Neitherland

Neitherland
6 : Monster Antartika!



Ketika gelombang cahaya mengurai seluruhku


Mencabik yakinku pada hidup yang kian meredup


Dan musim setia mengurbankan hati—direnggut paksa dari dahannya yang kerontang


Hanya teduhmu yang menatapku, merengkuh rapuhku hingga raga kembali teguh


Aera, di belahan bumi paling indah 2075


**


“Kenapa kalian masih di situ?” tanya Aiwan gemas.


Aera menyeringai, tadi dia menekan angka lima terlalu lama. Alhasil, timenya berubah menjadi 55 detik. Keri si monyet cerdas menatap layar.


“Kenapa tidak dibuat lima menit saja.” Sindirannya membuat Aera ingin tertawa. Dia sungguh kagum pada revolusi kecerdasan Keri.


Belum sempat Aera berdalih bunyi pintu yang berhasil dibuka paksa terdengar bagai alarm kematian. Aera dan Gian saling menatap. Aiwan bergeming, mungkin berpikir. Keri meraba bulu dadanya. Tangan kanannya masuk menarik keluar benda transparan. Sebuah jubah kamuflase.


Aiwan yang melihatnya tersenyum lalu mengangguk, “Lindungi mereka dengan itu, aku akan urus sisanya,” titahnya pada Keri yang langsung mengacungkan jempolnya.


Sejurus kemudian tangan kanan Aiwan berubah menjadi ujung senapan bermata enam. Sedang tangan satunya memegang sebuah perisai serupa cahaya biru. Aera tidak bisa menebak komponen pembuatannya. Mungkinkah menggunakan quantum stealth layaknya teknologi perisai Neitherland atau lebih baik dari itu.


Aiwan menatap Gian. Rupanya bagian wajahnya telah ditutupi perisai tipis tembus pandang yang melenyapkan bagian matanya.


“Jangan khawatir, aku tidak akan membunuh mereka,” ucapnya seolah memahami kekhawatiran Gian yang sejak tadi menatap perubahannya.


Gian tersenyum samar, “Bagaimanapun utamakan keselamatanmu,” sahut Gian sekalipun Aiwan telah keluar dari lemari.


Aera yang terkesima pada semua yang ia saksikan berkedip. “Jadi, dia bukan manusia?” tanyanya tanpa menatap Gian.


“Entahlah, tapi dia memiliki detak jantung dan darah.”


Tiba-tiba, bunyi dobrakan pintu kamar terdengar. Selanjutnya bunyi grasak-grusuk yang entah apa disusul ledakan tembakan, saling sahut mengiringi kepergian Aera dan Gian yang khawatir pada Aiwan dan monyetnya yang cerdas.


**


Cahaya mentari tampak menyeramkan, mengingat lapisan ozon bumi telah penuh dengan tambalan yang jauh dari kata sempurna. Namun, keberuntungan tampaknya berpihak pada Gian dan Aera. Ada segerombolan awan yang menaungi mereka, itu fenomena alam yang sungguh menakjubkan.


Aera menatap sekelilingnya, dia telah memprediksikan hal ini. Mereka terdampar jauh dari titik tujuan, karena durasi yang terlalu lama memungkinkan terjadinya interferensi cahaya dan menemukan belitan kuantum baru. Bersyukur tidak terlampau jauh, menurut pirkiraannya. Sebelumnya dia pernah mengekprolasi pulau ini. Tidak keseluruhan, karena ternyata pulau ini terlalu luas. Tetapi dia bisa membaca karakteristik alamnya dan dia tahu, mereka masih di pulau yang sama.


“Kita di mana?” tanya Gian canggung. Sebelumnya tanpa sadar dia menggenggam tangan Aera. Ini pengalaman pertamanya melakukan teleportasi dalam keadaan sadar.


Aera mengamati ke seliling, mereka berada di tengah hutan. Dia menyetel kacamatanya dan mampu melihat kondisi terjauh dalam keadaan jelas. “Seharusnya kita berada di kutub Utara bumi. Bagian bumi yang dulunya menjadi kutub selatan.” Aera masih fokus melihat keselilingnya.


“Antartika?” Gian nyaris menjerit. “Ini luar biasa, bukankah pesawat sekalipun belum ada yang bisa mencapai daratan ini?” tanyanya dengan penuh semangat seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Aera beralih menatapnya. Karena perbedaan tinggi, yang terlihat tepat bibirnya yang seketika membesar seperti gumpalan daging yang siap dipanggang. Aera berkedip tiga kali—mematikan sistem pembesar kacamatanya. Dia menatap Gian setengah sebal, “Kita sedang terdampar dan kau girang bukan kepalang. Oh, sial, di sana Aiwan bisa saja mati saat menghadapi puluhan prajurit tapi kau malah berpikir seolah kita sedang bertamasya. Haruskah aku menenggelamkanmu ke dalam samudra Antartika?” Aera melepas kacamatanya. Lalu berjalan menuju Selatan.


Gian terdiam, dia mengikuti Aera dari belakang, “Ternyata kau benar-benar membenciku,” gumamnya pelan.


Langkah Aera terhenti. Dia kesal, tentu saja. Tapi dia juga merasa bersalah atas sikapnya yang selalu menyudutkan Gian. Lantas Aera berbalik, dia ingin menegaskan kebenciannya lebih kepada status Gian. Mungkin karena itu dia harus meminta maaf atas sikapnya yang menyebalkan. Namun, belum sempat dia mengutarakan niatnya, seketika matanya terbelalak. Aera bahkan merasa mulutnya menganga terlalu lebar.


“Ada apa?” tanya Gian dengan alis berkerut.


Bukannya menjawab, Aera justru meletakkan telunjuknya di mulut dan segera menggunakan kacamatanya. Tangannya memberi kode agar Gian merunduk. Namun, terlambat. Ke dua pria bertubuh besar dengan penampilan aneh telah melihat mereka. Gian berbalik saat melihat ekspresi Aera semakin horor. Kapak dan pedang besar adalah hal pertama yang tertangkap oleh pandangannya.


“Lari!” seru Aera yang ternyata telah meninggalkan Gian. Berlari lurus membelah semak belukar dan pepohonan besar yang maha aneh.


**


Aiwan mundur lima langkah dari pintu kamar, setelah merasakan hawa mencekam dari balik pintu semakin mendekat. Dia melirik ke arah lemari yang kini tampak serupa dinding. Di atasnya tampak keri yang sedang asyik bermain game.


Tepat di depan WC dia berhenti, dan berdiri tegap. Masih dengan senjata yang bersiaga, dia lantas menghardik.


“Ikut kami dengan tenang yang mulia, agar keamananmu terjaga,” dustanya penuh percaya diri. Seorang prajurit lainnya siaga di belakangnya.


“Tidak mau, rakyat jelata! Aku ingin di sini saja.” Jawaban Aiwan nyaris membuat Keri tertawa.


“Sialan. Di mana yang mulia?” berangnya saat menyadari Aiwan bukankah Gian. Dia kembali membentak, tiga orang lainnya menyusul—menambah sesak kondisi ruangan. Senapan mereka siaga ke arah Aiwan.


“Tenang, dia sudah aku amankan, kalian bisa pulang istirahat,” jawab Aiwan terlalu santai.


“Bangke!” prajurit yang mungkin adalah pemimpin kelompok memaki. Dia berbalik, “Habisi dia.”


Sang komandan berjalan hendak keluar. Bersama dengan bunyi pelatuk yang siap ditarik. Lalu, Bunyi tembakan saling sahut. Namun, sejurus kemudian semua seolah hening.


Seketika energi dengan gaya yang kuat menghantam seluruh ruangan. Para penembak terpelanting. Empat butir peluru yang dilesakkan ke arah Aiwan, tertahan tepat di hadapan Aiwan. Sebuah perisai dari cahaya seolah menyerap lalu kembali memantulkan mereka dengan gaya seribu kali lebih besar, yang juga membuat para penembak terpelanting dengan ujung senapan yang patah—sebagian retak.


Sang komandan terhenti. Dia menatap ke empat anak buahnya yang kesulitan bangun. Seolah menggunakan sihir, dia tidak merasakan apapun, tetapi energi yang menghantam penembaknya tentulah sangat kuat. Sang Komandan berbalik, mencoba mengenali Aiwan yang terlihat layaknya humanoid.


Diangkatnya senjatanya. Bunyi tembakan pun memekik. Sang Komandan terpelanting menabrak pintu. Sedang lengan tangannya nyaris patah. Sesaat setelah tembakan dilepas. Dia menurunkan senjatanya. Peluru yang kembali mengenai tangannya yang pasti akan bolong jika tidak dibalut seragam berlapis anti peluru.


Aiwan menggeleng. Dia menatap Keri yang masih setia menggelantung di plafon dengan jubahnya yang menjulur menutupi lemari.


“Hancurkan komputernya pesek,” pesan yang bergema dalam kepalanya seketika terkirim pada Keri, yang tampak terkejut dan menggerutu sebelum menembakkan sinar partikel—menghancurkan bilik, komputer beserta komponen lainnya seumpama debu.


**


Aera terus berlari, sialnya dia belum sempat memakan apapun. Tubuhnya juga butuh waktu istirahat lebih lama. Tadi dia bangun terlalu cepat. Bersyukur perbedaan waktu yang panjang antara Neitherland dan Antartika membuat mereka tiba saat matahari telah bersinar terang. Dia tidak tahu harus bagaimana jika saja mereka tiba, sedangkan langit masih berselimut gelap.


Sorak-sorai yang lebih terdengar bagai auman harimau mencuat dari arah belakang. Tentu saja Aera tidak peduli. Dia harus segera keluar hutan, lalu berjalan ke tepi pantai, agar tahu harus ke arah mana untuk menemukan tempat persembunyiannya. Namun, langkahnya seketika terhenti saat mendengar teriakan Gian. Dalam hati dia memaki. Sebelum berbalik dan memasang kacamatanya.


Pria itu terjatuh dan kini semakin dekat dengan dua pria asing, berpenampilan aneh plus menyeramkan yang pernah dia saksikan.


“Aaahhh!” keluhnya sebal. Sesaat dia bingung ingin meninggalkan makhluk menyebalkan itu atau kembali menyelamatkannya dengan resiko menghadapi makhluk asing yang mungkin berbahaya.


Gian berhasil bangkit. Namun, tangannya tampak terbelit tali yang dipegang pria berambut panjang. Tangan kanannya memegang kapak raksasa. Aera bergidik.


“Masa bodoh, takdirnya memang mati hari ini,” ucapnya hendak mengabaikan Gian. Namun, sisi manusiawinya menolak pergi. Dengan berat hati dia kembali, berlari ke arah Gian dan berteriak.


“Singkirkan tangan kotormu bauuukkkkkkk!” Aera berteriak dari jauh. Perhatian ke dua pria bertubuh besar itu teralihkan. Mereka berhenti menarik rambut Gian seperti binatang, dan tersenyum menatap Aera.


Kurang dari jarak lima meter Aera berencana melompat sambil melayangkan tendangan terbang. Sayangnya, keberhasilannya sebagai inventor tidak berlaku sebagai pemain pencak silat. Saat meloncat dan hendak melayangkan tendangan dia justru terjatuh di depan para pria dengan posisi menyamping.


“Aauuhh,” keluhnya disahuti tawa ke dua pria aneh tersebut.


Gian menghampirinya dengan raut khawatir, “Pinggangmu tidak patahkan? Tapi loncatanmu tadi keren,” ucapnya mencoba tersenyum.


“Sialan! Kau mengejek orang yang berniat menolongmu,” Aera mencebik.


“Seharusnya kau terus berlari,” Gian bergumam.


Ke dua pria aneh telah kembali sadar dari biusan lawak yang membuat mereka terbahak-bahak. Seorang yang lebih gendut berkepala plontos dengan pedang raksasa bahkan mengeluarkan air mata.


“Berhenti berbicara, cepat bantu aku bangun,” ucap Aera yang masih merasa pusing karena terjatuh dan membentur tanah yang dilapisi rumput.


Tangan Gian terjulur hendak memeluk pundak Aera. Namun, segera terhempas karena ditarik paksa oleh pria berambut panjang. Mereka berbicara dengan bahasa yang tidak memiliki terjemahan dalam program bahasa Aera. Gian memberontak dalam gendongan sang pria, pukulan dari lengannya yang terbilang kekar tak berpengaruh sedikit pun di kulit sang pria aneh.


Aera merasa hidupnya hampir berakhir saat pria botak mendekatinya, meringis lalu mengucapkan kalimat yang tak mampu dia pahami. “Sebenarnya kalian dari mana?” tanya Aera, yang membuat si pria botak merengut lalu melayangkan tendangan tepat di perutnya yang kosong.


Jeritan Aera melengking. Pria botak merunduk. Bau nafasnya yang lebih busuk dari selokan pinggir kota tercium. Aera nyaris muntah, tetapi rasa sakit kembali menderanya ketika rambutnya ditarik dan kepalanya dibolak-balik. Gian terdengar memaki. Sebelum akhirnya sebuah pukulan kembali mendarat tepat di dada Aera, yang membuat penglihatannya buram dan kesadarannya menghilang.