
"Kenapa kau masih di sini?" Tanya Aiwan yang kini kembali berwujud humanoid perang paling mutakhir.
"Kita akan menghadapi mereka bersama, jangan khawatir, aku tidak sepayah Gian dalam membidik."
Aiwan tersenyum, "Aku tahu, kau yang meledakkan satu helikopter itu 'kan? terima kasih."
"Mungkinkah lasermu yang meledakkan satunya lagi?"
"Bagaimana kau tahu itu laser?"
Aera mengindik, "Kau hanya memegang sebuah laras panjang. Itu tidak bisa meledakkan helikopter. Pastilah tangan atau matamu yang melakukannya."
Tidak kurang dari dua puluh prajurit tentara payung, nyaris mendarat di pantai Pare.
"Sepertinya kita harus kembali bertempur." Aera menghela napas--dalam. Lalu mengembus dengan kasar. Menarik amunisi dan memasangnya hingga penuh.
Kurang dari dua puluh meter di atas laut, Aiwan dan Aera mengacungkan senjata. Rupanya mereka memiliki ide sama. Sembari tersenyum mereka melepaskan tembakan ke arah parasit yang melayang, membuat penggunanya seketika diselimuti ketakutan.
Satu
Dua
Tiga
...
Hingga nyaris semua parasit mengalami kebocoran, kemudian terhempas ke dasar pantai, sebagian di laut. Beberapa di Padang ilalang. Mereka beruntung tidak satu pun yang tersangkut di antara dahan kelapa. Aera dan Aiwan berpegangan mereka berteleportasi hingga batas lembah. Menunggu dengan siaga, kalau saja ada yang masih bisa berdiri dengan gagah perkasa.
Satu laras panjang Aera kehabisan amunisi. Di lemparnya ke sembarang arah dan menarik yang satunya.
"Kau telah menyembunyikan warga Pare dengan baik 'kan?" tanya Aera setengah berbisik.
"Jangan khawatirkan mereka, Keri telah mengatasi sisanya dengan baik."
"Bukankah Pare pulau kecil? aku khawatir mereka juga menyerang dari arah Selatan."
Aiwan memunggungi Aera saat melihat dua tentara keluar bersamaan dari tumpukan parasitnya yang telah rusak.
"Sisi Selatan Pare memiliki pelindung alami terbaik. Di bulan ini, tidak satu pun pesawat atau kapal yang bisa mendekat." Aiwan sedang membicarakan faktor turbulensi, baik di laut ataupun di udara yang terjadi setiap pergantian musim. Letak Pare yang nyaris berada di garis equator bumi memberikan mereka keuntungan sekaligus perlindungan alam yang menguntungkan.
"Jangan terlalu jauh dariku, Medan pelindungku hanya bisa menjangkaumu jika jaraknya tidak lebih dari seratus meter."
"Baiklah, kalau begitu mari kita habisi mereka sebelum senapannya lebih dulu menguras dayamu."
Saat itu pula Aera melepaskan tembakan ke arah prajurit berseragam lengkap
traat ... traaatttt trraaatttt traaarrtt!
Amunisi itu bahkan tidak menyentuh sang Prajurit. Aera melongo. Mereka menggunakan Medan pelindung yang jumlahnya terbatas hanya untuk menangkap Gian? Aera menggeleng. Gian tidak seberharga itu, pangeran lainnya jelas telah menggantikan posisinya. Mungkinkah Aiwan?
Dia menatap Aiwan, Pria itu menembakkan laser. Prajurit yang menjadi sasarannya hanya terdorong membentur pohon kelapa.
"Sialan, energinya berkurang!" Aiwan mendengus.
Tiga prajurit lainnya semakin dekat, Aera menyadari mereka tidak membawa senapan. Heh, mereka meremehkan kami !
Ditariknya desert eagel berisi amunisi .40 magnum. Lalu membidik ke prajurit paling dekat jauh darinya.
Dwuaaaarrrr!
Tembakannya meledak dan hanya membuat ke dua prajurit itu terjatuh tanpa luka bakar sedikitpun. Aera mengutuk. Medan pelindung Neitherland ternyata sangat kuat.
"Tidak perlu buang-buang amunisi. Mungkin inilah maksud ucapan mereka sebagai metode penyekapan terbaik," tutur Aiwan. Dia tengah merenggangkan otot tangannya. Memasang kuda-kuda dan menantang kedatangan para prajurit yang kini semakin banyak berdatangan dari arah pantai.
Aera mengembus sebal, Jika tahu akan seperti ini tidak perlu repot-repot menenteng senjata berat. Sebelum para prajurit Neitherland semakin mendekat, dia menarik fairbairn miliknya. Merekatkan dengan gelang yang menempel pada sarung tangannya. Lalu menyeringai buas.
Tatapan Aera dan Aiwan bertemu, mereka mengangguk, lalu serempak menyerang lebih dulu. Aera berlari lalu melompat dan bersiap menyerang dengan tangan kiri. Namun, sang Prajurit berhasil menangkis dan balas menyerang dengan tangan yang sama. Bersyukur Aera berhasil berkelit.
Dia berputar dan melayangkan tendangan penuh dari sisi kanan tepat di bagian perut. Alih-alih mengadu sakit, sang Prajurit bahkan tidak bergerak sedikitpun. Entah karena pertahanannya yang terlalu kuat atau tendangan Aera yang terlalu lemah.
Sebelum Aera kembali melayangkan serangan. Sebuah cekalan bercokol di pundaknya. Seorang prajurit lainnya menyerangnya dari belakang. Dengan sigap dia menggenggam lengan penyerangnya, mendorong tubuhnya kebelakang hingga membentur sang Prajurit lalu menarik lengannya dan berputar cepat, menyerang lehernya dengan pisau yang merekat di pergelangan tangannya.
Syat!
Sebuah sayatan yang dia yakini sangatlah dalam memotong leher sang prajurit. Anehnya prajurit itu tampak baik-baik saja bahkan mampu menyerang Aera dengan pukulan telak tepat di pundaknya. Nyaris menyobek ligamen bahunya.
Aera menatap bekas sayatannya. Tidak ada darah yang memancar di sana. Dia memaki, ternyata mereka adalah robot. Ini akan menjadi pertarungan yang melelahkan. Dia bahkan tidak yakin bisa bertahan jika tidak bisa menemukan titik kontrol para robot militer kurang dari setengah jam.