Neitherland

Neitherland
41: Kode Genetik



Tidak sampai satu menit, pesanan Aera tiba yang ditandai dengan lampu hijau di bagian atas aquarium. Sang Prajurit yang tahu artinya, langsung menghampiri dinding. Tingkahnya tidak luput dari pengawasan Aera. Roschiil mengabaikannya sebagai sesuatu hal yang wajar.


Tangannya kembali mengaktifkan smart optics, melayangkan telapak tangannya dan menggeser dinding yang kini terpotong balam bagian kecil namun panjang. Sebuah tabung tersibak. Sang Prajurit menekan sesuatu di bidang datar yang berada tepat di bawah corong tabung. Pesanan-pesanan Aera pun bermunculan dan tertata rapi.


"Dari pada membuat kursi portable dengan perintah kuno, bukankah sebaiknya anda menghiasi ruangan ini dengan AI yang memiliki multi fungsi termasuk kursi? Gunakan kode genetik yang terhubung dengan sel syaraf untuk bisa mengendalikan mereka lewat pikiran. Setidaknya ketika Anda masuk dan ingin duduk tanpa perlu mengeluarkan perintah atau memberi kode. Keinginan anda sendiri telah menjadi perintah bagi AI untuk berubah wujud menjadi kursi yang nyaman."


Roschiil meringis menyadari nada bicara Aera padanya berubah lebih sopan setelah mendapatkan makanan. Ternyata anak itu hanya sedang lapar dan memberontak tanpa kenal takut. Pikirnya dalam hati.


"Jadi kau menyarankan meningkatan produk Arc Reactor? Aku pikir kepedulianmu dengan para budak sebanding dengan lingkungan, tapi sepertinya aku salah," sindiran Roschiil membuat Aera berdesis.


"Bukankah semua ilmuan milikmu? mustahil aku satu-satunya ilmuan terbaik di Neitherland. Aku bahkan yakin tidak cukup baik hingga masih bisa bebas saat usiaku nyaris 30 tahun. Bukankah kau menyimpan semua ilmuan hebat di sampingmu untuk bisa mengubah Neitherland layaknya surga bagimu. Apa tidak ada di antara mereka yang menjelaskan teori MPR (multi power reactor)?"


Roschiil ingin tertawa, ilmuan muda yang begitu polos dan tidak tahu menahu tentang dunia selain Kuantum Fox dan ruangannya yang penuh dengan kejutan, setelah bersama pangeran dalam beberapa Minggu kini menjadi gadis yang tahu banyak tentang dirinya. Tidak buruk, karena cepat atau lambat dia memang harus tahu keberadaannya.


Roschiil mengerutkan dahinya; sengaja memasang wajah bingung. Dia membiarkan gadis muda itu merasa di atas angin, terbukti seringai tipis yang lebih tampak meringis. Roschiil tahu itu adalah teori Aera. Belum di umumkan pada khalayak ataupun Kuantum Fox. Namun, sebagai Shadow Goverment hal seperti ini tentu terekam dalam laporan pentingnya.


"Seseorang melaporkannya sebagai salah satu judul proposalmu, tapi kau bahkan belum mengajukannya 'kan?" Dia melirik, Aera tampak biasa saja. Tampaknya kesombongannya pun menurun pada gadis itu. Namun, jika dipikir-pikir ilmuan kuantum Fox hampir tidak ada yang ekspresif. Wajah mereka semua dingin, datar dan sombong. Tidak berbeda dengan AI yang mereka ciptakan.


"Yah, belum sempat, karena projek gila bersama Prof Scotth masih belum tuntas." Aera mengindik. Elektrolitnya telah habis tak bersisa. "Energi listrik dari Arc reactor harus dikonfersi dulu ke dalam gelombang elektromagnetik agar bisa digunakan secara bersama tanpa takut kehabisan daya. Satu wilayah satu arc reactor bisa mengendalikan setidaknya sepuluh AI dari setiap rumah."


Roschiil menyeringai, tertarik pada penuturan Aera. Jika mereka berada dalam rapat pengajuan dana, mungkin dia akan setuju dan bersedia menginvestasikan kekayaannya untuk projek MPR. Ketika dia hendak menawarkan kontrak kerja sama, matanya lebih dulu menangkap adegan menarik.


Dilayar tampak mutan yang selama ini membuatnya seperti kebakaran jenggot, tak berdaya dalam cekalan robot-robot medisnya. Roschiil melirik Aera, gadis itu terkejut seketika wajahnya memucat.


***


Aera berharap yang terjadi adalah kemungkinan ke dua, karena dia tidak bisa membayangkan apa jadinya Aiwan tanpa Keri.


"Tenanglah, temanmu tidak akan mati dengan mudah," gumam Roschiil yang membuat Aera melayangkan tatapan benci padanya.


"Aku akan membuatmu merasakan siksa neraka jika dia harus mati entah sekarang atau nanti."


Roschiil kembali tergelak, "Bukankah kau terlalu percaya diri? Oh, lihatlah sekarang pertunjukan menarik, sebaiknya berhenti berdebat." Roschiil membenahi duduknya; membiarkan tubuhnya merasa nyaman.


Aera kembali menatap layar. Kini Morat dan Aiwan saling berhadapan. "Ah, mungkinkah mereka akan berakhir seperti Priscus and Virus?" Roschiil bergumam. Dia teringat Gladiator terhebat di zaman Raja Titus


"Jika mereka benar seperti itu, apa kau akan memberi mereka pedang kayu?" tanya Aera tanpa mengalihkan tatapannya dari layar.


"Sayangnya aku seorang Roschiil bukan Raja Titus." Roschiil kembali tergelak mendengar Aera mendesis.


***


Morat menatap Aiwan yang berada di depannya. Dia mengedip, tak percaya melihat sosok Aiwan yang tidak berubah sedikitpun meskipun waktu telah berlalu nyaris lima puluh tahun lamanya. Seketika perasaannya berubah labil dan tak menentu. Rasa senang, sedih, kesal, benci dan rindu jadi satu. Jika memang dia adalah Aiwan yang dia kenal, kemana dia selama ini? kenapa dia tidak menemui Zerah dan membuatnya melalui berbagai hal buruk sendirian?


Di saat pertanyaan-pertanyaan itu mengambang di langit pikirannya, suara pembawa acara seolah menyadarkannya mengenai alasan keberadaannya berada di tengah arena Koloseum: adalah untuk bertarung hingga mati. Bukan untuk mempertanyakan berbagai hal yang tidak lagi berguna.