Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 49



Flashback on.


Rahman dan teman-temannya yang baru saja selesai memakan bekal darinya merasa kepedesan akibat mereka yang tadi berlomba-lomba untuk membuktikan siapa yang lebih tahan memakan sambel cabe. Sehingga mereka terus menambahkan begitu banyak sambel pada nasinya. Akibat tindakan yang terbilang nekat itu membuat mereka jadi sakit perut.


Untung saja jam pelajaran sedang kosong, jadi mereka bisa menghabiskan waktu di sekitar toilet yang tidak jauh supaya tidak perlu bolak balik jikalau sakit perutnya datang.


"Kak Rahman, pegangin tas aku dong. Aku sakit perut nih." Melepas tas punggungnya dan menyerahkannya pada Rahman.


Intan yang sudah mendapatkan jam pulang memilih tidak langsung pulang. Ia sepertinya juga sedang sakit perut dan memutuskan pergi ke toilet yang dimana harus melewati jalan yang menjadi tempat nongkrong Raman dan kawan-kawan.


"Taruh saja di situ." Menunjuk tempat di samping dirinya duduk menggunakan dagu.


"Aku taruh di sini, jagain ya?" Ujarnya.


Setelah meletakkan tasnya, Intan berlalu meninggalkan Rahman.


"Apa kalian masih sakit perut?" tanya Iwan menatap ke empat temennya. Mereka segera menggeleng.


"Rudi ..!! Kamu cek kelas gih, Apa jam masuk sudah di mulai," perintah Hasan.


"Iya deh, aku cek." Berdiri dan berbalik dan pergi ke kelasnya.


Tidak lama Intan keluar dari toilet dan mendekati Rahman.


"Makasih ya, Kak. Udah jagain tasnya Aku," kata Intan dengan tulus.


"Sama-sama."


"Ya udah, aku duluan ya? Dadah semua." Berjalan sambil melambaikan tangannya kepada Rahman, Hasan dan Iwan.


Mereka tak acuh, hanya menatap kepergian Intan.


"Woy ... kelas bentar lagi masuk, ayo buruan," ujar Rudi setengah teriak yang ternyata sudah datang. Segera mereka berlari mengikuti Rudi yang sudah berbalik dan berjalan.


Di perjalanan tidak sengaja Hasan menginjak sesuatu. "Eh, tunggu." Menunduk dan mengambil apa yang ia injak.


"Gelang." Ujarnya. Hasan pun menunjukan pada mereka.


"Punya siapa itu?" tanya Rudi penasaran.


"Kayanya punya Intan, tadi aku liat di tangannya pakai gelang itu," kata Rahman yang tadi sempat melihat tangan Intan saat menyerahkan tasnya.


"Intan udah pulang," ujar Hasan terkenang Intan yang melambaikan tangan.


"Mungkin, masih ada di depan. Sini ... biar aku susul dia," Rahman menawarkan diri.


Hasan menyerahkan gelang itu pada Raman, mereka lantas berpisah dengan jalan yang berlawanan.


Rahman yang takut jika ia tidak sempat menyusul Intan berinisiatif menyimpan gelang itu di saku celana panjangnya dan langsung berlari.


Saat Rahman sudah dekat dengan gerbang, ia melihat sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan Intan dan tidak lama seseorang keluar dari dalam mobil tersebut.


Berjalan pelan sambil memperhatikan pria dewasa itu. Rahman pernah melihat supir Intan beberapa kali dan pria dengan pakaian serba hitam itu baru sekarang ia melihatnya.


Sesaat Rahman diam di depan pagar, kembali menelisik orang yang bertanya sesuatu pada Intan.


Rahman sangat jeli hingga ia melihat pria itu memiliki daun kuping yang terdapat lubang besar di sebelah kanan dan jika di masukkan satu jari maka akan tembus. Memiliki tato naga di bawah kuping sampai leher yang cukup besar sehingga bisa di lihat dari jarak kurang lebih empat meter.


Merasa curiga dengan orang itu Rahman segera menghampiri Intan. Menarik tangan Intan agar tetap di dekatnya, ia pun menatap orang itu.


"Ada Apa, Om?" Tanya Rahman tenang.


"Ehemm." Ia berdehem.


"Om ini nyari anaknya, katanya kak," tukas Intan. Rahman dan Intan sekilas saling lirik dan kembali memandang orang tersebut.


"Emang anaknya bel--," suara Rahman terhenti saat seseorang membekap mulutnya dari belakang. Rahman yang tersentak tanpa sadar mempererat genggamnya pada tangan Intan.


Intan yang merasa tangan Rahman mengencang pada tangannya walau tidak sakit refleks mendongak. Intan terkesiap dan hendak berteriak tapi keburu pria di depan membekap mulutnya juga.


Tiba-tiba matanya terasa berat dan berkunang-kunang kemudian kesadaran mereka hilang.


Flashback off


...****************...


"Kakak."


Siapa? Batinnya bertanya.


"Kak Rahman," samar Rahman mendengar ada suara anak perempuan yang memanggil-manggil dirinya.


"Kak Rahman...," kembali suara itu terdengar dan terasa begitu dekat.


Siapa?


Tapi entah mengapa matanya terasa begitu berat, Ia seakan sedang menikmati tidur yang begitu nyaman dan enggan untuk bangun.


"Kakak, Intan takut."


Suara ketakutan itu memaksanya untuk segera terjaga dari tidur nyaman nya. Perlahan kelopak mata itu bergerak dan terbuka.


Mengerjapkan mata menyesuaikan pencahayaan pada kornea mata. Kini mata itu terbuka sempurna, melihat sekitar yang penerangannya tidak terlalu terang dan membuat penglihatan menjadi terbatas untuk sesaat.


Tercium bau depu dan pengap, sarang laba-laba yang menggantung sekitar bola lampu pijar di langit-langit tepat di atas tempatnya berbaring.


Ada beberapa tumpukan kotak dan bekas drum di sudut ruangan itu.


"Kak, Rahman." Menoleh ke asal suara, Rahman menajamkan penglihatannya.


"Intan." Rahman bangkit dari tidurnya dan duduk bersila masih melihat-lihat sekelilingnya.


"Kakak, Intan takut." ujar Intan jujur, tidak jauh dari tempatnya duduk.


Kembali menoleh, ia pun sedikit menggeser tubuhnya dan melambaikan tangan pada Intan.


"Kemari'lah, jangan takut. Ada kakak di sini," ujarnya menenangkan sembari merangkul tubuh kecil Intan.


"Apa kita di culik, Kak? Apa mereka akan menjual kita?" tanya Intan polos.


"Tidak, kita tidak di culik ...."


"Ya iya-lah kita di culik, kenapa kau jadi bodoh sekali?" Rahman melirik nya kesal dan melepaskan rangkulannya.


"Iin, Intan 'kan cuman memastikan," ujarnya cemberut.


"Jelas-jelas kita di kurung di ruangan ini, berarti kita memang di culik," omel Rahman.


"Intan takut," ujarnya langsung menunduk.


Menghela nafas sebelum akhirnya kembali merangkul Intan.


"Jangan takut, kakak akan mencari cara agar kita bisa keluar dari sini."


Percakapan dengan Intan terhenti ketika ada suara orang di depan pintu. "Buka, pintunya!!" perintah yang terdengar tegas.


Mendengar itu Rahman segera berbisik pada Intan. "Kembali-lah, pura-pura tidur dan sembunyikan wajahmu." Rahman juga menggeser tubuhnya ke tempat semula dan berbaring menyamping menyimpan wajah di antara kedua tangan.


Intan pun menuruti perintah Rahman, yaitu pura-pura tidur dengan posisi kurang lebih sama seperti Rahman.


"Krekkk." Decit pintu yang berbunyi membuat Rahman siaga satu.


Rahman mencoba mengintip dari sela-sela tangannya, tidak terlalu jelas tapi ia sedikit melihat wajahnya. Sementara Intan sudah ketakutan, tapi ia mencoba menahan.


seandainya Intan tidak ada mungkin Rahman sudah bangun dan memilih berkelahi agar bisa terlepas dari penculik itu. Tapi keberadaan Intan menjadi penghalang untuk ia melakukan semua perlawanan.


"Balikan badannya."


"Arahkan senter ke wajahnya," Hampir saja Rahman mengerjapkan mata saat senter Hp itu mengenainya.


"Menarik." hanya kalimat itu yang Rahman dengar.


"Apa anak ini juga ada hubungan darah dengannya?" tidak terlalu jelas di pendengaran Rahman, karena suara itu hampir berbisik.


"Segera pindahkan, kalau tidak mereka akan mencium jejak kalian." Rahman berpikir keras agar menemukan ide.


"Baik, tuan." ucap serempak anak buahnya.


Suara derap langkah kaki pria itu sudah menjauh, dan sekarang berganti oleh bunyi gaduh kedua anak buah tadi sedang mencari sesuatu dalam tumpukan kardus.


Masih mempertahankan aktingnya kini Rahman bisa merasa jika tangannya sedang diikat. Ia menjadi khawatir dengan keadaan Intan, takut jika anak itu akan menangis dan teriak.


Hening.... Walau Intan ketakutan tapi saat ia menyadari jika Rahman tetap melakukan kepura-puraan Intan pun mencoba bungkam sama seperti Rahman dan yakin jika semua akan baik-baik saja.


Keduanya melayang saat di angkat oleh para penculik itu. Mereka digotong di atas bahu seperti karung beras.


Keadaan ini dimanfaatkan Rahman untuk melihat sekitar kerena posisi kepala di belakang punggung penculik dan tidak hanya Rahman Intan juga penasaran untuk membuka mata. Melewati pintu dan menaiki anakan tangga, seketika ruangan menjadi terang oleh lampu yang ada di ruang itu.


Sebuah ruangan yang memiliki fasilitas lengkap kini mereka lewati. Keluar dari rumah yang tidak terlalu besar Rahman dan Intan di dudukkan di kursi belakang sebuah sedan hitam.


Tidak langsung jalan, Rahman kembali mengintip ternyata para penculik berbicara kepada sang atasan.


Hari pun terlihat sudah mengelap. Memperhatikan para penculik dari balik kaca jendela yang tidak terlihat dari luar Rahman kembali berbisik kepada Intan.


"Tetaplah pura-pura tidur dan jangan pernah membuka mata," ujar Rahman mewanti-wanti Intan.


Intan mengangguk patuh tanpa banyak kata. Ia masih cukup takut untuk sesuatu yang akan terjadi kedepannya.


Para penculik dan sang bos mendekat ke arah mobil lekas mereka memejamkan mata rapat. Salah satu penculik duduk di belakang kemudi, sementara satunya tetap tinggal di luar mobil, dan Sang Bos duduk di samping kemudi.


Perlahan mobil bergerak dan berjalan meninggal pekarangan, tidak ingin mengambil resiko Rahman tetap setia dengan mata terpejam.


Cukup lama mobil itu berjalan hingga tiba-tiba memelan dan berhenti di sebuah rumah kayu berlantai dua yang cukup besar dan mewah.


"Hei Bocah, bangun ..!! Jangan pura-pura, kau pikir aku bodoh .., pingsan sampai selama ini," hardiknya saat membuka pintu penumpang.


Rahman terperanjat karena tendangan di kakinya. "Cepat turun." Dengan kasar pria itu menarik tangan Rahman hingga turun.


Jelas saja penculik itu curiga, kalau mereka pura-pura pingsan. Karena biasanya orang yang di bius hanya beberapa jam saja, bukan seperti Rahman dan Intan yang hingga sampai malam.


"Hei anak manis, cepat turut." Melambaikan tangan kepada Intan yang mematung karena perlakuan pria itu pada Rahman.


Dengan degup jantung yang berpacu sangat cepat, rasa takut yang menguasai. Perlahan Intan mendekat lalu turun dari mobil itu.


"Kakak," bisik Intan saat di suruh berjalan beriringan memasuki rumah itu.


"Jangan takut, ada kakak di sini," balas Rahman berbisik.


"Cepat jalan." Pria itu mendorong punggung Rahman dan Intan.


Sementara di depan mereka sang bos berjalan dengan langkah lebar naik ke lantai atas.


"Bawa mereka ke gudang, aku akan menemui Jack," ujarnya sebelum menaiki tangga lebih jauh.


"Siap, tuan."


"Hai, Broto ... bantu aku membawa mereka," ujarnya melihat salah satu rekannya.


"Kau sudah datang rupanya, Gi? Tadi Rinto yang memberi tahuku kalau kalian sudah di perjalanan." Mengambil alih Rahman dalam kendalinya.


"Heem, segera bawa mereka ke gudang. Bos sekarang sedang menemui bos Jack," ucap nya sambil mendorong Intan.


Memasuki ruang lebih dalam hingga tiba di depan pintu berwarna coklat, pria yang bernama Broto mengeluarkan anak kunci dan menancapkan nya ke daun pintu lalu memutar nya hingga berbunyi tanda kunci terbuka.


"Ceklek." Pintu di dorong lebih luas.


"Masuk, ayo cepat masuk." Rahman terhunyung dan hampir terjerembab karena dorongan Broto .


"Sebenarnya, apa mau kalian?" tanya Rahman berbalik menghadap kedua pria itu dengan tatapan tajam.


Tidak seperti ruang penyekapan sebelumnya, ruangan ini lebih terang dengan bola lampu yang besar.


"Berani sekali kau menatap kami seperti itu, anak kecil?!" salak penculik marah sembari mendorong Intan.


Dengan sigap Rahman menangkapnya. "Jangan panggil aku anak kecil, kalau kalian tidak ingin merasakan sakitnya tinjuku," kata Rahman serius.


"Hahahaha, kau pikir kami takut," balasnya sambil berkacak pinggang.


Melirik ke arah Intan yang tubuhnya sedikit bergetar, Rahman yakin jika Intan sangat ketakutan.


Ia pun memilih diam agar kedua pria itu pergi. Ketakutan Intan akan membuatnya repot nanti.


"Sudah, tinggalkan mereka." Ajak Broto menarik ganggang pintu dan menguncinya.


"Kak, Rahman ... Intan takut," ucap Intan sudah menangis.


"Jangan sia-sia'kan tenagamu hanya untuk menangis. Menangis tidak akan membuat kita keluar dari sini, sebaiknya simpan tenagamu untuk berlari jika aku sudah menemukan cara agar kita pergi dari tempat ini," ujar Rahman tegas tak terbantahkan.


"Iya, iya Intan gak nangis lagi kok." Lekas menyeka air mata yang terlanjur jatuh di pipi cabinya.


"Bagus, sekarang duduk di situ." Tunjuk Rahman pada sudut ruangan yang kosong.


Tanpa membantah Intan segera duduk di tempat yang di tunjuk Rahman.


Rahman memperhatikan ruangan itu, mencari sesuatu yang mungkin saja bisa berguna. Berjalan mendekati tumpukan barang yang terbengkalai.


Mencari apa saja dengan tangan yang terikat. Rahman menemukan Bekas pecahan kaca di tumpukan kardus kecil. Ia pun mengambilnya dan kembali pada Intan.


Duduk di samping Intan. "Kemari'kan tangan mu," perintahnya.


"Tahan tangan mu di udara dengan kuat," sambung Rahman.


Rahman pun menggesek-gesek'kan beling itu pada tali di tangan Intan.


"Tahan ya," kembali instruksi Rahman membuat Intan mengangguk takzim.


Cukup lama Rahman menggesek-gesek'kan nya tapi belum juga putus, hingga pergerakannya terhenti saat kunci pintu berbunyi.


Mereka kompak menatap daun pintu itu dengan khawatir. Menyimpan beling di bawa bok**hanya Rahman pura-pura duduk bersila.


"Sembunyikan tangan mu," bisik Rahman.


Intan pun menekuk tangannya ke depan dada tepat di saat pintu terbuka.


"Ini makan malam untuk kalian." Meletakkan dua piring nasi dengan telur mata sapi dan dua botol air mineral.


"Gak ada kecapnya ya, om?" celetuk Intan mendapatkan lirikan kesal dari Rahman dan lirikan sinis dari Broto.


"Gak ada," ketusnya beranjak dan keluar dari ruangan itu.


"Kamu ya, masih sempat-sempatnya mikirin kecap," sungut Rahman kesal.


"... 'Kan Intan cuman nanya," jawabnya.


Menghela nafas dan menghembus'kannya kasar, Rahman tidak habis pikir dengan Intan. Tadi Intan sangat ketakutan dan sekarang berprilaku seperti tidak terjadi apa-apa. Rahman hanya bisa menggelengkan kepala tidak percaya.


BERSAMBUNG ....


Hai gays aku mau rekomendasi karya teman aku lagi nih, ceritanya keren dan penuh nuansa romantis. Kalian harus baca, di jamin pasti suka, karena aku aja suka.😁



Noormy Aliansyah 😘