
Terkadang cinta berlari di luar hukum fisika, seperti anak kecil yang bermain hujan, keceriaan dan tawanya mengingkari ketakutan para ibu terhadap virus. Seperti takdir kau dan aku, yang diikat dalam belitan kuantum. Hukum relatifitas seolah musnah, menyisakan dua partikel yang menolak kata pisah.
AN. Neitherland 2045
**
Masih setia menyiagakan senapan Laras panjang yang usianya nyaris seabad, Aera berjalan teramat pelan menuju dapur mungilnya. Jantungnya hampir melorot saat menyaksikan pintu lemari pendinginnya terbuka beberapa saat sebelum akhirnya tertutup lagi.
Aera mencoba mengedip dua, tiga, hingga berkali-kali, tetapi lemari stok makanannya kembali terbuka. Bulu kuduknya seketika bergidik. Dia sungguh tidak mengerti, makhluk halus yang dia yakini hanyalah refleksi dari kekacauan alam bawah sadar kini menyelinap ke dalam apartemennya dan berusaha mengambil alih dapurnya.
Lantas apa yang harus dia gunakan untuk mengusir makhluk tak kasat mata yang ternyata benar ada di dunia ini?
Belum hilang keterkejutannya menyaksikan anomali di hadapannya, sebuah suara tiba-tiba terdengar.
“Kamera pengawas yang terpasang di beberapa jalan menuju kamarmu tidak berfungsi sejak jam satu siang. Jika kau tidak bisa mengalahkan tentara khusus dari kediaman Roschiil, sebaiknya tak perlu buru-buru kembali.
O, ya, aku sedang berada di rumah calon tunanganmu. Datanglah, kita makan pancake bersama.
Oh, ternyata dia masih punya banyak makanan kaleng ... produksi ... 2024! Sebenarnya berapa gaji para ilmuan Neitherland?”
Alis Aera berkerut. Dia menggeleng memastikan informasi yang baru saja didengarnya. Nyata ataukah halusinasi. Dan sejak kapan makhluk halus hoby makan pancake? tunangan? apa saat ini kehidupan makhluk halus tidak berbeda dengan manusia pada umumnya?
Pertanyaan yang terlintas dalam benak Aera, seketika membuatnya merasa paling bodoh. Aera memijat pelipisnya. Namun, sesuatu dari sisi lain menarik perhatiannya. Dari sudut matanya, terlihat jelas sebuah benda panjang sedang melayang-layang bagai terkena mantra tongkat Harry Potter—serial movie favoritnya sewaktu kecil dulu.
Dalam keadaan bingung yang membuatnya nyaris bodoh, Aera maju mendekati kursi yang berada tepat di depan tv. Semakin dekat, semakin jelas pula sosok yang tengah duduk di atas sofa yang lebih sering menjadi kasur baginya. Benda kecil yang tampak melayang adalah ekornya yang jauh lebih panjang dari ukuran tubuhnya.
“Gawat darurat!” seru makhluk kecil lucu, ketika matanya yang bulat bersibobrok dengan Aera. Sesuatu yang membuat Aera gemas lantas urung menarik pelatuk.
**
Aera menatap pria tampan rupawan dengan tubuh tegap berisi bagai binaragawan. Kedua matanya segelap malam, dengan alis yang membingkai tegas dan tebal. Rahang yang tegas dan hidung yang menjulang menambah pesona wajahnya. Bibirnya adalah hal yang membuat semua menarik, tampak bagai patung pahatan ketimbang manusia rendahan, karena tertangkap menyelinap ke rumah seorang gadis untuk sebuah makanan.
Senapannya diacungkan ke wajah pria yang mengaku namanya sebagai Aiwan. Sedangkan binatang peliharaannya yang menyerupai monyet mengaku bernama Keri. Ah, Aera tahu dia bukan hewan biasa, mungkin dia AI. Lalu siapa pria itu?
“Aera, maaf,” Aera mengernyit “Hmm, bisakah kau menurunkan benda itu dulu? Aku yakin itu bukan hiasan."
D**ia bahkan mengetahui namaku.
“Kita bisa tahu, ini hiasan atau bukan setelah menarik pelatuknya." ancaman Aera tampaknya berhasil.
Dia bisa melihat keterkejutan dari mata Aiwan. Tangannya terangkat. Sebenarnya Aera tidak bersungguh-sungguh. Dia hanya berusaha melindungi diri, jika saja makhluk berwajah tampan itu memiliki niat buruk yang merugikannya.
“Jika dia mati, apa aku akan menjadi yatim piatu?” Kali ini Keri yang memohon dan itu berhasil membuat Aera mengubah ujung senapannya menghadap lantai.
“Yang pasti kami bukan orang jahat. Kami hanya ingin numpang makan dan tidur,” papar Keri sendu.
“Wah, aku kagum pada tingkat kecerdasan dan responsifmu yang tinggi. Kau bahkan sudah mampu beradaptasi dengan keadaan dan lihai berbohong.” Aera menghentak-hentakkan senapannya ke dasar lantai. Irama yang dihasilkan seolah menegaskan kekesalan Aera tengah berada di titik klimaks.
“Sejujurnya, kami tidak berharap bertemu denganmu saat ini. Kami pikir kau sedang di luar. Kami hanya ingin makan lalu meninggalkan pesan.” Sedikit ragu, Aiwan coba menjelaskan.
“Apa yang membuatmu berpikir aku percaya kata-katamu?” Aiwan dan Keri saling bertatapan, “Baiklah, kita selesaikan di kantor polisi saja!”
“Tidak!” seru Aiwan dan Keri serempak, dan membuat Aera terkesima untuk beberapa saat. Belum sempat dia memberi respon balik, bunyi belnya terdengar mendesak. Persis seperti orang kebelet yang menantikan terbukanya pintu WC saat itu juga. Aera mengembus kesal.
Masih dengan senapan dia berjalan menuju pintu, “Jangan coba bergerak!” ancamnya kembali menodongkan senapannya ke arah Aiwan. Lalu berjalan mundur dan membuka pintu.
“Hai,” Aera segera berbalik ke arah pintu, setelah mendengar suara yang tampak tidak asing baginya.
“Bisakah aku masuk dulu?” tanyanya meringis.
Aera terbelalak melihat siapa yang ada di depannya, setengah teriak dia bertanya
“Sedang apa kau di sini?”
**
Pukul tiga dini hari, Aera terbangun dengan perut kosong dan tenggorokan kering. Dia mencoba bangkit, tetapi kepalanya terasa berdenyut. Kebiasaan buruknya tidur tanpa berganti piama memang sering terjadi. Namun, menghancurkan seisi rumah seolah angin ****** beliung sedang bertamu karena terlalu bosan di luar adalah hal yang tabu.
Aera bangkit dan duduk di tepi kasur. Lambat laun kesadarannya mulai kembali. Pembungkus makanan, kaleng bekas, sampai sedotan tembaga berceceran di lantai kamar. Pintu kamar dan WC pun dibiarkan terbuka lebar, vacum cleaner dan beberapa kerangka robot asisten rumah tangganya yang butuh biaya untuk perbaiki adalah penyebabnya.
Mereka berbaris seolah sengaja menghalau agar tidak tertutup.
“Apa-apaan itu?” gumamnya malas.
Lantas dia berdiri berjalan meninggalkan kasurnya yang tidak kalah berantakan. Sebelum tiba di pintu kamar, sekelebat ingatan yang terjadi semalam membuatnya tersungkur.
Pintu WC yang terbuka karena dihalau lengan-lengan robot, secara bersamaan menampakkan sosok Gian yang sedang berdiri di depannya dengan resleting terbuka lebar.
Aera terperanjat oleh ingatannya yang terpotong bagai kepingan puzzel. Suaranya nyaris memekik jika ke dua tangannya tidak sigap menyekap mulutnya sendiri.
Selanjutnya, ingatan tentang sosoknya yang memeluk Aiwan dan nyaris mendaratkan bibirnya ke wajah rupawan itu, adalah hal yang membuatnya nyaris gila dan melakukan atraksi guling-guling di atas lantai seperti kucing ingin bermain.
“Apa yang sedang kau lakukan?” Terdengar suara Aiwan dari arah pintu. Aera bergeming. Sesaat dia membatu, berharap lantai kamar segera terbelah dan menenggelamkannya ke dasar bumi.