Rahman Bin Rahimah

Rahman Bin Rahimah
BAB 26



Tiba di jakarta ia dan Rahman sudah disambut oleh trio wewek (Dinda-Nurul-Soraya).


Sama seperti sebelumnya, pengangkutan barang selesai dengan cepat ... tidak memakan waktu lama, ia dan Rahman bahkan tidak membantu karena dilarang oleh mereka.


Rahman dan Rahimah sangat terpana saat melihat kondisi rumah baru mereka di lantai atas, yang awalnya hanya terdapat satu buah kamar tidur ternyata sekarang menjadi dua buah kamar tidur yang berdampingan. Satu di antaranya tersebut berukuran lebih kecil untuk di tempati oleh Rahman.


Di dekat tangga ada kamar Rahman, dan di tengah adalah Kamar Rahimah, di samping kamar Rahimah ada ruang kosong untuk mereka beribah dan di ujung terdapat kamar mandi.


Di hadapan kamar Rahman terdapat ruang tamu dengan sekat pembatas menuju ruang TV dan dapur, di dekat meja makan. Lemari dinding yang di bawa Rahimah pun di letakkan diruang tamu agar di tempati piala dan piagam milik Rahman.


(Maaf kalau penjabarannya tidak sesuai🙏😅)


Sementara lemari satunya lagi ditaruh di lantai bawa bersama mesin jahit Rahimah. Karena untuk dimasukkan kain-kain baju jahitannya.


Di dalam kamar Rahimah dan Rahman juga sudah disediakan lemari baju ukuran sedang, ranjang besar untuk Rahimah dan ranjang sedang serta meja belajar untuk Rahman.


"Kalian pasti capek habis dari perjalana jauh, dan belum Sholat kan?" Nurul berujar.


"Sebaiknya kalian bersihkan diri dulu gih, baru Sholat habis itu langsung istrahat. Beres-beres rumah gak usah dipikirin nanti tukang bersihnya yang bersihin," sambungnya.


"Aku pikir tadi dia bakalan bilang ... biar aku yang beresin, eh ternyata engga," celetuk Dinda.


"Ngapai juga Aku yang bersihin? Orang udah ada pelayannya," ketus Nurul.


"Sudah-sudah, Imah jangan hiraukan mereka. Sebaiknya kalian Sholat gih," sela Soraya.


Sebagai seorang hamba, Rahimah dan Rahman pun lekas melakukan ibadah. Setelah selesai dengan urusan ibadah ... mereka istrahat sejenak di kamar yang sudah disediakan.


Rahman yang sendiri di kamarnya, buru-buru mengambil laptop. Ia mengirimkan pesan pada Masternya dan mengatakan bahwa Ia sudah sampai.


Teringat tentang insiden penguntitan tempo hari, ia segera memeriksanya dan memantaunya. Ternyata tidak ada sesuatu yang penting ... malah hanya terdapat beberapa kali panggilan dan pesan yang sepertinya berisi makian.


Tidak terlalu lama, email balasan pun masuk. Masternya mengatakan ... Ia sudah melakukan keinginan Rahman yang ingin membeli ruko di samping rukonya. Dan nanti menjelang sore akan ada yang datang untuk menyelesaikannya.


Trio wewek pun sudah pulang bersama para pekerjanya ... mereka membiarkan Rahimah dan Rahman untuk beristrahat.


Seperti yang dikatakan oleh Master ... ada orang datang ketempatnya. Seorang pria kisaran umur empat puluh tahunan, dengan tas kerja di tangannya.


Saat Rahimah menerima tamu tersebut, Ia agak sedikit bingung. Karena Ia yang baru tiba di Jakarta kenapa sudah memiliki seorang tamu, yang bahkan tidak dikenalnya sama sekali.


"Perkenalkan, Saya Sobiri Wijaya," melihat raut wajah bingung yang tampak ditunjukkan oleh Rahimah, membuatnya sadar dan segera memperkenalkan diri.


(Maaf jika terdapat kesamaan nama didalam karya ini, karena itu memenglah disengaja. Wkwkwk, pis✌Bang Biri😁.)


"Iya ... Saya Rahimah, Pak," merasa tidak ada yang perlu dikhwatirkan, Rahimah pun mempersilahkan tamunya masuk akan tetapi ... ia hanya menerima tamunya di lantai bawah. Karena di lantai dasar itu juga disediakan sofa untuk tamu. Walau terasa sangat luas dikarenakan ruangan itu memang masih kosong.


Secangkir kopi dan kudapan kue menemani sang tamu untuk memulai pembicaraan.


"Maksud dari kedatangan Saya kemari adalah ingin menawarkan tempat ruko yang kosong pada Anda," ujarnya tanpa basa basi.


"Kebetulan ruko yang Saya maksud berada tepat di samping ruko ini," sambungnya menerangkan.


Mendapati penawaran yang tidak tau tujuannya membuat Rahimah mengerutkan keningnya dalam.


"Begini, Pak ...."


"Sobiri," selanya cepat saat menyadari kebingungan ingin memanggil namanya.


"Ah ... yah, Pak Sobiri. Begini Pak Sobiri, Saya bahkan baru saja tiba di tempat ini. Juga Saya tidak punya uang sebanyak itu untuk dapat membeli ruko yang Anda tawarkan," Rahimah segera mengeluarkan apa yang ia pikirkan saat ini.


"Bukan, bukan seperti itu ...." menjawab cepat sambil menggoyangkan tangannya ke kiri dan kanan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena juga ikut bingung harus menjelaskannya.


Rahman yang dari tadi sudah menunggu kedatangan seseorang, saat Ia melihat sang Mama yang naik kelantai atas dan membuatkan minuman untuk seorang tamu menjad tahu kalau itu pastilah orang yang di tunggu-tunggu sedari tadi. Segera turun dan ikut bergabung duduk di samping Rahimah.


"Maksud Saya, Saya mempunyai ruko yang kosong dan tidak terpakai! Dan Saya ingin menawarkan kepada Anda untuk merawatnya, tanpa harus membayar. Karena ruko yang Saya maksud itu ada di samping ruko Anda," penjelasan yang diutarakan Pak Sobiri malah membuat Rahimah semakin bingung.


Bagaimana mungkin Ia yang merawatnya? Sementara mereka saja tidak saling kenal dan Ia bahkan baru pertama kali bertemu, lalu Bapak ini asal saja menyuruhnya merawat tempat itu tanpa harus membeli atau semacam ... menyewanya.


"Jadi begini, ruko itukan kosong? Dan sudah lama tidak di tempati atau di rawat sama seperti tempat ini! Sedang Saya masih banyak yang harus Saya urus, kadang Saya tidak sempat walau hanya untuk sekedar menjenguk tempat itu saja."


"Saat kemarin, waktu Saya mampir ... Saya melihat ada begitu banyak orang disini. Saya yang merasa penasaran pun bertanya pada salah satu orang disini, dan dia mengatakan akan ada yang tinggal di tempat ini,!" dengan pelan Pak Sobiri menjelaskan niat kedatangannya.


"Jadi, dengan kesadaran diri dan tanpa ada yang memaksa Saya ... Saya berniat menitipkan ruko itu pada Anda tanpa batas waktu yang di tentukan ataupun bayaran. Saya murni menyerahkan tempat itu pada Anda dengan niatan minta di rawatkan! Terlepas bagaimana Anda menggunakannya. Mau Anda pakai untuk usaha juga boleh, asalkan terawat dan tidak kosong lagi karena sia-sia."


Jelas Rahimah merasa kaget berkali-kali lipat oleh penuturan Pak Sobiri, tanpa ada angin dan hujan ... tiba-tiba ia seolah merasakan mendapat sebuah warisan dari seseorang.


Akan tetapi ada keraguan yang Rahimah rasakan saat ini. Ia memang berniat untuk membuat sebuah butik, dan saat ada yang menawarkan lahan kosong yang sudah berdiri sebuah bangunan siap pakai ... siapa pun orangnya, pasti akan sangat tergiur oleh tawaran yang membuatnya untung.


Merawat sebuah ruko dan bisa di gunakan untuk usahanya tanpa harus membeli atau menyewanya, bahkan poin utamanya ialah tanpa batas waktu. Dengan kata lain, Ia memang sudah diberi sebuah warisan walau tidak secara langsung.


Tapi yang membuatnya ragu ialah, bagaimana jika anak atau keluarga dari Pak Sobiri datang, dan tiba-tiba mengambil ruko tersebut di saat Ia tengah merintis usahanya? Pastilah ia akan sangat kebingungan lagi dengan modal yang sudah Ia keluarkan ... tidak mungkin Ia selalu meminta bantuan teman-temannya jika sudah seperti itu.


Ia sadar bahwa teman-temannya juga sudah berkeluarga, maka Ia takut ... hanya karena sering membantunya, bisa saja menimbulkan pertikayan di dalam hubugan rumah tangga temannya.


"Maaf Pak, bukan Saya tidak mau membantu merawatnya ... hanya saja, kenapa Bapak mempercayakan semua ini pada Saya? Bukankah Bapak bisa menyerahkannya pada keluarga Bapak? Apa nanti kata istri dan anak Bapak jika mengetahui bahwa Bapak menyerahkan ruko tersebut kepada Saya untuk dirawat, bahkan kita tanpa saling mengenal?" begitu banyak pertanyaan yang Rahimah sampaikan kepada Pak Sobiri sehingga membuat beliau mengela napas panjang.


"Boleh Saya bercerita sedikit tentang ruko itu?" anggukan Rahimah adalah jawaban pertama yang ia tangkap lebih dulu.


"Sebenarnya ruko itu bukanlah milik Saya!" kening Rahimah semakin berkerut, bahkan kedua alis tebalnya hampir menyatu. Rahman diam menyimak bagaimana Bapak ini bisa menyakinkan Mama nya untuk mau menerima tawaran darinya.


"Pemilik asli ruko tersebut pernah memberi Saya sebuah amanah, beliau berpesan ... jika kelak ruko yang Anda tempati ini ada yang menempati, maka ruko yang beliau miliki itu bisa diserahkan kepada orang yang menempati ruko ini. Agar sekalian minta dirawatkan oleh orang tersebut, dan orang itu adalah Anda," Rahimah masih tidak bisa menerima alasan yang diberikan oleh Pak Sobiri.


"Kenapa tidak Mama terima saja?" Rahman ikut membantu menyakinkan Mama nya, agar semua cepat selesai.


Menoleh pada sang anak, Rahimah memandang tekat. "Tidak mungkin kita menerimanya, Rahman. Sedang kita tidaklah mengenal beliau ... seperti yang Mama jelaskan tadi, pasti beliau juga mempunyai keluargakan? Bagaimana jika keluarga beliau datang dan mengambilnya dari kita? Bukankan akan lebih bagus, jika langsung saja di serahkan kepada keluarganya tanpa perantara di serahkan pada kita?" Rahman merenung, memang masuk akal apa yang dikatakan oleh Mamanya.


Tapi jika itu adalah milik orang yang benar-benar tidak dikenal ... tapi ini, bahkan pemilik aslinya ialah dirinya sendiri. Hasil dari membelian dari seorang Kakek-kakek.


"Saya pastikan pemilik asli ruko itu tidaklah mempunyai keluarga, beliau hanyalah seorang Kakek tua ... yang sudah tidak memikirkan hal duniawi. Beliau murni ingin memberikan ruko ini kepada Anda, dengan niatan kelak bisa menjadi amal jariah bagi beliau."


Mendengar itu membuat Rahimah teringat Ayahnya yang baru saja meninggalkan mereka, hatinya sedikit basah saat tau bahwa pemilik ruko tersebut hanyalah seorang diri tanpa memiliki keluarga di sampingnya.


Tidak jauh berbeda dengan Pak Ramlan, hanya saja Ayah nya masih memiliki Ia dan Rahman. Bisa Ia bayangkan, jika pemilik ruko itu sudah mendapatkan panggilan dari sang khalik ... tidak menutup kemungkinan bahwa ruko itu tetap akan di sedekahkan. Karena memang tidak memiliki sang pewaris selain dengan pilihan di sedekahkan juga.


Hening ....


"Baiklah, jika memang beliau tidak mempunyai siapa-siapa untuk merawat ruko itu? Maka Saya akan membantu merawatnya. Tapi, apa Bapak yakin?" setelah kesunyian sejenak sempat datang, akhirnya Rahimah mengambil keputusan besar tersebut.


"Alhamdulillah," terdengar gumaman dari Pak Sobiri mengucap syukur.


"Iya, Saya yakin," Rahimah mengangguk takzim, Rahman pun turut bernapas lega.


"Karena Anda sudah setuju, bolehkah Saya meminta keterangan data diri Anda? Agar mempermudah Saya untuk mengurus kepembalikan nama."


"Apa itu perlu, Pak?" Rahimah merasa itu terlalu berlebihan jika harus membalikkan nama kepemilikan ruko tersebut menjadi miliknya.


"Tentu saja tidak, Anda juga harus mempunyai kekuatan hukum untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi kelak di masa depan,"


"Semisalnya, tiba-tiba saja ada orang yang datang dan dia mengaku-ngaku sebagai pemilik ruko tersebut saat tau bahwa Anda tidak mempunyai kekuatan hukum. Jelas itu akan mempermudah orang untuk mengambil keuntungan dan memanfaatkan kekurangan Anda tersebut," Rahimah mengangguk cepat, membenarkan apa yang dijelaskan oleh Pak Sobiri.


Rahimah pun izin, permisi untuk mengambil keperluan apa saja yang akan dibutuhkan oleh Pak Sobiri.


Selesai dengan penyerahan berkas data diri, tampa berlama-lama Pak Sobiri segera mohon undur diri dari tempatnya. Rahman dan Rahimah pun naik kelantai dua.


Rahimah pergi menuju ke arah dapur, Ia langsung berkutat dengan perabotan dapur dan bahan makanan yang sudah disediankan oleh trio wewek.


Rahman juga beranjak menuju tempat kosong di samping kamar Mama nya, diliriknya jam dinding yang menggantung di mushola kecil rumahnya, Rahman pun membaca beberapa surat yang Ia ketahui sebelum magrib tiba karena memang masih lama. Selain untuk mengisi waktu luangnya, surat itu juga bermanfaat bagi mereka yang akan menempati rumah barunya.


Pertama-tama Rahman membaca surat Al-Baqarah, Ia jelas sangat menikmati bacaan surah tersebut walau pun memakan waktu cukup lama.


Hampir dua jam Ia membaca surat tersebut, kemudian Ia menyambungnya dengan surat lain ... yaitu surat Al-Fatihah sebanyak tiga kali, lalu menyusul Al-Mu'minun ayat 28-29.


Tidak terasa, senja pun datang menyapa dengan warna jingga yang memancarkan keindahannya dan menggantikan sang surya yang sudah lama menerangi bumi tercinta.


Lekas mereka bersiap diri sebagai seorang hamba, melaksanakan kewajiban menjalankan Sholat tiga raka'at. Setah mengucap salam, Rahman dan Rahimah menengadahkan tangan melantunkan do'a, meminta keberkahan, dihindarkan dari segala marabahaya, serta tidak lupa juga mendo'akan untuk orang-orang terkasih yang telah dulu berpulang kehadirat Allah SWT.


“Allahumma innii as-aluka khairal mawlaji wa khairal makhraji bismillahi wa lajnaa wa bismillahi kharajnaa wa ‘alaallahi rabbanaa tawakkalnaa.”


Artinya, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu atas kebaikan rumah yang aku masuki dan kebaikan rumah yang aku tinggalkan. Dengan menyebut nama Allah aku masuk dan dengan menyebut nama Allah aku keluar dan kepada Allah, Tuhan kami, kami bertawakal.” (HR. Abu Daud).


“Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ mudkhalahu waghsilhu bilmaa`i wats tsalji wal baradi wa naqqihi minal khathaayaa kamaa naqqaitats tsaubal abyadla minad danasi wa abdilhu daaran khairan min daarihi wa ahlan khairan min ahlihi wa zaujan khairan min zaujihi wa adkhilhul jannata wa a’idzhu min ‘adzaabil qabri au min ‘adzaabin naar”.


Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnyak, bersihkanlah ia dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka)” (HR. Muslim)


BERSAMBUNG....


Keterangan:


Saat menempati hunian baru, Rasullulah menganjurkan untuk membaca Surat Al-Baqarah agar rumah tidak seperti kuburan.


Rumah sebagai tempat tinggal yang dijadikan sebagai tempat ibadah sebaiknya selalu lantunkan ayat-ayat suci, agar terhindar dari gangguan setan. Hal ini sesuai dengan hadist Rasullullah: "Sesungguhnya segala sesuatu punya puncak, dan puncak Al-Quran adalah surat Al-Baqarah, dan sesungguhnya setan itu jika mendengar surat Al-Baqarah dibaca di dalamnya surat Al-Baqarah." (HR. HAKIM).


Dalam surat Al-Mu'minun ayat 28-29 dijelaskan bahwa rumah adalah tempat dengan keberkahan yang diberikan oleh Allah yang patut kita syukuri. Adapun amalan ini sebaiknya diawali dengan membaca surat Al-Fatihah sebanyak tiga kali. Bacaan ini dapat dibaca waktu pagi dan sore hari.


Ketiga surat dalam Al-Quran di atas merupakan amalan yang bisa dijalankan. Diharapkan, doa menempati rumah baru akan melindungi penghuninya dari segala gangguan. Di lain sisi, doa tersebut sebaiknya rutin dibaca setiap hari agar selalu mendapat keberkahan dan penjagaan dari Allah SWT.


Dilansir dari Umma, doa menempati rumah baru ditujukan agar penghuninya selamat dari marabahaya dan gangguan makluk halus. Beberapa masyarakat percaya, rumah baru apalagi yang lama kosong biasanya sudah menjadi tempat tinggal bagi makluk tak kasat mata.


Maaf jika kelaman up nya.🙏


Terimakasih karena sudah berkenan membaca karya Ulun yang kedua ini, semoga tidak membosankan dan bisa membuat semua terhibur.🙏


Tinggalkan jejak, komen, like, gift atau vote dan jangan lupa jadikan favorite. 😊✌


#salamkakawananbarataan


(salamtemantemansemua)


Salam dari Urang Banua😊✌


Noormy Aliansyah