
Secepat kilat, Aera menarik dirinya, secepat itu pula mereka berpindah tempat. Sebagai inventor mesin waktu, Aera tahu betul gelombang listrik di otak yang aktif secara tiba-tiba bisa mendistorsi daya dan tenaga. Bahkan dalam sebuah kesempatan bisa menjadi alternatif pencuri kemampuan tanpa menguras daya energi.
Yang jadi masalah, jubah kamuflase yang Aiwan berikan entah di mana. Terlalu nekat menyerang si Mutan, dia sampai melupakan hal yang tidak kalah penting di saat genting. Namun, tidak ada lagi waktu untuk mencari. Para robot militer telah menemukan mereka.
Kini Aera hanya bisa pasrah pada kemampuan Aiwan mengatasi mereka.
**
Ketika Aiwan sedang ikut mengulang ucapan Aera mengenai cara berteleportasi tanpa mengurangi energi yang tersisa, kejutan itu seketika datang. Dan ya, mereka melakukannya--teleportasi, tanpa membuat Aiwan merasa seperti--tidak lagi bisa mengaktifkan medan pelindung.
Belum sempat Aiwan berpikir, mengenai apa yang barusan dia alami. Ketika pandangannya menyadari satu hal bahaya tengah berada di hadapan mereka. Kini dia mulai berhitung jarak antara dia dan para robot yang rupanya berada di segala arah, kecepatan serangan para robot yang seharusnya konstan dan sisa waktu yang dia miliki, bisa menghabiskan berapa robot.
Kecepatan teleportasiya yang kurang dari satu detik, dibagi kecepatan para robot yang bergerak ke arah mereka. Waktu dan pelurunya jelas tidak cukup, tetapi Aiwan tetap mencobanya.
"Hancurkan mereka!" bisik Aera sebelum Aiwan kembali menghilang dan muncul tepat di hadapan robot terdekat. Jarak yang tidak lagi terusik oleh Medan pelindung.
Dwuaarrrr!
Robot penyerang berkurang satu.
Slap
Dwuaarrrr!
Dua.
Tiga.
Empat.
Hingga robot ke 9 hancur, ledakan lainnya terdengar dari belakang. Aiwan menoleh dan melihat sebuah pohon kelapa tumbang. Aera berada tepat di sana, di kelilingi dua robot sialan. Robot-robot itu memiliki kemampuan memahami gerak lawan lalu menirunya untuk melakukan perlawanan. Karena itu pula makin lama, gerak para robot yang tadinya lamban kini semakin cepat.
"Auh, sialan!" umpat Aiwan saat sebuah tendangan menerjangnya. Desert eagle pun terhempas dari genggemannya. Tiga robot mengepungnya dengan cepat. Sebelum para robot menyekapnya, Aiwan kembali berteleportasi ke dekat Aera.
"Mana senjatamu?" Bisik Aera sembari memunggunginya.
"Terlepas."
Aiwan bisa merasakan kepala gadis itu sesaat menoleh padanya. Kini mereka dalam masalah besar. Lima belas robot yang tersisa terus memangkas jarak dan mengacungkan tangannya yang juga bisa meluncurkan amunisi .40 Magnum. Cukup sekali tarik tubuhnya dan Aera akan segera berubah menjadi butiran debu.
Dia lantas merenggangkan otot tangannya. Jika saja mereka manusia biasa, akan sangat mudah mengalahkannya dengan seni bela dirinya. Namun mereka robot, seperti kata Aera menggunakan seni bela diri adalah hal sia-sia yang menguras energi tanpa hasil apapun.
Tidak masalah, aku akan kembali mencoba, mungkin dengan kepalanku, kepala mereka bisa hancur.
"Tetaplah di sini," titahnya pada Aera sebelum berlari menerjang para robot yang juga tampak menyerang dengan cara yang sama.
Dua buah robot secara bersamaan melayangkan tendangan. Dengan lihai Aiwan menangkap kaki mereka dan berusaha mematahkan dengan tekanan sikunya. Namun, mereka benar-benar robot militer yang rangkanya terbuat dari baja terbaik. Sebelum ************ mereka tersobek, kepalan tangan mereka yang terbungkus dari silikon karet mendarat tepat di punggungnya.
Aiwan merasa otot bahunya meledak, membuat amarahnya membuncah ruah. Dia melepaskan genggaman pada kaki robot, dan dengan cepat menghantam dengan tumit tangannya. Gerakan yang sama dia lakukan dengan robot satunya, tetapi kali ini bukan bagian ************ yang menjadi targetnya. Aiwan meloncat lalu salto putar, mendarat tepat di pundak robot kedua. Mengangkat wajahnya dan menghantam bagian matanya.
Dua robot dengan cepat berubah menjadi rongsokan tetapi tiga belas robot yang tersisa telah belajar darinya beberapa gerakan mematikan. Robot-robot itu berlari mendekati mereka, sialnya daya energi Aiwan nyaris musnah. Dia menggenggam tangan Aera, hendak berteleportasi lagi, tetapi hingga percobaan ke sekian berujung gagal dan gagal.
Aiwan membulatkan tekad, menyerang sekuat tenaga seperti sebelumnya. Memang beresiko fatal, tetapi pasrah tanpa melakukan perlawanan juga bukan pilihan yang baik. Toh, Keri akan segera datang. Dia hanya perlu mengulur waktu selambat-lambatnya, sebelum akhirnya bisa menghancurkan mereka semua.
Sebelum berlari menerjang lawan. Aera mencekal tangannya. "Aku tahu energimu habis. Tanganku memang sedang bermasalah, tapi kakiku baik-baik saja. Daripada menyerang dan membuatmu down, bagaimana jika mengangkatku saja? gunakan kakiku untuk menghalau mereka. Jika beruntung, usaha kita mengulur waktu sampai Keri kembali mungkin akan berhasil."
Aiwan terperanjat mendengar penuturan Aera. Dia takjub pada kemampuan ilmuan cantik itu dalam mendeskripsikan sebuah masalah dan melakukan hipotesis. Seolah dia bisa menyelam ke dalam pikirannya dan mengetahui semua tentangnya. Tiga robot yang jaraknya semakin dekat telah mengangkat tangan, mereka benar-benar meniru metode penyerangan Aiwan.
"Kausiap?" Tanya Aiwan sembari melingkarkan tangannya di antara pinggang Aera yang ramping. Aera mengangguk. Merekapun menari salsa diiringi kebingungan para robot.
**
Sejak tadi Aera mencoba membaca pola gerak robot, setelah tarian pertama akhirnya dia menemukan titik lemah itu. Tubuhnya berputar menatap Aiwan. Berkat bantuan boot-nya, tingginya setara dengan sang mutan.
"Hah?"
Dengan cepat Aera menangkup wajah sang Mutan, "Cukup menari hingga mendekati mereka sambil menatap wajahku."
Wajah datar Aiwan sedikit bersemu, dia mengangguk dan mengikuti gerakan Aera. Benar saja, para robot yang tadinya bergerak menyerang seketika terhenti, mereka kebingungan. Geraka Aera semakin lihai, seperti ayunan nyiur di tiup angin. Para robot tampak semakin bodoh.
"Rencana berubah, daripada menyerang mereka dan membuat makhluk bodoh itu menyerang balik semua benda bergerak termasuk pohon, lebih baik kita menari saja terus sampai kau jatuh hati," goda Aera sembari berkedip.
Kini pipi Aiwan semakin panas. Namun, belum lagi lewat semenit mereka menari mesra, deru helikopter terdengar dari arah pantai. Sambil terus berlenggak bak penari profesional, Aera dan Aiwan merapat ke dekat pohon kelapa. Berlindung dari helikopter atau tembakan yang datang dari arah pantai.
Sebuah drone pembawa pengeras suara tampak memasuki hutan kelapa.
"Menyerahlah! Jika kalian menyerahkan diri tanpa perlawanan, kami menjamin keselamatan kalian hingga tiba di Neitherland."
Suara yang entah milik siapa memekakkan telinga. Aera nyaris muntah mendengarnya.
"Heh, dia pembohong yang payah," cibir Aera.
"Aku sungguh berharap Keri segera tiba."
"Bisa kau katakan kapan tepatnya mereka pergi dan ke mana? mungkin aku bisa menghitung waktu yang tepat."
Aiwan mengerutkan dahi, mencoba mengingat kembali. "Sekitar dua pulu menit yang lalu, menuju masa 4000 tahun yang lalu," jawab Aiwan setelahnya.
Aera mengangguk, "Kalau begitu kita harus bisa bertahan paling tidak dua puluh menit lagi."
"Hei kalian! berhentilah menari dan cepat keluar ke sini! kami hitung sampai sepuluh, jika tidak satupun dari kalian yang tampak, aku akan menempatkan para manusia yang ingin kalian lindungi dalam kasta budak paling rendah."
Aera terkikik mendengar ancaman konyol dari suara prajurit yang mungkin tidak tahu cara bernegosiasi. Penasaran, Aera mengintip dari balik pohon kelapa. Tidak kurang dua puluh prajurit berpakaian lengkap memegang senjata laras panjang.
"Sembilan!" suara itu mulai menghitung.
Heh, masa bodoh!
"Delapan!"
Aera dan Aiwan masih terus menari, dan robot-robot itu, beberapa di antaranya tepat berada di belakang mereka. Masih dengan gerakan bodoh--kehilangan arah.
"Tujuh!"
Aiwan sedikit gelisah, "Kau tetap di sini aku keluar?" tawarnya pada Aera.
"Apa kau bodoh? jika kau keluar aku akan mati diterkam mereka," lewat dagunya dia menunjuk para robot militer.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Kau tidak tahu? sekarang kita sedang menari."
"Kau masih bisa bercanda dalam situasi seperti ini," Aiwan mulai kesal.
"Ayolah, biarkan mereka berhitung agar otaknya sedikit cerdas. Selama ini para tentara hanya tahu cara berburu budak. Aku bahkan sangsi mereka bisa membaca dan menulis. Aku ingin pastikan tidak ada angka yang terlewat, jadi mari tetap menari sambil mendengarkan hitungannya."
Tepat di hitungan ke satu, suara itu memaki dan geram hingga melepaskan tembakan ke segala arah. Menyadari pelurunya terbuang sia-sia kode penyekapan meluncur keluar. Namun, sial. Belum lagi mereka memasuki hutan kelapa tiga buah rudal menyerang dari belakang dan tubuh mereka hancur berderai.
Aera melepaskan pelukannya, dia mengamati Aiwan. "Bukan kau?" tanyanya saat melihat Aiwan belum berubah sedikitpun.
Mutan itu menggeleng. Kejadian selanjutnya tampak lebih aneh karena para robot saling menyerang dan menghancurkan hingga tidak satupun yang tersisa. Aera dan Aiwan menyaksikan dengan bingung. Setelah semuanya bersih tanpa sisa, seseorang turun dari atas helikopter. Dia membuka pelindung kepala serupa helm, dan berlari ke arah Aera dan Aiwan yang tampak siaga.
"Kalian tidak berterima kasih padaku?"