Neitherland

Neitherland
Season II, Rahasia di Balik Rahasia



"Pendahulu Mao Zedong dan Dmitry Fredkov merupakan pemimpin kubu yang saling berseteru hingga pecahnya perang dunia ke tiga. Roschiil secara politik berdiri di antara mereka berdua. Dan secara terbuka memberi suntikan dana dan bantuan untuk kubu Dmitry Fredkov. Juga menyodorkan negara kekuasaannya menjadi benteng dan persediaan pangan Mao Zedong."


Semua yang berada dalam ruangan menyimak penjelasan Stego. Mereka sedang mengadakan rapat strategi penyerangan dalam misi membunuh Mao Zedong yang akan dilantik sebagai presiden tiga hari mendatang. Konspirasi yang dinantikan para kaum buruh dan budak yang ketakutan pada kampanye terbuka Faksi Kanan: pencabutan hak dengan menyisakan kewajiban kerja hingga pembangunan kota layang usai.


"Fakta pada akhirnya mereka hidup rukun di Neitherland sejak setengah abad terakhir, menunjukkan semua hanyalah kamuflase pemusnahan massal. Mungkin lebih buruk dari pada genosida berkedok perang."


"Atau, kemungkinan mereka terpaksa berdamai setelah solar storm menghancurkan se-per delapan negara di dunia ini."


Semua pandangan beralih ke Aiwan. Mungkin semua yang hadir selain Aiwan dan Morat tidak tahu fakta ini. Namun, Aera tahu jadi alih-alih terkejut seperti yang lainnya dia justru mengangguk setuju.


"Kemungkinan mereka berkonspirasi dengan menciptakan perang dunia ketiga bisa saja benar, tapi fakta negara mereka juga hancur dan mengalami kerugian besar juga tidak bisa diabaikan. Tepat sebulan setelah semesta menghancurkan bumi dengan nuklirnya yang melebihi bom hidrogen, ditambah dengan runtutan bencana alam lainnya, kedua kubu yang saling berseteru terpecah dan membentuk sekutu baru. Namun, pendahulu Mao Zedong dan Dmitry Fredkov tetap menjadi musuh." Aiwan mengambil alih setelah beberapa sanggahan dan pertanyaan dijawab dengan fakta yang telah Aera siapkan.


"Mereka bertemu di medan tempur dengan ribuan pasukan terlatih, sebagian membawa senjata api beberapa lagi membawa pedang, bahkan ada yang menunggangi kuda. Perang berlangsung kurang lebih tiga bulan lamanya. Setelah kakek Mao Zedong mengalami kekalahan, dia menyerahkan diri dan pasukan yang tersisa agar tetap hidup. Namun, sebulan kemudian mereka kembali berperang. Kali ini, kubu Dmitry Fredkov dan Mao Zedong bersekutu."


Ries, Moana dan Antonius menyimak antusias. Mereka seperti anak kecil yang disuguhi fabel Aesop yang selalu menarik atensi pendengarnya.


"Roschiil datang setelah kerugian besar dan kekalahan telak memukul mundur aliansi Mao dan Dmitry. Dia berpura-pura menjadi penolong rupawan dengan imbalan prajurit pribadi mereka. Setelah menyerahkan pasukan khusus yang tidak bisa memberi kemenangan pada mereka, Roschiil memberi mereka wilayah aman dan tempat tinggal seolah dia adalah makhluk rendah hati paling pemurah, bergerak atas dasar kemanusiaan. Mereka salah, dia hanyalah iblis yang memberimu emas karena menginginkan nyawamu sebagai gantinya."


"Setelah puluhan tahun bersama Roschiil para pasukan khusus itu kembali kepada tuannya di tahun 2065. Dan, kalian tahu kejadian apa yang terjadi di tahun itu." Semua yang berada dalam ruangan serempak mengangguk sebagian hanya mengangkat alis. Tidak akan ada yang melupakan perang saudara di tahun itu. Konspirasi yang akhirnya membunuh puluhan ilmuan yang mencoba memberontak dan menewaskan sebagian besar mentri sayap kanan.


"Sekarang, apa kalian masih berpikir perang itu hanyalah manipulator mereka? kasus manipulator-nya memang benar. Namun, tidak dilakukan oleh mereka yang aktif di dalamnya. Mereka hanyalah korban. Sama seperti kita."


"Bedanya, sekarang mereka bukan lagi korban yang tidak tahu menahu agenda Roschiil, tetapi telah dengan suka cita menjadi kaki tangan iblis demi sebuah kekuasaan. Karena itu mari kita kembalikan para iblis itu ke tempat di mana mereka seharusnya berada, demi keamanan 5. 878. 935.000 jiwa yang ditarik paksa ke Neitherland, bagian bumi yang sengaja diselamatkan."


"Jika demikian, analisa kami sebelumnya mengenai pertikaian mereka dengan Roschiil merupakan kekeliruan?" Stego mencoba mengkonfirmasi kembali kesimpulan yang telah dia bulatkan sendiri.


"Selalu ada kemungkinan untuk hal itu, tapi tidak sekarang aku jamin itu." Morat menjawab pasti.


"Aku sungguh tidak bisa membaca pikiran Roschiil, langkah orang itu sulit untuk bisa ditebak," Ries bergumam.


Aera menyeringai, "Dia melakukan ini untuk memperlambat gerak Tuan Piller."


Sekarang perhatian beralih kepada Aera.


"Pemimpin BPN? (Badan Perdamaian Neitherland)" tanya Yuko.


Sejak meningkatnya pemberontakan kaum buruh dan konflik yang melebar antara bangsawan dan budak. Tuan Piller mengajukan pembentukan BPN yang memiliki wewenang tidak hanya di NU tapi juga di NS. Sebelumnya Aera berpikir sama seperti yang lainnya. Tuan Piller memiliki kekuasaan absolut di atas Roschiil. Hal itu terlihat jelas dari semua kebrutalan Roschiil hanya bisa ditekan oleh seorang Piller. Bahkan banyak yang berpikir Piller dan Roschiil pada hakikatnya memiliki tujuan sama, mengingat mereka ternyata memiliki hubungan darah.


Namun, kini Aera tahu kedua penguasa itu memiliki tujuan berbeda. Roschiil dengan obsesinya pada cinta, kemudian melatar belakangi kegilaan yang kini dia wujudkan perlahan dalam usianya yang entah ke berapa abad. Dan, Piller yang kini masih abu-abu. Bahkan pengamat sejelih Aera masih bingung--tak mengerti tujuan seorang Piller. Jadi, mungkinkah dia jauh lebih berbahaya dari Roschiil?


Semua bermula ketika Aera menyadari peran Piller dalam pembentukan Neitherland. Khususnya sumbangsih idenya yang membuat para ilmuan menjadi mesin pembunuh di saat yang sama menjadi alat lahirnya manusia dengan kualitas gen terbaik, nyaris sempurna tanpa cacat. Namun, dia pun tahu buku puisi lama yang dia berikan merupakan petunjuk rencana Roschiil yang mungkin, ingin Aera bertindak lebih cepat untuk menyelamatkan Ibrael dan Epraim. Sayangnya, dia menyadari semua itu setelah mereka tiada.


Sebenarnya apa tujuannya? Bagaimana hubungannya dengan Roschiil? pertanyaan itu terus menghantui Aera hingga akhirnya pesta politik dan kampanye Akbar oleh dua fraksi menambah panjang daftar kekacauan politik di NS, Aera hanya bisa menyimpulkan untuk sementara pertikaian antara Piller dan Roschiil terletak pada peran penguasa.


Bukan Roschiil yang menginginkan keberlangsungan keluarga kerajaan tetapi Piller.


"Cih, tidak pernah ada dua penguasa di tanah yang sama. Pertikaian mereka lebih manusiawi dibanding kerjasama yang selalu mesra."


"Baiklah, sekarang kita butuh agenda mereka untuk tiga hari ke depan."


Stego dan Ries bersama-sama menghentikan gerakan tangan mereka yang sejak tadi menari di atas udara. Stego mengangkat tangannya dan lebih dulu memaparkan data curian dari server lama kekaisaran Neitherland. Mereka berunding mengenai cara memanipulasi surat perintah pembuatan kamp budak. Dalam hal ini Stego, Morat, Antonius dan Yuko. Sisanya memeriksa data militer dan rincian agenda yang berhasil Ries curi dari server Roschiil.


Sebelum Ries memamerkan hasil buruannya, dia bertanya seolah ragu, "Siapapun tahu sebelumnya kita pernah melakukan ini."


Aera mengerutkan kening, setelah dia berpikir maksud ucapan Ries adalah tindakan nekad mereka menyerang ketika ditawan. Dia lalu mengangguk dan seolah berkata. Lalu kenapa? "Bukankah menurutmu kita mendapatkan semua ini terlalu mudah?" Mereka kembali masuk dalam jebakan? mungkin begitu maksud Ries.


Sebelum Aera menjawab Morat berdiri di tengah meja panjang yang membelah mereka menjadi dua bagian. Dia menghadap mereka sengaja membelakangi layar yang menuliskan pesan untuk bersikap tenang dan tidak membahas kecurigaan apapun.


Morat menatap smartwatch-nya, "Aku harus mengantar Gian menghadiri acara pelantikan anggota baru BPN. Sepulang dari sana kami akan kembali ke sini. Beri laporan mengenai apapun yang aku lewatkan. Aera menyeringai dan mengangguk. Yang lain hanya mengangkat alis walau sebagian besar justru mengerutkan kening memikirkan maksud pesan yang ada di layar.


"Semua itu palsu, ambil semua data yang tersimpan dua bulan yang lalu."


Tepat setelah Morat keluar, Aera memecah keheningan.


"Dalam matanya ada kamera yang langsung tersambung ke data Roschiil untuk membatasi gerakku. Aku belum tahu alasan mengapa dia tidak bisa menyentuhku, bahkan ketika Aiwan tidak bisa memberinya informasi apapun, dia tetap tidak bisa membalas pemberontakan yang aku lakukan. Itu keuntungan yang bisa kita gunakan saat ini."


Yuko memijat kepalanya yang mungkin berdenyut keras, "Maksudmu dia spy? tidak, anjing mungkin?" Wajahnya tampak kesal dan muak.


"Sebelumnya iya, tapi tidak untuk sekarang. Dia bahkan berpura-pura patuh hanya untuk melindungi kalian, jadi jangan berkata buruk tentangnya," Aiwan menjawab ketus. Aera menyeringai, pembelaan Aiwan terhadap Morat terasa menggelitik baginya.


"Hah, bukankah saat penyerangan kalian gagal yang di kambing hitamkan adalah Kau? kini kau membela dia, mungkinkah kalian berada di kubu yang sama."


"Lalu menurutmu aku yang merencanakan semua ini berada di kubu mana?" Aera menimpali dengan tenang. Namun, sorotnya jelas terlihat dingin. Reaksi yang jelas mengatakan, berhenti menyela dan membuang waktu karena aku tahu mana yang benar dan salah.


Penangkapan Aiwan saat itu memang terbilang lama. Namun, bukan karena Roschiil berhasil melumpuhkannya. Aiwan yang memutuskan ikut untuk menutupi semuanya, dan Keri membuat Roschiil tidak mampu melakukan apapun pada Aiwan karena Medan listrik yang ada disekitarnya membuat apapun yang mendekat berubah menjadi debu. Kemampuan yang membuat Keri menghilang dan mungkin tidak lagi ada di dunia ini. Namun, Aera tidak mungkin mengatakan pada semua orang alasan Aiwan disini dan sebab dia tidak berguna selama apapun dalam cengkraman Roschiil. Karena kehadiran Keri tidak bisa diberitahu dengan mudahnya.


"Morat akan membantu dengan caranya dan Aiwan akan menjadi kaki tanganku yang siapapun di antara kalian tidak mungkin bisa menggantikan perannya. Aku menerima kalian karena kepercayaan kalian padaku, jika memang kalian tidak bisa melakukan itu rencanaku tidak akan berubah bahkan jika kalian tidak ada."


"Maaf," Antonius memotong ceramah alot Aera.


Yuka memasang wajah menyesal, "Aku juga minta maaf," ucapnya seperti anak kecil yang takut ibunya marah karena mengotori baju putihya dengan es krim coklat.


"Baiklah kalian tahu aku tidak suka drama, jadi mari lanjutkan tugas yang tadi."


***


Sementara di sebuah istana megah, Roschiil tengah duduk menikmati pemandangan birunya danau Teli. Segelas Vodka baru saja berpindah ke dalam tenggorokannya. Dengan sigap sang pelayan kembali mengisinya dan mengangkat botol kaca yang terbuat dari kristal Swarovski. Senyuman mengejek sejak tadi menghiasi bibirnya.


"Semakin lama obsesi mereka semakin mirip," kepalanya menggeleng gemas. "Berbuatlah sesukamu nak, nikmati waktumu yang mungkin tidak akan lama." Selanjutnya tawanya menggelegar bagai auman iblis penjaga neraka.