Neitherland

Neitherland
Season II, Rencana Keri



Apartemen Aera


Ries terus menggigit kukunya hingga ujung jarinya mulai mengeluarkan darah. Kebiasaan buruk yang selalu dia lakukan ketika terlalu khawatir pun takut. Tidak lama setelah mobil yang membawa teman-temannya meninggalkan basement, suara Aera bergema.


"Perubahan rencana, jangan ada yang keluar. Aiwan telah tertangkap ...."


Kalimatnya bahkan belum selesai, tetapi sinyal mereka kembali terputus. Hingga kini keberadaan Aera dan Aiwan menghilang dari radar mereka. Kedatangan rekan-rekannya bagai bunuh diri. Pengorbanan yang sia-sia. Bagaiman tidak, istana Roschiil sekarang merupakan pabrik nuklir yang rawan meledak. Pertempuran mereka dengan senjata jelas tidak mungkin tanpa bantuan Aiwan. Ruang kuantum yang mereka harapkan menjadi pelindung ketika hendak menyerang kini tinggal angan.


"Apa yang harus kita lakukan," gumam Ries bagai kehilangan akal. Antonius yang baru menyadari kebodohan rekannya segera menarik kedua tangannya. Menghentikan sang Pemilik melukai diri sendiri.


"Lepas!" Ries menggunakan nada suara terendah dengan tekanan tegas.


"Maka kau harus berhenti melukai jarimu." Antonius mengedipkan sebelah matanya. "Tenanglah ... kau tahu, pahlawan selalu kalah di awal permainan, tetapi mereka yang akan bertepuk tangan sebelum film usai."


"Tapi beberapa film bahkan kehilangan tokoh utamanya," balas Ries sebelum akhirnya menarik tangannya kasar.


***


Aera tersadar dengan sara sakit yang amat, tepat di tengkuknya. Ini kali pertama dia kehilangan kesadaran setelah sembuh beberapa bulan yang lalu. Tubuhnya dibalut sutra putih yang indah. Satu hal yang dia sadari, lengan dan kakinya terasa lemas kehilangan tenaga. Lensa optiknya pun telah lepas dari matanya.


Iblis ba-ng-sat! umpatnya dalam hati.


Beberapa musik setan mulai terdengar melengking. Kepalanya mencoba berputar mengenali tempat dimana tubuhnya terlentang tak berdaya. Altar ini, ruang penuh ukiran hieroglif dan semua simbol setan yang mengelilinginya. Bagai deja vu, sebelumnya dia pernah melihat semua ini, tetapi bukan dirinya yang menjadi tumbal.


Selanjutnya suara umpatan dari beberapa orang yang dia kenali; Aiwan, Morat, Gian, Stego? Aera menghela napas, mereka semua di sini, tetapi posisinya sangat tidak menguntungkan. Makian mereka saling sahut dengan nyanyian para penyembah setan.


Tepat ketika gerhana nyaris sempurna, puja-puji beriring musik kian melengking. Cukup membuat kepala pening dan sedikit merinding. Roschiil datang dengan seringai yang diiringi hawa neraka. Gladiusnya terangkat membela udara. Sinar purnama menyirami badan perak dan melahirkan cahaya paling silau yang membuat Aera memejam seiring meluncurnya si Gladius menuju jantungnya.


***


Sebuah perisai yang mampu menyengat dan menghisap semua kekuatan Aiwan membuatnya hanya mampu berdiri bagai sehelai kain yang digantung. Tampaknya setelah pertemuan mereka terakhir kali. Roschiil membuat kurungan khusus untuknya. Namun, yang membuat Aiwan masuk ke dalam perangkap bukan karena kehebatan Roschiil.


Hmmm, ya, mungkin benar hebat juga salah satu penyebabnya.


Toh, bagaimanapun prosesnya hasil akhirnya dia tetap tertangkap.


Semua karena keterkejutan Aiwan melihat Zerah masih sehat dan hidup. Atau juga masih hidup dan sehat. Entah, yang jelas fakta dia belum meninggalkan dunia ini membuatnya tak sengaja keluar dari mantel dan menanyakan kejadian sesungguhnya. Namun, seperti yang dia perkirakan. Wanita yang dulunya mengisi semua hatinya rupanya salah satu kaki tangan Roschiil. Mungkin itulah alasan mengapa Aera begitu membencinya.


Kasadarannya nyaris menghilang ketika sengatan listrik dari sulur sinaptik yang membelenggunya semakin tinggi.


"Payah, kau bahkan tidak bisa lepas dari jerat itu."


Keri? apa ini halusinasi lagi?


"Ya, kau terlalu merindukanku jadi sering berhalusinasi tentangku," Keri tergelak. "Aku bahkan bukan wanita tapi kau segitu rindunya."


Ah, suaranya mulai menjengkelkan. Sebaiknya ini bukan halusinasi agar kau, pesek yang menyebalkan bisa segera melepaskanku.


"Jika seperti itu kau harus memohon dan mengurbankan seekor rusa. Ah, entah berapa lama aku tidak lagi memakan dendeng Rusa."


Aneh, ini terasa nyata!


Aiwan membuka kedua matanya. Keri tampak bagai makhluk astral; transparan dan melayang. Saat itu pula sengatan-sengatain dari sulur sinaptik menghilang.


"Lain kali ketika aku menyuruhmu belajar, menurutlah. Ini belum waktunya aku muncul, dasar merepotkan."


Aiwan tertawa, badannya sampai terguncang. Rasa senang melampaui rasa sakit yang membuat kulitnya lebam.


"Baiklah, aku harus menyelamatkan yang lain, kau urus Aera." Aiwan hendak melangkah tetapi tenaganya belum pulih, dia terjatuh ke lantai dan sulit bangkit lagi.


"Belum waktunya. Biarkan mereka semua mati," ucap Keri yang membuat Aiwan membelalak kesal. "Percaya padaku, semua bisa selamat selagi kau tetap diam."


Sejurus kemudian layar hologram muncul di hadapan Aiwan. Bersama para penjaga yang menerobos tahanannya, menyeretnya serupa terpidana mati, tetapi dia memang akan mati 'kan?


Sebelumnya keraguan masih menyiksanya, bagaimana mungkin Keri menyuruh mereka semua mati? Mungkin yang tadi hanya menipulasi Roschiil? pikirnya. Namun, setelah melihat tidak satupun yang bisa melihat hologram yang ada di hadapannya selain dirinya kepercayaan pada Keri kembali tumbuh


Sungguh luar biasa.


Usai segala musik yang membuatnya pening mulai terasa hening. Roschiil membaca mantra. Para gadis menangis, memekik, bau darah mulai memenuhi ruangan. Degub jantung Aiwan kini tak karuan. Dia tidak sanggup melihat rekan-rekannya dikuliti bagai domba dan sapi perah. Tetapi yang tidak bisa dia mengerti mengapa Gian diikat di depan sebagai pajangan. Tidak berada di barisan kurban seperti mereka?


"Karena wajahnya mirip dengan anak pertama Tuan Piller dan Henutsa atau Henutsen atau Swaillyn atau apalah itu," jawaban Keri terdengar di kepala Aiwan tetapi membuatnya semakin bingung.


"Oiya, aku lupa kau bahkan tidak tahu jika kekaisaran Neitherland itu berasal dari keturunan langsung Tuan Piller dan istrinya Henutsa atau Henutsen atau Swaillyn ya pokoknya wanita itu."


Keri kembali mengiriminya sebuah hologram, menampilkan peti yang berada di ruang utama. Ruang dimana Aera terbaring di atas altar sedang di sampingnya Roschiil menari kesetanan.


"Tepatnya putri ke tiga mereka. Hidup ribuan tahun ternyata mereka sulit mendapat keturunan."


Tunggu, ini semakin membingungkan. Jika wanita itu istri tuan Piller apa hubungannya dengan Roschiil? Lalu dari mana kau tahu semua itu?


"Bukankah sudah jelas, Si Lucifer mencintai istri saudaranya sendiri."


Apa? Roschiil dan Tuan Piller bersaudara?


"Ya, tentang bagaimana aku bisa tahu semua, itu karena mantan kekasihmu sukses mengembangkan alat pembaca memori. Dia menggunakannya pada Aeraku yang malang."


Tubuh Aiwan telah penuh sayatan darahnya pun telah mengucur deras. Namun keningnya mengerut bukan karena perih, melainkan karena ucapan Keri.


"Lalu aku salin saja programnya, dan aku kembangkan dengan cara paling mutakhir. Kau bisa tebak selanjutnya."


Kau menggunakannya pada Roschiil?


"Binggo! tapi dia tidak akan sadar. Tanpa sulur tanpa bius, dia hanya perlu tidur karena berpikir terlalu lelah dan ... aku bisa membaca semua kehidupannya."


Aiwan tidak bisa lebih takjub lagi mendengar penuturan Keri, bagaimana AI itu bisa berkembang sepesat ini merupakan sesuatu yang sangat luar biasa baginya.


Benar kau akan membiarkan kami semua mati?


Pertanyaan terakhir Aiwan sebelum kesadarannya lenyap karena kurangnya pasokan darah. Beberapa saat yang lalu dia bahkan menyaksikan Aera merenggang nyawa, dadanya dikoyak dan darahnya dipindahkan ke sebuah tabung raksasa--mungkin akan dialirkan ke dalam tubuh Swaillyn.