Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 57



Dengan konsentrasi penuh, Abdar mencoba membagi pukulan pada ketiga lawannya.


Menendang musuh di depan dan langsung putar badan guna memukul lawan yang berada di belakang. Abdar terus menghajar dan menangkis serangan yang datang hampir secara bersamaan.


Sefokus-fokusnya Abdar, tapi karena lawan yang tak seimbang membuat ia lengah dengan musuh yang di sisi samping hingga berhasil memberikan tinju di rahang tegasnya.


Tidak sedikit ia membuat luka di tubuh lawannya, tapi tidak sedikit juga ia terkena hantaman dari musuh-musuhnya.


Setelah cukup banyak saling memberikan hadiah ... akhirnya polisi Malaysia turut membantu dan Abdar bisa melumpuhkan lawannya.


Shandy yang melakukan penculikan itu atas dasar dendam, iapun tak terima karena anak buahnya mulai di kalahkan Abdar yang ia yakini adalah orang yang harus menerima dendam darinya.


Marah bukan main sudah pasti yang Shandy rasakan saat ini karena dendam itu berkobar-kobar.


Saat Abdar tengah memukul anak buahnya, Shandy milihat Jack mengeluarkan pistol, memperhitungkan jarak antara Abdar dan Rahman yang memang dekat.


Shandy melakukan ancang-ancang untuk menendang Abdar.


"Bruuukk." Tendangan keras mendarat di bahu Abdar membuatnya terhuyang dan terpental karena mendapatkan serangan mendadak.


"Doorrr." Bertepatan dengan peluru yang terlepas dari sarangnya hingga mengenai lengan Abdar sebelah kanan ketika ia yang menimpa Rahman.


Seketika atensi orang-orang mengarah pada asal suara lalu menatap orang yang jatuh di atas Rahman dengan posisi tengkurap. Darah pun mengalir begitu saja dari lengan Abdar.


Yang Abdar rasakan saat ini adalah ia terkejut karena berada di atas Rahman, seketika hendak bangun tapi tiba-tiba lengannya terasa begitu sakit saat ia mengeluarkan senam otot guna mengangkat tubuhnya.


Detik berikutnya pandangannya sedikit demi sedikit mengabur dan tenaganya melemah ia merasa pusing dan sakit. Abdar pun jatuh lagi tapi masih sadar dengan mata terpejam.


Shandy tersenyum penuh kemenangan. Berharap Abdar mati bersama dendam nya, sampai-sampai ia tidak sadar mendapatkan hantaman di punggung dan jatuh tersungkur.


Polisi menangkap Shandy, tapi Jack berhasil melarikan diri bersama sebagian anak buahnya. Tak bisa mengejar karena di pintu mobil terbogol penjahat di ke dua mobil mereka.


Mengeluarkan senjata pun sudah terlambat karena mobil yang sudah menjauh, akibat mereka yang sempat mematung memandang Abdar yang berdarah.


"Abdar ..!!" teriak Adit berlari mendekat.


"Tolong panggil 'kan Ambulans," teriaknya lagi sambil membalik'kan tubuh Abdar.


Polisi Malaysia segera menghubungi pihak Rumah sakit.


Candra juga membantu Rahman yang terjatuh.


Melepas jaket Abdar dan mengikatnya di lengan Abdar yang lerluka agar mengurangi darah yang mengalir.


"Abdar, lu gak apa-apa kan? Ayo cepat bangun?" Adit menggoyang-goyangkan badan Abdar agar tetap terjaga.


"Kepala gw pusing dan tangan gw, kebas," aku Abdar jujur masih terpejam.


Mungkin karena ikatan di lengannya yang terlalu kencang hingga Abdar merasa tangannya jadi mati rasa.


"Kamu gak apa-apa Rahman?" Tanya Candra khawatir.


Rahman menggeleng. "Tidak apa-apa master."


Rahman memandang lengan kokoh Abdar yang penuh darah dengan prihatin.


Tidak sampai setengah jam mobil ambulan datang dan segera mengangkut Abdar. Adit, Candra dan Rahman ikut dalam mobil Ambulan.


Candra duduk di samping supir, Adit dan Rahman duduk di dekat kaki Abdar. Sementara seorang dokter memberikan pertolongan pertama di dekat kepala Abdar.


Meluruskan dan mengangkat tangan yang terluka agar lebih tinggi dari jantung dan menekan pembuluh darah supaya menghambat keluarnya darah.


Sementara Polisi Indonesian ikut polisi Malaysia mengamankan penjahat. Helikopter yang tadi mengangkut sebagian polisi ternyata mengejar Jack.


Sempat kehilangan lokasi tempat mereka, saat menemukan lokasinya bertepatan dengan penembakan dan kaburnya Jack ... lantas helikopter pun mengejar tanpa sepengetahuan Jack.


...----------------...


Tiba di rumah sakit yang cukup terkenal di Ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur Gleneagles Hospital. Abdar langsung di sambut oleh beberapa perawat dan di bawa ke ruang IGD sebelum mempersiapkan ruang operasi.


Adit segera menghubungi Maryam.


πŸ“ž"Assalamualaikum." Terdengar suara Maryam memberi salam.


"Wa'alaikumussalam." Adit menggaruk keningnya yang tidak gatal, ia sedikit bingung menyampaikan. Apakah sebaiknya tidak perlu memberi tahu atau sebaliknya.


πŸ“ž"Kak, Adit ... ada apa?" setelah beberapa detik diam, Maryam kembali bersuara.


Setelah di pikir-pikir, Adit pun akhirnya memberitahu 'kan Maryam.


"Dek, Abdar ... tertembak," hening ... tidak ada suara lagi dari seberang sana.


"Dek ... dek ... Maryam ...?" panggil Adit sambil memperhatikan Hp-nya dan tiba-tiba telepon di seberang sana mati.


Khawatir, Adit kembali menghubungi Maryam ... tapi tidak aktif. Hingga beberapa kali melakukan panggilan, lumayan lama hingga akhirnya terhubung dengan suara orang yang tidak di kenal.


"Maryam?"


πŸ“ž"Maaf, mas ... saya bukan Maryam. Saya Dinda temannya," Adit mengernyit heran karena baru pertama kali ini mendengar nama itu sebagai teman dari adik iparnya, sedetik kemudian ia teringat dengan temannya Rahimah.


Tidak ingin berbelit mengenai teman Maryam, Adit langsung menanyakan adik sahabatnya itu.


"Apa terjadi sesuatu dengan Maryam?" tersirat kekhawatiran dalam suaranya.


πŸ“ž"Enggak terjadi apa-apa kok, mas. Maryam baik-baik saja ... mungkin tadi dia sedikit terkejut mendengar kabar dari mas," Adit faham bagaimana perasaan Maryam saat ini. Tapi akan lebih baik jika Maryam memang harus tahu dari awal keadaan Abdar.


"Emm, maaf Dinda ... boleh saya minta tolong?"


πŸ“ž"Silahkan mas."


"Begini, tolong kamu bilang sama Maryam, tidak perlu khawatir sama keadaan kakaknya. Karena dia baik-baik saja. Kami secepatnya akan pulang kalau dia sudah baikan."


"Dan satu lagi, tolong temani dia sebentar," pinta Adit.


πŸ“ž"Iya mas, saya mengerti."


"Oya Dinda, apa Rahimah bersamamu?" Tanya Adit.


πŸ“ž"Iya mas, memang ada apa?"


"Sampaikan pada Rahimah, kalau Rahman sudah bersama kami."


πŸ“ž"Alhamdulillah, terimakasih mas ... sekali lagi terimakasih banyak." Terdengar jelas ada kelegaan saat mengucapkan hamdalah.


"Iya, sama-sama. Titip Maryam, Assalamualaikum,"


πŸ“ž"Iya mas, Wa'alaikumussalam." Adit memutus telepon setelah menerima balasan salam.


"Bagaimana?" tanya Adit mendatangi Candra dan Rahman.


"Sebentar lagi di bawa ke ruang operasi," balas Candra.


"Syukurlah."


Tidak lama kemudian dokter hendak membawa Abdar ke ruang operasi.


"Dokter, saya mohon tolong teman saya," ujar Adit menghalangi jalan dokter pria itu.


"Pakcik ambil mudah, kami akan buat yang terbaik."


(Tuan tenang saja, kami akan melakukan sebisa mungkin.)


"Terimakasih Dokter, lakukan yang terbaik untuk teman saya."


Rahman dan Candra hanya diam mendengarkan.


"Itu kewajipan kita, saya mohon agar pakcik bersabar."


(Itu sudah menjadi tugas Kami, saya mohon bersabarlah tuan.)


"Nampak pakcik juga patut dilayan," dokter itu melihat Adit dan Candra yang terluka di beberapa wajah mereka.


(sepertinya tuan juga harus di obati.)


"Nurse, tolong layan pakcik ni dan kawan dia," dokter itu memanggil perawat guna membantu mengobati mereka.


"Tolong pakcik," perawat mempersilahkan Adit dan Candra.


(mari tuan, silahkan.)


Semantara dokter itu pun berlalu ke ruang operasi.


"Candra, sebaiknya kamu saja dulu yang di obati. Saya akan ikut ke atas sebentar." Tidak menunggu jawaban Adit berlalu pergi mengikuti Abdar, karena luka Adit tidak seberapa.


Tapi karena lift yang di tuju hanya di peruntukan pasien, jadi Adit menggunakan lift yang lain guna menuju lantai atas.


Keluar dari lift Adit hanya sempat melihat punggung dokter yang membawa Abdar masuk ke ruang operasi.


Ia akhirnya duduk di luar sambil menunggu.


Untungnya timah senjata api itu bersarang tidak terlalu dalam, hingga tak memakan waktu lama ... hanya dalam waktu setengah jam operasi selesai.


"Dokter, teman saya baik-baik saja 'kan? Tidak terjadi apa-apa'kan?" Adit langsung melayangkan pertanyaan ketika berpapasan dengan sang dokter.


"Tenang pakcik, kawan awak baik. Luka kawan tak berapa dalam, jadi dia baik-baik saja," terang dokter pria menggunakan bahasa melayu.


(Tenanglah tuan, teman anda baik-baik saja. Luka teman anda tidak terlalu dalam, jadi dia akan baik-baik saja,)


"Kami akan membawanya ke bilik pemerhatian, maafkan saya," ujar dokter beranjak pergi.


(kami akan membawanya ke ruang observasi, permisi.)


Usai operasi Abdar pun di bawa ke ruang observasi (pemulihan dan perawatan pasca operasi.)


Di ruang observasi Adit, Candra dan Rahman tidak bisa menemui Abdar terlalu lama karena efek dari bius pasca operasi Abdar pun tertidur. Besok pagi baru di pindahkan ke bangsal pasien.


Mereka memilih sholat magrib di mushola rumah sakit itu.


"Sebaiknya kita cari penginapan karena ini sudah malam, besok pagi baru kita kembali ke sini," usul Adit selepas sholat.


"Rahman juga, sepertinya kelelahan," sambung Adit.


Memang kenyataan semuanya merasa lelah setelah habis berkelahi.


"Ya, itu lebih baik. Kita juga tidak bisa menggangu Abdar istirahat." Candra mengangguk setuju.


"Tapi apa sebaiknya luka mu di obati dulu?" tunjuk Candra pada luka di sudut bibir Adit.


"Baiklah." Adit setuju.


Selesai di obati mereka memutuskan untuk pergi ke hotel yang dekat dengan rumah sakit. Tapi sebelum ke hotel mereka mampir dulu ke toko baju di sekitar hotel.


Sesampainya di hotel Adit memesan satu kamar dengan tiga tempat tidur.


Membersihkan badan agar lebih segar dan mengganti baju dengan yang baru.


Walau sebenarnya juga ada luka di beberapa tubuh mereka, tapi mereka enggan di obati perawan dan memilih membawa salep nya saja agar bisa mengobati sendiri.


Urusan dengan para penculik pun belum mereka pikirkan, mereka sudah menghubungi kepolisian bahwa besok mereka akan bertemu di rumah sakit untuk menyelesaikan masalah penembakan sekaligus polisi melihat keadaan Abdar.


Selain mereka, polisi Indoensia dan Malaysia juga akan menjadi saksi dalam kasus ini.


"Saya akan menghubungi mamanya Rahman, tentang penemuan Rahman?" ujar Candra.


Usai membersihkan diri mereka duduk di ranjang masing-masing, Rahman yang berada di tengah.


Belum sempat melakukan panggilan Hp Candra sudah berdering.


"Mama-nya Rahman," gumam Candra sambil mengangkat panggilan dan langsung menyerahkannya kepada Rahman.


Rahman yang tidak tahu jika itu telepon mama-nya melirik Candra sekilas sebelum menggapai Hp yang di sodor kan.


"Mama, kamu," ujar Candra tanpa suara.


"Hallo, Assalamualaikum."


...****************...


Rahimah dan Dinda hanya bisa menenangkan Maryam yang tiba-tiba saja menangis setelah berucap.


Intan yang tidak tahu kenapa mamanya menangis jadi ikut-ikutan menangis.


Rahimah pun menenangkan Intan dan Dinda menenangkan Maryam. Cukup lama Maryam mengais hingga akhirnya ia bisa mengendalikan diri.


Sementara Intan yang ikut menangis tertidur di dekapan Rahimah, karena badan yang masih lemah dan Ia yang juga baru saja meminum obat.


"Tenang Maryam, sebenarnya apa yang terjadi?" Dengan lembut Dinda mengusap punggung Maryam agar lebih tenang.


"Kak Abdar tertembak," ujar Maryam lirih tapi masih terdengar oleh Dinda dan Rahimah.


"Astaghfirullah hal azim." Suara serempak dari Rahimah dan Dinda.


Dinda pun mengambil Hp Maryam di atas meja. Ternyata Hp-nya mati, ia pun teringat jika tadi Hp itu seempat terjatuh.


Bergegas menghidupkannya, tidak lama Hp itu hidup panggilan pun muncul.


"Kak Adit," ujar Dinda pelan. Melihat Maryam yang masih terisak tanpa meminta persetujuan Maryam, Dinda langsung mengangkat ... takut jika itu penting.


πŸ“ž"Maryam."


"Maaf mas ... saya bukan Maryam. Saya Dinda temannya."


Sambil mengusap pucuk kepala Intan, Rahimah memperhatikan Dinda yang tengah berbicara.


Merasa Intan yang sudah nyenyak, perlahan Rahimah mengurai pelukannya pada anak kecil itu dan turun perlahan dari ranjang pasien.


"Alhamdulillah, terimakasih mas ... sekali lagi terimakasih banyak. Iya mas, Wa'alaikumussalam." Rahimah melirik Dinda, ia tidak terlalu mendengarkan apa yang Dinda bicarakan karena membetulkan posisi tidur Intan.


Dinda menyimpan Hp Maryam ke atas meja, ia ingin langsung memberi tahu tentang kabar Rahman yang sudah di temukan, tapi melihat Maryam yang nampak masih bersedih ia pun urung. Nanti saja pikirnya.


Masih tidak tega meninggalkan Maryam, mereka pun memutuskan menemaninya sampai ada yang menggantikan.


Hingga menjelang malam barulah pembantu Maryam datang.


"Bu, kami pulang dulu. Nanti kalau ada waktu ... kami kemari lagi," Rahimah dan Dinda ijin untuk pulang.


"Oh, iya mbak. Terimakasih karena sudah menemani non Maryam dan putri-nya," ucap wanita paruh baya itu dengan tulus.


"Sama-sama, bu. Maryam, kami pulang dulu ya?" dengan lemah Maryam kengangguk.


Seletah saling memberi salam, Rahimah dan Dinda beranjak dari tempatnya berdiri dan pergi dari bangsal Intan, tapi sebelumnya mereka sholat magrip dulu di mushola rumah sakit.


Di perjalanan mereka saling mengobrol ringan agar tidak membosankan.


Hingga sampai di rumah Ustadzah Habibah, Dinda hampir melupakan kabar yang tadi ia dengar dari Adit.


Karena Rahimah masih menginap di rumah Ustadzah Habibah jadi Dinda ingin ikut menginap juga.


Ia pun buru-buru menarik Rahimah dan duduk di tepian ranjang saat ingat usai membersihkan diri.


"Aku punya kabar baik, buat kamu," ujar Dinda sembari senyum mengembang.


Rahimah mengernyit penasaran dengan kabar baik apa yang di maksud Dinda.


"Kabar baik, apa?" tanya Rahimah menebak-nebak.


"Rahman sudah di temukan," ujar Dinda semangat.


Seketika mata Rahimah memanas dan menganak sungai. Ia terpaku, hatinya terasa di penuhi bunga-bunga yang merekah tatkala mendengar kabar yang sudah berhari-hari di tunggunya.


Lekas menggapai Hp di atas nakas dan jari lentiknya pun menari-mari di layar Hp.


Tidak menunggu terlalu lama hingga suara yang amat ia rindukan itu terdengar.


"Wa'alaikumussalam, Rahman," suaranya bergetar menahan tangis yang sejak tadi berdesakan hendak keluar dan kini benar-benar keluar.


BERSAMBUNG ....