Neitherland

Neitherland
Season II, Percakapan Terakhir



"Arkham ... dia Raja Putra Mahkota Hittie yang mati di tangan Khufu. Wajahnya sangat mirip denganmu."


Roschiil termenung dia mengingat kata itu, yang Aera lontarkan padanya tepat ketika diseret dari Giza.


Lalu kenapa jika mirip?


Seolah mengerti, Zerah kembali buka suara. "Dia telah merenggut kehormatan Henutsa dengan cara paling kejam hingga dia harus mengandung di usia belia. Lebih dari itu Arkham pula yang melenyapkan semua keluarganya hingga dia sebatang kara bahkan harus hidup tanpa pendukung di Memphis."


Barusan Zerah menguji alat pembaca pikiran yang telah lama dia kembangkan bersama Callista, anaknya. Hasilnya luar biasa. Dia bisa mengintip ke dalam kepala seseorang apapun yang dipikirkan dan alami selama hidupnya.


Segala memori yang tersimpan akan mudah dia selami seolah membuka laci-laci kecil dan menemukan berkas yang tersusun di dalamnya. Satu kelemahannya yaitu dia tidak bisa memastikan pikiran itu benar kejadian nyata atau sekedar angan bahkan mungkin baru sebatas rencana. Mungkin karena itu pula, awan mendung menggelayuti wajahnya. Dia melihat hal yang Aera pikirkan bersama Aiwan.


"Jadi hanya karena wajah?" Roschiil bertanya seperti orang bodoh. Dia tidak percaya alasan tidak masuk akal wanita yang begitu dipujanya; tidak dapat tersenyum atau bahkan membalas perasaannya setelah ratusan abad hanya karena wajahnya. Namun dia kembali teringat oleh ucapan Piller.


Penderitaan terbesar bagi Henutsa adalah melihatnya. Bagaimana dengan dirinya? ah, sial mungkin salah satu penyebab perasaannya tidak pernah pudar karena perasaan Khufu pemilik the art terakhir sebelum jatuh ke tangan ayahnya justru merasuk ke dalam jiwanya tepat ketika The art menjadi miliknya lalu bertemu Henutsa. Jika Henutsa tersiksa melihatnya maka dia jauh lebih tersiksa karena selalu ditolak.


Roschiil berdiri. Dia menatap Aera yang masih menggunakan sulur sinaptik yang melingkupi sekeliling kepalanya. "Apapun itu, kita akan menemukan jawabannya ketika dia telah bangun."


Zerah menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia tampak kesulitan menyembunyikan niatnya. "Jangan lakukan apapun jika kau masih ingin hidup seperti kemarin."


Roschiil pergi dan memerintahkan semua orang menyiapkan persembahan akhir. Selama ini dia hidup dengan tujuan menguasai dunia dan meletakkan semua orang di bawah kuasanya. Namun, setelah bertemu dengan Henutsa, dia seolah tersihir. Dia tidak lagi menginginkan dunia. Ah, dunia bahkan tidak cukup jika tanpa Henutsa. Dia gila. Henutsa membuatnya menjadi lebih gila dengan kebenciannya yang tidak pernah dijelaskan.


Puncaknya ketika Henutsa memilih Piller yang ternyata selama ini pun menyukainya. Mereka menikah dan membangun kehidupan yang selama ini dia impikan. Sekalipun begitu dia tetap ingin mewujudkan mimpi Henutsa. Memberinya dunia indah di mana hanya ada satu negara kekaisaran besar di dalamnya; Neitherland. Sedangkan kegilaannya tidak berakhir walaupun kebencian juga merasuk dirinya. Dia mulai membenci Henutsa tetapi juga mencintainya.


"Berapa kali aku katakan, Neitherland bukanlah impiannya!" Piller berteriak kesal. Wajahnya babak belur. The Art miliknya telah berpindah Ke tangan Roschiil. Siksaan tidak membuatnya menyerah, tetapi dia tidak bisa membiarkan Leony kehilangan kedua tangannya.


"Teruslah berbohong dan aku akan tetap pada tujuanku."


Piller menggeleng. "Bukankah Aera bisa membaca kenangannya? tanyakan saja padanya. Dia berharap bisa ke Neitherland bukan karena menyukai semua yang ada di sini, semua yang kau ciptakan dengan tanpa kasih. Dia hanya ingin bertemu dengan suaminya. Khufu. Dia hanya merindukan kekasihnya."


"Bawa Aera ke sini, sekarang!" suara Roschiil menggelegar, getarannya cukup membuat beberapa porselen dari kekaisaran Ptolemaik jatuh dan terbelah hingga menjadi beberapa bagian.


***


"Apa kau kehilangan suaramu?" Roschiil semakin kehilangan kendali. Sejak diseret dari ruang laboratorium Zerah, Aera tampak seperti orang linglung.


Sorotnya yang tajam pun menghilang entah ke mana. Aku benci, sungguh aku benci wanita itu. Pikiran Aera masih terfokus pada pembicaraannya bersama Zerah. Tiba-tiba sebuah hologram muncul di hadapannya. Aiwan terikat setengah t.e.l.a.n.j.a.n.g. sekujur tubuhnya memar biru, tampaknya dia lelah disengat listrik. Kesadaran Aera seketika kembali.


Roschiil tertawa sarkas. "Rupanya kau sangat suka dipaksa. Jadi katakan, ibumu, wanita br.e.n.g.s.e.k itu benar menginginkan Neitherland atau tidak?"


Saat itu pula ucapan Roschiil dan Piller bergantian memasuki otaknya. Sebelumnya mereka antri dan tidak mendapat tempat sedikitpun. Aera mengerutkan keningnya.


"Jadi benar karena cinta?" Aera mengembuskan napas frustasi. Sejak dulu dia memang sulit menebak Roschiil.


Sejurus kemudian tubuh Aiwan tampak bergetar hebat. Aera menutup matanya. Dia menduga The Art Hitam telah jatuh di tangan Roschiil. Itu satu-satunya alasan yang bisa membuat Aiwan tertangkap.


"Hentikan!"


Roschiil meringis bengis, Aera mendengus.


"Jika ada yang paling dia inginkan adalah kembali ke zaman di mana dia bisa bertemu dengan Khufu."


"Dia punya the Art, dan dia bisa melakukan apapun itu--melintasi waktu--bahkan kau bisa."


"Aku bisa karena program yang kalian buat. Tapi dia bahkan tidak tahu kekuatan the art yang sesungguhnya." Itu alasan paling logis yang terpikirkan oleh Aera sekalipun dia tidak tahu pasti kebenarannya. Toh, Roschiil tampak menerimanya dan itu masuk akal.


"Dia ingin kembali tetapi tidak tahu caranya. Maka, satu-satunya alasan membuatnya bertahan dalam kehidupan yang menyiksa dan sepi adalah kenangan manis yang pernah dia lalui." Aera mulai mengurai segala dengan ilmu deduktif. "Jika Neitherland adalah salah satu tempat megah yang sering dia sebutkan. Itu bukan karena keindahan Neitherland yang dia sendiri tidak pernah saksikan dengannya kepalanya. Tapi karena Khufu selalu bercerita tentang petualangannya dan perjumpaannya dengan orang yang dia cintai, di Neitherland."


Aera berhenti sejenak. Dia menarik napas panjang sebelum akhirnya kembali memulai. "Kalaupun dia katakan ingin ke Neitherland, bukan karena ingin menyaksikan semua teknologi yang sulit dia bayangkan. Tapi jelas karena dia berharap dapat bertemu dengan Khufu. Yang sayangnya hal itu mustahil terjadi saat ini."


"Kenapa," Roschiil bertanya acuh tak acuh.


"Karena sekarang Khufu telah tiada."


Aera bisa merasakan tatapan Roschiil menghujam padanya. "Kau tahu siapa Khufu yang sebenarnya?"


"Aku bahkan tahu orang yang dia cintai. Ah, juga alasan lain mengapa dia sangat membencimu."


Roschiil menantang tatapan Aera dengan wajah bengis seolah berkata, apa?


"Selain wajahmu, juga namamu." Aera tergelak. Dia merasa puas meledek Roschiil. "Kesimpulannya semua yang ada padamu hanya membangkitkan kenangan buruk baginya." Aera menekankan suaranya, memberi ketegasan pada setiap ucapannya. Dia meringis saat melihat ekspresi terluka di mata senja sang Iblis. "Hidupmu itu ironi," bisiknya lirih seolah menabur garam di atas luka basah.


"Kau bertemu dengannya dan jatuh cinta tanpa tahu, wajah dan namamu adalah kesalahan fatal." Aera terus meledek.


"R-o-s-c-h-i-i-l," dia mengeja nama ayah biologisnya. "Bahkan virus yang dibekukan dalam LAB KF pun tahu, sinonim dari suku kata itu adalah iblis. Khufu bercerita tentang sang Iblis dan semua rasa bencinya. Sebagai orang yang mencintainya tentu dia pun akan membencimu sekalipun tidak pernah bertemu denganmu. Itulah mengapa hidup bukan hanya tentang ambisi, tetapi juga berbagi. Alih-alih membangun Neitherland dengan ambisi kejimu harusnya kau lebih banyak belajar berbagi tentang cinta." Aera kembali tergelak, karma bagi sang Lucifer ternyata cukup membuatnya bahagia.


"Siapa Khufu sialan itu?" Roschiil berteriak kesal. Aera tahu, pria paruh baya itu telah kesulitan menahan h.a.s.r.a.t untuk dapat memilah semua anggota tubuhnya karena berani menistakan sang Raja di dalam istananya sendiri. Dia tidak peduli.


"Kau tahu, karena kau yang telah membunuhnya." sorot Aera bahkan lebih dingin di banding Roschiil ketika bertanya.


"Wajahmu mengingatkannya pada pembantai keluarganya, sedang namamu serupa dengan nama orang yang membunuh suaminya. Bukankah itu fakta yang sangat mengagumkan?"


Roschiil menyembunyikan kegelisahannya. "Kau belajar menulis novel? tidak buruk."


"Epraim. Khufu adalah Epraim." Aera meringis. Wajah aneh Roschiil tidak bisa membuatnya tersenyum atau menangis. Bagaimanapun fakta itu juga menyakitinya.