Neitherland

Neitherland
15 : Memori Hamid 2025



\=\=\=\=\=\=°°′′°°°°°\=\=\=\=\=\=\=\=\=°°°°°°°°°°°°°\=\=\=\=\=\=


Hujan mimpi mengguyur luka


Mengisi sungai dengan doa yang mengiba


Jalan cinta kaugenangi dengan dusta air mata


Sekali lagi harapan dilebur serupa Vesuvius mengutuk Pompeii


Matahari yang kau bagikan adalah sebab tercemarnya nurani


Dan batu-batu semakin beku usai bersanding dengan bara api


Kenapa langit cintamu semendung neraka?


Tidak bisakah bunga-bunga dibiarkan mekar dan menua bersama senja?


Kenapa memilih hitamnya laut mati bukannya pelangi dengan seribu cahaya?


Kepulan debu mencumbu wajahmu yang kian nista


Dari bibirmu dusta kembali menghujam kejam serupa rudal biadab di tanah Al Aqsa


Senyummu terbit di antara tanduk setan—wajahnya tua, muda, pria, wanita semua yang kau sebut pemuja


Udara panas melahap pepohonan


Sayapnya beterbangan menebar kematian


Di sudut ibu kota Israil mengintai melirik kesempatan seperti yang kau tawarkan


Sakit


Sekarat


Pun Melarat


Di bawah langit dusta, Zerah 2025


\=\=\=\=\=\=°°°°°°°°°°°\=\=\=\=\=\=\=°°°°°°°°°°°°°\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=°°°°°°°\=\=\=\=\=\=


Hamid frustasi karena usahanya meyakinkan semua orang berujung sia-sia. Malangnya kini, dia justru menjadi buronan karena melanggar undang-undang penyalagunaan ITE, dituduh telah menyebar luaskan hoaks yang menimbulkan keresahan publik dan terancam enam tahun penjara.


Hingga tiba di perbatasan kota mereka bertemu dengan sekumpulan masyarakat yang terdiri dari puluhan mobil truk sebagian besar bus daerah, lengkap dengan polisi setempat.


“Puji Tuhan! Ternyata Hamid ada di tengah kita, dia selamat!” seru salah seorang pemuka agama.


Tidak kuasa menahan panggilan alam, Hamid terpaksa keluar mobil demi mengosongkan kandung kemihnya. Setelah yakin tidak ada aparat polisi di sekitarnya, Hamid berlari menuju perumahan warga—meminjam toiletnya. Saat kembali—ingin memasuki mobil, dia bertemu sosok pria bertubuh gempal setengah botak. Pria itu menyapanya, setengah ragu menyebut namanya, lantas memeluknya dengan mengucap syukur.


Masih tidak mengerti apa yang terjadi, Hamid membalas pelukan sang Romo. “Kau telah melakukan hal terpuji, Tuhan melindungimu,” bisik sang Romo.


Hamid melepas pelukannya, dia tersenyum, “Terima kasih, Pak.”


“Di sini ada acara apa, Pak?” tanya Ibu Hamid dari dalam mobil. Kepalanya menyembul seolah terlahir dari kaca mobil yang menyelinap ke bawah. Kumpulan warga membuat jalanan macet, tidak ada pilihan selain menunggu dan terjebak dalam kemacetan panjang yang entah sampai kapan.


“Kami sedang menuju dermaga, ingin mengungsi seperti yang nak Hamid sarankan.”


**


Setelah perbincangan singkat antara Hamid, Romo, dan kepala daerah, kini Hamid berpindah ke mobil pribadi Ukkas. Pengusaha tambang emas terkaya di Makassar. Sosok yang melatar belakangi berubahnya status informasi yang Hamid sampaikan, dari hoaks menjadi nyata. Sebagai salah satu pemilik saham terbesar tambang emas, yang lama dikuasai pihak asing. Ukkas menjadi salah satu tokoh yang suaranya tidak bisa diabaikan.


Dengan kekayaannya yang tidak terhitung, Ukkas bisa saja pergi, menyelamatkan diri dan keluarganya sendiri. Namun, dia tidak menerima tawaran calo globalis yang baginya sangat menjijikkan. Ukkas lebih memilih negaranya, dan menyelamatkan masyarakat kampung halamannya sebanyak yang dia bisa. Bahkan hal-hal yang luput dari Hamid telah diselesaikan dengan baik oleh Ukkas yang memang memiliki koneksi lebih luas dan kuat.


“Kenapa jaringan teleponku hilang,” keluh Ukkas, dia menatapi androidnya yang seketika terputus saat sedang melakukan panggilan ke beberapa anak buahnya yang berada di dermaga.


Hamid meraih androidnya. Tidak tampak satu batang sinyal pun yang bercokol di sana. Padahal mereka masih berada di daerah dengan jangkauan sinyal kuat. Posisi mereka berada dalam baris akhir rombongan menuju dermaga. Karena keterbatasan kapal, dan tempat peristirahatan yang nyaman, mereka sepakat membagi rombongan dalam tiga bagian. Dengan mengutamakan lansia dan anak-anak di posisi terdepan.


Ketika rombongan pertama tiba, mereka bisa langsung diangkut menuju pulau Samatellu. Pulau kecil yang sejak tahun 2024 resmi jatuh ke tangan keluarga Ukkas. Hadiah yang mungkin juga menu cuci mulut untuk sang Ayah yang terpaksa pensiun dini dari jabatannya sebagai mentri kelautan, karena memiliki prinsip yang tidak selaras dengan sang pemimpin negara.


Hadiah yang jika ditolak membawa keluarganya mendekam di balik jeruji, dan jika diterima dapat membungkamnya—kehilangan suara. Namun, ternyata hadiah itu dapat berguna hari ini.


“Aneh, harusnya jaringan telmicell masih terdeteksi di sini,” tutur Pak Pras, Bupati Pangkeb yang rupanya kakak dari Ukkas.


Langit mendung seolah membuat sore hari datang lebih cepat. Entah mengapa Hamid memikirkan ibu dan saudara perempuannya yang tengah hamil tua. Mereka berada dalam rombongan pertama bersama ibu Ukkas dan masyarakat lainnya yang berada di kisaran usia lima puluh tahun ke atas.


Kurang dari setengah jam, sebuah ledakan terdengar bagaikan lonceng kematian. Barisan terdepan menghentikan laju kendaraannya membuat jalanan kembali berujung macet. Langit Pangkep diselimuti asap kelabu. Semua orang tak terkecuali Hamid merasa cemas—menerka-nerka apa yang telah terjadi.


Beberapa mobil kembali membuka celah dengan mengambil jalur keluar jalan. Meski beresiko tetapi tidak membuat mereka terjebak dalam kegalauan yang panjang. Hingga tiba di sekitar dermaga. Dunia seolah runtuh. Puing-puing kapal, kerangka mobil, dan sebagian api yang masih belum padam dari kumpulan ban bekas adalah pemandangan yang menyambut mereka.


Seperti orang gila, Hamid berlari keluar mobil, menghampiri bangkai mobil demi mobil, hingga menemukan mobil milik peninggalan ayahnya. Kap mobilnya terbuka, satu pintunya telah tanggal. Potret wajah ibunya membayang, berganti dengan kakaknya yang tengah hamil tua, lalu kedua ponakannya yang berusia delapan dan lima tahun.


Hamid merunduk, setetes air matanya meluncur. Iparnya yang membawa mobil telah tiada. Wajahnya berlumuran darah. Beberapa pecahan kaca menancap di sana. Hal yang sama terjadi pada saudara perempuannya yang tengah hamil tua. Setengah memaksa, Hamid menarik pintu mobil yang masih terkunci. Seseorang membantunya memecahkan kaca, membuka pintunya dan mengeluarkan ke dua keponakannya beserta sang ibu. Namun, kedatangannya di dahului oleh malaikat maut—kini dia sendiri.