Neitherland

Neitherland
24 : Mansion Tuan Piller



"Kalian berdua bisa keluar sekarang. Aku akan ikuti dari sini, jadi jangan bicara apapun tentangku," Keri mewanti-wanti, "Selain itu, ingat waktu kita tidak banyak jangan berbasa-basi langsung saja pinjam senjatanya."


Aera tampak terkejut mendengar suara Keri bergema di dalam kepalanya. Berbeda dengan Gian yang sebelumnya pernah mendengar suara Aiwan, kini dia terlihat lebih santai dan mulai terbiasa dengan inside audio milik Aiwan dan Keri. Sesaat setelah mengatakan maksudnya, Keri menarik tangannya. Genggaman Aera dan Gian pun terlepas, mereka keluar dari mantel Keri yang ternyata berada di dalam kamar mandi.


Keri sialan! Aera menyalahkan Keri ketika kakinya membentur closet dan melahirkan suara gaduh.


Gian berbalik menatapnya seolah bertanya Kau baik-baik saja? yang hanya dibalas cengiran bodoh darinya. Sedikit ragu, Gian memutar knop pintu dan melangkah keluar. Rupanya Tuan Piller telah berdiri di sana, di balik meja kerjanya. Tubuhnya tegap--siaga. Matanya berkilat bahagia ketika menyaksikan Gian keluar dari WC.


Dengan senyum karismatik dia mengitari mejanya dan berjalan menghampiri Gian. Menariknya dalam pelukan hangat, seperti pelukan orang tua yang merindukan anaknya.


"Aku sungguh bersyukur Yang Mulia baik-baik saja," gumam Piller.


Gian balas memeluk, senyumnya tersungging. Rasa haru dan hangat menyelimuti hatinya, "Terima kasih, Tuan, masih menyambutku dengan baik."


Piller melepas pelukannya, "Kau harus tahu, rumahku selalu terbuka untukmu, Yang Mulia."


Aera berdehem, mengintrupsi acara reuni Gian Piller.


"O, iya, Tuan, maaf aku telah mengajak temanku ke dalam rumahmu tanpa izin lebih dulu," tutur Gian sedikit canggung.


Piller menatap Aera dan tersenyum penuh makna. Aera mengangguk, menaruh hormat.


"Kau tahu, apapun untukmu tidak memerlukan izinku, Yang Mulia--"


"Kau selalu murah hati, Tuan, aku berharap punya cukup kesempatan membalas semua kesetiaanmu. Sayangnya, hari ini belum waktunya. Dan sebaliknya aku berharap kau bisa membantuku." Gian memotong ucapan Piller.


"Apapun itu, Yang Mulia, Anda tidak perlu sungkan padaku."


"Aku butuh senjata. Bisakah aku meminjamnya dari markas militermu?"


"Senjata?" Piller menatap Aera, Jadi humanoid pembunuh terbaik itu bukan dia?


Tatapannya kembali kepada Gian, bibirnya tersungging ramah, "Tentu kaubisa memilikinya. Tapi bukan dari markas militer. Kalian terburu-buru 'kan? ikuti aku."


Piller melangkah mendekati lemari yang berada di belakang meja kerjanya. Dia mengusap permukaan hidung miniatur patungnya, dan menyanyikan sebuah syair.


^^^La terre tremblera d'un profond tremblement,^^^


^^^Et les hommes diront : Qu'a-t-elle ? En ce moment,^^^


^^^Sortant de l'ombre en foule ainsi que des couleuvres,^^^


^^^Pâles, les morts viendront pour regarder leurs œuvres.^^^


^^^Ceux qui firent le mal le poids d'une fourmi^^^


^^^Ceux qui firent le bien ce que pèse une mouche^^^


^^^Le verront, et Satan leur sera moins farouche.^^^


Tepat ketika syair itu selesai dikumandangkan, pintu rahasia yang berada di lantai tepatnya di bawah meja kerjanya terbuka. Beberapa tangga menuju ruangan bawah tampak jelas, disiram cahaya kuning lampu yang terpasang di dalamnya. Piller melangkah dan maju dan mulai menuruni anak tangga. Gian dan Aera segera mengekorinya.


"Aku tidak menyangka, Anda menyukai puisi." Suara Aera bergema.


Piller tersenyum, dia mengangguk tapi langkahnya terus menuruni tangga yang tampak tak berujung.


"Kau tahu itu puisi? padahal aku membacanya sambil bersenandung."


"Aku bahkan tahu itu puisi siapa," Aera menyombongkan dirinya "O, ya, Anda komposer musik terbaik Tuan, musikalisasi puisi yang Anda bawakan tadi, menakjubkan. Tiba-tiba aku memahami makna lain puisi itu."


Piller tergelak. Suaranya memantul di antara dinding dan langit-langit terowongan.


"Yang Mulia, rekan Anda sungguh berbakat memikat hati orang lain."


Gian mengangguk setuju walau setengah hatinya jelas menolak. Memikat hati? yang benar saja! Selama ini apa yang Aera lakukan padanya jelas tidak bisa disebut sebagai upaya memikat hati. Tetapi situasinya memang berbeda 'kan? Ah, entahlah!


Hati dan otak Gian tengah beradu argumen.


"Jadi, bisa kau katakan puisi siapa itu?" lanjut tuan Piller.


"Terima kasih pujiannya, Tuan. Aku yakin betul itu puisi Victor Hugo, aku pikir kita memiliki penyair favorit yang sama."


Piller kembali tergelak, langkahnya terhenti, dia menempelkan tangannya. Sebuah layar hologram muncul mengindentifikasi wajahnya. Verifikasi sukses, pintu berlapis baja itu terbuka. sebuah ruangan yang bahkan lebih luas dari apartemen Aera dengan ribuan senjata terpampang di sana.


"Ambil apapun yang kalian butuhkan, tidak perlu sungkan." Piller mempersilahkan mereka masuk dan mengambil senjata. Dia menatap Aera, "Maaf Nona, karena perkenalan kita yang singkat aku tidak bisa memberikan jamuan terbaik. Aku mengenal nenek dan ibumu dengan baik, semoga nanti kita memiliki waktu untuk berbagi cerita hangat layaknya keluarga."


"Kau sungguh orang yang hangat, Tuan Piller. Aku akan memberikanmu hadiah unik tiada duanya di Neitherland jika umurku ternyata masih panjang."


"Tentaraku tidak bisa membantu 'kan?"


Gian mengangguk, dia menepuk bahu Tuan Piller.


"Kau sudah lebih dari cukup membantuku. Terima kasih."


"Kembalilah dengan selamat, dan untukmu Nona, terima kasih telah membantu, Yang Mulia. Jika kita bertemu lagi aku akan memberikan buku koleksi puisi Victor Hugo 'Odes et Ballades' cetakan pertama."


Dengan mata berbinar Aera mengacungkan jempol, "Sebaiknya kau menepati janjimu, Tuan."