
Di sepanjang koridor Istana Wazner; istana kekaisaran Neitherland, yang kini berganti nama menjadi Neitherland Selatan. Sosok robot penjaga tampak hilir mudik. Sensor geraknya dalam mode siaga. Menyapa siapa dan apapun yang melintas dalam jarak jangkaunya.
Sepasang pantofel berbahan semi kulit kualitas terbaik terayun. Bunyi ketukan ketika dasarnya mengecup dinginnya marmer bening bagaikan air, terdengar merdu. Sejumlah pelayan yang kebetulan berpapasan dengannya segera membungkuk sembari tersenyum manis. Sikap yang sia-sia karen senyum itu tidak akan pernah terlihat oleh sosok itu; sosok mulia bagi seluruh rakyat Neitherland. Mungkin pula hanya sebagian besar.
Langkahnya terhenti sejenak di depan sebuah pintu kembar berlapis emas. Sebuah AI lantas menghampiri dan memindai tubuhnya. Melakukan panggilan dan menyampaikan kehadirannya. Hingga ketika bunyi akses pada pintu berlapis emas itu terkonfirmasi, sang AI rela melerai kontak lasernya yang sejak tadi setia menggelayuti tubuh Epraim.
Sedikit tergesa, Epraim melangkahkan kakinya ke dalam, "Anda baik-baik saja yang mulia?" Tanyanya setelah menunduk; memberi hormat.
Sang raja yang tengah terduduk dengan tatapan kosong lantas mengangguk. "Reim, ke sinilah," titahnya usai berhasil mengumpulkan semua kesadarannya yang tercerai.
Epraim bisa menangkap kegetiran dari suara sang Raja, dengan patuh dia mendekat hingga berada tepat di hadapan Ibrael. Sebuah meja kayu Cokelat menjadi satu-satunya sebab yang memangkas jarak mereka. Kepalanya menunduk, mencoba menemui alasan dibalik kerisauan orang yang sangat ia hormati. Sejurus kemudian tatapan mereka saling mencengkram. Saling menenggelamkan dalam hening yang paling pekat. Sebelum Epraim memecah kepedihan sang Raja dengan tanya, senyum senduh itu lebih dulu terselip.
Ada apa?
Epraim hanya bisa menelan pertanyaan itu ketika ke dua mata abu-abu Ibrael terlempar ke sebuah kursi yang ada di sampingnya. Epraim merengut oksigen dengan rakus seakan rongga dadanya terlalu lama berada dalam kehampaan, sepertinya dia memahami kegundahan sang Kakak.
"Reim," gumam Ibrael tanpa menatap wajah adiknya. "Jika aku kembali meminta tolong padamu untuk terakhir kali, maukah kau memenuhi keinginanku?" Epraim menatap kakaknya seolah berkata tentu saja. Namun, dia tahu Ibrael tidak ingin merasa tertekan seolah memaksakan kehendaknya, maka jawaban persetujuan darinya adalah hal mutlak yang ingin dia dengarkan.
"Berikan perintahmu yang mulia."
Jawaban Epraim menarik perhatian Ibrael padanya, "Berhenti memanggilku begitu. Aku sudah menonaktifkan semua kamera pengawas, aku ingin kau kembali memanggilku kakak," tutur Ibrael dengan tatap memelas. "Bukankah permintaanku terlalu banyak?" dia mendesiskan senyuman sendu. Aku ingin mendengar panggilan itu, karena setelah permintaanku ini, mungkin kau tidak lagi sudi mengakuiku sebagai kakak.
Epraim tersenyum lembut menatap kakaknya. Lantas menempatkan dirinya di sebuah kursi
yang berada di dekatnya. "Bagaimanapun panggilanmu dariku, di hatiku kau tetaplah kakakku. Jadi, jangan pernah sungkan mengatakan apapun yang harus aku lakukan. Karena bagiku bisa mewujudkan keinginanmu merupakan kebahagianku."
Hening. Epraim bahkan bisa mendengar deru nafasnya sendiri. Hanya ada sorot teduh berselimut perih yang kini membingkai senyum sang Raja. "Mungkin aku tidak lagi memiliki banyak waktu." Helaan napasnya yang dalam dan pelan menjadi jeda panjang. Epraim bergeming dengan alis mengkerut.
"Aku berharap kau bisa menjaga Aera. Mungkin ini keterlaluan, tapi aku tidak bisa meninggalkannya sendiri." Kedua kristal safir itu menatapnya---dalam.
Epraim meneguk saliva dengan sebuah perasaan takut. Bukan tentang Aera---belum. Otaknya masih belum terfokus pada hal itu. Ucapan sang Kakak mengenai 'waktu', membuatnya takut lebih dari fakta dia harus bersama dengan Aera; Adik sepupu kakaknya sekaligus anak orang yang telah membunuh ibunya. Ya, status Aera dalam pandangannya serupa kontradiksi yang membuatnya terus tersiksa di saat yang sama juga bahagia.
"Kak," panggil Epraim lirih. Suaranya tercekat di antara kesedihan dan keinginan dalam memecah hening yang kembali mengungkung. Dia tidak ingin Ibrael berpikir dia menolak permintaannya. Ya, walaupun sesungguhnya dia juga tidak bisa menerima. Namun, untuk kakaknya dia tidak bisa melihat raut sedih itu, lagi.
"Terlalu berat bukan? jika saja Gian bisa terbebas dari jerat mereka ... aku ingin kau bahagia lebih dari siapapun. Tapi sepertinya keinginanku itu terlalu omong kosong mengingat permintaanku yang justru melukaimu."
Ibrael menatapnya dengan dua kristal yang nyaris retak, "Kau telah dewasa."
***
Sesekali Epraim melayangkan senyum, ketika tanpa sengaja pandangannya bertabrakan dengan gadis bermata biru langit. Cahaya tajam yang menyorot dari ke dua matanya mengusir mendung yang tampak dari luar mobil. Terdengar deheman darinya yang kemudian membuat Epraim berani membuka obrolan.
"Mungkin Anda ingin meminum sesuatu?" tanyanya pada sang gadis yang tampak jelas sedang berpikir keras.
Sesaat wajahnya tampak menimbang, "Ya, sepertinya aku butuh sesuatu yang manis dan hangat, agar bisa membantuku berpikir alasan paling logis---menafsirkan kondisi saat ini," ucapnya acuh yang mengundang senyum di wajah Epraim.
Dia sedikitpun tidak berubah
"Aku pikir tidak ada yang aneh dari undangan seorang pria single kepada wanita yang juga statusnya sama."
Aera tersenyum sinis, "Hal itu berlaku jika mereka saling mengenal."
"Apa itu berarti kau tidak bisa mengingat siapa aku?" Epraim mencoba menahan seringainya ketika gadis yang duduk di hadapannya memutar ke dua matanya dengan malas.
"Bahkan para budak sekalipun tahu Anda siapa. Tapi aku sangat yakin kita tidak cukup dekat untuk bisa menghabiskan waktu Anda yang sangat berharga." Sesaat jeda mengambil alih percakapan mereka. "Oh, mungkinkah ini terkait dengan proyek baruku?" lanjutnya mencoba menebak.
Epraim tidak lagi sanggup menahan tawa yang nyaris meledak. Perubahan emosi yang tadinya kesal hingga ke level teratas lantas berubah drastis ke rasa penasaran yang cukup unik, membuat sang Pangeran yang kini merangkap sebagai penasehat NS yakin, tertidur selama sebulan tidak membuat Aera berubah menjadi orang yang berbeda. Wajahnya tetap polos dan ekspresif. Oh, ya, satu lagi, jutek. Tentu saja.
"Heemmmm ...," deheman panjang menghalau tawanya yang nyaris pecah.
"Padahal kau masuk ke dalam sepuluh orang tercerdas di Neitherland. Tapi mengingat begitu banyak proyek yang kau selesaikan dengan baik tidak heran membuat memorimu berantakan."
Epraim mengangguk seolah memaklumi. Bibirnya dikulum menahan senyum yang sejak tadi ingin merekah indah.
Usai melayangkan tatapan nyalang sedahsyat petir. Aera tersenyum sinis, "Anda mungkin juga tahu, selain cerdas aku bahkan masuk nominasi ilmuan tercantik. Jadi tidak heran banyak yang sok kenal dan sok dekat. Tapi, menyalagunakan kekuasaan untuk mendekati seorang wanita bukankah itu terlalu berlebihan?"
Mendengar kalimat sarkas Aera, tawa Epraim yang sejak tadi dibendung akhirnya pecah. Tubuhnya bahkan bergetar hingga perutnya terasa kebas. "Ya. terserah apapun yang kau pikirkan, tapi sebaiknya kita turun dulu." tandasnya sebelum merapikan jasnya yang sempat melipir ke atas karena tawanya yang dahsyat.
Dia tidak menyangka berbincang dengan Aera mampu membunuh jarak dan waktu. Tanpa terasa limosin yang mereka tumpangi telah tiba di depan rumah sakit KNC; rumah sakit terbesar dan terbaik sepanjang sejarah Neitherland.