Neitherland

Neitherland
Season II, Anak Laki-Laki Alien



Mau berpikir bagaimanapun baginya semua ini bagai mimpi dan tidak masuk akal. Pertama langit malam yang indah dan bersih, ke dua udara malam yang menyegarkan tanpa adanya bau mesiu, dan lainnya hutan belukar yang seharusnya berganti bangunan istana yang nyaris musnah.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Di tengah rasa penasarannya yang membingungkan Aera mengintip dari balik semak.


Dipangkasnya jarak menuju sumber keributan. Seorang pendeta wanita dengan jubah aneh dan tiga prajurit yang seolah berasal dari abad sebelum masehi. Mereka sedang syuting?


Kepalanya kembali mengintip. Seorang anak sedang terikat di atas sebuah batu. Aera mengaktifkan fungsi lensanya. Wajah anak itu ketakutan, matanya dibanjiri air mata, tetapi sorotnya jelas memancarkan kemarahan. Sebuah ekspresi komplit yang menakjubkan. Aera memindai seisi hutan. Tidak satupun penjaga keamanan yang memanggul senjata. Dia teringat pada Leah dan Amun yang mungkin berada di balik tembok. Namun, temboknya menghilang yang tersisa hanyalah semak belukar.


Tidak ada sahabatnya di sana, hanya ada orang-orang aneh yang mengintimidasi seorang anak kecil. Pendeta wanita itu mentasbihkan sesuatu yang sulit diterjemahkan bahkan oleh chip memori Aera. Tangan kirinya melukis dinding batu. Tepat ketika lukisannya atau mungkin tulisannya selesai dia kembali tegak menjulurkan tongkatnya menantang purnama. Aera menambah ketajaman lensanya agar bisa melihat jelas tulisan sang pendeta.



Tepat ketika ke dua tangan dan pekikan pendeta wanita memecah malam, pedang tajam ketiga prajurit terayun ke udara. Dengan cepat Aera mengambil keputusan. Dilepasnya tembakan berupa bius ditiap leher semua orang. Ke tiga pedang itu terjatuh memotong kaki pemiliknya. Prajurit dan pendeta wanita tertidur bersimbah darah. Aera keluar dari persembunyiannya, mendekati sang anak yang berada diatas batu persembahan. Memotong tali yang mengikat sang anak dengan laser dari gelangnya.


Memasang wajah bingung, si Anak lelaki segera bangkit. Dia terduduk dan melepas ikatan mulutnya. Pandangannya menyorot ngeri pada tubuh ke tiga prajurit dan pendeta wanita yang tiba-tiba tak sadarkan diri.


“Kau baik-baik saja?”


Pertanyaan Aera seketika dibalas dengan teriakan takut dari sang anak. Tampaknya dia terkejut dan tidak menyadari kehadiran Aera. Matanya tertutup dan meringkuk gemetaran.


“Apa-apaan respon itu? Aku telah menyelamatkan hidupmu, alih-alih merasa takut seharusnya kau berterima kasih,” keluh Aera yang akhirnya membuat sang Anak berani membuka mata.


“ASDDFGGHJKL,” suaranya terdengar merdu, tetapi bahasanya asing. Aera melongo.


“Tolong jangan gunakan bahasa hewan.”


“Qwwertyuuioop, pokjhgfdscbn.” Aera mendengus .


“Terseralah, tampaknya aku tersesat di dunia tarzan.” Gadis kecil itu berbalik melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah menjauhi batu persembahan, tangannya dicekal. Anak laki-laki yang tadi dia selamatkan menatapnya takjub. Sinar dimatanya seolah menunjukkan rasa terima kasihnya yang luar biasa.


“Ok, sama-sama. Tolong lepaskan, aku harus menyelesaikan tugasku.”


Sang anak tersenyum, kepalanya mengangguk. Dia mengerti ucapanku? Egonya tersentil menyadari kondisi di mana hanya dia yang tidak mengerti bahasa si 'Alien'. Sejurus kemudian, anak tersebut bersujud. Tingkahnya mengejutkan Aera. “Hei, apa yang kaulakukan?”


Gerakannya menunjukkan sebuah persembahan berlebihan, diiringi bahasa alien yang tidak dia mengerti. Aera mendengus matanya memindai sekelilingnya. Mencari kamera tersembunyi. Mungkin saja aku masuk dalam jebakan batman? Salah satu program acara tv swasta. Tidak menemukan apapun selain pepohonan akasia dan kurma liar. Aera meninggalkan anak tersebut. Namun, sekali lagi langkahnya terhenti karena digenggam oleh si Anak Lelaki.


“Sekarang apa lagi!” suara Aera terdengar lirih. Rautnya kembali dingin. Tampaknya si Anak lelaki menyadari perubahan ekspresi sang Penyelamatnya. Ragu-ragu dia tersenyum. Telunjuknya bergoyang-goyang mengarah pada Aera.


Anak lelaki itu kembali menunjuk Aera diikuti gerakan tangan membuka. Aera bergeming. Si Anak laki-laki memperagakan gerakan terbang dan menunjuk langit. Kemudian menjeda gerakannya sebelum kembali menyimpan kedua lengannya di dada dan menutup mata.


“Kau bertanya apakah aku malaikat yang turun dari langit ataukah dewa kebajikan yang cantik baik hati dan tidak sombong?” Kali ini anak itu yang bungkam. “Aku adalah malaikat tanpa sayap bernama Aera,” tutur Aera diikuti gerakan tangan.


Telunjuknya mengarah ke langit bergerak jatuh ke bumi. Kedua tangannya terentang membentuk sayap sembari menggeleng dan membentuk tanda X “Malaikat tanpa sayap.” Lalu menunjuk dirinya. “Aera namaku Aera.”


“Aera?” ulang si Anak? Aera mengangguk mantap dan mengacungkan jempolnya.


“Aera!” serunya lagi sambil mengacungkan jempol. Berpikir Aera sedang memberi penghormatan berdasarkan budaya Mesir Kuno. Maka si Anak pun kembali mengacungkan jempol sebagai bentuk penghormatan.


Apa maksudnya namaku bagus? Ternyata dia cukup cerdas menilai.


Anak lelaki itu menunjuk dirinya, “Khufu, Khufu,” tuturnya.


Aera mengangguk, “Iya, memang kita tidak sekufu, aku malaikat tanpa sayap dan kau hanya manusia lemah,” keluhnya sambil memasang wajah datar.


Si Anak lelaki yang mengenalkan dirinya sebagai Khufu membalas tanggapan Aera dengan senyuman lebar. Mungkin dalam benaknya, dia berpikir Aera memuji namanya.


***


Ke dua mata Khufu menatap langit berbintang. Purnama nyaris sempurna. Ingin rasanya dia menjerit. Sejak tadi hatinya terus merutuk dan tidak hentinya menyesali kelahiran dan takdirnya yang tidak masuk akal. Dewa? Cih, omong kosong! Bahkan jika dia harus mati untuk bisa melihat sang dewa dia tetap akan menolak percaya, makhluk merepotkan dan menyebalkan, serta paling angkuh sejagad raya sebagai 'dewa' adalah penguasa alam.


Dalam kilau pedang yang menghunus dan siap memisahkan tubuhnya menjadi beberapa bagian, wajah ibunya berbayang. Tahta sang Ayah yang membebani hidupnya bahkan merenggut nyawanya. Serta orang-orang yang berharap bisa menggantikan posisinya terpasuk Utem adik tiri, putra dari sang ayah bersama dengan Meneftah, putri Mentri Perang.


Khufu kembali merutuk para Dewa sialan yang membuatnya menjadi tumbal dalam hening dan ketidak tahuan sang ibu. Bahkan jika aku terlahir kembali, aku akan menolak menyembah kalian, para bajingan sialan! ucapnya sebelum menutup mata. Tetesan air matanya mengiris pipinya yang dingin di peluk angin malam.


Bruukkk!


Khufu terdiam. Perlahan dia merasa ikatan tubuhnya mulai mengendor. Dibukanya matanya, tali yang mengikatnya tampak terpotong rapi. Matanya menubruk ke tiga tubuh yang hendak mengeksekusinya. Apa yang sebenarnya terjadi?


Dalam bingung dia melihat sesosok gadis kecil, perlahan tampak, seolah dia terlahir di tengah kegelapan. Sebelum akhirnya semua tubuhnya terlihat, Dan dia meringis melihat para prajurit yang bersimbah darah. Ke dua matanya yang biru bagaikan langit malam berhias bintang menatapnya dan mengucap kata asing. Suaranya adalah hal indah lainnya setelah wajahnya. Malaikat? Peri? Namun, dari pakaiannya dia jelas bukan dewa. 'Dewa' tidak pernah sesopan itu.


"Kau yang telah menyelamatkanku bukan?"


Dia kembali berbicara dengan bahasa langit, Khufu yakin dia mengerti perkataannya. Menemui fakta dia selamat setelah memenmgang keyakinan yang kuat, Khufu menjadi sangat senang. Dia bersujud memberi sara hormat. "Aku tahu, Anda dikirim oleh penguasa alam yang sesungguhnya makan terimalah salam hormatku."