Neitherland

Neitherland
Season II, Kabar Buruk



Sejak seminggu belakangan ini. Swaillyn merasa ada yang aneh dengan dirinya. Indra penciumannya lebih sensitif. Bahkan seleranya pun berubah drastis. Seperti pagi ini, dia yang berasal dari Dullogh. Sebuah kerajaan yang meskipun kecil tetapi merupakan jalur perdagangan emas di antara kerajaan sekitar Mediterania hingga teluk Aegea telah terbiasa memakan daging ikan. Anehnya sejak mual di tepi sungai beberapa Minggu lalu kini Swaillyn tidak mampu mencium bau ikan.


Keluar dengan perut kosong, akhirnya Swaillyn jatuh tak sadarkan diri ketika melakukan tugasnya sebagai calon Imona. Tiba-tiba perasaan aneh menyelusup ke dalam sanubarinya. Kebersamaannya dengan Khufu nyaris satu purnama (1 purnama \= 29 hari dalam penanggalan Mesir Kuno) rupanya membawa pengaruh kuat yang entah mengapa kini membuatnya rindu.


Hah, rindu?


Wajah Swaillyn bersemu malu menyadari pemikirannya.


"Yang Mulia, cobalah minum ini."


Pandangan Swaillyn jatuh pada secangkir sirup magenta yang tampak menggoda.


"Apa itu, Drepta?"


Sang Budak setia menunduk, mendengar pertanyaan tuannya dia tersenyum dan menjawab santun.


"Ini khwarkhachd, Yang Mulia. Sirup yang berasal dari rebusan kelopak bunga hibiscus, bukankah tenggorokan, Yang Mulia terasa pahit? rasa asam dan manisnya mungkin akan terasa lebih baik dibanding 'sobat'."


Swaillyn mengangguk, dia tadi meminum 'sobat' sebuah minuman tradisional Memphis yang hanya disajikan untuk para bangsawan. Namun. tidak sampai setengah perutnya kembali bergejolak dahsyat. Swaillyn tahu, memuntahkannya akan menimbulkan rumor yang tidak baik, jadi sebisa mungkin dia kembali menelan cairan asam dan pahit yang telah melewati kerongkongannya hingga Ratu Meritites beranjak pamit.


"Terima kasih banyak, Drepta," puji Swaillyn tulus usai meneguk habis khwarkhachd yang diberikan padanya.


Tenggorokannya terasa lebih baik. Beberapa buah dan roti cukup mengganjal perutnya yang kini terlalu cerewet menyeleksi makanan.


"Tidak perlu selalu berterima kasih, Yang Mulia. Itu sudah tugasnya." Nefry, pelayan yang bertugas menjaga dan mengurus pakaian Swaillyn menyela.


Wajahnya terlihat dingin, tetapi sejak lebih dari empat belas hari menemani Swaillyn di Istana Timur, sikapnya selalu hangat dan waspada. Dia tidak pernah melewatkan segelas air putih sekalipun melewati kerongkongan Swaillyn tanpa lebih dulu dicicip olehnya. Nefry mengatur bantal giok, merapikan selembar sutra yang melapisi ranjang batu berhias emas, sebelum akhirnya memapah Swaillyn naik dan menutupnya dengan selimut berlapis kapas.


"Terima kasih tidak membuat tugas kalian menghilang atau merubahnya menjadi sesuatu yang bukan menjadi kewajiban kalian. Itu merupakan rasa syukurku karena kalian melakukannya dengan sangat baik," jelas Swaillyn berharap Nefry mengerti dan tidak terlalu kaku. "Baiklah, selamat beristirahat." Matanya terpejam sejurus kemudian napasnya mulai berembus teratur. Akting yang sempurna dan cukup menipu beberapa pelayan termasuk si Budak, Drepta.


sang Budak kini bergegas membereskan kamar dalam hening, takut Swaillyn terbangun oleh suara gaduh. Padahal Swaillyn bahkan tahu, pelayan lainnya berusaha mematikan penerangan yang berada di dekat kasurnya dan dekat kursi tempatnya makan. Hingga satu-satunya cahaya yang memasuki kamarnya hanyalah sinar purnama. Cahaya keemasannya merasuk dari jendela yang sengaja dibiarkan terbuka.


Swaillyn bahkan belum terlelap ketika mendengar seruan penjaga yang berada diluar kamar. Perasaan rindunya kian membara hingga dadanya berdegup kencang. Ingin rasanya dia membuka mata tetapi menunggu salah satu pelayannya membangunkannya mungkin jauh lebih normal. Jika tidak sandiwaranya; tidur tepat waktu selama ini bisa terbongkar, dan itu bukanlah sesuatu yang baik.


Swaillyn menunggu dengan sedikit perasaan cemas bercampur bahagia. Namun, hingga suara yang dia ketahui milik tabib sang Raja terdengar tidak satu pun yang membangunkannya. Perasaannya dengan cepat berubah menjadi sedih dan kecewa.


Kenapa mereka tidak membiarkanku melihat wajahnya?


Satu lagi yang berubah darinya yaitu emosinya yang tetiba menjadi labil. Biasanya dia selalu berpikir positif, tetapi tidak kali ini. Ketika hati dan kepalanya sedang berkecamuk oleh sedih dan kecewa, suara Rahab kembali terdengar.


Oh, tidak! apa dia tahu aku tidak tidur?


"Sang Putri tengah H.a.m.i.l," lirih suara Rahab seolah takut dinding yang memiliki telinga bisa mendengarnya.


Syukurlah, aku pikir dia akan membuka kedokku di depan Khufu. Rupanya ... apa? hamil! aku?


Pembicaraan selanjutnya membuat Swaillyn nyaris mati karena menahan napas terlalu lama. Namun, detik selanjutnya, semua yang dia tahan perlahan keluar beriring air mata dan sesak di dadanya. Tubuhnya bergerak normal layaknya orang tidur, dan berbalik memunggungi semua orang. Toh, kamarnya juga masih dalam kondisi gulita. Khufu kembali menyuruh mematikan semua pelita ketika mendengar, Swaillyn baru bisa terlelap setelah sebelumnya terus menerus m.u.n.t.a.h.


Perlahan rasa sakit, takut, terluka dan terhina di malam itu kembali dalam potongan-potongan ingatan yang membawa kenangan buruk.


H.a.m.i.l


aku h.a.m.i.l ...


D.e.s.a.h.a.n Arkham berdenging di telinganya. Kini napas Swaillyn kembali naik turun tak beraturan karena amarah dan rasa hina tak tertahankan. Dia tampak seperti mimpi buruk. Lalu rasa jijik itu saling tindih dengan ingatannya pada sentuhan Arkham, b.e.l.a.i.a.nnya, c.u.m.b.u.a.nnya, kecupan-kecupan yang meski awalnya kasar dan menyakitkan, tetapi setelah kesekian kalinya berubah menjadi lembut dan penuh g.a.i.r.a.h.


Persetan dengan kelembutan terkutuk itu. Fakta hidup Swaillyn hancur karenanya tidak akan bisa menjadi lebih baik hanya dengan secuil kenangan baik itu. Heh, itu bahkan tidak bisa dikatakan baik. Karena saat itu Swaillyn masih sangat menderita. Tubuhnya hancur remuk dan kesakitan. Namun, tadi sikap lembutnya bahkan tidak menolerir semua itu. Buktinya tindakan bejadnya terus berlanjut hingga membuat Swaillyn terjatuh tak sadarkan diri. Lembut? yang benar saja. Dia telah lelah tapi masih saja memiliki segudang nafsu nista yang tak tertahankan karena itu gerakannya melemah.


Yah, dibanding kata lembut. Lemah jauh lebih tepat.


Dan sekarang aku mengandung darah daging manusia bejad dengan segudang nafsu hewan itu ... Sebisa mungkin Swaillyn menahan untuk tidak terisak. Dia sudah terbiasa menangis dalam diam. Menangis dalam gelapnya malam.


"Jika putri bukan calon Imona, mungkin tidak masalah. Namun, siapapun tahu sang Imona telah terpilih dan itu karena rumor yang anda ciptakan. Rumor itu, tidak masalah jika hanya sebatas kedudukan Imona, Amun tidak akan diam jika rumor tak berdasar akhirnya membawa seorang Imon yang bahkan tidak memiliki darah murni Cheops."


"Ibunya Imona dan lahir di Cheops, tidakkah itu cukup?"


Swaillyn tidak mengerti mengapa Khufu berpihak pada bayi monster dalam kandungannya, tetapi mendengar Rahab mendengus dia sedikit lega.


"Anda jelas tahu darah murni yang aku maksud."


Detik selanjutnya hanya diisi oleh keheningan yang menyiksa hingga ke alam mimpi yang membuat Nefry terpaksa membangunkan Swaillyn karena keringat dingin.


"Yang Mulia, di mana dia?" tanyanya masih dengan air mata yang menggenang.


Nefry mengerutkan dahi. Mungkin dia berpikir Swaillyn sedang bermimpi buruk berhubungan dengan yang mulia. Dalam tradisi Cheops mimpi memiliki makna kuat dan merupakan petunjuk Amun untuk para Imon dan Imona. Namun, pernikahan mereka belum terlaksana. Dia belum menjadi Imona. Maka Nefry memutuskan mengabaikan mimpi itu dan kembali menenangkan Swaillyn dengan segelas minuman.


Nefry sungguh tidak menduga, kedatangan Khufu dan tabibnya beberapa jam yang lalu yang kini dipertanyakan oleh Swaillyn.


"Tidurlah kembali, anda hanya bermimpi buruk."