
Aera sedang berkutat dengan segala lembar informasi yang akhirnya dia temukan, ketika panggilan dari Cyma mengalihkan atensinya.
"Kau di mana?" pertanyaan dari si Peyak yang langsung to the poin tanpa salam lebih dulu.
"Hhmmm ... ada apa? kau menggangguku."
"Cih, kau bahkan tidak repot-repot melihat kamera. Padahal aku mempunyai informasi yang sangat menarik," pancingan Cyma berhasil. Otak Aera yang sedang terfokus pada informasi yang dibutuhkannya seketika menoleh ke kamera mendengar kata 'informasi' dari Cyma.
Keningnya berkerut melihat Cyma yang setengah telanj*ng dengan handuk yang menutupi rambutnya.
"Surprise!" serunya riang. "Aku mendapatkan hadiah ini dari yang mulia," jelasnya sebelum diminta. Kulit wajahnya berubah warna menjadi merah muda, sedangkan senyumnya tentu saja terpasang seperti orang bodoh.
Ya ampun ekspresi menjijikkan apa itu?
"Jika kau hanya ingin pamer hal tidak berguna, telponnya aku matikan!"
Aera bahkan mengusir rekan-rekan kerjanya di kuantum Fox yang dengan suka cita menemuinya setelah mendengar kabar dia menghilang sebagai burunon, lalu koma, dan kini berakhir sebagai calon sang Pangeran Tampan. Tidak terkecuali para mahasiswanya yang datang dengan buah tangan. Bahkan sebelum mereka bisa menginjakkan kaki di ruangannya, dengan cepat Aera mengambil semua upeti yang mereka bawa. Menukarnya dengan senyuman manis dan ucapan terima kasih, sembari menyuruh mereka kembali ke kelas.
Prof, kapan anda akan kembali ke kelas? tanya seorang mahasiswa dengan upeti terbanyak. Juga masuk dalam golongan mahasiswa paling gigih mencari informasi keberadaan Aera sejak dinyatakan menghilang beberapa bulan lalu.
Minggu ini, jadi tugas terakhir aku harap semua sudah siap. Jawaban dari Aera seketika membungkam keinginan para mahasiswa untuk tour ke dalam ruang kerjanya yang jauh lebih luas dari kelas mereka.
Kalau begitu kami pamit, Prof, sampai jumpa di kelas nanti. Aera hanya mengangguk dan tersenyum penuh arti. Melihat banyaknya upeti membuatnya lebih dari siap untuk memulai misinya.
"Tunggu, tunggu! Iiih, dasar manusia tanpa hati," Cyma menggerutu, sedikit lega karena Aera belum memutus teleponnya. "Jam berapa kau ingin dijemput?"
Itu pertanyaan basa-basi? sejak kapan aku ingin dijemput saat pulang kerja?
Ke dua matanya berputar malas.
"Kau tahu aku bisa pulang sendiri, dan tidak pernah terpaku harus pulang jam berapa."
Cyma yang berada di seberang sana cemberut, "Aku kesepian tanpamu. Tapi tidak buruk, karena kasihan padaku makanya yang mulia memberikan hadiah istimewa ini padaku. Kau juga seharusnya di sini! Kulitmu akan semakin halus dan berseri!" Memang sangat mudah membenahi mood sahabatnya itu. Cukup dengan perawatan atau belanja dia akan tersenyum lebar.
Dengan akun parasitnya dia bisa masuk bebas tanpa harus menyamarkan sinyalnya, karena semua IP address Kuantum Fox bagaikan satu belitan yang hanya bisa diurai oleh para Ilmuan KF. Alasan ke dua, adalah Universitas Neitherland memiliki kewenangan membuka semua data demi kepentingan pembelajaran. Hal yang cukup bagi Aera untuk bisa melakukan segalanya tanpa takut tertangkap dan dicurigai pihak musuh.
"Kau menyelesaikan semua pekerjaanmu beberapa bulan terakhir?" Oh, tidak ekspresi menyebalkannya mulai muncul
"Kau harus istirahat! Jangan memaksakan diri. Jadwal terapimu bahkan belum selesai!"
Aera hanya bisa mendengus, mode ngomel Cyma on di tingkat anarkis. Bersyukur mereka berada dalam jarak jauh. "Ya, ya, ya, aku akan makan tepat waktu dan berdiri setiap tiga puluh menit," bujuk Aera dengan harapan Cyma berhenti mengoceh.
"Sebaiknya pegang janjimu!" Berhasil!
"O, ya, tadi ada tontonan seru. Sayang sekali kau tidak melihat dramanya." Aera mendengus sebal. Dia sudah menyangka Cyma membicarakan drama picisan terbaru, sebelum jarinya mengakhiri panggilan dari sahabatnya itu, Cyma menjelaskan kronologi perdebatan Epraim dan Shopia.
Aera terdiam, dia mengingat apa yang telah dia lakukan siang tadi. Matanya terpejam dan meringis. Bodoh! apa yang telah aku lakukan! sesalnya merutuki sikapnya pada Epraim. Usai puas bergosip ria akhirnya Cyma rela mengakhiri percakapan mereka.
"Wanita sok cantik itu, berani dia mengatakan hal buruk di belakangku. Jika bertemu lagi, dia yang akan aku tendang!" ucapnya bersungut-sungut tetapi di akhiri dengan senyuman ketika mengingat Epraim membelanya. Diraihnya sebotol air mineral, diteguk hingga habis tanpa sisa. Amarah membuatnya haus dan lapar. Sambil memasukkan beberapa kukis ke dalam mulutnya, dia membaca data demi data hingga akhirnya terdiam dan menyadari satu hal.
Apa-apaan ini?
***
Beberapa data di tahun 2025 yang terblokir kini berhasil dia buka. Tingkat kesulitannya seperti menyelam di ke dalaman samudra Atlantik Utara dan menemukan bangkai Titanic yang karam berabad-abad lampau. Tidak sampai di situ, karena informasinya hanya bisa terbaca ketika masuk ke dalam bangkai kapal yang gelap, menemukan ruangan penyimpanan brangkas informasi, membuka brankasnya dan memulihkan informasinya. Proses yang cukup membuat mata Aera perih, perutnya keroncongan.
Kini, setelah semua harta karun itu berhasil dia pulihkan dan informasinya dia dapatkan. Beberapa pertanyaan telah terjawab tetapi beberapa lagi melahirkan pertanyaan baru. Pemberitahuan adanya solar storm yang tidak dipublikasikan, perjanjian antara dua kubu yang berselisih, dan proses cuci otak para ilmuan jika benar semua itu ulah Roschiil maka yang paling mungkin menjadi tersangkanya adalah pihak yang paling dirugikan. Namun, berdasar data yang diperoleh Negara yang memiliki kerugian paling besar adalah pemimpin dua kubu itu sendiri; Kubu Kiri vs Kubu Kanan. Mengacuh pada posisi duduk Anggota diruang rapat BBB. Di lain sisi mereka pula otak dari segala kekejian yang merusak seperenam dari wilayah bumi.
Aera kembali membuka daftar negara yang memilih netral, tetapi akhirnya mereka menjadi bagian yang paling menyedihkan. Berperan sebagai budak dan prajurit baris terdepan. Prajurit yang memiliki misi perjalanan ke daerah-daerah yang terpapar radiasi untuk sebuah penelitian. Mereka adalah orang-orang yang siap mati agar keluarganya mendapat perlindungan di sebuah wilayah yang sengaja di selamatkan; Neitherland. Satu di antara negara itu adalah Indonesia.
Negara asal Aiwan?
Sayangnya tidak satupun Mentri yang berasal dari Indonesia. Bahkan dalam kelas budak, bangsa mereka sepertinya memiliki harga diri yang tinggi. Bagi mereka mati pilihan terbaik dibanding harus menjadi budak. Toh, Aera telah melihat masyarakat Pare. Hidup sulit dalam kebebasan lebih mereka sukai dibanding hidup dengan bergelimang teknologi tetapi terkurung dalam status budak yang mengerikan. Hanya ada segelintir orang yang benar-benar berasal dari Indonesia. Namun, mereka berstatus bangsawan yang cukup terpandang. Tampaknya mereka adalah orang-orang yang mengendalikan keuangan dunia, beberapa di antaranya adalah orang kepercayaan Roschiil.
Aera melirik jam, waktu nyaris petang tetapi pekerjaannya masih jauh dari kata selesai.