
Seperti terhisap ke dalam lorong waktu yang panjang dan gelap. Aera seketika kehilangan momen untuk menikmati alam kuantum lebih lama. Dia kembali tersadar ketika terik mentari yang mengintip dari balik tirai berhasil mengusik tatapnya. Aera bangkit mencoba berdiri dan menelisik lebih jauh, di mana dia berada kini.
"Itu adalah formulir kelahiranmu." Aera berbalik saat mengenali suara yang tertangkap oleh telinganya. Di ujung ruangan, sebuah pintu tersingkap, dia mendekat dan mengintip ke dalam. Sosoknya yang nyata entah di usia ke berapa berdiri menatap Roschiil. Di tangannya sebuah lembar formulir nyaris terlepas dari tangannya.
Tidak kuasa menahan rasa penasarannya, Aera mendekat, dia melihat wajahnya yang tampak terkejut dengan butiran bening yang sebentar lagi akan bergulir jatuh jika tidak segera menguap. Apa yang tertulis dalam kertas itu? tanyanya penasaran melihat reaksinya yang begitu terpukul. Aera membungkuk mengintip isi kertasnya. Dia tidak bisa menyentuh apapun. Tetapi bisa mendengar dan melihat semuanya dengan jelas, persis seperti arwah gentayangan.
Matanya membulat sempurna. Mulutnya terbuka lebar. Tidak mungkin! batinnya menatap sosok Roschiil yang berdiri di hadapannya.
"Kau harus tahu, semua ini aku lakukan untukmu. Semua harta dan kekuasaanku akan jatuh di tanganmu ketika malam ritual terakhir. Kau bebas mengaturnya sesukamu, dengan formulir itu tidak ada yang bisa mencegahku mengambil kendali semua milikku. Tapi, aku harap kau mau membantuku menyelesaikan ritual akhir ini dengan sempurna. Dan mengatur Neitherland jadi lebih baik agar aku bisa pergi tanpa mengkhawatirkan apapun."
Aera yang berdiri terpaku masih membisu dengan lembaran formulir yang kini kusut dalam genggamannya. Smartwatch yang membalut pergelangan tangannya, menunjukkan waktu: 5 November 2085.
***
Neitherland, 5 November 2075.
Sesaat setelah istana Roschiil berhasil ditaklukkan. Para prajurit militer dari sayap kanan membantu membenahi kekacauan di dalam dan luar istana. Berdasarkan perintah Gian, kuil setan yang berada tepat di samping selatan koloseum dihancurkan diganti dengan taman herbal.
Hari selanjutnya adalah upacara pemakaman sang Ratu Neitherland. Untuk kali pertama setelah sepuluh tahun terakhir, para pangeran duduk di satu baris yang sama. Mereka sedang berduka tetapi juga bersuka cita; Kekalahan Roschiil di malam purnama kemarin, adalah kemerdekaan Neitherland serta kebebasan kerajaan dalam mengambil kebijaksanaan berdasar kewajibannya sebagai pemerintah.
"Kau mau ke mana?" Epraim menahan Gian dengan pertanyaannya, sesaat setelah upacara pemakaman usai.
"Apa sekarang aku ditahan?" bukannya menjawab Gian bertanya dingin.
Epraim mengembuskan napas perlahan, "Kita berada di kondisi seperti ini karena iblis tua itu. Kini dia tidak lagi ada. Aku berharap hubungan kita yang dingin bisa kembali menghangat seperti saat Hiram masih ada." Epraim melayangkan senyum hangat walau sedikit kaku.
"Jika kau ingin pergi, lakukan saja. Tapi usahakan pulang sebelum malam. Banyak yang harus kita selesaikan termasuk penunjukkan tahta." Epraim menepuk pundak Gian dan berlalu menuju istana.
Gian terpaku, matanya berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak. Jika saja Ayahnya tidak mati di tangan Epraim, mungkin apa yang tadi sepupunya tawarkan akan dia sambut dengan suka cita. Namun, kini tawaran itu bagaikan racun yang larut dalam madu. Terasa manis dan menenangkan disaat yang sama mampu membunuhnya---perlahan.
Persetan dengan tahta, dia tidak butuh itu. Kini dia sebatang kara, Istana tidak lebih dari penjara yang menyiksanya. Dengan menahan sesak di dada, Gian menyeret langkahnya menuju parkiran istana. Tesla peninggalan ayahnya menantinya, membela jalanan Neitherland menuju apartemen Aera. Berharap gadis itu telah siuman dari tidur panjangnya.
***
Aiwan dan Morat menatap langit Neitherland dari balkon kamar Aera. Di dalam, ada Cyma yang sedang membersihkan tubuh Aera dengan lap basah.
"Rupanya kau adalah Ezra," gumam Aiwan sambil tersenyum. Kepalanya menggeleng samar, dia masih tidak percaya; pria yang dikenalnya sebagai saudara angkat Zerah adalah Morat.
Usai menyelesaikan semua urusan di istana, Morat datang dan bercerita mengenai dirinya. Aiwan yang masih terkejut mendapatkan waktu untuk bisa memahami informasi yang dia terima, ketika panggilan dari prajurit Morat mengintrupsi nostalgia mereka. Berkat pelarian Roschiil yang entah ke mana, Morat diberikan kekuasaan mengatur lebih dari 400 prajurit.
Sisa prajurit yang beruntung karena Medan magnetik Aiwan. Ya, mereka adalah semua prajurit yang ketika malam penaklukan terjadi, berada di markas militer. Beruntung Aiwan mengunci mereka dengan Medan magnetiknya. Sekalipun tubuh mereka berakhir pegal karena tidak dapat bergerak selama beberapa jam, tetapi mereka selamat dari bom serangga Ries.
Morat menyeringai, ketika melihat reaksi Aiwan, "Apa yang terjadi padamu, kenapa kau meninggalkan Zerah dan membiarkannya menikah dengan bajingan itu?" pertanyaan Morat lebih terdengar sebagai ungkapan penghakiman. Aiwan bahkan tidak tahu, siapa suami Zerah yang disebut bajingan. Namun, dia yakin pernah mendapat informasi pria itu sangat mencintai Zerah.
"Bukankah kau memiliki banyak waktu untuk menemui Zerah?"
"Ntahlah, sesaat aku kehilangan diriku. Memoriku kembali ketika Keri datang." Pandangan Aiwan seolah menembus cakrawala. Menyisakan cela agar langit segera menurunkan airnya.
"Sejak kapan kau berada di Neitherland?" Morat membuyarkan lamunannya.
"Sesaat setelah Zerah dikremasi."
Keheningan kembali mengungkung mereka. Menghempas ingatan ke dua mutan itu ke masa penuh makna.
"Kak, hei jagoan, kalian ingin makan apa?" Mereka terlonjak mendapati Cyma yang entah sejak kapan berdiri di depan pintu masuk yang memisahkan kamar dan balkon.
"Terserah," jawab Morat. Sepertinya dia masih malas memikirkan hal lain. Dia masih ingin menikmati sisa kenangan manis yang tersimpan rapi di benaknya.
Aiwan mengangguk, "Aku juga terserah kau saja."
Cyma mendengus sebal, tatapi kemudian menyeringai licik. "Baiklah!" serunya sembari berlalu dan melangkah keluar kamar.
"Apa dia tahu kau bukan kakaknya?" Aiwan menatap Morat. Pria itu masih setia memandang syahdu pada awan-awan yang berkumpul di dasar sana.
"Terlepas dari siapa sebenarnya aku, tidak akan merubah kenyataan dia sebagai keluargaku."
"Mungkinkah orang tuanya yang menyelamatkanmu?" Morat mengangguk, mendung seketika berpindah ke dalam matanya. Dia kembali mengingat Alex, Ibu Cyma.
"Apa kalian menikah?" tanya Aiwan sedikit ragu.
"Jika seperti itu, maka Cyma adalah putriku."
Aiwan tergelak, "Maaf aku hanya penasaran pada kisah asmaramu."
"Tidak ada yang bisa diceritakan. Kisah asmaraku jauh kelam dari ritual setan."
Aiwan berdesis, "Mungkin kita tidak jauh berbeda."
Morat mengalihkan pandangannya. Menatap Aiwan dengan seksama, "Kau tahu, aku penasaran, siapa yang membuatmu menjadi sehebat ini? Serum itu mungkin bisa diberikan ke beberapa unit khusus, tapi sejauh ini tidak ada yang mampu menembakkan laser dari jarinya seperti dirimu. Apalagi mampu berteleportasi."
Aiwan tersenyum, "Aku diselamatkan oleh seorang profesor dari masa depan untuk misi perdamaian."
Ke dua alis Morat mengerut seolah berkata, Yang benar saja!
"Hei, kalian, ayo makan!" teriak Cyma dari dalam dan membuat ke dua mutan itu tersenyum kesal. Suara Cyma jauh lebih cempreng dari knalpot sepeda motor berbadan besar yang kini menjadi legenda.