
Pihak kepolisian memberi informasi jika para penculik telah berhasil kabur. Saat para polisi tengah sibuk memeriksa tempat Intan di temukan dan tempat-tempat sekitarnya, ternyata diam-diam para penculik itu membekap mulut para polisi dan mengakibatkan mereka pingsan.
Anak buah Candra yang menemukan segera minta bantuan kepada polisi yang menjaga jalan, sehingga ketika penculik itu lewat tidak ada yang mencegat mereka.
Abdar dan Adit setelah selesai membersihkan diri juga langsung kembali ke TKP. Mereka sempat tidak percaya dengan kabar itu.
Tapi saat melihat keadaan para polisi yang pingsan membuat mereka, mau tidak mau harus percaya. Ternyata tidak hanya para polisi, beberapa anak buah Candra dan anak buahnya juga ada yang pingsan.
Mereka yang tidak mengenal seluk beluk hutan ini jelas menjadi penghalang. Karena sepertinya para penculik sudah memperhitungkan tempat mereka berkabuplase dan mengecoh orang yang tengah mencari mereka.
Mereka segera bertindak mencari keberadaan para penculik agar tidak lagi kehilangan jejak. Hingga malam menjelang subuh mereka kembali mendapat laporan jika mereka menemukan keberadaan mereka.
Pelabuhan Domestik Bandar Sri Junjungan Dumai di Kota Dumai. Mereka pun segera memakai beberapa helikopter guna menyusul para penculik tersebut.
Tak memakan waktu lama mereka sudah tiba di Provinsi Riau saat hari menjelang pagi, membagi kelompok untuk berpencar di dermaga.
Memindai orang-orang yang mereka ingat saat melihat wajah mereka di cctv dan cctv di tempat terakhir Rahman dan Intan di sekap. Tidak sulit bagi Abdar dan kawan-kawan untuk menyusup ke dalam kapal ferry itu, dengan bantuan pihak polisi mereka di ijinkan.
Sebenarnya kapten kapal terkejut dengan adanya beberapa polisi, ia pun menawarkan penundaan berlayar tapi polisi mengatakan jika mereka hanya sedang melakukan penyelidikan dan tidak perlu menunda keberangkatan dengan syarat para polisi ikut dalam kapal tersebut.
Tidak mungkin mereka menghentikan kapal, jika bidakara penculik akan curiga.
Hanya beberapa polisi yang ikut dalam kapal itu dan sebagian ikut dengan helikopter. Begitu juga Abdar, Adit dan Candra hanya Zidan yang tidak ikut tapi bukan tinggal di helikopter melainkan tinggal di Jakarta.
Dengan memakai baju biasa para polisi tengah menyamar. Cukup lama polisi memeriksa keadaan kapal dan menginterogasi beberapa penumpang yang terlihat mencurigakan.
Hingga akhirnya Abdar tidak sengaja melihat Shandy dan beberapa anak buahnya yang duduk dengan tenang berbaur dengan penumpang lain.
Kini fokus polisi, Abdar dan kawan-kawan sudah tertuju pada target. Mereka memecah diri, berpencar di sekitar target tapi tidak terlalu dekat dan tidak terlalu juah.
Polisi akan membiarkan kapal ferry sandar dulu di Pelabuhan Klang, baru mereka akan mengepung para penculik dengan bantuan kepolisi di Malaysia.
Saat Abdar mengatakan melihat para pelaku dan anak buahnya pihak polisi sudah menghubungi kepolisian Malaysia untuk membantu mereka.
Pilot helikopter pun sudah di perintahkan untuk mengikuti dari jarak yang tidak terlalu dekat.
"Bagaimana? Apa Rahman sudah terlihat di antara Mereka?" bisik Adit kepada Abdar di tengah-tengah banyaknya orang.
Sejak mereka mulai mengintai Shandy, Adit sama sekali tidak melihat Rahman. Tapi menurut dugaannya bisa saja Rahman masih di sekap.
"Tidak sama sekali, bahkan mereka tidak ada yang beranjak dari tempatnya duduk," Abdar membalas juga dengan berbisik.
Abdar ingin sekali mengikuti mereka jika pergi dari tempat itu agar tahu di mana keberadaan Rahman. Karena itu adalah satu-satunya harapan.
"Kita juga tidak tahu pasti, ada berapa banyak anak buahnya," ujar Abdar dengan bola mata yang bergerak-gerak melirik orang-orang di sekitar penculik.
Ada sekitar enam sampai tujuh orang yang berinteraksi dan berpakaian sama dengan Shandy, yakni serba hitam. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa masih ada anak buah yang lain. Shandy dan anak buahnya tetap betah di posisi semula.
"Lalu bagaimana jika di pelabuhan Klang, juga sudah ada anak buah Mereka?" tanya Adit juga melihat kearah lain.
"Tidak masalah, kepolisian Malaysia akan membantu Kita," sahut Candra.
Tentu pihak polisi sudah siaga dengan itu, selain polisi Indonesia melaporkan bahwa para penjahat itu adalah penculik, mereka juga mengatakan bahwa penjahat adalah bandar nark**a.
Ketiganya duduk agak jauh dari target. Mereka berusaha sesantai mungkin agar tidak menarik perhatian Shandy dan anak buahnya.
Mengingat Shandy yang mengenalnya dan Adit. Abdar memutuskan untuk menggunakan masker dan jaket bertopi sama seperti Adit. Hanya Candra yang memperlihatkan wajahnya agar tidak terlalu mencurigakan.
"Apa kalian yakin jika Rahman ada di sini?" Saling lirik sejenak kemudian Abdar mengangguk lebih dulu di susul Candra.
"Ya."
"Aku harap seperti itu," harap Adit.
"Kali ini saya yakin, Rahman akan kita temukan," dengan yakin Candra mengatakan firasat nya.
"Amin," doa keduanya.
"Berapa lama lagi kapal ini akan sandar?" Adit ber'monolog sambil mengangkat tangan kirinya guna melihat waktu.
Mendengar itu tidak hanya Adit yang mengangkat tangan Abdar dan Candra juga.
"1 jam lagi," ucap mereka serempak.
Mereka tidak menyadari jika dari tadi ada seseorang yang sempat mencuri dengar percakapan mereka saat sedang melewati mereka dan segera putar haluan kembali ketempatnya agar tidak ketahuan.
...****************...
Rahimah tengah duduk di dalam kamar tamu rumah Ustadzah Habibah sambil memandangi album foto Rahmah semasa batita seorang diri.
Perasaaan lega dan khawatik terus menguasai pikirannya. Kemarin sewaktu Intan sudah sadar, Intan menceritakan keadaan mereka saat di sekap oleh para penculik.
Ia merasa lega karena para penculik tidak menyakiti Rahman dan Intan. Intan juga bercerita tentang penculik yang rutin memberi makan mereka walau hanya nasi dan telur, setidaknya anaknya sudah makan dengan teratur.
Tapi ia sekarang begitu khawatir dengan keadaan anaknya saat ini, mengingat Intan yang kemarin di temukan dalam keadaan sakit ia pun selalu memikirkan kesehatan Rahman.
Sesekali ia mengusap sudut matanya yang terasa basah sembari dalam hati mendo'akan keadaan anak satu-satunya. Semoga selalu dalam lindungsn Allah SWT.
Melirik nakas di mana terdapat obat pemberian dokter Indra.
Saat mereka hendak pulang kemarin dari kamar inap Intan, dengan sengaja temannya itu memberikannya beberapa obat karena wajahnya yang terlihat pucat. Ia tidak menyangka dengan teman semasa sekolahnya yang dulu terkenal cuek dan pendiam, ternyata bisa perhatian walau tidak begitu dekat.
Ingat jika temannya itu sempat memberi menasihati untuk selalu menjaga kesehatan. Mengambil obat dan gelas berisi air, lantas ia meminum nya.
Ia harus sehat demi Rahman, ia tidak ingin anaknya itu bersedih saat mengetahui jika dirinya sedang sakit.
"Tok ... tok ... tok .... Imah ..!!"
Terdengar suara ketukan dan panggilan dari depan pintu kamarnya.
"Iya mbak, masuk aja ... gak di kunci,"
Tanpa melihat orang pun Rahimah sudah tahu siapa pemilik suara itu. Kemarin saat mereka datang dari rumah sakit, mereka terkejut dengan kedatangan Khadizah dan Hawa.
Bukan terkejut dengan kedatangan Khadizah yang tiba-tiba, tapi sambutan putri dari Ustadzah Habibah itu yang membuat mereka terlonjat kaget.
Pasalnya sambil berderai air mata dan di tambah Khadizah yang memarahinya habis-habisan karena tidak memberi kabar jika Rahman di culik.
Bak adik yang membuat kesalahan besar, Khadizah tidak berhenti memarahinya sampai-sampai Khadizah terisak karena sambil menangis.
Khadizah marah dan kecewa, merasa tak di anggap saudara oleh Rahimah karena tidak memberi tahu dirinya.
Selain padanya Khadizah juga marah pada mamanya yang ikut menyembunyikan pakta itu dari dirinya.
Sebenarnya Rahimah tidak ingin memberi kabar kepada Khadizah karena takut membuatnya khawatir, apa lagi rumah mereka yang jauh. Jadi Rahimah meminta Ustadzah Habibah untuk tidak memberi tahu wanita yang sudah seperti kakak kandungnya itu.
Tapi siapa sangka jika Khadizah datang sendiri dan mengetahui sendiri dari Nurul yang berada di rumahnya.
"Ceklek." Pintu terbuka menampakan seorang wanita yang kini matanya ikut sembab seperti Rahimah.
Melihat itu Rahimah merasa bersalah.
"Sudah mendingan sakit kepalanya?" Sembari bertanya Khadizah datang mendekat.
"Alhamdulillah, sudah mendingan Mbak."
"Lagi liat Apa?" ikut duduk di samping Rahimah di atas ranjang.
"Foto-foto kita dulu." Menyerahkan album foto kepada Khadizah.
Rahimah memperhatikan wajah Khadizah yang sekarang tampak sudah tenang.
Mengambil tangan Khadizah dan menariknya ke pangkuannya saat sang embuhnya membuka album foto membuat orangnya menoleh padanya.
"Maaf, sudah buat mbak kecewa," sesal Rahimah tulus.
Khadizah membalas dengan ikut menarik tangan Rahimah dan menangkupnya dengan tangannya.
"Mbak sudah memaafkan kamu, lain kali jangan ada yang di tutupi lagi dari mbak. Mbak ini kakak kamu, jadi kalau ada apa-apa sama kalian ... setidaknya mbak tahu." Sembari tersenyum tipis pada Rahimah.
Khadizah memaklumi apa yang di lakukan Rahimah itu karena tidak ingin membuat mereka ikut kepikiran.
"Iya Mbak, sekali lagi Imah minta Maaf," untuk kesekian kalinya Rahimah meminta maaf.
"Imah ... Mbak tuh sayang sama kamu dan Rahman, kami sudah menganggap kalian itu seperti keluarga sendiri," Rahimah terharu mendengarnya.
"Jadi kalau terjadi sesuatu sama kalian, jangan sungkan-sungkan memberi tahu atau minta tolong sama kami, Imah," ujar Khadizah menatap serius.
"Terimakasih, mbak dan sekali lagi maaf .... Bagaimana dengan mas Wahyu mbak?" tadi malam mereka tidak sempat saling bertanya kabar, karena Khadizah yang sempat merajuk.
"Mas Wayuh, juga marah banget sama kamu, pas mbak kasih tahu tadi malam. Dia bilang, lain kali kalau kamu gak mau kasih tahu ke kami ... dia gak mau jadi mas-mu lagi."
Rahimah memelas, kedua bahunya terturun kebawah seketika kala mendengar itu. Sungguh ia tidak bermaksud mengabaikan mereka. Ia hanya segan dan sungkan.
"Dannn ... ini yang pertama juga yang terakhir." Buru-buru Rahimah mengangguk.
"Janji." Mengangkat tangan kanan sembari menunjukan dua jari telunjuk dan tengah.
Khadizah tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya. Meminta Rahimah masuk dalam pelukannya.
Tak henti-hentinya Rahimah mengucap syukur. Sejenak ia lupa, bahwa masih banyak orang yang menyayangi mereka dan kali ini ia berjanji dalam hati akan selalu terbuka dalam masalah apapun walau mereka terbentang jarak dan waktu.
Rahimah tidak akan menyia-nyiakan keluarga angkatnya itu.
"Terimakasih ya, Allah. Atas segala nikmat yang kau berikan pada hamba-mu ini," gumam nya dalam hati.
...*****************...
"Brugggh."
"Sialan," pekik Jack saat membuka pintu di mana Rahman berada.
Ternyata Rahman tidak main-main dengan niatnya yang akan menghajar orang bila pintu itu terbuka.
Rahman masih ingin menghajar Jack yang terhuyung ke belakang, tapi ia sudah di tahan oleh kedua penculik dan di bawa masuk kembali.
Rahman berontak dan akan menghajar kedua orang yang memegangi tangan kiri dan kanannya tapi tiba-tiba tamparan keras mendarat di pipi mulusnya.
"Plakkk." Rahman menoleh ke arah kanan akibat dari tamparan itu.
Lekas memutar wajahnya guna melihat siapa yang menamparnya. Ternyata orang yang mendapatkan bogem mentah darinya.
Sudut bibir Jack yang tadi di pukul Rahman mengeluarkan darah segar dan tatapan matanya menunjukan kemarahan.
Rahman juga merasa kebas di pipi yang tadi di tampar pria itu. Ia bahkan merasa ada yang mengalir di sudut bibir kirinya sama seperti lelaki di hadapannya.
"Berani sekali kau menghajar ku, bocah sialan ..!!" geramnya dengan suara yang terdengar menyeramkan.
Sebingas apapun orang itu tidak membuat Rahman menciut. Ia bahkan balas menatap dengan tatapan membunuh dan tajam. Jika mata Rahman itu diibaratkan sebuah leser ... maka tempok pun bisa di pastikan tembus karena begitu tajamnya ia menatap sang lawan.
Rasa marah dan ingin memberontak lebih mendominasi daripada rasa takut.
"Apa kau sudah bosan hidup, haah?" Dengan satu tangan Jack meraup kedua pipi Rahman, memberi tekanan pada luka di sudut
bibirnya hingga Rahman meringis kesakitan.
"Di mana anda menyekap Intan?" di jawab Rahman dengan pertanyaan. , Ia ji
"Tidak akan ku beritahu, jika kau tidak merubah sikapmu ini menjadi lebih baik," ancamnya sambil melepas wajah Rahman dengan kasar.
"Sikap saya yang mana, yang harus dirubah? Jika anda saja memperlakukan saya seperti seorang tahanan. Apa perlunya saya bersikap baik dengan orang yang jelas-jelas tidaklah baik sedari awal," ujar Rahman menantang.
Jack langsung meradang mendengar penuturan Rahman, dengan cepat kembali meraup wajah Rahman.
"Kau benar-benar bosan hidup rupanya bocah sealan?"
Menarik pipi Rahman dan memajukan kepalanya hingga saling bertatapan. Tanpa banyak kata Rahman memukul kepala Jack menggunakan kepalanya dengan sangat kencang.
"Aww, sialan kau bocah." Seketika tangannya terlepas dan mundur selangkah sembari memegang keningnya.
"Katakan, di mana Intan?"
Jack terpaku menatap anak di hadapannya tanpa rasa takut sedikit pun. Dengan berani membuat sundulan di belakangnya.
"Akan ku beritahu setelah kapal ini sandar dan akan ku pertemukan kalian. Jadi kau jangan macam-macam," mengumbar janji dengan senyum misterius.
Percaya tidak percaya janji itu tidak serta merta membuat dirinya akan di lepaskan. Tapi mau tidak mau ia harus mengalah.
"Baiklah," kedua orang yang memegangi Rahman perlahan mengendur saat sang bos ngibaskan tangannya beberapa kali.
Pembicaraan antara dirinya dengan Rahman tiba-tiba terhenti karena kedatangan seseorang.
Membisikkan sesuatu pada Jack. Hingga raut wajah Jack berubah pias.
"Apa mereka sudah tahu?"
"Sepertinya belum bos,"
"Awasi mereka dan hubungi Shandy."
"Baik bos."
"Kau, tetap di sini sampai kapal ini berhenti." tunjuk nya pada Rahman dan berlalu pergi sembari menutup pintu dan mengujinya.
Rahman menatap Jack dengan tatapan benci dan marah.
"Anda akan menuai hasil dari akibat yang anda tanam ini tuan," ujar Rahman lirih mengiring kepergian Jack.
BERSAMBUNG ....
Hai semua ada rekomendasi novel keren lagi nih. Siapa tahu kalian suka sama ceritanya, seru dan keren banget ... di jamin. Berasa berada di Tokyo beneran.π
Noormy Aliansyah