Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 70 Lamaran resmi.



Seperti janji Abizar tiga hari yang lalu, malam ini selepas sholat Isya ia akan datang bersama kedua orang tuanya hendak melamar Rahimah secara resmi.


Khadizah dan Wahyu juga sudah datang dari tadi sore sebagai wali Rahimah demi menemani Ustadzah Habibah, menerima tamu.


Trio wewek sudah begitu semangat guna mendandani Rahimah agar semakin cantik, walau pun ia protes tapi tetap tak dihiraukan teman-temannya.


Sedang Rahman hanya diam duduk di atas ranjang sang mama sambil melihat mamanya yang sedang dibenahi jilbab dan bedaknya.


Nuri juga sudah tertidur di atas ranjang Rahimah tanpa terusik sedikit pun walau Rayan dan Hawa selalu mencolek pipi tembemnya.


"Gays, aku gugup banget ini, emang gitu ya kalau dilamar dan ketemu calon mertu?" tanya Rahimah yang tidak pernah merasakan dilamar.


Trio wewek cekikikan melihat wajah Rahimah yang sangat tegang. Bukannya menenangkan mereka lebih suka menggoda.


"Gak juga kok, aku malah biasa-biasa aja," Nurul berpendapat.


"Cuman perasaan kamu aja, kali?" timpal Dinda.


"Mana ada orang gugup pas lamaran, entar neng ... pas nikahan baru yang seratus kali takutnya." Soraya ikut menyahut.


"Masa sih? Tapi kok aku gugup banget loh ini." Ujarnya sambil menanggup kedua pipinya yang terasa panas karena tegang.


"Hehe emang gitu say .., ketemu camer bikin gugup juga," Soraya akhirnya menenangkan.


Rahimah tidak ambil pusing dengan apa yang temannya ucapkan, ia lebih memilih menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan.


Menatap pantulan dirinya di cermin. Gamis dari bahan premiun berwarna maron yang dipadu padankan dengan brokat hitam sederhana sudah membalut tubuh kecilnya. Hijab hitam pun juga sudah melilit di kepalanya dengan sangat rapi.


"Imah, Ustadz Abizar dan orang tuanya sudah datang," Khadizah muncul dari balik pintu dengan kabar berita yang membuat degup jantungnya tambah berdetak tak seirama.


Satu helaan napas dikeluarkan Rahimah secara perlahan guna membunuh rasa gugup yang bersemayam di hatinya.


Demi menunjukkan sopan santun, trio wewek dan para anak kecil tidak ikut keluar karena akan terlalu banyak orang yang menyambut tamunya. Jadi mereka akan mengintip dari balik pintu saja, Rahman pun enggan untuk ikut serta mamanya.


Dengan ditemani Khadizah perlahan Rahimah berjalan keluar dari kamarnya sambil menundukkan pandang, duduk diantara Khadizah dan Ustadzah Habibah ia sama sekali tidak berani menatap para tamunya.


Abizar tersenyum, entah karena memang jodoh atau apa ia baru menyadari jika pakaian mereka berwarna senada, baju kemeja lengan panjang berwarna maron dipadu padankan dengan celana kain hitam membuat mereka sangat serasi.


"Masyaallah, cantik sekali calon menantu ibu ini," pujian dari Hj. Ismawati tidak membuat Rahimah mendongakkan kepala tapi malah semakin menunduk.


"Memang tidak salah Abi memilih calon istri," H. Baharudin menimpali sang istri.


Pipi Rahimah semakin memanas dan bersemu merah, untung saja tertutup oleh blush on sehingga menyamarkan wajahnya.


Setelah berbasa-basi Abizar pun mengutarakan niat kedatangan mereka secara lisan yang langsung diucapkannya.


Diiringi membaca shalawat dan basmalah dengan lantang dan berwibawa ia berucap.


"Saya Abizar Ilyas dengan tulus ingin meminang Rahimah, menyakini bahwa dia adalah tulang rusuk yang saya cari selama ini, ingin menjadikannya sebagai wanita paling berharga dan diharga, menjadikan diri saya sebagai sandaran guna membagi suka dan dukanya, menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, membangun masa depan hingga menua bersama, menyempurnakan separuh agama yang saya yakini hingga bersama-bersama menuju Jannah-nya. Sudi'kah kiranya Rahimah menerima saya sebagai pendamping hidupmu?" tutur Abizar.


Rahimah tertunduk malu, ia terpaku dan terharu akan kata-kata Abizar tapi jauh di lubuk hatinya ada terselip ragu.


Ingin menolak tapi sudah terlanjur ia sanggupi. Pelan tapi pasti sembari membaca basmalah di dalam hati, Rahimah mengangguk pelan sembari tertunduk.


"Alhamdulillah," sontak semua orang mengucap syukur.


Hj. Ismawati langsung memasangkan cincin di jari manis Rahimah, tanggal akad nikah pun segera ditentukan terhitung satu bulan dari sekarang, sebelum memasuki bulan Ramadhan maka akan diadakan pernikahan.


Usai acara lamaran dan membahas tanggal pernikahan, Abizar dan kedua orang tuanya pamit undur diri dengan membawa kebahagian serta harapan.


Ustadzah Habibah berserta anak, menantu dan cucunya segera pulang setelah Abizar pergi begitu juga dengan trio wewek dan Dinda yang mengantar Nurul bersama Soraya.


Kini tinggal Rahimah dan Rahman saja berdua di rumah, mereka pun memilih tidur bersama untuk malam ini.


Melewati malam yang panjang, semua orang tertidur nyenyak dan kecuali Abdar yang selalu terbangun di malam hari.


...****************...


.


Abdar terbangun dari tidur singkatnya oleh jam tangan yang berbunyi, memang sengaja ia setel untuk membangunkan tidurnya di tengah malam guna melakukan sholat dipersegi tiga malamnya.


Gegas ia duduk dan beranjak dari pembaringan menuju kamar mandi hendak menggosok gigi dan berwudhu.


Akhir-akhir ini ia sangat suka dan senang melakukan kebiasaan yang mulanya tidak pernah ia bayangkan sama sekali.


Setelah berwudhu memakai baju koko, lantas menghamparkan sajadah dan berdiri menghadap kiblat.


Dengan melafalkan niat diiringi takbiratul ihram, Abdar shalat dengan khusyu. Selesai dengan Salam, Abdar pun berdo'a tidak lupa mengirim do'a sebisanya untuk kedua orang tuanya, kemudian untuk diri sendiri.


"Ya tuhan saya, hamba memohon ampun atas dosa-dosa yang pernah saya perbuat, baik yang disengaja ataupun yang tidak, baik yang dulu ataupun yang sekarang. Mudah'kanlah dan lurus'kanlah niat saya dalam menjalani keyakinan di jalanmu, rahmatillah dan terangilah segala sesuatu yang baik untuk saya, tegur-lah dan ingatkan saya jika itu buruk bagi saya."


"Bahwasanya hanya Engkau-lah yang patut disembah, Engkau-lah sang pemilik kehidupan, Engkau-lah sang pembolak-balikkan hati manusia, dengan segala kerendahan hati saya meminta dan memohon ... kumpul'kanlah saya dalam sebuah keluarga kecil yang tidak pernah saya ketahui keberadaannya."


"Saya tahu, bahwa saya tidaklah pantas untuk meminta ... tapi jika ini baik bagi saya dan agama saya maka dekat'kan dan mudah kanlah, tapi jika ini buruk bagi saya maka jauh'kanlah. Amin, amin, amin yarabbal alamin."


Mengusap kedua telapak tangan menyudahi do'anya. Abdar pun membereskan peralatan sembahyang nya.


Melepas baju dan sarung ia pun kembali tidur sembari tersenyum sendiri akan do'anya tadi.


..._______________...


.


Pagi datang menyapa seluruh penghuni muka bumi dengan cerahnya. Adit yang menawarkan diri untuk mendekati Dinda pun siap dan sudah menunggu kedatangannya di restoran dari pagi-pagi sekali.


Seketika Adit keluar dari dalam mobil saat melihat Dinda yang sudah berdiri di samping mobilnya.


"Dinda," sapa Adit dengan akrabnya.


Reflek Dinda menoleh kearah suara di samping mobilnya yang terparkir.


"Mas Adit," seru Dinda tersentak kecil.


"Hai," Berjalan menghampiri Dinda yang kini tengah menatapnya penuh tanya.


"Pagi betul sudah ada disini, pengapian Mas?" terucap sudah apa yang ia pikirkan sejak melihat kehadiran Adit.


"Memangnya gak, boleh? Saya 'kan pengen sarapan di resto kamu." tanya Adit sekaligus menjawab sambil tersenyum.


"Agh boleh, kok. Ayo Mas, Silahkan," Dinda mempersilahkan Adit mengikutinya.


"Kamu nggak lagi sibuk'kan?" ujar Adit berjalan beriringan memasuki restoran.


"Enggak kok, Mas," sahut Dinda jujur.


"Kalau gitu, bisa dong temani saya sarapan?" pinta Adit.


Dinda melirik dan bertemu pandang beberapa detik hingga akhirnya terputus oleh suara dari pelayan yang menyambutnya.


"Selamat pagi, nona Dinda."


"Ah, pagi Nena," balas Dinda tersenyum ramah.


"Apa nona mau sarapan sekarang? Biar nanti saya antar keruangan anda," tawar Nena.


Belum Dinda menjawab Adit sudah menimpali. "Jadi kamu belum sarapan juga? Kalau gitu kita sarapan bareng aja, gimana?" ingin menolak tapi segan, mau tidak mau Dinda akhirnya mengiyakan.


"Baiklah, kita sarapan di situ saja." Tunjuknya pada sebuah meja dekat jendela kaca.


"Samakan saja dengan sarapan mu."


"Nena, siapakan dua buah sarapan dan kamu antar ke sana ya?!" Nena mengangguk mengerti.


"Mari Mas," mereka berjalan ke arah meja yang tadi di tunjuk Dinda.


Keadaan di dalam restoran masih terlihat sepi dari pengunjung, hanya ada beberapa orang yang terlihat meminum minumannya karena waktu masih menunjukkan jam 7 pagi.


"Jadi, sudah berapa lama kamu menjadi bos di sini?" tanya Adit berbasa-basi.


"Belum lama," jawab Dinda pendek.


"Apa kamu tau, kalau restoran kamu ini bekerja sama dengan perusahaan jasa pengiriman barang yang kami naungi?"


"Jadi itu perusahaan milik mas Adit?" Dinda sangat terkejut.


"Bukan ... yang betul itu, perusahaan Abdar," ralat Adit membetulkan.


"Ohh, saya baru tau Mas," seru Dinda.


"Iya, biasanya anak buah kami yang handle."


Dinda membulatkan bibirnya tanpa bersuara.


"Silahkan nona Dinda dan tuan ...." kedatangan pelayan menghentikan pembicaraan mereka sejenak.


"Terimakasih Nena," ucap Dinda tulus.


"Terimakasih Nena," Adit membeo.


Tersaji sudah sarapan untuk keduanya di atas meja. Piring yang diisi telur ceplok dilengkapi irisan sosis, pancake dengan sirup, serta kopi mendampinginya hingga menggugah selera. America breakfast.


"Silahkan mas dimakan."


Tanpa sungkan dan barlama-lama Adit segera menyantap sarapannya begitu juga Dinda, sebenarnya Dinda terbiasa sarapan di ruang kerjanya, tapi karena ada Adit ia lebih memilih jalan aman.


"Jadi Si kembar itu teman sekolah kalian?" ujar Adit disela makannya.


"Iya Mas, mereka teman sekolah kami." Adit mengangguk mengerti.


"Apa Andri juga bekerjasama dengan mas Adit?"


"Hemm, kami juga bekerja sama." kali ini Dinda yang mengangguk mengerti.


Baru beberapa suapan tiba-tiba Dinda berhenti memakan sarapannya karena kedatangan sepasang manusia dari arah pintu.


"Kenapa?" tanya Adit menoleh ke belakangnya.


"Siapa mereka?" ucap Adit kembali menatap Dinda yang kembali menyuapkan sendok ke dalam mulutnya.


Sambil mengunyah Dinda mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. Mencoba mengabaikan lelaki bersama wanita dengan perut besar itu.


"Lihat mas, kamu tidak perlu merasa bersalah dan kasihan sama wanita ini karena sudah menceraikannya. Sekarang sepertinya dia sudah punya pengganti yang baru," Adit dan Dinda tersentak kecil karena kedua pasang manusia itu berdiri tepat dihadapan mereka.


Dinda melirik mereka dengan sinis. Semantara Adit sedikit bingung, tapi mengerti arti dari kata menceraikan dan bisa ia simpulkan bawa lelaki itu adalah mantan suami Dinda.


"Ya, anda benar. Saya tidak mungkin menyia-nyiakan janda secantik Dinda, jadi saya sedang melakukan pendekatan." Dinda melotot kepadanya karena bicara ngawur yang dibalas Adit dengan senyum jenaka.


"Hei tuan, sebelum anda melangkah lebih jauh lagi dengan hubungan yang akan anda pilih, saya sekedar memberi tahukan ... bahwa wanita ini MANDULLLL jadi sebaiknya pikirkan lagi," kata wanita itu penuh penekanan dikata mandul.


Mata Dinda memanas, susah payah ia menelan sisa makanannya. Semua pengunjung mulai memperhatikan mereka dan berbisik-bisik karena mendengarnya.


"Itu tidak masah bagi saya, karena saya mencintainya dengan tulus dan akan menerima segala kekurangannya. Tidak peduli ada, atau tidak adanya anak ... asalkan saya bisa membuatnya bahagia, maka saya pasti ikut bahagia," seketika mata Dinda berkaca-kaca.


"Sudahlah Jen, biarkan saja mereka. Kau ingin makan kan, aku tidak mau anakku jadi kelaparan kalau kau telat makan," Dinda membuang muka melihat perhatian mantan suami pada wanita simpanannya.


"Ya itu benar, sebaiknya kalian segera menyingkir dari hadapan saya." sela Dinda tampa melihat mereka.


"Kau tenang saja, kami juga tidak akan berlama-lama," sahut Angga sinis.


"Baiklah mas, ayo kita duduk di situ." Mereka pergi dengan meninggalkan seribu luka di hati Dinda.


"Terimakasih karena sudah membela saya mas." Mengusap sudut matanya yang berair.


"Tidak masalah, sepertinya mantan suami mu itu masih saja memperhatikan kita," tidak sengaja Adit melihat Angga yang curi-curi pandang ketempat mereka duduk.


"Biarkan saja, Mas," ucap Dinda bergetar sambil menelan makanannya yang terasa begitu keras.


Adit melihatnya prihatin. Melepas cincin di jari manisnya lantas Adit berjongkok di hadapan Dinda yang tidak luput dari penglihatan mantan suami Dinda.


Mendapati itu jelas Dinda terkesiap. "Mas ngapain?" tanya Dinda heran.


"Saya tidak peduli, jika orang lain mengatakan dirimu buruk atau apapun itu. Yang saya tau adalah dirimu begitu berharga untuk saya sia-siakan dan tidak tau apa masih ada kesempatan selain hari ini, jadi mau'kah kamu membagi lukamu dengan saya? Mau'kah kamu membangun masa depan yang bahagia dan menua bersama dengan saya?" kata Adit lantang menyodorkan cincinnya seolah sudah di rencanakan.


Dinda membelalakkan matanya, tidak percaya pada lelaki yang masih berjongkok dengan satu kakinya di jadikan tumpuan.


"Mau'kah kau menikah denganku?" tanpa terasa panggilannya pun berubah.


Apa-apaan orang ini?


Melirik sekitar dimana orang-orang melihat mereka begitu juga kedua pasang manusia tadi.


"Mau'kah kau menikah denganku?" ulang Adit.


"Terima ...."


"Terima ...."


Sorak sorai pelanggan memenuhi isi restoran tersebut, bahkan pelanggan yang baru datang ikut-ikutan bersuara walau tidak tahu menau ada apa.


"Mas apa-apaan sih, ayo berdiri." Adit bergeming walau Dinda menariknya untuk berdiri.


"Jawab dulu," bujuknya.


"Jangan aneh-aneh deh, Mas ayo berdiri."


Dinda tahu maksud Adit yang seperti ini, pasti karena ingin membantunya membalas mantan suaminya. Tapi tidak mungkin ia berkata iya.


"Nggak mau, jawab dulu?" kukuh Adit.


Dinda berdecak kesal, begitu malu karena menjadi pusat perhatian. Demi menyudahi drama Adit, mau tidak mau Dinda mengangguk pura-pura.


"Prok, prok, prok ...." tepuk tangan para tamu menggema bersahutan bersamaan Adit yang memasangkan cincin di jari manis Dinda yang ternyata sedikit longgar.


Dengan senyum mengembang Adit bangkit dan duduk kembali. "Nanti aku belikan yang cocok dengan jarimu," ucapnya pelan.


"Tidak perlu repot-repot, ini hanya pura-pura," balas Dinda pelan.


Adit nampak kecewa, ia berharap kejadian yang tidak direncanakan ini bisa menjadi kenyataan.


BERSAMBUNG ....


Gays minta dukungannya ya seperti biasa, jempol, komentar, bunga, kopi, rate bintang, dan vote nya sekalian 😁. Jangan lupa masuk rak favorit. Yang sudah Semua, saya ucapkan terimakasih πŸ€—πŸ€—.


Salam saya ....


Noormy_Aliansyah 😘😘