Neitherland

Neitherland
12 : Zerah



“Kau harus keluar dari operasi militer 2544,” desak Zerah. Sengaja dia menekan suaranya, saat mengeja angka—kode operasi militer gabungan dari beberapa negara adikuasa.


Aiwan menatapnya, sorotnya mengiba. Namun, Zerah mencoba abai. “Perang, punya aturan. Mereka tidak ingin berperang! Semua itu omong kosong. Mereka merencanakan sesuatu yang jauh lebih keji.” Geraham Zerah bergeretak. Sorotnya membara. Suaranya menjadi lebih berat.


Ke dua tangan Aiwan merengkuh lengannya, “Rah, perang mana yang tidak keji?” Aiwan mencoba meyakinkan, suaranya selembut angin musim semi.


Zerah menggeleng. Matanya mengawasi sekelilingnya. Tampak para ilmuan itu sedang sibuk bercengkrama satu sama lain. Beberapa tengah sibuk menyantap menu makan siangnya. Dan, yang lain asyik dengan dunianya sendiri. Kehadiran Aiwan yang menggunakan seragam lengkap—tidak menarik perhatian mereka.


Ditariknya tangan Aiwan yang masih merengkuh lengannya. Mereka berdiri di ujung koridor yang memisahkan kantin dan toilet. Setelah merasa aman, Zerah kembali mendekat dan berbisik, “Aku membuka data mereka. Aku tahu semuanya.”


Aiwan membelalak, bersyukur keterkejutannya luput dari Zerah. “Perang hanya alasan. Yang sebenarnya mereka merencanakan tindak kejahatan genosida terbesar sepanjang sejarah manusia. Mereka ingin menghapus semua agama. Melenyapkan 1/8 manusia, lewat hidrogen, pandemi, dan rudal sebagai sentuhan akhirnya.” Suaranya bergetar, ke dua matanya berkaca-kaca. Kepalanya menengadah, kembali menatap Aiwan yang diam tak berkutik.


“Mereka iblis! Kau harus keluar dari operasi itu dan mari kita beritakan pada dunia rencana busuk mereka,” Zerah memelas. Tatapannya mengiba. Namun, wajahnya segera berubah kesal saat menyadari Aiwan bergeming.


“Kau sudah tahukan?” selidiknya.


Sorot Aiwan menyayat hatinya, ada kejujuran yang membuatnya terluka. Pria itu menghela nafas panjang. Saat itu pula Zerah melepas genggamannya, tubuhnya menjauh.


“Aku tidak percaya,” gumamnya sembari menggeleng.


“Rah ....”


“Kau telah tahu semuanya tapi tetap ingin melakukannya?”


Untuk kesekian kalinya Aiwan bergeming dan hanya sorotnya yang berbicara hingga menyisakan luka.


“Apa yang mereka janjikan hingga kau kehilangan nuranimu?” Zerah nyaris memekik. Wajahnya merah padam. Air matanya telah mengalir di antara lekuk pipi dan hidungnya.


“Bayangkan jika dalam kamp-kamp pengungsian itu ada aku, ibumu atau anak kita yang belum sempat lahir. Kau masih ingin melakukannya?” Suaranya melunak, Zerah mencoba merayu kekasihnya.


Aiwan menggeleng, “Aku tidak bisa membiarkanmu atau ibuku terluka karena itu aku harus melakukannya,” paparnya selembut mungkin.


Zerah tercengang, dia tahu seperti apa Aiwan jika telah memutuskan sesuatu. Berdebat tentu bukan pilihan yang bijak. “Aku mohon, keluar dari operasi keji itu. Kita bisa kabur dan membawa sebanyak mungkin orang untuk bersembunyi. Kita bisa menyelamatkan anak-anak dan lansia yang tidak berdaya. Kita masih punya waktu membocorkan pada dunia. Mari kita lakukan, kumohon ...,” bujuknya.


“Bersembunyi ke mana? Aku hanya bisa menyembunyikan kalian di bawah tangan mereka,” imbuh Aiwan nyaris tak terdengar. Dia terlihat jauh lebih frustasi dibanding Zerah yang punya seribu solusi di benaknya.


“Kau menyerah semudah itu?”


“Ini tidak mudah Rah, aku tahu siapa yang akan kita hadapi, perlawanan hanya akan berujung pada kematian dan aku masih ingin bersamamu,” tegas Aiwan memberi pengertian.


“Kita belum mencobanya,”


“Tapi kita telah kalah, mereka terlalu kuat,” Aiwan masih bersikeras.


“Hei, kita menang jumlah. Mereka hanya segelintir orang, target mereka adalah teman kita. Tidak bisakah kita bertaruh dengan itu?” mata Zerah berbinar. Namun, harapannya secepat kilat menghilang ketika melihat Aiwan menggeleng.


“Sejak dulu dunia dikendalikan oleh segelintir orang. Jumlah yang banyak hanya menjadi alat, saat tidak diperlukan mereka bisa dengan mudah dihancurkan. Mengapa? Karena mereka hanya punya jumlah tidak punya kekuatan.”


Zerah kembali terpukul mundur, “Belum terlambat 'kan? Aku tahu operasi itu akan berjalan dua Minggu lagi. Kita bisa menghimpun kekuatan. Kita bisa meminta para pemuka agama yang percaya tuhan memohon doa ...,” lirih Zerah. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Saat itu pula nada dering yang berasal dari android Aiwan, mengintrupsi percakapan mereka.


Aiwan menenangkannya tapi ditepi kasar olehnya, “Baiklah kalau begitu kau cukup memilih siapa, aku atau mereka?” tanyanya berjalan mundur.


“Rah, tolong. Ini bukan hal yang bisa ditawar.”


“Aku tahu pilihanmu. Jadi jangan mengejarku, baiklah aku akan pergi sendiri!” tandasnya lalu berlari menjauhi Aiwan ke dalam Labaratorium. Sebelum ujung koridor menelan sosoknya. Zerah berbalik, Aiwan terlihat berbicara di telepon dengan posisi tegap lurus. Dia memaki kesal, sebelum akhirnya kembali berlari.


Dengan air mata berlinang dan kekesalan yang memuncak, Zerah mengepack pakaiannya. Beberapa temannya sempat menanyakan keadaannya saat tadi mereka berpapasan. Beberapa lainnya menduga dia telah putus dengan kekasihnya yang tampan.


“Apa yang terjadi Ze?” tanya Ava sahabatnya.


Zerah berhenti, tubuhnya lurus tegap lalu berbalik ke arah pintu. Tangisnya pecah, dia berlari menghampiri Ava sembari sesegukan. Bayangan tentang orang tuanya yang berpisah setelah memilih agamanya masing-masing bersileweran di benaknya. Tentang anak-anak panti Amserald, yang sebagian besar terdiri dari bayi dan balita serta panti-panti jompo yang ditinggalkan keluarganya.


“Semua berhak hidup,” gumamnya. Ava yang tidak mengerti terbengong dan berpikir Zerah hanya sedang mengucapkan kata ambigu atau mungkin sedang emosional karena memikirkan perang yang sebentar lagi meletus.


Ava merengkuhnya lembut, ketika dobrakan keras datang dari arah pintu dan nyaris menghantam belakang Ava.


Tiga tentara wanita berseragam tentara dengan bendera putih garis biru dihiasi bintang Daud tepat di tengah, berdiri sambil menatap jengah.


“Kau,” ucapnya pada Ava. “Silahkan keluar. Kami sedang ada urusan penting dengannya.” Gadis paling bongsor di antara yang lain menegaskan. Rautnya sedingin kutub selatan. Ava ingin menolak tapi diyakinkan oleh Zerah.


“Urusan apa yang membawa kalian ke sini?” tanyanya sembari membenahi wajahnya yang kusut oleh air mata.


Acellia nama yang tertera pada name tag seragamnya angkat bicara, “Ingin mengingatkanmu. Kami tidak peduli apa yang kau ketahui. Tapi kami akan mengawasi apa yang kau lakukan. Jadi, jangan bertindak bodoh, hingga membuat pengorbanan besar kekasihmu menjadi sia-sia.”


“Pengorbanan?” Ke dua alis Aera berkerut.


Ke tiga prajurit wanita itu mendengus.


“Rupanya sang tuan putri tidak tahu,” celetuk prajurit bernama Melea.


“Aku sungguh iri,” imbuh Sheiila. Namun, ekspresinya seolah mencemooh.


“Bukankah kekasihnya sungguh manis? aku terkenang dongeng putri duyung, pengorbanannya membuatku jadi semakin ingin menggodanya untuk dapat berbagi selimut, walau hanya satu malam,” tutur Acellia yang membuat Zerah mulai jengah.


“Kalian ke sini ingin menyampaikan hal penting, atau hanya ingin menegaskan bobroknya moral kalian?” sindir Zerah tanpa takut. Tubuhnya yang kecil tidak terintimidasi oleh ketiga prajurit dengan postur lebih besar darinya.


“Cih, tuan putri kita rupanya tidak sabaran,” cebik Acellia. Dia melangkah mendekati Zerah. Tatapannya mengintimidasi. Namun, Zerah seolah tak perduli. Dia berdiri tegap dan menatap tajam seolah menunjukkan jati dirinya yang sesungguhnya. Seorang Rusianer sejati, yang tidak takut apapun terlebih di daerah mereka sendiri.


Langkah Acellia terhenti tetap di hadapan Zerah. Wajahnya menunjukkan kekesalan yang besar, mungkin karena dia tidak berhasil membuat ilmuan cantik itu mundur ketakutan.


“Jangan mengabaikan tugas yang telah dibebankan padamu. Jika kau masih keras kepala, kematian Tuan dan Nyonya Wiranto adalah kesalahanmu.”


Zerah membeliak saat orang tua Aiwan dijadikan ancaman baginya. Baginya kedua orang tua itu sudah seperti orang tuanya sendiri. Belum sempat dia menepis seruan prajurit berdarah Israel-Australia, Acellia kembali berseru.


“Tapi, mungkin kematian mereka tidak jadi masalah buatmu. Toh, anak mereka akan menjadi tersangka utama yang menghancurkan negaramu. Oh, iya! dan negaranya sendiri.” Prajurit wanita itu menyeringai. “Itu harga yang harus dia bayar untuk memasukanmu ke daftar orang yang harus diselamatkan.”


**