Neitherland

Neitherland
Season II Pembalasan



Gian merunduk lemas. Air matanya terkuras pun tenaga dan emosinya. Dia hanya berharap bisa terlelap dan melupakan segala hal buruk yang dia saksikan. Kemudian terbangun dan kembali bertemu dengan orang-orang yang dia cintai. Namun, semua kenyataan buruk itu bagai godam yang memecah belah kewarasannya. Kini dia termenung dalam kesengsaraan dan penyesalan dalam.


Seharusnya dia mendengarkan ucapan Aera. Benar saja kata wanita itu, sekeras apapun Gian mencoba patuh seperti pecundang bodoh, Roschiil tetaplah Roschiil. Padahal sebelumnya dia telah berusaha untuk tidak lagi mengusik iblis itu. Dia bahkan dengan senang hati menjadi raja boneka yang bahkan mengaum pun tidak pernah.


Gian sungguh tersiksa, tetapi air matanya seolah ikut binasa. Dadanya terasa sesak terlebih mengingat saat terakhir kali dia bertemu dengan Aera, tidak ada kenangan manis yang tertinggal. Mereka berdebat hebat bahkan dia mengancam menarik semua fasilitas yang telah dia berikan jika Aera dan kawan-kawannya bersikeras melanjutkan misinya--yang bagi pecundang sepertinya terlalu berbahaya.


Bukan karena dia mengkhawatirkan Roschiil, tetapi karena dia tidak lagi ingin ada yang terluka terlebih jika itu adalah Aera. Namun, dengan semua pengorbanannya itu kini dia merasa dicurangi. Ketika semua rasa sakit dan amarah itu bercampur dan membuatnya ingin berteriak, semua lampu seketika padam.


Puncak ritual!


Gian menengadah menyaksikan empat batu berkilau tampak silau hingga menerangi tubuh Aera yang perlahan menyusut seperti cucian yang diperas.


The Art?


ini kali pertama baginya melihat cahaya yang tampak indah dan memukau, sejenak rasa sakit hati dan kekecewaan pada dirinya sendiri terlepas dari benaknya. Seolah di tarik keluar oleh semua cahaya indah itu dan dibakal dalam pekatnya keindahan yang terpancar. Namun, seketika waktu seolah berhenti. Gian bahkan tak bisa bernapas dengan baik. Dalam kondisi seperti itu sama dia melihat sebuah bayangan lalu semua kembali normal.


Gian meraup udara dengan rakus. Tiba-tiba sesak di-da-da-nya semakin mengganas. Matanya yang memejam terbuka perlahan. Kebingungan menyergapnya, karena sepertinya ada yang aneh. Dengan cepat kepalanya kembali menengadah, benar saja. Seolah berteleportasi dia kembali ke ruang interogasi.


"Ruang Ibadah telah siap, Yang Mulia."


Gian terhenyak. Itu dialog yang beberapa jam lalu dia dengarkan sebelum memasuki Aula setan yang membuatnya gemetaran karena marah. Jika benar seharusnya Roschiil menyuruh mereka membawa semua persembahannya setelah mengganti bajunya dengan sutra putih.


"Siapkan juga mereka sebagai persembahan. Aku akan kembali untuk bersiap-siap."


Gian tidak bisa lebih kaget lagi mendengar semua ini. Kejadiannya seperti sebuah film yang sengaja diputar lagi. Ada apa sebenarnya?


Dalam kebingungannya, Gian bisa mendengar langkah Roschiil menjauh dan keluar ruangan. Pintu kembali tertutup dan para kaki tangannya mulai mengenakan sutra putih pada semua rekannya tetapi tidak dengannya. Semua kejadian terulang tanpa ada perbedaan sedikitpun. Namun, ketika tangan Zerah terulur pada Aera. Kedua mata gadis itu terbuka.


Gian dan Zerah terkejut bersamaan. Sebelum dia sempat berpikir tangan gadis itu terjulur seolah ikatannya merenggang bagai karet elastis, atau mungkin berubah menjadi kain yang menyelimutinya tanpa bisa menghambat gerakannya. Mendarat di batang leher wanita yang sempat menjadi keluarganya.


Sebelum wanita paruh baya itu kehilangan nyawanya, Aera segera memukul tengkuknya hingga dia jatuh tak sadarkan diri. Gian terperangah, ketika melihat ke selilingnya. Teman-temannya pun melakukan hal yang sama; melumpuhkan orang yang hendak memasangkan sutra putih di tubuh mereka.


Gian menggeleng kuat, apa yang sebenarnya terjadi? beberapa menit lalu semua bagaikan ulangan kejadian sebelumnya yang terlihat persis serupa hingga detik Roschiil keluar. Namun, kini semua berubah. Mungkinkah dia sedang berhalusinasi karena terlalu frustasi? Kesimpulan yang Gian ambil lalu berpikir dia benar berhalusinasi. Terlebih ketika ikatan dari material tembus pandang seperti mantel Keri tak lagi mengekangnya.


Kedua tangannya digerakkan bagai sayap yang ingin terbang. Bahkan jika semua ini halusinasi ataupun mimpi dia tidak peduli. Dengan cepat Gian berlari ke arah Aera yang hendak mengambil kain sutra dari pelayan baru yang masuk tepat ketika yang lain sibuk melumpuhkan lawan. Lalu menggunakannya sendiri hingga tampak seperti arwah gentayangan.


"Aera ..." panggilnya seolah berbisik. Melihat Aera benar berbalik dan mengangkat alisnya seolah bertanya ada-apa? tanpa ba-bi-bu Gian mengenyahkan semua jarak dan merengkuh Aera dengan erat.


Terasa nyata.


"Hei, sudahlah. Kau pasti tidak mengerti tapi kita tidak punya waktu banyak. Sebisa mungkin tidak terjadi kesenjangan waktu agar semua dapat terintegrasi dengan baik."


Gian tidak mengerti maksud ucapan Aera. Dalam ingatannya tidak ada ucapan seperti itu dalam ruangan ini, jadi dia simpulkan ini masih halusinasinya yang dia harapkan terjadi. Dengan cepat diurainya pelukannya dan menatap kedua mata Aera. Warnanya kembali biru. Ingatan sebelum semua kekuatan gadis itu dilucuti dan Gian tersenyum. Tanpa permisi dia mengecup kedua bibir Aera. Tindakan yang telah lama ingin dia lakukan.


Dia bisa merasakan tubuh Aera menegang. Sungguh halusinasinya bisa mendetil dan membuatnya terasa nyata. Ini pasti sebuah kelebihan dalam dirinya yang baru dia sadari. Dengan lembut dia mulai ******* bibir wanita itu.


Manis.


Perlahan---semakin lama, semakin dalam serta panas ciumannya. Tapi seperti yang dia bayangkan, Aera bahkan tidak membalasnya. Toh, semuanya halusinasi walau sesungguhnya dia berharap dalam halusinasinya Aera bisa membalas ciumannya dengan has-rat yang sama kuatnya. Gian berhenti hanya untuk sekedar menarik napas. S belum dia ingin kembali mencecap bibir wanita itu, Aera segera menahan wajahnya.


Kedua tangan Aera menangkap wajahnya. Adegan manis yang membuat hatinya hangat.


"Waktu habis. Kembali mengikuti adegan selanjutnya."


Gian tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Aera. Sejak tadi dia mengatakan hal aneh.


Apakah berhalusinasi memiliki batas waktu? itu sungguh mengganggu hak asasi manusia.


Sebelum Gian bisa protes, tubuhnya kembali terasa diikat. Kakinya lemas dan dia nyaris jatuh. Namun, Aera menahannya dan membantunya duduk di kursi. Wanita itu tersenyum dan mengecup bibirnya dengan singkat.


Halusinasi yang sempurna.


Ciuman singkat itu membuatnya merasa lebih baik sebelum kesadarannya kembali hilang.


***


Seperti sebelumnya, semua berjalan sebagaimana mestinya, perbedaan terletak di ikatan Aera yang sebenarnya tidak mengekang. Juga sutra putih yang di desain khusus sebagai bius dan material yang mampu menyerap energi telah digantikan dengan kain lainnya. Roschiil yang tidak menyadari semuanya terus menari dengan mantra anehnya.


Waktu ketika gladiusnya telah harus menembus jantung Aera tiba, seringai buasnya seketika sirna. Tepat beberapa detik sebelum besi ribuan tahun itu membelah altar yang dianggap suci tubuh Aera menghilang dan muncul di belakangnya.


Purnama tepat di atas kepalanya. Menyirami wajahnya yang termangu bodoh melihat altar sucinya retak dibelah sang pusaka.


"Hei, ingin bermain denganku?" Roschiil berbalik dengan sedikit terkejut. Rautnya seketika murka melihat Aera ternyata berdiri tegap lengkap dengan kuda-kuda dan sepasang tinju yang terlihat kokoh menantangnya.


Aera berkedip, menyeringai jahil padanya. Roschiil masih dibuai kebingungan. Tangan kanannya meraba da-da-nya. Wajahnya tercengang. Semua The Art yang dia kumpulkan menghilang, selain miliknya.