Neitherland

Neitherland
Season II, Pertolongan yang Terlambat



Di tengah rasa sakit yang menghujam tubuhnya Swaillyn berharap para dewa mencabut nyawanya. Dia yakin mati jauh lebih baik di banding hidup hina seperti ini. ******* dan erangan yang lepas dari bibir Arkham memenuhi tenda. Keheningan di luar membuatnya merasa mereka menjadi tontonan para prajurit perang.


Arkham masih dalam sakau pada kemolekan tubuhnya yang hakiki. Tanpa mencoba bersikap lembut tubuhnya terus menghujam ke dalam Swaillyn. Sakit, perih, hancur semua membaur menjadi satu membuat Swaillyn menyesali kehidupannya sejak 14 tahun terakhir. Apa salah dan dosanya? mengapa para dewa tidak menolongnya justru menyaksikannya dihancurkan dengan cara paling hina.


Air mata yang membanjiri wajahnya justru menjadi pembangkit semangat Arkham. Si Bejat itu semakin bernafsu menjilati dan meremuk paksa kulit putih Swaillyn dengan lidahnya yang kotor. Swailly merasa leher, dada hingga perutnya terasa sakit. Mungkin jejak lebam bagai disengat makhluk astral telah terlukis di setiap inci permukaan tubuhnya. Hingga rasa sakit dan pedih itu tidak lagi bisa terasa karena terlalu dalam, Swaillyn memejam berharap maut memiliki belas kasih.


Gadis itu jatuh tak sadarkan diri dengan kondisi mengenaskan.


***


Arkham mulai tersadar dari pengaruh alkohol ketika semua tubuhnya terasa letih dan telinganya menangkap keributan di luar tenda. Dia mengerjap, fajar bahkan belum tiba mengapa para prajuritnya tidak beristirahat dengan tenang alih-alih melakukan keributan yang bisa memancing murkanya. Dia mendengus sebal, sejak mengetahui Swaillyn kabur emosinya menjadi labil. Arkham melirik ke kanan. Gadis di sampingnya tengah menutup mata, sisa tangisnya yang sebenarnya menyayat hatinya masih membekas di wajahnya.


Tubuh polosnya yang dibiarkan terbuka penuh dengan jejak nafsunya. Ujung bibirnya menukik sinis. Sejak dulu, dia jatuh cinta pada gadis kecil rupawan itu. Namun, kakaknya yang menyebalkan tidak pernah mau membawanya lebih dekat dengan Swaillyn. Sial memang, demi gadis kecil ini dia akhirnya menghabiskan sebagian besar anggaran perang untuk menggempur Cheops.


Jalur ke dua negara jelas bertolak belakang jaraknya juga tidak dekat tetapi jika tidak melakukannya dalam ekspedisi kali ini, dia tidak akan pernah mendapatkan Swaillyn. Cheops bisa menunggu. Karena pimpinan mereka kali ini hanya orang dungu yang bahkan tidak mengerti apa itu pedang. Begitu yang dia ketahui, atau sebatas itu yang ingin dia ketahui, entahlah. Namun, setelah melewati malam ini dia merasa puasa dan tidak merasa menyesal harus menempuh jarak dua kali lebih panjang.


Pandangan Arkham terhenti tepat di bagian bawah Swaillyn. Dia terkejut melihat begitu banyak darah yang keluar di sana. Sebelumnya dia bahkan pernah merengut kesucian anak yang jauh lebih belia dari Swaillyn, memang ada banyak darah tapi tidak seperti sekarang.


Apa dia baik-baik saja? Pertanyaan yang mengusik benaknya.


Cih, apa peduliku? yang terpenting hasrat dan obsesiku selama ini telah terpuaskan.


Meskipun berpikir begitu hatinya tetap tidak tenang. Ada bagian dalam dirinya yang merasa hanya dengan bersama Swaillyn dia merasa tenang dan nyaman. Gadis yang baru dia siksa entah berapa lama membuatnya merasa cukup tanpa tahta ataupun harta.


Gila! dia mengumpat pemikirannya yang berjalan keluar dari rasionalitas seorang putra mahkota. Tak ingin berpikir lebih, dia bangkit. menutup tubuh bawahnya dengan seragam perang. Jubah yang tebal berlapis zirah dengan selipan pisau lempar ditutupnya di tubuh Swaillyn. Dia hanya tidak ingin anak itu cepat mati dan kesenangannya terenggut. Hanya dengan selembar satin dia menutup tubuhnya yang polos, keluar tenda mencari sang tabib.


Swaillyn mungkin akan benar-benar mati karena kehabisan darah jika dibiarkan tanpa diobati. Padahal sebelumnya dia tidak pernah memikirkan korban nafsu buasnya. puluhan bahkan ratusan gadis belia yang masih suci korban perang yang telah dia hancurkan. Tidak sedikit dari mereka kehilangan nyawa setelah digilir oleh beberapa prajuritnya. Swaillyn adalah salah satu putri kerajaan yang hanya bisa disentuh olehnya. Tatapan buas para prajurit yang menangkap gadis itu seketika luntur menghadapi peringatan Arkham.


"Ada apa?" tanyanya tanpa membuka pintu.


"Kita di serang! tenda di arah Selatan habis di bakar!"


Tanpa menunggu lebih lama Arkham bergegas keluar dengan menyumpah serapah. Dia berjanji akan menguliti siapapun yang berani mencari masalah dengannya. Sejauh ini tidak akan ada yang kembali mendapat hidupnya setelah melukai prajuritnya. Swaillyn pengecualian, tetapi sekarang gadis itupun berada dalam gerbang kematian. Karena serangan dadakan Arkham lupa niatnya memanggil tabib.


Belum jauh mereka meninggalkan tenda, api dari arah Utara mengejutkan mereka, selanjutnya arah Timur dan Barat pun mulai menggelora. Mereka di serang dari berbagai arah. Arkham murka, ada pengkhianat di antara informannya.


***


Suara ricuh dan dentingan pedang yang saling beradu membuat Swaillyn terjaga. Rasa sakit yang menggerogoti tubuh dan jiwanya belum juga sirna. Air matanya telah mengering. Seperti darah yang dia rasakan telah mengental di antara selangkangannya. Pahanya bahkan menempel dengan sutra yang memisahkan tubuhnya dengan selembar kayu di bawah sana.


Berkali-kali dia mencoba menggerakkan kakinya, rasa sakit yang menahannya membuatnya meringis dan gemetaran. Akhirnya dia menyerah dan kembali mengeluarkan air mata. Dia bahkan baru menyadari selembar jubah perang Arkham telah menutup tubuhnya. Diliriknya jubah itu, sebilah pisau yang terselip di samping kirinya adalah yang pertama dia temukan.


Swaillyn menerawang ke langit tenda. Perlahan suara disekitarnya meluruh. Dia tidak lagi mendengar teriakan para prajurit yang perutnya terkoyak pedang. Atau tangis para budak rampasan perang ikut terbakar karena tidak sempat kabur. Semua keributan di luar tidak lagi menjadi gangguan baginya. Hanya ada rasa sakit, kehampaan, keheningan dan kehancuran yang terdengar dari setiap tubuhnya.


Swaillyn menatap pintu, tangan kanannya meraih pisau. Dalam satu tarikan napas dia menghujam perutnya. Pisau yang telah menelan ribuan nyawa setelah berhasil mendarat di tempat yang tepat. Kepala pisau itu berukir kepala singa persis seperti ukiran pada bantal marmer yang dia gunakan saat ini. Lambang ukiran yang menunjukkan kepemilikan Arkham, putra mahkota Hittie.


Tidak ada lagi sara sakit dan perih, karena sakit sebelumnya bahkan belum hilang. Semua terasa keram, terlalu hampa dan dalam menyayat. Swaillyn hanya mengingat suhu darahnya yang terasa panas saat mengalir menyapa kulit tangannya. Sebelum nafasnya terasa sesak dan tenggorokannya terbatuk-batuk. Dia melihat pintu tenda terbuka. Sosok pria asing berteriak. Menit selanjutnya seseorang mendekat.


Pandangan matanya telah kabur. Dia tidak bis menebak sosok yang berada di depannya adalah monster yang menyiksanya bagai ribuan tahun atau bukan. Satu yang pasti Swaillyn merasakan kekhawatiran dari suara pria tersebut. Sebelum kesadarannya menguap, nama yang sejak tadi di dengungkan oleh sang pria kembali terdengar.


"Aera ... kumohon bertahan," pinta suara itu bergetar.