
Kini Aera mulai ragu mengenai fakta apa yang dia saksikan sebelumnya adalah sebuah kenyataan ataukah hanya sekedar mimpi. Mimpi yang terlalu nyata tetapi sayangnya hanya omong kosong belaka. Namun, bagaimana dengan hal lainnya; yang pernah terjadi di masa lalu? setelah mencari informasi dan berselancar; mengobrak-abrik cloud data. Aera yakin semua itu nyata.
Langit Neitherland tampak lelap, tetapi keriuhan lampu dan AI pembersih udara seolah tak kenal lelah. Meraka masih semarak menelusuri setiap inci kota. Aera melirik Cyma yang telah terlelap di sampingnya. Pandangannya terseret ke buku usang di tangannya. Sebuah huruf latin terukir apik "Odes Et Poesie Diverses" luar biasa! Bahkan big data hanya memiliki karya yang telah dirombak dengan judul yang tentunya telah berubah.
Siapa sebenarnya Tuan Piller?
Pertanyaan itu seketika mengusiknya. Sebagai pencinta sastra, Aera tentu tahu siapa Victor Hugo, termasuk karya-karyanya yang melegenda dan membuatnya terpukau. Namun, buku yang kini berada dalam genggamannya merupakan buku kumpulan puisi pertama sang pujangga. Buku itu versi cetakan pertama yang lahir di abad ke-19. Beberapa kolektor buku antik bahkan hanya bisa menemukan cetakan ke dua dan ketiga yang telah berganti judul. Untuk itu buku ini terlalu berharga dijadikan hadiah.
Aera mengembus napasnya perlahan. Tirai kamarnya yang dibiarkan terbuka menyajikan pemandangan malam yang luar biasa indah. Sayangnya keindahan itu tidak bisa menarik perhatian Aera. Kini pikirannya tengah disibukkan oleh semua fakta yang jauh berbeda dengan sebelumnya.
Di sisi lain dia merasa bersyukur karena Gian telah memiliki ratu, yang berarti dia tidak perlu repot memikirkan penolakan yang tidak menyakiti hatinya. Namun, entah mengapa fakta itu sedikit mengganggunya. Perbedaan lainnya adalah raja yang memimpin NS bukankah Epraim. Mungkinkah itu berarti masa depanpun tidak seburuk yang dia lihat kemarin?
Jari jemarinya yang sedang membelai halaman buku terpaku pada sebuah halaman puisi bertema odes, sebuah lipatan kecil di ujung buku membuat Aera mendengus lalu segera membuka lipatannya perlahan. ******* lega menguap begitu saja ketika lembaran yang terlipat entah sejak kapan tetap berada di tempatnya, tidak terpisah walau nyaris lepas. Lembaran bukunya memang sangat usang lagi rapuh. Hal yang wajar mengingat usianya nyaris tiga abad. Kedua mata Aera menyorot tinta merah yang membingkai judul puisi dilembaran yang sama, "Louis XVII" keningnya berkerut.
Puisi favoritkah? tebaknya mengingat sejak awal buku itu benar-benar bersih dan rapi. Penasaran Aera membaca penggalan sajaknya.
...
ç'était un bel enfant qui fuyait de la terre
son oeil bleu du malheur portait le signe austère
ses blonds cheveux flottaient sur ses traits pâlissant
et les vierges du ciel avec des chants de fête
aux palmes du martyre unissaient sur sa tête
la couronne des innocents
...
"Son oeil bleu," gumam Aera selirih hembusan napas Cyma. Keheningan membuat alunan suarannya terdengar jelas. Aera kembali membaca paragraf puisi, yang sebagian kalimatnya dibingkai tinta merah. Sebelum Aera memutuskan kembali tidur dan meletakkan buku berharga itu di atas nakas, pesan dari Gian membuatnya tersenyum.
"Walau aku tahu dan berharap kau telah tidur, tapi aku tidak bisa menahan jariku untuk mengirimi ucapan selamat malam. O, ya, ucapan terima kasihmu untuk Tuan Piller telah aku sampaikan, dia berharap kau bisa berkunjung ke mansionnya. Jadi, segeralah pulih."
Kepala Gian yang keluar dari dasar smartwatch yang berputar-putar membentuk rangka hologram perlahan memudar. Aera mengatur koneksi internetnya menjadi off, dan mulai memasang alarm. Mulai besok dia akan menjalani terapi setiap pagi. Sesaat sebelum matanya terpejam. Bait puisi "Louis XVII" kembali mengusiknya.
Son oeil bleu; matanya yang biru.
Aera merasa ganjil ketika melihat hanya kalimat itu yang diberi bingkai warna merah. Sedangkan beberapa kata lainnya yang juga diwarnai termasuk judulnya--semua berwarna biru.
Berusaha mengenyahkan perasaan anehnya. Aera kembali memejamkan mata, dia berbalik membelakangi Cyma dan mulai terlelap hingga alarm membangunkannya.
***
Morat menepikan mobil dinasnya tepat di ujung koridor khusus stasiun. Sebagai Mentri pertahanan dan keamanan NU dia mendapatkan fasilitas mewah termasuk rumah bak istana. Matanya mengawasi layar hologram yang menampilkan jadwal nomor kereta listrik. Setelah yakin kereta yang Aera dan Cyma tumpangi telah tiba, pria memiliki tampang awet layaknya Aiwan itu meninggalkan mobilnya; menjemput ke dua gadis kesayangannya.
Salah satu kereta yang stasiunnya tepat berada di lantai atas rumah sakit, kini telah berhenti di jalur FX 05. Usai menyelesaikan terapinya, Aera kembali bersama Cyma. Namun, telepon Morat yang menyatakan akan menjemput mereka di stasiun pertama, membuat mereka keluar dari kereta sebelum tiba di stasiun dekat apartemen. Sesuai janjinya hari ini, mereka akan bertemu; menjelaskan apa saja yang gadis itu ingin ketahui. Termasuk ketiadaan Aiwan.
"Terapinya lancar?" tanya Morat menuntun Aera dan Cyma menuju jalur khusus agar langsung tiba di dekat mobilnya. Cyma berjalan santai sambil menenteng tas yang entah berisi apa. Sedangkan Aera yang masih menggunakan kursi roda, tersenyum manis menyambut kedatangannya. Jarinya dengan lihai memainkan kontrol kursi melalui layar hologram yang berada tepat di dadanya.
Sebuah kursi roda dengan teknologi mutakhir dan dilengkapi dengan AI terhubung langsung dengan big data. Sebuah kursi roda yang bahkan menyaingi motor listrik karena bisa mengambil alih kemudi dan membuka map. Aera mengangguk menaggapi pertanyaan Morat.
"Hebat banget dah dia, baru dua jam udah bisa jalan bolak-balik," jelas Cyma riang.
"Syukurlah kalau begitu. O, ya, kalian lapar?" Morat berjalan mendahului para gadis agar bisa membuka pintu mobil.
"Ya, tapi sebaiknya kita makan di rumah saja. Ada banyak makanan di sana. Yang mulia mengirimkan menu empat sehat lima terlezat pagi tadi. Karena terburu-buru kita bahkan belum sempat mencicipi Shawarma yang baunya masih tercium hingga kini." Cyma menutup ke dua matanya dan menghirup udara lamat-lamat seolah dia benar-benar menikmati aroma makanan favoritnya itu. Sebuah makanan yang dibalut kulit tortila dengan isi daging domba, ataupun kalkun yang di masak lama dengam taburan bumbu dan lemak daging tersebut.
Morat tersenyum sembari menggeleng gemas, adiknya itu tidak pernah berubah meski beberapa hari lagi usianya genap tiga puluh tahun. "Baiklah, aku juga masih punya waktu sampai satu setengah jam ke depan." Morat membuka pintu mobil setelah melirik smartwatch-nya.
***
"Untuk melindungimu mereka harus pergi." Aera terdiam. Ucapan Morat bagaikan petir yang menyambar jantungnya. Hatinya bahkan hangus tak berbentuk. Ada apa dengan dunia gila ini? Usaha mereka menggagalkan ritual yang selalu memakan korban bukannya diberi apresiasi justru dicaci maki. Mereka bahkan disebut sebagai kelompok ateis dan penista agama. Memang agama apa yang menyembah setan dan mengurbankan nyawa manusia?
"Sejak kekaisaran Neitherland berdiri, peraturan tentang agama telah diatur dalam undang-undang. Ada dua agama yang diakui berdasar kitab suci yang abadi. Pertama agama yang mendominasi rakyat Neitherland dengan paham agnostik ateisme, dengan kitab suci yang ditulis oleh manusia agung Charles Darwin. Dan ke dua agama samawi, pengikut para Lucifer dengan Code Gigas sebagai kitab sucinya."
"Sekalipun ekstrim, keberadaan mereka legal. Aku sebagai sekertaris yang mulia saat itu bisa menjadi alasan kuat untuk melengser posisinya dan memberinya hukuman mati karena telah melecehkan agama yang telah dilegalkan." Kepala Aera berkedut. Omong kosong yang dia dengarkan terdengar memuakkan dan menyebalkan tetapi tidak bisa menghilangkan fakta semua itu adalah hal yang benar entah menurut siapa.
"Maka untuk menyelamatkan keluarganya yang tersisa, Raja Ibrael menyetujui perpecahan wilayah menjadi dua. Karena itu pula Gian pun ditunjuk menjadi raja NU. Sayangnya hal itu saja tidak cukup. Mereka bahkan menggunakan kau, aku dan Aiwan sebagai tawanan untuk memberikan mereka kekuasaan di wilayah Timur. Wilayah yang bahkan tidak bisa disentuh oleh raja NU ataupun NS."
"Kenapa semua terasa rumit? bukankah kalian telah menguasai markas militer?" tanya Aera bingung bercampul kesal. Sejak tadi Cuma telah mengasingkan diri ke depan tv. Kepalanya sakit mendengar obrolan mereka.
Morat menggeleng, "Kami membunuh semua ketua Loji yang ternyata memiliki ribuan prajurit. Bahkan 1/8 dari sektor usaha yang memiliki margin tertinggi sekaligus sumber keuangan kekaisaran, milik mereka. Karena itu, untuk melindungi kita semua, Aiwan mengorbankan dirinya." pernyataan itu sukses membuat Aera terhentak.
Mengapa semuanya berjalan bertolak belakang?
"Lalu, sekarang Aiwan di mana?" tanya Aera lirih. Morat menggenggam jemarinya yang kian mengurus, lalu menggeleng lemah.