Neitherland

Neitherland
36: Stasiun Maut



Semua telah berada dalam truk militer ketika sebuah mobil SUV hitam metalik terparkir di basement apartement dan diikuti lima mobil lainnya. Moana duduk dibalik kemudi di sampingnya Gian dengan topeng wajah wanita dilengkapi seragam militer AU Neitherland.


Sebuah ketukan di kaca kemudi terdengar kasar. Moana menurunkan kacanya. Seorang pria bertubuh jangkung dengan tampang sangar memasukkan kepalanya. Diliriknya lambang yang merekat pada seragam Moana. Pria itu tampak meringis.


"Apa yang kalian lakukan di sini dengan membawa mobil dinas?"


Ries sudah memprediksi pertanyaan ini, dia hanya berharap Moana ingat harus menjawab apa, "Kami dalam perjalanan menuju Teli, hanya sekedar mampir ke tempat orang tuaku," jawab Moana datar, menunjuk wadah makan yang dia sendiri tidak tahu isinya apa. Teli sering dijadikan tempat latihan militer AU Neitherland. Jawaban Moana membuatnya lega untuk sesaat.


Pria bertampang sangar dengan seragam khas, yang di ketahui oleh semua pasukan militer Neitherland sebagai jenjang strata tertinggi di Neitherland, akhirnya memberi kode aman dan truk pun berjalan.


***


Di dalam salah satu rombongan SUV hitam, Stego duduk menatap layar. Telinganya siaga dengan sepasang headset.


"Kami dalam perjalanan menuju Teli, hanya sekedar mampir ke tempat orang tuaku," suara dari headset itu terdengar tenang. Stego mengernyit. Dia membuka data penghuni apartement yang saat ini menjadi target operasinya. Ada 678 kamar, dan 675 terisi. 430 sigle 200 lainnya sepasang keluarga muda dan 45 sisanya memasuki usia lansia. Malas membuka data 45 keluarga, Stego mengabaikannya. Yang terpenting bahwa data benar menunjukkan penghuni apartement tersebut ada sekumpulan keluarga dengan umur yang cukup matang.


Dia memencet tombol konfirmasi, suara Arkdom kembali terdengar memerintah segera jalan. Lima belas menit berlalu Stego seolah mendapat Ilham. Dia membobol keamanan data apartemen dan memeriksa kamera pengawas yang ada dalam basement. Setelah dua puluh menit kemudian, dia akhirnya melihat truk militer tersebut telah datang sejak pagi. Jeda waktu yang cukup jauh. Akhirnya dia memeriksa jadwal kegiatan AU Neitherland. Tidak ada pelatihan hari ini di Teli, semua di siagakan untuk mengganti prajurit yang dikirim ke beberapa daerah bentrok. Stego meringis kesal. Dia kembali dikelabui.


"Arkdom, segera masuk dan mengikutiku. kita kejar truk militer tadi."


"Untuk apa? kita harus menunggu konfirmasi dari tim Alfa, mereka telah naik kelantai 9," suara Arkdom terdengar ketus.


Stego meradang, "Hei bodoh! Kua pikir siapa yang sedang kita cari? mereka tidak mungkin menunggu maut datang. Jika bisa mereka pun akan mudah mengelabui Tuhan. Mereka telah kabur dengan truk militer tadi!"


Terdengar dengusan dari seberang sana. Arkdom paling benci berada dibawah kekuasaan siapapun selain Roschiil. Sayangnya Roschiil sendiri yang menyuruhnya mengikuti permintaan Stego. Baginya hal itu sangat menyebalkan tetapi dia tidak kuasa menolak.


"Dasar bodoh! Jika tahu itu mereka kenapa menyuruhku melepaskannya!"


"Kau ingin menangkap mereka atau terus mengeluh bangs*t!" teriak Stego kesal. Sejak awal dia selalu emosi melihat Arkdom. Ya, prajurit seragam hitam dari Roschiil itu membawa kenangan buruk dalam benak Stego.


"Sialan! berteriak kau sekali lagi maka akan kupatahkan lehermu yang kurus!" Arkdom meradang. Dia menendang beberapa mobil yang parkir dan berteriak menyuruh Stego keluar. Mengamuk seperti gorila kehilangan anak, yang baru bisa tenang setelah melihat Roschiil dari layar hologram.


"Kau bosan hidup?"


Cukup satu kalimat dingin dari sang penguasa membuatnya sadar dan kembali ke alam nyata.


***


Sejak tadi Aera sibuk berpikir, cara terbaik yang dapat mereka tempuh untuk bisa sampai ke mansion Tuan Piller. Sesaat setelah sampai apartemen Ries, mereka telah mengirimkan pesan kepada para Mentri sayap kanan untuk dapat bertemu secara rahasia di kediaman Tuan Piller. Kejaran dari prajurit Roschiil berada diluar rencana. Mereka sengaja memainkan rencana Ries dengan harapan Roschiil terkecoh dan justru berseteru dengan Epraim, tetapi ternyata iblis tua itu terlalu lihai untuk ditipu.


Tepat dua puluh menit setelah mereka meninggalkan gedung apartemen, Aera menyarankan agar mereka naik kereta listrik; meninggalkan truk militer di stasiun kereta. Bergabung dengan ribuan pengguna kereta akan lebih baik dan pasti membuat para pemburu kebingungan. Dia berharap waktu yang sengaja di senjangkan bisa menanti Aiwan sadar dan membawa mereka pergi dengan aman.


"Jangan. Percayalah padaku, jika kau harus menggunakan topeng karena teknologinya, maka gunakanlah dengan tetap menampilkan wajah aslimu. Aku yakin Roschiil dan anak buahnya tidak mengenalimu sebagai perempuan cantik. Jadi kau lebih aman kembali ke wujud aslimu."


"Aera benar. Bahkan jika takdir berkata kita harus tertangkap, dengan wujud aslimu mereka akan mempertimbangkan untuk membunuhmu atau membiarkanmu hidup," Gian menimpali.


Ries mencebik, "Hidup sebagai boneka mose, atau sebagai tumbal persembahan Roschiil? aku lebih memilih mati ditembus timah panas."


"Kau percaya padaku?" tanya Aera. Pandangannya tajam menatap Ries. Wanita berambut panjang dengan topi yang menutupi bagian wajahnya itu akhirnya mengangguk.


"Aku akan mempertaruhkan kemampuanku untuk melepaskanmu dari jebakan setan," tutur Aera sembari tersenyum.


Truk mereka pun berhenti. Aera kembali diliputi kekhawatiran ketika melihat Aiwan yang berada di sampingnya masih terlelap seperti seonggok jasad tanpa jiwa. Pesek, di mana kau! Aera mengembus kesal. Dia tahu, kondisi Aiwan saat ini berhubung dengan tiadanya Keri. Ah, sialan. Seharusnya dia bertanya bagaimana caranya mengirim pesan pada makhluk pesek itu. Melarikan diri dengan seseorang yang tidak sadarkan diri memberi peluang tertangkap dua kali lebih mudah. Namun, meninggalkan mutan tampan ini sendiri juga sesuatu hal yang tidak mungkin.


"Dia masih belum sadar?" Gian berbalik sambil melepas seatbelt. Aera dan Ries yang duduk mendampingi Aiwan, menggeleng bersamaan. "Heh, aku seperti melihat ke dua istri yang putus asa karena ditinggal mati suaminya."


Aera dapat melihat, pandangan Moana dari spion tampak lurus mengamati Ries.


"Kau tidak keberatan jika kita mempunyai suami yang sama?" tanya Aera menanggapi sarkasme Gian.


"Hah?" Wajah bodoh Ries tampak lucu dan menggemaskan. Aera tertawa dan menggeleng.


"Jangan terlalu khawatir, kau tidak sendiri," hibur Aera sambil tersenyum manis.


Tanpa menunda lebih lama, mereka keluar dan langsung menuju stasiun Kereta Listrik. Aiwan yang tidak sadar dibawah menggunakan kursi roda dan didorong oleh Moana. Mereka membaur dengan para pekerja buruh yang hendak pulang. Salah satu alasan banyaknya pemberontakan di beberapa kota karena undang-undang buruh yang dijanjikan Epraim tidak kunjung diamendemen seperti janjinya dulu.


Ketika semua sedang menanti Gian yang pergi ke WC, tiba-tiba mereka telah dikepung oleh prajurit berbaju hitam. Senjata Laras panjang mengarah pada mereka. Aera dan Ries saling membelakangi


"Kau bisa berkelahi," bisiknya sambil memasang kuda-kuda.


"Itu salah satu keahlianku, masalahnya kita tidak punya senjata," jawab Ries. Matanya menatap Moana yang masih memegang kursi roda. Kondisi stasiun seketika ricuh. Beberapa orang histeris sambil mencoba menjelaskan bahwa dirinya hanyalah buruh biasa dan tidak pernah ikut dalam demonstrasi apapun. Ketika kondisi semakin tak terkendali, sebuah tembakan membungkam semuanya.


"Diam bangsat! Kami yang akan menentukan siapa di antara kalian yang layak diseret menuju tahanan." Teriakan Arkdom bergema. Aera mendengus. Ditatapnya Moana dan Ries bergantian. Posisi mereka berada di tengah kerumunan. Di lepasnya topinya, dan dipasangkan pada Moana.


"Uh," dengusan Moana terdengar ketika dengan cepat dia menarik kumis palsunya. Aera menggenggam tangan Ries dan Moana.


"Kalian berdua harus pergi. Jika Roschiil yang mengutus mereka maka urusannya hanya dengan kami. Seharusnya kalian bisa bebas. Kalian memiliki kemampuan yang luar biasa, hiduplah dengan bebas diluar sana ke depannya pasti kalian bisa lebih bermanfaat bagi yang lemah. Jangan melakukan hal bodoh dengan mempertaruhkan hidup kalian di sini. Pergilah, sampai ketemu lagi," ucapnya tersenyum anggun.


Aera menarik kursi roda Aiwan, dan mengusir Moana dan Ries dengan kepalanya, "Pergi sekarang juga!"