
Hari ini genap empat puluh hari pak Ramlan meninggal dunia, acara tahlil pun kembali digelar. Tapi tidak seperti hari-hari sebelumnya, jika biasanya diadakan di rumah Ustadzah Habibah maka kali ini dilaksanakan di tempat Rahimah sendiri.
Warga yang diundang juga lebih sedikit dari yang dulu, tapi ada beberapa orang-orang baru yang ikut hadir diacara tersebut.
Seperti kedua pasang manusia yang lanjut usia, dia hadir karena diundang secara resmi. Tidak lain iyalah calon mertua Rahimah.
Sedang Abdar yang setiap hari ke rumah, menjadi tahu kalau akan ada acara di rumah Rahimah siang nanti. Merasa tidak enak, Rahimah pun mengundangnya sekeluarga.
Sebagian orang sudah berkumpul dan acara pun akan segera di mulai.
"Mari silakan masuk." Wahyu mempersilakan para tamunya masuk ke dalam rumah tersebut. Lantai satu diperuntukan untuk kaum lelaki, dan di lantai dua untuk perempuan.
Dari tempatnya duduk Abdar hanya memperhatikan orang tua Abizar yang kini duduk tidak jauh darinya.
Acara dipimpin oleh Abizar, dengan penuh penghayatan ia melantunkan untaian doa untuk aruah pak Rahman yang diikuti para tamu undangan.
Selesai dengan doa, para tamu disuguhkan makanan utama berserta penutupnya. Tidak memerlukan waktu lama bagi sebagian tamu untuk menghabiskan makanannya itu, sebagian bahkan sudah pamit pulang.
Hingga tamu sudah pulang semua, tinggallah Abdar dan Abizar dengan keluarga masing-masing.
Semua berkumpul di lantai atas untuk minum kopi bersama usai acara. Abdar, Adit dan Maryam duduk berdampingan.
Sedang Abizar, ayah, ibu, dan tante Hanna pun juga demikian.
"Silakan, pak ... bu, Maryam dan mas," ucap Rahimah meletakan beberapa gelas di hadapan tamunya.
"Terimakasih," Abdar dan Abizar menjawab bersama ketika kalimat mama Rahman itu terjeda.
"Sama-sama," Rahimah menjadi bingung mendapati situasi ini. Memang Abizar sudah tahu tentang hubungan Abdar dengan Rahman begitu juga ayah dari anaknya yang tahu hubungan Rahimah dengan Ustadz muda itu, tapi orang tua Abizar memandangnya aneh.
"Ayo, ayo ... Silahkan diminum," Wahyu langsung mengalihkan perhatian kedua orang tua Abizar.
Di dalam hati Rahimah menjadi was-was, ia takut orang tua dari tunangannya itu menjadi tahu dan tiba-tiba membatalkan pernikahan yang tinggal tiga minggu lagi.
Abdar dan Abizar sempat saling lirik, dan langsung membuang muka secara bersamaan ketika bertemu pandang.
"Sekarang, saya ingat. Anda berdua ini adalah kenalan Tamara kan? Kemarin kita ketemu di cafe kamu?" tanya ibunya Abizar.
"Anda masih ingat kami, bu?" balas Adit.
Abdar dan Adit sebenarnya sudah mengenali beliau, hanya saja tidak berani menegur.
"Apa anda Ini, mantan suaminya Rahimah?"
"Uhukk, uhukk ...." Abdar terbatuk saat sedang minum malah mendapat pertanyaan seperti itu dari ibunya Abizar.
"Bu-bukan," jawab Abdar cepat.
"Ini, kak." Maryam menyerahkan sapu tangan miliknya guna mengusap tepian bibir Abdar.
Memang ia bukan mantan suami dari Rahimah dan juga belum pernah menikah, maka dari itu Abdar langsung menyangkalnya.
"Benarkah? Tapi saya perhatikan, wajah anda sangat mirip dengan Rahman! Saya kira, anda ayahnya?" Hampir semua yang berada di ruangan itu seketika saling lirik ketika ketiga orang tua dan tante Abdar memperhatikan serta membandingkan wajah Abdar dan Rahman.
Abizar, Adit, Maryam, Ustadzah Habibah, Wahyu, dan Khadizah yang sudah tahu keterkaitan ayah dan anak itu terkesiap dengan asumsi ibu Ismawati yang tepat, trio wewek pun tidak ketinggalan ikut tegang.
Rahman yang memahami situasi keadaan ibunya, memilih diam dan pura-pura tidak tahu apa pun.
"Hanya mirip, bu," sahut Abizar.
"Lagi pula, kita tahu ...manusia itu mempunyai setidaknya tujuh kembaran yang hidup di belahan Bumi lain," sambungnya, ayah dan ibu Abizar mengangguk mengiyakan.
"Gimana sekolahnya Rahman?" kembali bertanya kepada Rahman.
"Alhamdulillah, baik kok nek," jawab Rahman sopan.
"Oiya, Rahman nanti kalau mama kamu sudah menikah sama anak nenek ... kamu ikut tinggal sama nenek jugakan?" Rahman menatap mamanya penuh tanya, ia tidak tahu jika ibundanya setelah menikah akan pindah rumah. Rahimah juga terkejut, begitu juga yang lain.
"Soal itu, Abi belum menceritakannya kepada mereka bu," balas Abizar.
Rahimah terlihat kecewa karena Ia pikir mereka akan tetap tinggal di tempat di mana mereka sekarang berkumpul. Rahimah menarik napas sedih, ia memang tidak pernah membahas tentang tempat tinggal setelah menikah. Kalau sudah seperti Ini, mau tidak mau mereka pasti ikut.
"Boleh tidak, kalau Rahman tinggal sama nenek Habibah saja?" pertanyaan Rahman membuat Rahimah semakin sedih.
Dari pertanyaan Rahman bisa disimpulkan, kalau anaknya itu tidak ingin ikut dengannya.
"Loh, kenapa Rahman? Apa kamu tidak mau ikut, kami?" Abizar melayangkan pertanyaan karena merasa salah akan keputusan yang ia pilih.
Rahman memang sudah menerima Abizar, tapi entah mengapa dalam beberapa hari terakhir ini ia sangat merasa nyaman bersama Abdar. Rahman jelas lekas berpikir, jika ia ikut bersama ayah tirinya kemungkinan untuk di antar jemput ayah kandungnya akan hilang permanen. Mengingat pernyataan Abdar tadi yang menjawab bahwa bukan mantan suami dari sang mama dan dengan kata lain juga tanpa sadar tidak bisa mengakuinya sebagai anak.
Tapi jika tinggal bersama Ustadzah Habibah, ia akan tetap di antar jemput ayahnya.
"Bukan Rahman nggak mau ikut, tapi jika Rahman tetap tinggal di sini ... akan lebih dekat dengan latihan taekwondo," dengan kecerdasannya ia membuat alasan agar tidak ikut serta.
Abdar tersenyum puas mengetahui penolakan Rahman yang akan pindah ke tempat jauh dari tempat latihan usai Rahimah menikah. Dengan begitu ia bisa mengajak anak lelakinya itu menginap di rumahnya.
Abizar memandang Rahimah, menangkap jelas kesedihan akan jawaban anaknya tapi memilih diam.
"Masih banyak waktu, nanti masih bisa kita bicarakan masalah tempat tinggal," Ustadzah Habibah angkat bicara.
Menghabiskan minumannya Abizar pun undur diri lebih dulu bersama kedua orang tuanya. Ia tidak ingin membuat suasana menjadi semakin tidak terkendali karena pertanyaan dari orang tuanya, walau kendati masih ingin barlama-lama.
Berikutnya Ustadzah Habibah bersama anak, menantu juga cucunya turut pulang. Kini tinggallah Abdar, Adit, Maryam berserta Intan dan trio wewek yang masih betah di rumah Rahimah.
Dari tadi Adit sudah sangat gatal ingin mengajak Dinda berbicara, tapi karena ada yang lain ia pun menahannya. Sekarang hanya mereka-mereka saja jadi Adit tidak merasa segan untuk memanggil Dinda.
"Yank, kamu kok nggak ada manis-manisnya sih sama pacar sendiri?" Nurul ternganga melirik Adit yang bertanya sembari menatap Dinda.
Sedang yang di beri pertanyaan melotot seketika. "Yank, yank ... gundulmu peyang," kata Dinda bersunggut-sunggut.
"Jangan bilang, kalau kalian sudah jadian?" Soraya menatap keduanya bergantian.
"Ya, enggaklah," bantah Dinda.
Abdar tidak ambil pusing dengan apa yang di ucapkan Adit, ia hanya mencuri-curi pandang pada Rahimah.
Rahman, Rayan, Nuri dan Intan asyik menonton Tv dan tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan para orang dewasa itu.
"Udah ... nggak usah bohong sama mereka, biar aja mereka tahu kalau kita emang sudah jadian," ujar Adit santai.
"Hah, serius?" Nurul, Soraya, dan Maryam terkesiap.
Rahimah terkejut tapi lagi-lagi hanya diam karena masih memikirkan perkataan anaknya tadi.
"Iya."
"Enggak," jawab Dinda bersama dengan Adit.
"Jadi pacaran apa bukan sih?" Maryam penasaran.
"Pacaran."
"Bukan," kompak menjawab berbarengan.
"Jangan percaya, dia." Tunjuk Dinda pada Adit.
"Tapi aku punya buktinya." Adit tersenyum sambil menaik turunkan kedua alisnya kepada Dinda.
"Bukti apaan?" Soraya tidak kalah penasarannya.
Mengambil Hp di kantung celana dan mengotak atik sebentar lantas menyerahkannya kepada para kaum hawa.
"O.M.G," Nurul, Soraya dan Maryam heboh sendiri melihat adegan di mana Adit berlutut sembari menyematkan Cincin di jari Dinda.
Dinda melotot tidak percaya, tiba-tiba ingatannya melayang ketika Adit mendekati kedua perempuan yang tidak jauh dari meja mereka saat di restoran.
Baru Dinda mengerti, ternyata Adit meminta salinan video yang sengaja di rekam kedua wanita itu.
"Mana cincinnya?" Nurul menarik tangan Dinda guna melihat cincin pemberian Adit.
"Ini cincinnya, tiba-tiba dikembalikan sama Dinda." Adit meletakkan kotak cincin berwarna merah bledru ke aras meja yang langsung di sambar Nurul.
"Masya Allah, cantiknya," puji Nurul mengangkat cincin dari dalam kotak.
Tanpa aba-aba Nurul segera memasangkannya ke jari manis Dinda. "Cocok banget, tau," puji nya lagi.
"Nurul, kenapa dipasang?" Dinda langsung menarik tangan nya dan berusaha melepaskannya.
"Kok susah, sih," keluh Dinda yang tidak bisa menarik cincin dari jarinya.
"Kalo udah Pacaran, ngapain lagi dicopot?" celetuk Soraya.
"Kita nggak pacaran Kok," Dinda tetap membantah.
"Itu buktinya," tunjuk Nurul pada Hp yang tadi diletakkannya di atas meja.
Dinda mengambil Hp itu untuk menghapus video tersebut, ternyata tidak di terkunci. Ia pun langsung menghapusnya tanpa izin.
"Walau kamu hapus, masih ada salinannya di laptop aku," Dinda lemas mendengarnya
Maryam tersenyum tertahan, ia mulai sedikit mengerti. Pasti ada insiden dibalik semua itu, sampai ada adegan memasang cincin tapi sang wanita tidak mau mengakuinya.
"Udah, kalau sudah jadian ... ya jadian aja. Kita nggak masalah Kok, kalau kalian sama-sama suka, ujar Soraya.
"Tapi ... awas aja, kalau sampai mas Adit berani nyakitin teman aku," ancam Nurul.
"Janji, nggak akan pernah menyakiti Dinda sayank ku." Adit berucap sambil mengangkat tangan kanan dan meancungkan jari telunjuk dan tengahnya β.
"Apaan sih, ini nggak seperti yang kalian liat! Ini hanya ketidak sengajaan," bela Dinda kembali berusaha melepas Cincin.
"Tapi memang disengaja," kata Adit menyela.
"Iih, mas Adit kok nyebelin banget sih?" ketus Dinda.
"Nyebelin tapi sayang." Adit tersenyum bangga.
"Jangan mimpi, yang ada aku benci sama mas Adit," aku Dinda cepat.
"Emmm malu-malu ngakunya, padahal udah jadian ya?" ejek Soraya.
Dinda tak menghiraukan lagi, ia lebih memilih sibuk dengan cincin di jarinya yang sangat sulit untuk dilepaskan dan terasa sakit karena terus dipaksa agar keluar dari jari manis tersebut.
"Iya, ya. Padahal cincin udah cantik banget, masih aja di paksain biar copot. Tapi aku yakin sih, tu cincin pasti nggak bakal semudah itu terlepas," cerocos Nurul.
Mendengar Itu, Dinda pun menyadari apa yang dikatakan Nurul memang benar, ia menghela napas pasrah akhirnya.
Maryam tidak berani menimpali, karena memang mereka tidak seakrab itu. Tapi di dalam hati sangat menahan tawa sambil memperhatikan kakak dari suaminya yang sedang memandang Dinda penuh kasih.
Pusat perhatian Maryam teralihkan ketika menangkap gerak gerik dari Abdar yang diam-diam melirik Rahimah.
Maryam yakin sekarang, kalau kakaknya itu mulai ada rasa pada Rahimah sembari beriringnya waktu. Ia pikir waktu Abdar ingin menikahi Rahimah hanya karena rasa bersalah, tapi sekarang dengan mata kepalanya sendiri bisa melihat bahwa sang Kakak sedang mendambakan ibu dari anak laki-laki itu.
Ruangan gaduh oleh olok olokkan Nurul dan Soraya karena sangat senang menggoda Dinda yang mereka pikir sudah berpacaran.
Adit terlihat menikmati wajah kekalahan Dinda, tapi tersirat malu-malu kucing. Rahimah tersenyum menyaksikan semua yang tertawa lepas tanpa beban, tapi dirinya sendiri seperti mempunyai beban yang entah itu karena apa.
Jam terus bergulir hingga tak terasa langit senja sudah menampakan dirinya, hari ini mereka menjadi semakin akrab tanpa menyadari waktu sudah semakin mengelap.
Zidan dan Ari datang bersamaan menjemput keluarga kecil mereka, Abdar juga yang lain menyusul pulang dengan diiringi kebahagian yang membuncah.
Tinggallah Rahimah bersama anaknya menatap kepergian semua orang dengan perasaan yang semakin mengganjal.
Malam hari ....
"Rahman, mama mau bicara?" duduk bersama di ranjang berukuran kecil milik putra tunggalnya.
"Ya, silakan ma ... mama mau bicara tentang apa?" sambutan rasa hormat Rahman tunjukkan.
"Ini tentang tempat tinggal kita! Apa setelah mama menikah, kamu tidak mau tinggal bersama mama?"
Rahman diam tidak langsung menjawab, sedetik berikutnya ia mengangguk lemah.
"Kenapa, Rahman?" tanya Rahimah sedih.
Rahman kembali diam, ada banyak yang ia pikirkan saat ini tapi tidak ingin membaginya bersama sang mama.
Terlebih kata-kata temannya yang mempunyai ayah tiri selalu mengusiknya, baik hanya diawal dan akan bersikap tidak peduli diakhir.
Walau Rahman tahu Abizar adalah seorang Ustadz dan tidak mungkin berlaku seperti Itu, tapi ada alasan lain yang menahannya utuk ikut pindah.
Entah sajak kapan, Rahman sudah merasakan kenyamanan bersama Abdar. Setiap hari diantar dan dijemput. Kadang-kadang di ajak ke rumah besar sang ayah, lantas ia pun menjadi senang dan ingin selalu bersama.
Ia tahu, mamanya akan baik-baik saja walau tidak bersama dengan dirinya. Akan labih baik seperti Itu, pikirnya.
"Bukan Kenapa napa-napa kok, ma. Hanya saja, kalau Rahman pinda ... tempat latihannya akan semakin jauh," alasan yang sama disampaikan Rahman.
"Apa kamu nggak sayang sama mama? Kenapa hanya karena latihan, kamu bersedia tinggal terpisah dari mama?" lirih Rahimah bertanya sembari matanya berkaca-kaca.
"Rahman sayang kok sama mama." Dengan cepat memeluk Mamanya.
"Kalau kamu sayang, kenapa nggak ikut aja?" Mereka semakin erat memeluk satu sama lain.
"Ma, selama ini Rahman nggak pernah minta apa-apa sama mama! Bolehkan kali ini Rahman meminta sesuatu?" Rahimah mengurai pelukan dan menatap lekat Rahman.
"Apa yang mau kamu minta?" hati Rahimah tiba-tiba gusar.
"Rahman sudah besar, kalau mama nanti menikah dengan Ustadz Abizar ... Rahman yakin beliau pasti bisa membahagiakan mama, dan bisakah Rahman tinggal bersama nenek Habibah saja." Mata Rahimah yang sempat kering kembali menggenang dan berdesakan hendak keluar.
"Bukan berarti Rahman nggak sayang sama mama, Rahman hanya ingin menjadi anak yang mandiri," gugur'lah seketika air mata Rahimah mendengar anaknya yang sudah bisa berpikir sejauh itu.
"Tapi bagi mama, kamu sudah mandiri walau tetap tinggal bersama mama nantinya," bujuk Rahimah.
"Mama, Rahman mohon. Hanya itu yang Rahman pinta," kukuh Rahman.
Rahimah kembali memeluk Rahman sambil mengangguk ragu mengiyakan.
Didalam dekapan, Rahman bisa merasakannya. "Terimakasih, ma," ucap Rahman tersenyum.
BERSAMBUNG ....
π adakah yang pernah merasakan di posisi mereka? Kalau boleh jujur, saya pernah merasa di posisi Rahman ... yang enggan ikut dengan ayah tiri π. Hehehe maaf kalau Author-nya curhat, abaikan-abaikan. Beda umur waktu itu π .
Baiklah gays ... jangan lupa selalu memberi saya dukungan, like, komen, rate bintang atau sekalian gift dan bunga, tambahkan vote juga boleh πβ.
Untuk yang sudah memberikan semuanya saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.
Salam sayang .... π€π€π€π€
Noormy_Aliansyah πππ