Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 76 Pernikahan dan Tembakan.



"Ini tentang ... Rahman dan ayah kandungnya," ucap Rahimah serius.


"Apa itu?" tanya Ibu Ismawati dengan kening berkerut.


"Sebelum hubungan ini menjadi lebih serius, saya ingin jujur kepada ibu." Keningnya semakin berkerut dalam mendengar penuturan calon mantunya.


"Tapi sebelumnya, saya ingin minta maaf terlebih dahulu," kata Rahimah tulus.


"Tidak ada niatan saya, untuk menyakiti atau menyinggung perasaan ibu ...! Saya tulus mengatakan ini dengan niat agar tidak menjadi beban pikiran. Ini saya lakukan karena saya hanya ingin berkata jujur dan bisa dimengerti dikemudian hari."


Ibu Ismawati menyimak tanpa menyela.


"Ibu ingat'kan, dengan mas Abdar?" tanya Rahimah setelah diam sejenak.


"Ya, saya ingat," jawabnya pasti.


"Dia ...." Rahimah menjeda kalimatnya sejenak.


"Dia ... ayah kandung dari anak saya," aku Rahimah jujur.


Ibu Ismawati diam, detik berikutnya tersenyum. "Tapi kemarin waktu ibu tanya, dia bilang bukan mantan suami kamu Imah," ucap beliau mengingat pengakuan Abdar.


"Memang bukan mantan suami saya, bu!" jawaban Rahimah seketika merubah expresi wajah Ibu Ismawati menegang.


Rahimah mantap lekat sang lawan bicara yang tiba-tiba diam. "Dia, adalah ayah kandung dari anak saya ... tapi Dia, juga bukanlah mantan suami saya," ulang Rahimah memperjelas.


Hening dan sunyi, walau keadaan di dalam cafe itu terlihat banyak anak kuliahan di setiap sudutnya. Tatapan yang sulit di artikan pun tersemat di bola mata sang calon mertua.


"Tapi saya bersumpah, bahwa saya bukanlah wanita yang rendah dan hina hingga bisa hadirnya Rahman di antara saya dan dia. Saya hanya seorang korban dari orang tersebut," ucap Rahimah bersungguh-sungguh.


Tetap diam ....


"Mas Abi juga sudah mengetahuinya, saya juga sudah meminta mas Abi untuk bisa mengerti jika ayah kandung Rahman sewaktu-waktu datang berkunjung."


"Karena sekarang dia sudah bertobat, dan menjadi orang yang lebih baik. Dia datang hanya untuk mengunjungi putranya."


"Tapi seperti yang ibu ketahui, Rahman juga tidak memanggilnya Ayah ... karena anak saya yang ternyata bisa mengerti situasi bahwa tidak ada ikatan pernikahan," tutur Rahimah panjang lebar.


Menautkan tangan, menggenggam dengan gelisa. Rahimah memperhatikan wajah ibu Ismawati yang pandangannya turun ke bawah seakan kosong tanpa satu kata membuatnya was-was.


"Jadi, Abi sudah tau?" tanya beliau tenang sembari tersenyum setelah terdiam lama.


Rahimah tidak bisa mengartikan senyuman itu, ia pun mengangguk mengiyakan. "Iya bu," jawabnya pendek.


"Setelah mendengar penjelasan mu, ibu bisa mengerti apa yang kamu maksud," katanya.


"Ayo minum dulu, jangan lupa di habiskan."


Ibu Ismawati memulai dulu minumannya tanpa banyak bicara, di susul Rahimah. Tidak ada lagi yang di bicarakan atau di pertanyaan 'kan oleh calon mertuanya itu.


Alih-alih bertanya, beliau mendadak menjadi pendiam. Beliau lebih memilih diam sembari minum dan memakan kudapan yang sejak tadi sudah memenuhi isi meja mereka. Kendati Rahimah masih menunggu, mungkin saja akan ada pertanyaan ... maka ia siap menjawab sebisa mungkin.


Usai menghabiskan minuman dan kuenya, Rahimah hendak membayarnya ... tapi di cegat oleh ibu Ismawati.


"Tidak perlu Imah, biar ibu saja yang membayarnya." Rahimah tersenyum mendengarnya.


Rahimah yakin bahwa calon mertuanya bisa mengerti keadaannya dan akan menerima kehadiran anaknya, terlepas dari cara bagaimana Rahman hadir di dunia.


"Sebaiknya kamu langsung pulang saja, Imah. Ibu juga akan pulang," kata calon mertuanya setelah menyelesaikan pembayaran.


"Iya, ibu. Kalau begitu, saya ucapkan terimakasih untuk waktu dan pengertiannya." Yang di angguki ibu Ismawati.


Ke luar beriringan seakan tidak terjadi apa pun diantara mereka. "Hati-hati di jalan, Imah," pesan beliau.


"Ibu juga hati-hati di jalan." sahut Rahimah sopan.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam," balas Rahimah yang berdiri di samping sepeda motornya menatap kepergian calon mertuanya di parkiran depan cafe.


Dengan perasaan lega, Rahimah mengendarai motor metiknya membelah keramahan ibu kota hingga sampai ke tempat tujuan.


...****************...


.


"Mas Adit."


"Ya, ada Apa?" tanya Adit santai.


"Siapa, Mas?" Ratu menyela.


"Oh, perkenalkan ... dia pemilik restoran ini," Dinda mendelik, pernyataan yang tidak sama seperti ia pikirkan.


"Oya? Jadi dia pemiliknya? Wah ... Mas Adit ternyata berteman ya?" cerca Ratu beruntun.


"Kenalkan, saya Ratu. Temannya mas Adit! Betul begitu'kan Mas Adit?" Ucapnya mengulurkan tangan ke hadapan Dinda sekaligus meminta persetujuan Adit.


"Iya, dia Ratu teman Aku," jawab Adit pendek.


"Ehemm." Dinda berdehem agar menghilangkan rasa kesalnya yang entah kenapa.


"Saya, Dinda." Menyambut tangan yang sempat ia biarkan menggantung beberapa detik.


"Ayo sini, gabung sama kita." Ajak Ratu menarik tangan Dinda duduk di sampingnya.


Adit mengulum senyum, tahu maksud kenapa Dinda menyusulnya ke sini.


"Jadi mas Adit, udah kenal berapa lama sama Dinda?" tanya Ratu akrab, padahal ia juga baru kenal.


"Lumayan," jawab Adit ambigu.


"Lumayan baru ... atau lumayan lama?" tanya Ratu memastikan.


"Baru."


"Lama."


Jawaban berlawanan dari Adit dan Dinda terucap bersamaan yang malah membuat Ratu menatap keduanya bingung.


"Jadi ... baru atau, lama?" Ratu melirik mereka bergantian.


"Baru."


"Lama."


Terulang kembali jawaban yang bertolak belakang.


"Udah, jangan dengerin dia." Tunjuk Adit.


"Kita baru aja kok, kenalnya."


Dinda hendak menyahut, tapi keburu Adit melanjutkan kalimatnya. "Apa? Kita memang baru kenal kan?" Dinda seketika terdiam dan mengingat-ngingat berapa lama sudah mereka saling mengenal.


Dinda merutuki kebodohannya, baru ingat apa yang dikatakan Adit itu memanglah benar adanya. Tapi kenapa ia merasa seperti sudah lama kenal? Apa karena mereka yang sering bertemu akhir-akhir ini hingga sampai membuatnya berpikir jauh dari kenyataan.


"Bodoh, kau Dinda," umpatnya di dalam hati.


Adit tersenyum merekah memperlihatkan deretan gigi putihnya, karena tidak tahan menatap wajah Dinda yang malu bercampur kesal.


"Ohh, jadi baru!" seru Ratu.


"Iya, baru. Maaf tadi lupa ..!!" kata Dinda sinis melirik Adit.


"Awww," pekik Adit mengusap tulang keringnya di bawa meja.


"Kenapa, Mas Adit?"


Dinda segera membuang muka ketika Adit menatapnya tajam.


"Hmm, nggak apa-apa. Apa teman kamu masih lama?" Adit beralih melirik Ratu.


"Kayanya, iya ... masih lama." Kata Ratu sambil melihat benda bulan yang melingkar di tangan kirinya.


"Kalau gitu, kita bisa lamaan dong ngobrolnya?" Ucap Adit sembari memanas-manasi Dinda.


"Bisa dong," jawab Ratu riang.


"Dinda, bukannya kamu lagi sibuk Ya?" usir Adit halus sambil mengedipkan satu matanya sengaja.


"Nggak kok, siapa bilang?" Ketus Dinda.


"Mbak Ratu, nggak apa-apa 'kan ... kalau aku ikut gabung?" pintanya penuh harap.


Entah kenapa sekarang Dinda seperti enggan meninggalkan mereka berdua, walau tidak tahu apa pentingnya ia di antara keduanya.


Ia hanya perlu menebalkan muka guna membuang rasa malunya.


"Iya, boleh ... lagian kalian 'kan juga berteman," Dinda bernapas lega.


"Menurut kamu, Mas Adit orangnya gimana Dinda?"


"Hah, gimana apanya?" balasnya bertanya.


"Ya, gimana ...? Kamukan lebih dulu kenal sama mas Adit. Biasanya teman yang sudah saling kenal itu, lebih tau karakternya."


"Emmm ... baik." Adit tersenyum bangga karena pujian Dinda.


"Tapi, nyebelin." Adit mencibirkan bibirnya.


"Misalnya?"


"Dia itu ...." ujar Dinda sambil berpikir.


"Keras kepala banget! Maunya menang sendiri dan tidak ingin mendapat penolakan. Nyebelin kan?" tanpa sadar Dinda mengeluarkan unek uneknya.


"Wah mas Adit, rupanya jauh berbeda dari kelihatannya!" komentar Ratu yang membandingkan penampilan dan Karakter Adit.


"Hanya kepada sebagian orang saja, aku memperlihatkannya," elak Adit jujur.


"Harus jadi teman yang istimewa dulu dong, Ya?"


"Bisa di bilang seperti itu."


"Ratu." Ketiganya menoleh saat ada seseorang yang memanggil salah satu dari mereka sambil berjalan mendekat.


"Aira," Ratu menyebut nama wanita itu.


Adit tersentak kecil menyadari siapa wanita itu. "Mas Adit, di sini juga?" tegur Aira sekaligus bertanya.


"Hmmm." hanya gumaman yang terdengar dari Adit.


...****************...


.


Sementara itu ....


Abdar yang kemarin mendapat pertanyaan dari orang tua Abizar, malah jadi lebih banyak melamun.


Ia bahkan sampai tidak menyadari keberadaan Adit yang pergi dari sejak tadi pagi hingga sampai menjelang siang.


Pertanyaan dan jawabannya itu selalu memenuhi isi kepalanya. Akibat dari jawaban itu juga ia tidak bisa mengakui Rahman sebagai anaknya .


Jika boleh egois, ingin sekali rasanya Abdar memperkenalkan diri sebagai ayah kandung Rahman, tapi tentu dengan segala konsekuensinya.


Tentang kehormatan Rahimah dan yang terburuknya adalah di benci ibu dan anak itu.


Menghela napas berat, Abdar menyandarkan punggungnya secara kuat hingga membuat kursinya goyang dan sedikit berputar.


Menatap langit-langit kantor dengan tatapan kosong dan perasaan gamang.


Tidak ada yang dilakukan Abdar selain melamun, dan menggerak gerakkan kakinya agar kursinya berputar seirama.


Lagi ... Abdar melamunkan jika ia yang menikah dengan Rahimah nanti, maka akan mudah baginya menyebut dirinya sebagai ayah dari Rahman.


Mengingat nasehat Abizar tentang sholat di persetiga malam, yang awalnya ia begitu semangat dan penuh harap ... sekarang seketika lesu juga tidak mengharapkan lagi.


Yang Abdar renungkan, ialah harus ikhlas dengan apa yang ia inginankan tapi tidak sesuai hasilnya.


Berjam-jam tetap dalam posisi itu hingga tanpa sadar, Abdar sampai tertidur di kursi kebanggaannya tersebut.


...😴😴😴...


Abdar tersentak dari tidurnya tatkala mendengar ketukan dari daun pintu ruang kerjanya.


"Ya, masuk," ujar Abdar berusaha mengembalikan kesadarannya.


"Selamat siang, tuan," Tomi masuk memberi salam sembari membungkukkan sedikit badannya.


"Siang," beo Abdar langsung mengangkat tangannya kirinya guna melihat waktu.


"Adit mana?" Abdar baru menyadari bahwa Adit yang sudah lama pergi.


"Belum kembali, tuan." Tomi menunduk tidak berani menatap langsung sang atasan.


"Sialan, kemana dia pergi? Apa mendatangi Dinda?" bertanya pada diri sendiri.


"Ada apa?" Abdar mempertanyakan tujuan Tomi mendatanginya.


"Ini tentang Jack, tuan." Mendengar nama selingkuhan mantan kekasihnya dulu, seketika rahang Abdar mengeras.


"Katakan," suaranya terdengar dingin.


"Informasi yang saya dengar .., Jack meminta bantuan dan kembali membangun sindikat perdagangan narkoba bersama rekan-rekan sejawatnya," papar Tomi.


"Yang saya khawatirkan adalah, Jack akan berulah lagi terhadap tuan dan adik juga keponakan anda, tuan. Kemungkinan besar dia menaruh dendam, akibat dari penangkapan penculikan serta bangkrutnya usaha yang dulu," lanjut Tomi panjang lebar.


"Tambah anak buatmu, perketat penjagaan dan jangan lupakan keamanan Rahman serta ibunya," titah Abdar tak terbantah.


"Baik, tuan ... akan saya lakukan."


"Segera hubungi Adit ..!! Dasar brengg seekk, kenapa dari tadi, dia belum kembali?" perintahnya sambil menggerutu.


"Baik, tuan ... segera saya hubungi. Saya permisi." Tomi membungkuk dan berlalu keluar ruangan.


...****************...


.


Satu minggu kemudian ....


Tidak ada perubahan dari Abizar dan keluarganya yang Rahimah rasakan. Semua berjalan sama seperti sebelumnya.


Abizar juga selalu menyambutnya dengan senyum manis tiap kali akan berangkat mengajar mengaji.


Sebenarnya, teman-temannya sudah menyuruh Rahimah untuk berhenti sejenak dalam menjadi guru ngaji menjelang pernikahan ... mereka menyebutnya pamali bagi calon pengantin yang selalu berpergian.


Tapi Rahimah tidak menggubris dan tetap menjalankan aktivitasnya seperti hari-hari sebelumnya bersama Abizar.


Sesuai rencana, semua yang berurusan dengan acara pernikahan telah diambil alih oleh trio wewek ... menjadikannya tidak ada pekerjaan dan pengangguran, maka dari itu ia kukuh ingin tetap mengajar mengaji.


Mau tidak mau trio wewek terpaksa membiarkannya, karena kalau tidak Rahimah mengancam akan menolak semua bantuan dari teman-temannya itu.


Untuk urusan surat pengantar nikah dari desa dan berkas-berkas lainnya juga sudah di urus oleh suami Nurul dan Soraya.


Sampai hari menjelang pernikahan, barulah Rahimah cuti mengaji dan diam saja di rumah menjadi mandor yang mengontrol bawahannya menyelesaikan tugas dekor.


...----------------...


.


Hari pernikahan ....


Pagi ini usai sholat subuh, Rahimah sudah di rias oleh seorang wanita yang mahir dalam bidang merubah wajah pengantin.


Tidak hanya Rahimah, trio wewek pun tidak ketinggalan. Nurul bahkan sengaja menyewa perias pengantin lebih dari dua agar mendandani mereka secara bersamaan guna memangkas waktu.


Alhasil mereka semua sudah siap dalam kurun waktu dua jam saja, sementara Ustadzah Habibah dan Khadizah menolak untuk di make up.


Para tamu undangan satu persatu sudah berdatangan dan menempati tempat yang sudah di sediakan. Halaman depan di isi oleh tamu laki-laki, dan di dalam rumah jelas penuh dengan para wanita.


Rahimah yang menunggu detik-detik datangnya calon pengantin pria begitu gugup dan gemetar. Bagi Rahimah sang ratu sehari terasa lama menunggu, telapak tangannya bahkan selalu basah karena keringat dingin walau sudah disuap, tapi kembali basah.


Di temani trio wewek dan Khadizah, Rahimah mengungkapkan ketakutannya akan kehidupan barunya bersama Abizar.


Tidak seperti acara lamaran, kali ini teman-temannya bersikap serius setiap kali memberikan nasehat dan pesan-pesan.


Rahman yang menunggu acara di mulai memilih bergabung bersama ayah dan para suami sahabat mamanya, begitu juga Master Candra dan Adit.


Memperhatikan sekitar dengan tatapan kosong sembari merangkul Rahman yang duduk di sampingnya.


Sampai ketika mobil pengantin pria datang, barulah Abdar tersadar dari lamunannya.


Acara mendadak ramai dan gaduh guna menyambut Abizar yang keluar dari dalam mobil.


Abdar dan kawan-kawan yang duduk bersama tamu undangan ikut berdiri menyambut kedatangannya.


Tidak jauh dari tempat acara ada seseorang yang memperhatikan Abdar dengan senjata apinya dan siap melepaskan anak timah.


Tidak lain ialah Jack. Jack yang ternyata selalu mengintai dan mengawasi keberadaan Abdar, merencanakan penembakan untuk membalas dendam nya.


Mengetahui Abdar akan datang ke acara yang diyakini ada hubungannya dengan Rahman, membuat Jack bergerak cepat. Apa lagi acara tidak di langsung'kan di hotel, mempermudah jalan rencananya.


Mengarahkan pistol ke arah target sambil membidik. Dalam hitungan detik peluru pun melesat.


"Jup," suara peluru yang di redam hingga tidak terdengar letusan nya.


"Tolonggg," teriakan para tamu yang melihat seseorang tiba-tiba jatuh sambil berlumur darah.


Jeng ... jeng ... jeng ....


BERSAMBUNG ....


Maaf beribu-ribu maaf, karena up-nya keteteran, harap dimaklumi πŸ™πŸ˜.


Ayo gays kasih saya semangat dong, like, komentar, bunga atau kopi selalu di nanti. Sekalian mumpung besok hari senin ... kasih vote lah, kalau bisa hihihi 🀭🀭.


Salam sayang πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Noormy_Aliansyah 😘😘😘