Neitherland

Neitherland
Season II, Transfer Memory



Roschiil terlonjak, melihat sosok Aera perlahan memudar di hadapannya.


Mungkinkah The Art telah kembali padanya? pertanyaan yang terlintas dibenaknya. Sebelum akhirnya dia kembali tersadar dan mulai panik.


"Joylim! lacak keberadaan Aera!" matanya memejam, hal ini di luar dugaannya.


Tunggu, sejak kapan dia bisa berteleportasi?


Roschiil mengangguk pasti, dia yakin The Art benar berada di tangan Aera setelah sebelumnya Zerah tahu benda itu disembunyikan Aera dengan baik di sebuah maha karyanya yang entah berupa apa.


Sudut bibirnya kembali menukik. Jika benar begitu, dia pasti sangat beruntung, semoga Aera bisa kembali sebelum jam sembilan pagi besok, tetapi kemana anak itu saat ini? Sebelum semua wajahnya kembali berlipat karena kerutan kesal, alarm dari dalam Piramida G1a berbunyi. Itu merupakan tempat jasad Henutsa di semayamkan. Roschiil segera bangkit dan membuka kamera pengawas, matanya memicing melihat siapa yang berdiri di depan altar sang Kekasih.


***


Derai air mata di wajah Aera nyaris menghilang ketika kepalanya tegak dan pandangannya menangkap sesuatu yang menghentak kesadarannya. Langkahnya mendekat, memangkas jarak yang tadinya lapang. Wajah pucat itu ... seolah tersihir Aera kembali merapatkan langkahnya hingga yang tersisa hanyalah jarak yang dibatasi altar dan kaca peti.


The Art kembali berkilau. Sebilah tangan Aera terjulur ke depan, bagaikan sihir kaca di hadapannya menjadi material lunak yang bisa ditembus oleh tangannya. Telapak Aera yang kaku akhirnya menyentuh jidat Henutsa.


Matanya terpejam. Tepat ketika kulit dingin pucat itu terasa di telapaknya. Aera merasa kesadarannya ditarik paksa. Dia terhisap ke lobang hitam yang panjang dan jauh. Berputar dan terus melesat cepat seolah tanpa henti. Aera jatuh dari tempat yang paling tinggi menuju dasar terendah tanpa muara.


Dia terseret ke dalam kenangan hidup Henutsa.


***


Kurang lebih 4000 tahun sebelum Masehi mencumbu bumi.


Swaillyn memegang kepalanya yang berdenyut. Wangi kembang dan buah menyergap Indra penciumannya. Matanya terbuka dan kembali mengerjap karena silau pijar lampu. Menggunakan batu ajaib yang direndam dalam larutan biru dalam wadah kristal, melahirkan kobaran api abadi. Bagian atasnya dibalut dengan kertas transparan serupa kaca menghasilkan pantulan cahaya indah yang cukup menerangi tenda megah tempatnya tertidur.


Sebuah lampu yang juga berfungsi sebagai benda suci jelmaan Isthar, Dewi orang-orang Hittie. Kain sutra putih yang menjadi alas dan bantal marmer berukir manusia berkepala singa di kanan kiri. Tepat di tengahnya sebuah matahari diikuti garis-garis--cuneiform. Membuatnya yakin dia berada dalam tenda Arkham, putra mahkota Hittie.


Arrina ....


Sebagai putri bungsu kerajaan Dullogh, Swaillyn dikenal karena kecantikan dan kecerdasannya. Dalam masyarakat dia bahkan disanjung sebagai Dewi kemakmuran karena ilmu pengetahuannya membawa kesejahteraan bagi kerajaannya. Dia tahu banyak bahasa khususnya bahasa dari kekaisaran besar. Pandangannya menyapu sekitar bersama ingatannya yang kembali terkenang.


Matanya memejam, kerajaannya hancur, orang tuanya telah mati di tangan Arkham, putra mahkota kerajaan Hittie.


"Sudah bangun rupanya," suara berat itu menghentak lamunan Swaillyn. Kepalanya berputar menatap ke arah pintu masuk tenda. Sosok pria berbadan tegap dengan kulit terang berdiri di sana.


Pria itu mendekat, senyum kemenangan terukir di wajahnya, "Aku pikir kau benar-benar kabur. Melihatmu di sini dengan penuh pesona membuatku yakin kita memang ditakdirkan bersama," ucapnya yang sungguh membuat Swaillyn terasa mual.


Minggu-minggu sebelumnya puluhan gadis yang berasal dari negara kecil seperti Dullogh telah mengisi tempatnya. Bertugas menghangatkan malam sang penakluk. Sepak terjang Arkham telah terdengar hingga mungkin ke penjuru dunia. Kerajaan yang berada dalam genggamannya akan dikuras tanpa ampun termasuk gadis-gadisnya.


Ketika kabar pasukan Hittie mencapai gerbang Dullogh. Ayah dan Kakak-Kakaknya segera mengirim Swaillyn pergi jauh melewati jalan terowongan bawah tanah. Mereka jelas tahu akan kalah di bawah gempuran Arkham. Namun, alih-alih mengangkat bendera putih Ayah Swaillyn lebih memilih melawan hingga titik akhir usianya karena menolak kepercayaan dan perbudakan yang di bawah oleh Arkham. Swaillyn adalah satu-satunya hal yang ingin dia selamatkan. Ibu dan saudara iparnya mungkin telah meneguk racun ketimbang hidup menjadi pemuas nafsu sang dewa perang beserta jendral-jendral yang sama bejatnya. Sayangnya usaha keluarganya mengirimnya menuju Memphis berujung sia-sia.


Mereka tidak akan menduga Dullogh menjadi kerajaan terakhir di sekitar semenanjung Mediterania. Pasukan Arkham yang mereka perkirakan akan terus menyebrangi laut Aegea, ternyata mereka berputar haluan. Cheops adalah target selanjutnya. Kekaisaran yang berada di lembah Nil itu memang terdengar makmur dan menggiurkan para penakluk seperti Hittie. Maka pelarian Swaillyn agar bisa berlindung di bawah naungan sahabat karib Kakaknya Putra Mahkota Dullogh, berujung pada tertangkapnya sang putri oleh pasukan kavaleri Hittie. Pelarian yang sia-sia.


"Ternyata kabar yang beredar bukan omong kosong." Arkham kini berada tepat di hadapan Swaillyn. Matanya berkilat buas, seolah siap menelan gadis kecil di depannya bulat-bulat.


Swaillyn takut. Jantungnya berdetak berkali lebih cepat. Dia tahu, sebentar lagi nasib buruk menghampirinya. Sakalipun begitu dia tidak gentar, tidak ingin terintimidasi, sorotnya seolah menantang Arkham.


Pria itu berlutut, meraih ke dua tangan Swaillyn yang terikat erat dengan sebuah rantai. Prajurit yang menangkapnya terpaksa mengikatnya karena ternyata sang Putri cukup tangguh dan memiliki kemampuan tanaga dalam yang hebat. Namun, ratusan prajurit kavaleri Hittie tentu bukan tandingan seorang Swaillyn. Dia akhirnya tumbang dengan luka dalam parah, nyaris mati jika tidak diselamatkan oleh tabib Arkham. Dua pelayan yang menemaninya menjadi sasaran pelampiasan kekacauan yang dilakukannya.


"Ini pasti sakit," ucap Arkham sembari mengecup tangan Swaillyn. Ciumannya basah, terasa menjijikkan. Swaillyn merinding. "Jangan khawatir sayang." Tangannya terjulur membelai wajah Swaillyn. "Setelah menjadi milikku kau akan bebas dari rantai laknat ini."


Sebenarnya wajah Arkham rupawan. Kalimat terakhir cukup membuat Swaillyn terbuai dan melambung dengan harapan tinggi. Namun, semua itu harus lenyap ketika senyuman iblis terbit diikuti deklarasi yang membuatnya bergidik.


"Karena belenggu budak akan menggantikannya," ucapnya kemudian diikuti tawa membahana. "Seharusnya kau bersikap manis, bukannya melukai prajuritku dengan cara bodoh. Setidaknya dengan tubuh dan wajahmu ini kau bisa menjadi selirku bukan budak hina!" ucapnya gusar, lalu meraup dagu Swaillyn, menariknya kasar hingga bibir mereka tak berjarak. Ah, Swaillyn bahkan sempat lupa. Arkham adalah orang paling pendendam. Dengan pemberontakannya sebelum ditangkap tentu dia tidak akan hidup tenang.


Napas Swaillyn tercekat. Ciuman pertamanya direnggut paksa dengan cara paling brutal. Arkham seketika dibuat sakau oleh bibir manis sang Putri. Dengan gairah memuncak disobeknya sutra menutupi tubuh Swaillyn tanpa dalaman. Dadanya yang kecil padat mencuat keluar. Terburu-buru tangannya mendarat di sana. Sobekan demi sobekan kain selanjutnya bertebaran di dalam tenda.