Neitherland

Neitherland
22 : Krav Manga



Tanpa peringatan, Aiwan menyerang Gian, yang membuatnya tersungkur seketika. Namun, dengan sigap Aiwan langsung menariknya--tegap.


"Sudah aku bilang jangan lengah. Dan lagi, kuda-kudamu terlalu lemah." Tangannya menepuk pundak Gian agar sedikit merendah. Kakinya mengukur jarak tumit dengan lantai gua yang kebetulan datar. "Kumpulkan semua kekuatanmu di sini," titahnya menendang pelan kaki Gian.


"Ingat, tangan yang kalian gunakan untuk menyerang bersiap di dada dan sebelahnya letakkan depan wajah. Hal paling penting adalah kalian harus bisa bergerak cepat dan kuat. Serang cepat dan sepenuh tenaga. Ini dasar krav maga. Cepat dan kuat."


"Dalam posisi kuda-kuda, pastikan tumitmu tidak menjejak lantai." Tepat kalimatnya selesai, saat itu pula dia menyerang Aera dari arah samping, yang jika tidak sengaja ditahan pasti telah membuat wajah ilmuan cantik itu kehilangan pesona.


"Kau curang! kenapa tidak memberi peringatan," protes Aera.


"Kenyataan di lapangan jauh lebih liar. Tidak ada peringatan apapun. Yang ada hanya insting memburu dan melindungi diri. Jadi tetap siaga." Saat itu pula tendangannya melayang ke arah Gian. Kali ini sang Pangeran bisa menangkisnya dengan tepat dan cepat. Namun, tidak bisa menghindari serangan yang mengarah pada dadanya.


Gian menahan napas. Hebatnya kekuatan Aiwan ditahan ketika tumit tangannya mendarat di dada Gian.


"Gerakanmu masih terlalu lambat. Hal penting lainnya adalah kalian harus bisa membaca gerakan lawan dan menyiapkan pertahanan disaat yang sama perlawanan, atau serangan balasan."


Seperti yang sudah-sudah. Tiap kali instruksinya berakhir, serangan mematikan darinya pasti meluncur cepat. Kali ini ke arah Aera. Itu menurut dugaan mereka yang sejak tadi membaca pola pelatihan Aiwan. Sayangnya mereka terkecoh.


"Perlindungan yang baik," komentar Aiwan tetapi serangannya tidak berhenti dan langsung kembali mengarahkan tinjunya ke arah wajah. Sayangnya Gian yang terfokus pada gerakan kaki tidak bisa mengelak lagi.


Aera yang awalnya bersiap menerima serangan, terus memperhatikan gerakan Aiwan dalam diam. Dia bisa melihat gerakan Aiwan yang cepat dan terarah, dengan tetap mempertahankan kokohnya kuda-kudanya--ketika serangannya gagal, agar dapat kembali melancarkan serangan yang lebih kuat. Sebuah pelajaran seni bela diri terbaik yang dia peroleh langsung dari ahlinya.


Ilmuan cantik yang selama ini hanya mengenal kumpulan atom dan teropong, akhirnya mampu menemukan point penting dalam mengembangkan kemampuan bela dirinya. Tepat saat Gian lengah menahan serangan tinju pada wajahnya, sebelum kuda-kuda Aiwan kembali terpasang, Aera melancarkan serangan.


Lutut kanannya terangkat tinggi, kekuatannya terpusat ke tumit. Dengan cepat kakinya melebar--menampar telinga Aiwan. sang Mutan segera sadar, dan menangkisnya dengan siku. Kaki Aera terpental. Kondisi yang telah dia prediksi, karenanya dengan sigap Aera menarik kakinya kembali ke posisi sebelumnya.


Gian memanfaatkan kondisi itu untuk melakukan penyerangan seperti yang telah dilakukan Aera. Namun, jaraknya dan Aiwan terlalu dekat membuatnya ragu. Dia takut serangannya tidak terkendali dan melukai Aiwan karena belum terlatih mengontrol kecepatannya.


Ragu-ragu dia menyerang, tetapi seketika dilumpuhkan oleh Aiwan. Kakinya yang bahkan belum terangkat melampaui pinggang seketika ditepis dan tangannya dijepit--gerakannya dikunci.


"Serangan yang bagus, Aera," Aiwan kembali berkomentar, "Hal penting lainnya. Saat ingin menyerang jangan pernah ragu! Dalam pertempuran, kau hanya bisa memikirkan dua hal. Cara melindungi diri dan cara melumpuhkan musuh. Tidak ada tempat untuk mengasihani. Jika itu terjadi, kecepatanmu berkurang, gerakanmu terbaca--kau mati!" tandas Aiwan sembari melepaskan Gian.


"Gawat! kita dalam masalah!" seru Keri mengintrupsi latihan.