bagi Dinda, sekalian saja ia berlaga sombong di hadapan Nurul.
"Cih, apa enaknya jadi bos," ketus Nurul, Rahimah dan Soraya hanya melongos mendengar perdepatan mereka.
"Cieee, yang pengangguran. Ikan teri pakai saooos, irriiii bilang booos, hahaha patpalepalepalepale." Nurul melotot karena ejekan dari Dinda.
"Biar pun enggak kerja, bukan berarti kami ini pengangguran! Dan kami juga gak iri tuh sama kamu." Rahimah segera bersuara melerai mereka, sekaligus menyindir Dinda bahwa bukan Nurul saja yang menganggur.
"Heheh, sory ... pis," ajuknya memperlihatkan dua harinya di layar Hp.
"Rassainn makan tuh boos?" Nurul merasa menang karena mempunyai pendukung.
"Kita ini bukan nganggur, tapi ngurus keluarga tauuu." kata Nurul lagi.
Dinda sudah membuka mulut hendak berbicara tapi di sela oleh Soraya. "Sudah sudah, gak usah ribut! Kapan kita ngumpul?" ujarnya.
"Nanti siang, jam sepuluhan sekalian kita makan siang."
"Oke, aku bisa," ujar Soraya menyanggupi.
"Hemm, aku juga bisa." Ucap Nurul.
Dengan ragu Rahimah ikut mengiyakan, padahal tadi ia sudah membuat rencana untuk bertemu Ustadzah Habibah, tapi ia tidak enak menolak ajakan teman-temannya.
"Ya, bisa."
"Oke, aku tunggu kedatangan kalian, dadah ... Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam," sahutnya saraya mematikan Hp-nya.
Menghela nafas pasrah, ia akan memilih hari lain untuk bertemu dengan Ustadzah Habibah pikirnya.
BERSAMBUNG ....
jangan pelit buat tekan like, ketik komen dan lempar bunga🤗 kalau menurut kalian cerita ini menarik untuk di baca? Mohon bantuannya buat share ke teman, sodara, sepupu, tetangga dll.
Terima kasih, karena sudah mampir di karya ku ini. Semoga teman-teman di sehatkan badan dan di mudahkan rezekinya.🤲😊
Salam dari Urang Banua😘
Noormy Aliansyah