Neitherland

Neitherland
18 : Ideologi Absurd



Sejak pagi buta angin mendera hebat. Semalaman memang hujan mengguyur, tetapi saat jarum jam tepat berada di angka tiga dini hari, hanya tersisa rintiknya yang perlahan merosot menjadi tiada hingga menjelang fajar.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Aera saat Kak Ros keluar dari ruang Puang Hamid. Perempuan paruh baya itu, menggeleng lemah. Matanya tampak sembab. Aera melirik jam tangannya, Aiwan dan Keri masih belum kembali. Kegelisahan Kak Ros tampaknya telah menularinya.


Sejurus kemudian salah seorang tetua keluar, “Jika kalian ingin masuk, masuklah dulu.”


“Bapak mau kemana?” tanya Kak Ros.


Si Bapak menatap wanita paruh baya itu, “Menyuruh orang-orang bersiap. Kemungkinan Puang akan kembali hari ini,” tandasnya lalu menepuk bahu Kak Ros yang kembali menitikkan air mata.


Aera mendekati Kak Ros, memeluk bahunya lembut, dan mengajaknya kembali masuk. Bersama Gian mereka membesuk Puang Hamid yang sedang sekarat. Anak tertuanya setia disampingnya. Setiap beberapa menit sekali dia membisikkan sebuah kalimat yang terdengar asing bagi Aera.


“Ngadan puang ghighi e ta’alah”


Setiap kali kalimat itu dilafalkan di telinganya badan Puang Hamid bergerak, dan bibirnya bergetar.


“Apa yang dia katakan?” tanya Aera entah pada siapa.


Gian menggeleng, “Entah ...,” jawabnya berbisik.


Kak Ros berbalik, “Ngadan Puang ghighi e ta’alah?” ucapnya dengan nada bertanya.


Aera mengangguk.


“Sebenarnya kami juga tidak tahu tapi Bapak selalu mengucapkan itu. Katanya itu ajaran yang diwariskan anak Pak Ukkas. Dan setiap kali ada yang meninggal dunia, Bapak selalu membisikkan kalimat itu.”


Aera ingat, Pak Ukkas adalah sosok penyelamat Puang Hamid dan masyarakat Pare. Dia mati lebih dulu saat membantu mereka lari dari kejaran alien yang keberadaannya hingga kini masih terus menghantui masyarakat Pare. Sosok yang kaya raya, dermawan dan agamis. Sayangnya, tidak satupun garis keturunannya yang bertahan hingga tiba di Pare. Mereka semua gugur dalam pelarian panjang yang menyesakkan.


“Kenapa harus mengucapkan itu di saat ingin mati?” tanya Aera bingung.


Kak Ros terdiam. Sejenak dia berpikir, “Mungkin seperti ucapan salam pada Tuhan ...,” ucapnya ragu. “Bapak pernah bilang, dunia ini hanya sementara setelah mati kita akan bertemu Tuhan dan diberi pertanyaan sebaik apa kita melaksanakan tugas di dunia. Jika kita tidak mengucapkan salam, Tuhan tidak akan tahu kita telah mati dan ingin masuk ke rumahnya.”


Aera merasa seperti anak kecil yang diceritakan sebuah dongeng sebelum tidur. Sejak dulu dia memang tidak percaya jika tidak ada Tuhan selain sains. Tetapi penjelasan Kak Ros terlalu absurd baginya. Mungkinkah Tuhan tidak tahu jika seseorang tidak salam? Hal itu membuatnya sangsi akan sosok Tuhan yang ada dalam benak Kak Ros.


Mata Puang Hamid yang katanya sejak kemaren selalu tertutup, seketika terbuka. Kak Ros menjerit bahagia, kakak tertuanya mencoba berinteraksi dengan menanyakan dirinya.


“Bapak, saya Irham ...,” tuturnya yang ditanggapi dengan anggukan samar.


Puang hamid menatap Aera dan Gian bergantian.


“Kakek, jangan khawatir tentang Pare. Kami akan menjaga dan memastikan mereka aman sebelum kembali nanti,” tutur Aera.


“Ya, Kakek serahkan saja pada kami,” Gian menimpali.


Puang Hamid tersenyum. Bibirnya kembali bergetar. Matanya mengeluarkan butiran air. Samar suaranya terdengar.


“Ngadan puang ghighi e ta’alah,” bisiknya terlalu lambat. Sebelum akhirnya tatapannya berubah kosong dan jantungnya tak lagi berdetak.


**


Berbeda dengan di Neitherland. Saat ada yang meninggal dunia, mayatnya akan segera dikremasi dan hanya disisakan sedikit abu untuk dijadikan hiasan atau ditabur di laut lepas. Di Pare, jasad yang telah meninggal dunia, dimandikan dan diselimutkan dengan selembar kain lalu dimakamkan di tanah yang cukup dalam.


Untuk kali pertama Aera melihat proses kepergian seorang manusia dari dunia menuju dunia lain yang penuh dengan tangis. Kecintaan masyarakat Pare pada Puang Hamid, layaknya cintanya seorang anak pada orang tuanya. Tidak hanya Kak Ros dan semua saudaranya yang merasa kehilangan dan meneteskan air mata kesedihan. Namun, semua masyarakat. Tua-muda, kecil-dewasa, mereka semua bersedih dan menitikkan air mata beriring doa. Termasuk Aera.


Saat nenek dan ibunya meninggal, dia bahkan tidak ingat sedang melakukan apa. Dia baru mengetahui ibunya telah tiada—sebulan setelah kematiannya. Ironis bukan?


“Apa menurutmu Kakek Hamid saat ini sudah bertemu dengan Tuhan?” tanya Aera pada Gian.


Sudah menjadi tradisi masyarakat Pare—mengurung diri di rumahnya masing-masing ketika salah seorang dari mereka ada yang meninggal dunia.


Maka, setelah pemakaman, Pare serupa kota mati—sepi.


“Mungkin. Jika semua orang percaya hal itu, begitulah yang akan terjadi,”


“Harusnya aku menitipkan pertanyaan pada Kakek, Kenapa Tuhan menciptakan ketidakadilan dan membiarkan orang-orang lemah ditindas dan menderita sedangkan yang kuat dan berkuasa semena-mena?


Kemana Tuhan saat bom-bom itu mendarat mencerai-beraikan anggota tubuh mereka menjadi serpihan daging hangus?


Kemana Tuhan saat Pak Ukkas dan keluarganya diseret dan disiksa karena memilih diam setelah tertangkap oleh setan berkedok alien?”


Gian mendekat, lalu menarik Aera dalam pelukannya.


“Jangan menyalahkan saat kau tidak tahu apa yang telah terjadi. Bukankah dulu kau juga melakukan hal ini, dan sekarang menyesal lalu merasa bersalah?” Gian mengingatkan Aera pada semua tuduhannya terhadap keluarga kerajaan Neitherland.


“Bisa jadi semua ini tidak seperti yang Tuhan inginkan. Namun, dia tidak mampu menghentikan mereka dan hanya menunggu waktu yang tepat.”


Aera menghela nafas, “Aku tidak mengenal Tuhan. Tapi aku sangat yakin, Dia tidak seperti kekaisaran Neitherland—hanya memiliki gelar tanpa kekuasaan.” Kepalanya bersandar di bahu Gian.


Mendengar ucapan Aera Gian tersenyum, “Ya, kau benar. Tapi apa kau tahu, Tuhan itu maha adil.”


“Bagaimana kau tahu hal itu saat kau sendiri tidak mengenal-Nya?”


Gian kembali tersenyum, tangannya membelai rambut Aera.


“Ingat putra mahkota? Hiram—dia kakakku. Dulu dia bercerita bahwa dunia ini ada yang menciptakan, namanya Ellia. Saat para bedeb*h itu merubah dunia seenaknya, Ellia bukannya tidak mampu menghentikannya. Dia hanya ingin melihat, siapa yang berani menentangnya maka Ellia akan memilihnya sebagai seseorang yang diberkati.”


Gian diam sejenak menunggu respon Aera yang sejak tadi bergeming dalam pelukannya. Namun, merasa Aera tidak akan melakukan apapun, Gian kembali meneruskan ucapannya.


“Jika ada orang-orang yang berani memperjuangkan kebenaran, seperti Kakek Hamid maka Ellia akan berada di pihak mereka dan menyelamatkan mereka. Namun jika semua ikut rusak bersama para bedeb*h, mungkin itulah akhir dunia. Ellia akan menghancurkan dan membersihkan semua tanpa sisa dan menggantinya dengan yang baru.


Ya, semua itu hanya tentang kesempatan. Ellia sedang memberi kesempatan kepada orang-orang lemah yang memiliki hati kuat seperti masyarakat Pare. Bagian hutan tempat persembunyian mereka yang tiba-tiba terpisah menjadi pecahan pulau salah satu bentuk pertolongan Ellia.”


Tiba-tiba Aera membalas pelukan Gian. Dia memeluk terlampau erat hingga terasa sesak. Lalu bahunya bergetar, dan Gian merasa bahunya menghangat—dia menangis.


“Ya, menangislah. Jika bersedih kau hanya perlu menangis. Setelah ini Ellia pasti akan menguatkanmu.”


Setelah beberapa menit kemudian Aera melepas pelukannya. Namun, kepalanya masih setia bersandar.


“Kau tahu, dari mana Hiram mengenal Ellia?” tanyanya lagi.


Gian yang tengah memejam kembali membuka mata, “ Dari kitab kuno yang ada dalam perpustakaan kerajaan.”


Aera bangkit tergesa. Kepalanya mengenai wajah Gian yang seketika meringis sambil memejam—kesakitan.


“Uhh, maaf,” sesalnya menutup mulut. “Sini biar aku lihat,” pintanya menarik tangan Gian.


Aera mendekat, di saat yang sama Gian membuka mata. Pandangan mereka bertemu. Dekat. Lekat. Detak jantung Aera kembali menggila.


“Ra,” bisik Gian.


“Hmm?” gumamnya dengan raut tanya ketika Gian makin mendekat—memangkas jarak yang kurang dari sejengkal.




Terima kasih banyak untuk teman-teman yang sudah baca Neitherland dari awal sampai saat ini😊🙏😊


terus ikutin Neitherland yaa, ke depannya ada banyak petualangan seru.


oh iyaa bagi temen-temen yang udah baca tolong bantu like, vote dan dijadikan favorit yaa🤩 Love you ❤️