Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 34



Saat Rahman pulang sekolah, ternyata sang mama belumlah datang. Bergegas membuka pintu dan hendak naik ke lantai atas, tapi ia sempat melirik ruko di samping rukonya.


Menaiki anak tangga Rahman berpikir akan meminta bantuan lagi kepada masternya, mumpung sang master belum kembali ke Bandung jadi ia akan memanfaatkannya.


Di lepasnya jam tangan dan di letakkannya bersama ransel di meja makan, saat ia melewati hendak pergi ke kamar mandi di dekat dapur, Rahman pun mencuci kaki dan tangannya dan sekalian mengambil whudu.


Masuk kedalam kamar membawa ransel serta jamnya dan mengganti seragam sekolahnya dengan baju koko juga sarung, tak lupa memasang peci, lantas ia keluar menuju ruang kosong di dekat kamar sang mama untuk menunaikan kewajiban seorang muslim.


Selesai dengan tugasnya, Rahman pun beranjak ke dapur dan membuka pintu kulkas guna membuat es sirup karena merasa dehaga, ia baru ingat saat datang dari sekolah tadi ia belum sempat minum.


Usai membuat minuman, Rahman kembali ke dalam kamar dan menyalakan laptopnya, ia berniat mengirim pesan email pada mester Candra.


📧"Master, saya perlu bantuan anda lagi. Ini terkait dengan ruko yang saya beli, saya ingin merehabnya ... tapi mungkin mama saya terhalang dana. Jika saya menggunakan uang saya, maka mama saya pasti akan curiga, jadi ... bisakah master memberi solusi untuk masalah ini? Mohon bantuannya🙏."


Sebenarnya Rahman ingin memberi tahukan kepada mamanya tentang pekerjaannya yang membantu master Candra sebagai hacker, tapi master Candra yang memintanya mengrahasiankan jati dirinya membuatnya sulit untuk menjelaskan masalah tersebut, kata master Candra ini demi keselamatan Rahman sendiri. Semakin sedikit yang tahu maka semakain baik, master Candra takut musuhnya akan memanfaatkan Rahman dengan pekerjaannya.


Rahman segera mengirim emailnya, tapi tidak mendapat balasan. Rahman pun membiarkannya dan memilih keluar kamar sambil membawa gelas yang isinya tinggal setengah.


Duduk di karpet berbulu lembut di depan TV, lantas ia menghidupkannya. Memilih chanel yang sekiranya menarik untuk di tontonnya saat ini. Pilihan pun jatuh pada salah satu chanel yang menayangkan sebuah kartun dengan tokoh utama berwarna kuning, berbentuk kotak dengan lubang-lubang kecil di setiap tubuhnya serta suara khasnya dan juga bersama temannya yang berwarna merah muda berbentuk bintang laut.


"Berburu ubur-ubuuur ... berburu ubur-ubuuur ...."


"Berburu ubur-ubuuur ... berburu ubur-ubuuur ...."


Rahman melirik jam yang menggantung di tembok atas Tv. Jam sudah menunjukkan 13:45, tapi sang mama belum juga pulang.


Menghabiskan minumannya, dan bangkit dari duduknya ke arah wastafel lalu mencuci gelas bekas pakainya dan meletakkannya pada tempat penirisan gelas, itu adalah kebiasaan Rahman yang suka membantu Rahimah memasak dan mencuci piring ....


Masih ada banyak waktu bagi Rahman untuk pergi ke dojang, ia pun memilih tidur sebentar guna menyiapkan energi untuk latihan taekwondo nanti, tak lupa Rahman mematikan Tv yang sebenarnya belum lama ia tonton lalu kembali ke dalam kamar.


Membaringkan tubuhnya di atas ranjang, sejenak pikirannya melayang memikirkan mama-nya yang belum juga kunjung pulang. Entah kenapa ada perasaan yang tidak enak dan mengganjal saat ia teringat sang mama.


"Semoga mama baik-baik aja," gumamnya.


Tak terasa kantuk pun datang, perlahan matanya terpejam dan ia pun tertidur meninggalkan beban pikiran yang tidak tahu sebabnya.


...****************...


"Mau kemana mbak?" tanya Rahimah kepada Madinah dan Indah saat selesai Sholat di Masjid itu, mereka buru-buru bangkit dari duduknya hendak pergi.


"Mau ke dapur, sebentar lagi para santri akan makan siang ... jadi kita akan membagikan makan siang mereka." Sahut Indah bersedekap memeluk mukena dan sajadahnya.


"Imah ikut, mbak? Biar bisa bantu-bantu," kata Rahimah menawarkan diri untuk membantu.


"Boleh, ayo ...." sela Madinah.


Rahimah pun minta izin kepada Ustadzah Habibah untuk pergi ke dapur, agar bisa membantu Madinah dan Indah. Ustadzah Habibah berpesan kepada Rahimah, jika Rahimah mencarinya ... maka ia ada di ruangan Ustadz Rasyid yang langsung di iyakan Rahimah.


Saat keluar Masjid dan berjalan menuju dapur di pesantren tersebut, mereka sempat berbincang-bincang santai.


"Sayang banget yah, kita gak bisa liat orang yang mengucapkan Syahadat tadi, gegara kita duduknya paling belakangan." keluh Madinah.


"Iya ... eh, tapi masih ada kemungkinan kita bisa lihat dia," kata Indah membuat dua orang di sampingnya menatap dirinya bingung.


"Kemungkinan, kemungkinan apa Mbak?" tanya Madinah.


"Ya buat liat dia, kata Mas Rasyid ... itu tamunya 'kan? Pasti dia nanti juga ikut makan bareng kita," kata Indah yang di angguki Rahimah dan Madinah.


Rahimah hanya diam sambil menyimak mereka dengan terus berjalan, sama sekali tidak berniat untuk menimpali apa yang dibicarakannya tentang seseorang yang baru saja menjadi mu'alaf.


Mereka pun terus berjalan sampai tiba di dapur pondok pesantren tersebut, setibanya di dapur mereka bergegas menyiapkan makanan untuk para santri putra dan putri yang mereka masak tadi.


Di sana juga ada Ustadzah Balqis dan Ustadzah Aysun yang turut membantu memasak sebagian masakan sersebut, karena para santri yang cukup banyak jadi mereka berbagi tugas memasaknya. Makanan itu pun di bagi menjadi dua bagian, satu untuk santri putri dan satu untuk santri putra.


Setelahnya akan ada yang datang untuk mengambil makanan bagian santri putra, jadi di bagian dapur itu hanya khusus untuk santri putri.


Satu persatu santri putri berdatangan, beberapa santri senior pun turut membantu membagikan makan siang mereka. Karena ada yang membantu, Rahimah, Indah dan Madinah pun mengerjakan yang lain. Seperti menyiapkan makanan untuk mereka sendiri, Ustadz, dan Kyai di meja makan yang di khususkan untuk para Ustadz. Meja pun di bagi menjadi dua bagian, untuk para Ustadz dan Ustadzah.


Usai para santri senior membantu yang lain, mereka juga mengambil bagian makanannya dan pergi bergabung di aula khusus untuk santri makan bersama.


"Semua makanan sudah siap, sekarang tinggal panggil para Ustadz aja lagi," seru Madinah.


"Biar saya yang panggilkan," tawar Rahimah.


"Di ruangan Ustadz Rasyid 'kan?" tanya Rahimah lagi.


"Iya di ruangan Mas Rasyid," kata sang istrinya, yang lain adalah Indah.


Rahimah mengangguk merti, lalu beranjak pergi dari tempat ruang makan itu menuju ruangan Ustadz Rasyid.


Tentu Rahimah tahu yang mana ruangannya Ustadz Rasyid, karena tadi saat pertama datang di pesantren ini ia lebih dulu di ajak mampir ke ruangan itu oleh Ustazah Habibah.


Dari kejahuan Rahimah sudah dapat melihat ruangan tersebut, sekilas nampak banyak orang di dalamnya karena pintu yang terbuka lebar, semakin mendekat dapat ia dengar orang-orang yang tengah tertawa.


Setibanya di ruangan tersebut Rahimah segera mengucap salam.


"Assalamualaikum," ujar Rahimah dari depan pintu memandang banyaknya orang di dalam ruangan tersebut tengah duduk berkumpul, membuat semua orang menoleh ke arahnya sambil menyahut.


...----------------...


Kini setelah Cristian resmi menjadi seorang mu'alaf dan juga namanya yang sudah berganti menjadi Abdar Bariq, entah mengapa hatinya merasa begitu tenang serta sangat begitu lega.


Kegelisahan yang tadi sempat datang kala ia hendak mengucapkan Syahadat, seketika hilang saat mulutnya berucap kalimat tersebut.


Ia pun tersenyum lega tidak henti-hentinya, Ustadz Rasyid juga memberinya nasehat agar ia segera belajar huruf hijaiyah supaya cepat bisa mengaji. Ia pun mengangguk mengerti, mulai saat ini ia akan mencari guru mengaji di sekitar dekat rumahnya.


"Selamat ya bro," ucap Adit tulus menepuk pundaknya pelan.


Cristian hanya tersenyum menanggapinya, dapat ia lihat jika Adit turut bahagia atas sedikit perubahan dirinya, do'anya semoga kedepannya ia bisa menjadi lebih baik dari sekarang.


"Sekarang sudah resmi ini, jadi mu'alaf ... nama juga dah ganti, enaknya kita panggil apa ya nama lo?" tanya Adit mengerutkan kening, sambil mengusap dagunya tanda berpikir.


Saat ini mereka tengah duduk berkumpul di ruangan Ustadz Rasyid, sebenarnya Cristian/Abdar Bariq ingin langsung pulang, tapi di tahan oleh Ustaz Rasyid.


Ustaz Rasyid ingin mengajaknya makan siang bersama, demi menghargai orang yang sudah berjasa dalam membantu pergantian agama dan juga namanya, ia pun setuju.


Di sana juga tidak hanya ada mereka, ada juga Ustadz Roy suami dari Ustadzah Madinah. Ustadz Abas suami Ustadzah Balqis, Ustadz Adnan suami Ustadzah Aysun dan Ustadz Abizar. Juga Ustadzah Badawiya, beliau adalah istri dari pemilik pesantren yang sudah meninggal sekaligus ibu dari Ustadz Rasyid dan Ustadzah Madinah, dan juga kakak ipar dari alm. suami Ustadzah Habibah.


Juga tamu undangan Kyai Syekh Muhammad Hidayat, beliau hadir di setiap acara pengajian rutin mingguan ... seperti hari ini.


"Gimana, kalau kak Bariq aja," celetuk Maryam.


"Abdar juga bagus," sahut Adit.


"Gimana enaknya kalian aja," ujarnya juga bingung.


"Om Abdar aja bagus, ehhh ... om Bariq juga bagus," sahut Intan sambil berpikir.


"Kan, Intan aja juga bingung pilihnya?" ejek Adit membuat yang lain tertawa.


"Om Tian aja deh yang pilih ... upsss," Intan segera menutup mulutnya saat ia sadar telah memanggil nama lama dari Om nya.


"Iya Om, Abdar," seru Intan menyahut dengan senyum lebar.


"Oke, Abdar ...." kata Adit juga.


"Oke Kak, Abdar," seru Maryam tidak mau kalah.


Seketika mereka tertawa bersama dan kembali berbincang-bincang, tapi tiba-tiba pembicaraan mereka terhenti karena kedatangan seseorang.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," kompak semua orang pun menyahut sambil menoleh ke arah suara.


"Imah, sini masuk nak," ajak Ustadzah Habibah melambaikan tangan, agar ia segera mendekat.


Demi menghargai Ustadzah Habibah, dengan sungkan Rahimah berjalan masuk sambil sedikit menundukkan kepala tanpa berani menoleh kearah orang-orang yang berada di sana.


Sementara itu, ada seseorang yang menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa di artikan, terus memperhatikan ia berjalan memasuki ruangan tersebut hingga duduk di dekat Ustadzah Habibah dan Ustadzah Badawiya.


"Semuanya, perkenalkan ini Rahimah ... dia sudah ibu anggap seperti anak ibu sendiri," ujar Ustadzah Habibah mengenalkan Rahimah.


Rahimah pun mengantupkan kedua tangannya di depan d**a, sambil menganggukan sedikit kepala. Ia bahkan tidak menatap orang-orang tersebut, matanya memandang ke bawah.


Abdar menelisik wajah Rahimah, menanyakan pada hatinya, apakah dia orang yang sepuluh tahun yang lalu pernah ia sakiti. Ia memang tidak begitu ingat dengan wajah wanita itu, tapi saat ia meminta data diri wanita itu pada Tomi ... di sana terselip selembar foto yang mirip dengan wanita yang ada di hadapannya ini.


Hatinya bergetar hebat, dulu ia sempat menyuruh Tomi untuk mencari keberadaan wanita ini, agar ia bisa memberikan uang kompensasi. Tapi saat ia bertemu langsung, ia merasa gugup dan malu.


Jauh di lubuk hatinya, ada rasa penyesalan dan rasa bersalah pada Rahimah. Apakah ia bisa meminta maaf secara langsung, sungguh Abdar tidak pernah menyangka akan di pertemukan dalam keadaan seperti ini, apa lagi ia pernah berburuk sangka pada wanita terutama pada Rahimah.


Tapi saat ia memutuskan menjadi seorang mu'alaf, ia mencoba untuk perfikir rasional. Menyamakan seperti adiknya yang bisa menjaga kehormatan diri sendiri bahkan demi suami, meski keluarga suaminya tidak menyukainya ... kecuali Adit, kakak ipak adiknya, tapi adiknya tetap bertahan hingga suami adiknya itu meninggal.


Apa lagi saat ia merenungi kala teringat bercak merah yang tertinggal di bagian benda pusakanya. Itu sudah menandakan bahwa ia yang telah mengambil keperawannya.


Tiba-tiba rasa takut menyerangnya, sekarang ia menjadi takut ... apakah itu nanti bisa menghalangi penyempurnaannya menjadi seorang mu'alaf.


"Sudah bersuami, apa belum nih? Kalau belum, bisalah buat Ustadz Abizar mendaftar," goda Ustadz Abas.


Perkataan dari Ustadz Abas membuyarkan lamunan Abdar, ia pun melirik sekilas pada Ustadz Abas dan kembali melirik Rahimah. Rahimah tidak sadar dengan kehadiran Abdar, karena ia tidak berniat untuk memperhatikan orang-orang yang cukup banyak itu.


Yang lain hanya diam memperhatikan Rahimah yang sedang di goda. Semantara Ustadz Abizar hanya tersenyum karena gurawan dari rekannya itu, ia sudah sering menjadi bahan bully ... karena statudnya yang masih betah menjomblo di usianya yang sudah kepala tiga.


"Kebetulan Imah ini janda beranak satu, dia sudah menjanda saat sedang hamil" terang Ustadzah Habibah tersenyum milihat Rahimah yang memandangnya seolah mengatakan Rahimah tidak suka dengan pembahasan ini.


"Tidak masalah kalau dek Imah ini seorang janda dan beranak, yang penting ... sekarang tidak ada pasangannya," celetuk Ustadz Adnan.


"Iya, anaknya dek Imah itu sudah termasuk bonus, jadi tidak usah repot-repot membuat anak. Memangnya berapa umur anaknya?" timpal Ustadz Roy.


"Baru beberapa bulan yang lalu genap sembilan tahun," ujar Ustadzah Habibah.


Rahimah sekarang benar-benar tidak suka mendengar pembahasaan tentang masalah pribadinya.


"Maaf sebelumnya ... saya kemari untuk memberitahukan, kalau makan siang sudah siap. Jadi untuk semuanya, silahkan ke ruang makan untuk makan bersama," sela Rahimah sopan.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Assalamualaikum," pamit Rahimah menunduk sungkan.


"Kalau begitu, mari kita makan siang dulu," ujar Ustadzah Badawiya mengakhiri pembicaraan, mereka semua pun beranjak dari tempat duduknya mengikuti Rahimah yang sudah lebih dulu pergi dari ruangan tersebut.


Abdar berjalan gontai mengikuti para Ustadz di depannya, ia merasa penasaran dengan kehidupan Rahimah yang seorang janda dan mempunyai satu orang anak, ia bahkan berjalan paling akhir di belakang sahabat, adik dan keponakannya.


"Apa setelah kejadian malam itu, dia menikah dengan seseorang?"


"Apakah suaminya menceraikannya, setelah tau kalau istrinya tidak perawan lagi?"


"Sementara dirinya yang mengambil mahkotanya, tidak pernah berpikir akan bagaimana dengan kehidupan wanita tersebut setelah kejadian malam itu ...."


Abdar terus bermonolog pada diri sendiri, pikirannya melayang pada kehidupan Rahimah selama ini setelah kejadian yang tidak ia sengaja.


Tiba di ruang makan, Rahimah segera menyibukkan diri membantu yang lain. Saat ia melihat para Ustadz dan Ustadzah yang sudah hampir mendekat dengan ruang makan, ia bergegas pergi ke dapur untuk mencuci piring kotor.


"Imah, mau kemana?" cegah Madinah.


"Mau kebelakang mbak, cuci piring kotor." Ujar Rahimah hendak lekas berlalu, ia tidak ingin mendengar lagi godaan seperti tadi dan berujung dengan pembahasaan dirinya.


"Eehh eehhh, kenapa mesti sekarang? Biar nanti aja nyuci piringnya, sekarang kita makan dulu," lagi-lagi Madinah mencegahnya.


"Gak mbak, aku nanti aja mskannya ... soalnya masih kenyak, biar yang terakhir aja makannya." Tolak Rahimah halus.


"Benar kamu masih kenyang?" tanya Madinah yang tidak ingin memaksanya.


"Iya mbak, nanti aku yang terakhir aja," bujuk Rahimah.


"Ya sudah, kami makan dulu yah?" akhirnya Rahimah bisa pergi dari ruang makan tersebut.


Semua orang duduk menempati setiap kursi, dengan sembunyi-sembunyi Abdar sekekali mencuri pandang pada kelompok para wanita yang jaraknya sekitar lima meter dari mejanya.


Ia ingin melihat Rahimah, seumur hidup hal ini baru pertama ia lakukan. Ternyata bukan hanya Abdar yang curi-curi pandang, Abizar juga melirik mencari keberadaan Rahimah, yang sempat tertangkap oleh Abdar. Membuat Abdar mendengus kesal, entah kenapa ia merasa tidak suka saat ada yang memperhatikan Rahimah selain dirinya.


Perasaan yang Abdar rasakan saat ini sulit di artikan, entah karena rasa penyesalan atau karena rasa kasihan atau juga penasaran saat mendengar Rahimah yang menjanda.


"Hei bro, lo suka ya sama si janda itu?" bisik Adit membuatnya tersentak kaget.


"Ngaco lo, siapa juga yang suka dia," bantah Abdar juga berbisik, ia melirik Adit sekilas. Ia berpikir, sepertinya Adit tidak ingat tentang Rahimah, dulu sepuluh tahun yang lalu Adit juga sempat melihat idintitas wanita yang pernah Abdar tiduri.


Mendapati Adit yang tidak ingat membuat sedikit hatinya tenang, kembali melirik kepada kelompok wanita, apakah Rahimah masih ingat dengannya? Do'a semoga Rahimah tidak mengenalinya, dan ia bisa melakukan pendekatan untuk minta maaf sedikit demi sedikit.


"Bilangnya gak suka? Tapi tu mata, kenapa dari tadi curi-curi pandang ke situ?" bisik Adit lagi, menunjuk dengan ekor matanya.


"Diam lo, ini bukan urusan lo," sahut Abdar bersungut-sungut balas berbisik. Adit mencibir mendengarnya, kemudian sedikit tersenyum melirik Abdar.


"Mari semua, silahkan di nikmati makan siangnya," Ujar Ustadz Rasyid setelah selesai memimpin do'a makan.


Semua orang pun makan dengan diam, tidak ada yang bersuara hingga makan siang selesai. Adit pun mengajak Abdar untuk pulang sekarang, yang di setujuinya. Memang ini sudah waktunya mereka pulang, nanti ia akan mencari alamat Rahimah.


Satu petunjuk yang pasti sudah ia tahu, Rahimah kenal baik dengan Ustadzah Habibah yang tidak bukan adalah guru mengaji dari adiknya, itu sudah memberinya jalan supaya ia bisa tahu tempat tinggal Rahimah.


Sampai Abdar pulang pun, di jalan pikirannya tidak luput dari sesosok wanita yang baru ia temui dengan jarak dekat, setelah kejadian itu.


"Apakah ia sedang di kejar oleh dosa dari masa lalu?" pikir Abdar


BERSAMBUNG ....


Semua orang yang sudah mampir, mohon dukungannya ya. Aku minta like, komen, gift, kopi, atau vote dan sekalian bintang 5😊 seikhlasnya. Yang udah ngasih ... aku ucapin banyak-banyak terima kasih.


Salam dari Urang Banua😘


.


Noormy Aliansyah