Neitherland

Neitherland
Season II, Kekepoan Cyma



"Yang Mulia!" Suara itu terasa jauh. Gian mendengar dan merasa dia yang sedang dipanggil, tetapi entah mengapa tatapannya yang terpaku pada pemandangan di depan menahannya untuk berbalik. Otaknya seolah tidak menerima instruksi selain harapan melihat pria itu tidak lagi berdiri di belakang Aera.


"Yang Mulia!" Suara cempreng yang sangat di kenal Gian, karena sejak beberapa bulan terakhir sering bertemu dengannya kembali menampar telinganya. Sinyal waspada takut apa yang dia lihat juga diketahui Cyma membuatnya segera berpaling; berharap tangan sialan itu segera terlepas dari wajah Aera.


"H-hei, a-ada apa?" Kenapa aku jadi salah tingkah begini. Gian mendengus lalu menarik napas perlahan. Apa yang tidak sengaja dilihatnya rupanya sangat mengganggunya.


Cyma tersenyum geli melihat reaksi Gian, "Anda terlihat seperti bertemu hantu," candanya yang membuat Gian meringis.


"Ada apa?" ulangnya dengan lebih santai.


Sesaat Cyma tampak bingung sebelum akhirnya dia kembali mengingat tujuannya memanggil Gian. "O, iya, aku ingin bertanya tentang Aera. Mungkin yang mulia tahu dia di mana. Istana ini jauh lebih luas jika dibandingkan dengan mansion Nenek Zerah. Sejak upacara pemakaman berakhir anak itu menghilang bagai ikut dimakamkan. Aku tidak bisa menemukannya dimanapun. Membuatku frustasi saja," Keluhnya tanpa menyaring kalimat yang sopan. Gian yang mendengarnya merasa terkejut sebelum akhirnya menggeleng.


Gian tengah mempertimbangkan mengatakan di mana dia bisa menemukan Aera sekaligus mengakhiri momentum yang membuatnya bagai kebakaran janggut. Namun, dengan konsekuensi isu tentang kedekatan mereka akan tersebar cepat karena Cuma ahli dalam membuat gosip. Tentu itu hal buruk yang Gian harap tidak akan pernah terjadi.


"Entahlah, mungkin dia ke kamar mendiang ratu." Pada akhirnya Gian memilih menutupi semuanya.


Cyma tampak berpikir, "Aku pikir selama ini dia sangat membenci keluarga kerajaan. Fakta dia ia terjebak jalinan asmara denganmu, itu bisa dimaklumi mengingat kalian pernah berjuang di pulau antah berantah. Tetapi duka citanya karena kepergian mendiang ratu sungguh tidak masuk akal. Apa mungkin selama ini nyatanya kalian dekat tapi berlagak saling membenci? untuk apa? Aah, kepalaku yang cantik bisa berkepul jika begini, membuatku lapar saja. Ah, sebaiknya aku makan. Oh, iya, anak itu juga belum makan sejak pagi. Haahh, bisa-bisa kulitku keriput mengurusinya," keluh Cyma sambil berlalu meninggalkan Gian.


Dia belum makan sejak pagi? Gian melirik smartwatch-nya waktu telah menunjukkan pukul satu siang. Setelah melihat Cyma menjauh dan berbelok menuju halaman utama, Gian kembali ketempat semula. Kepalanya condong ke bibir jendela. Ke dua matanya membulat sempurna tangannya mengepal.


"Adakah sesuatu yang menarik di sana?"


Leony! Gian segera mundur dan berbalik. Gadis yang kini berstatus sebagai Ratu sekaligus penasehatnya tengah berdiri di hadapannya. Dia memulas senyum indah.Sayangnya keindahan itu tidak cukup menarik hati Gian yang lebih dulu berlabuh pada orang yang tidak tepat.


"Kanapa kau di sini?"


"Bukankah harusnya itu adalah pertanyaanku yang mulia?" tuturnya tanpa memudarkan senyumnya.


"Aku hanya mengenang masa lalu. Kau sudah makan?" Ekspresi Leony sedikit terkejut mendengar pertanyaan Gian.


"Aku akan segera makan, jika yang Mulia telah makan."


Cih, merepotkan saja, "Kalau begitu mari kita makan," ajak Gian dan segera berlalu dengan berat hati. Leony mengikutinya dengan senyuman indah yang seolah tak pernah sirna.


***


Aera yang tahu sahabatnya itu punya pemikiran yang aneh hanya bisa mendesah pasrah. "Dan, juga kisah perjodohanmu dengan sang Pangeran idola seluruh umat, bukan sekedar khayalan? Oh, no! mengapa kehidupan sahabatku semengejutkan kisah novel?" Sebelum pembubaran pasukan dan para tamu istana, Ibrael yang kini berstatus sebagai raja memang mengumumkan sebuah berita. Pengumuman yang pada akhirnya menjadi trending dan menutupi duka kepergian Ratu.


Calon Istri sang Pangeran tampan merupakan keturunan Ilmuan terbaik Neitherland Lyosh Aera Svetlanav. Kisah Perjodohan Pangeran Epraim, Horus Neitherland dan penemu Quantum Tunnel, Hathor sang dewi kebajikan serta ilmu pengetahuan.


Serta sejumlah headline news lainnya yang tidak kalah lebai. "Maaf aku melakukannya tanpa membicarakan lebih dulu pada kalian. Tetapi aku takut tidak memiliki kesempatan," ucap Ibrael usai konferensi pers selesai.


"Harap yang Mulia tidak terlalu berpikir aneh, bukankah Anda hanya melakukan apa yang perlu dilakukan, kau tidak masalah 'kan?" sorot Epraim mengarah padanya. Aera ingin mendengus tapi melihat penyesalan Ibrael membuatnya memilih bungkam dan hanya mengangguk. Dan kini Aera bingung, akankah dia menyesal telah mengangguk setuju? ataukah dia harus memikirkan tawaran apa yang bisa dia berikan ketika besok mereka kembali bertemu.


"Sekarang bagaimana pekerjaanmu? Bukankah Ilmuan dilarang berpolitik? tapi statusnya saja sudah menunjukkan posisimu," tiba-tiba Cyma bertanya dan membuat Aera melongo.


Dia menatap sahabatnya tak percaya. "Ada apa? kenapa menatapku begitu?" tanyanya dengan kening berkerut.


Aera m ndekat dan memeriksa ke dua tangannya, lalu beralih menatap wajah dan matanya. Cyma memberontak dan mendorong kepala Aera yang terlalu dekat. "Ada apa denganmu?" tanyanya sedikit ngeri.


"Aku yang ingin bertanya ada apa denganmu?" Aera kaget, tentu saja. Selama menjadi sahabat layaknya saudari sang Artis papan atas, tidak satupun kalimat yang terucap dari bibir Cyma layak diproses oleh akal sehat. Namun, barusan dia berbicara layaknya orang normal. Dunia pasti sebentar lagi kiamat! Aera menepuk jidadnya, "Sepertinya kau harus menghabiskan sisa hidup di istana agar otakmu bisa bekerja maksimal," gumam Aera mengabaikan wajah kesal Cyma. Mungkin aura istana berbanding lurus dengan Medan magnet pusat otakmu. Dengan berada di sini, anugerah yang luar biasa itu tiba-tiba bangkit dari tidur panjangnya dan mulai bisa bekerja dengan baik."


Kini Aera yang berpikir upnormal. Cyma mengangguk sambil tersenyum bahagia. "Itu berarti aku ditakdirkan menjadi bagian dari istana! ini sungguh luar biasa!" Ke dua matanya berbinar indah. "Apa itu berarti aku akan menjadi teman main anakmu dan Epraim? apa namanya? sejenis pendamping belajar para keturunan keluarga kerajaan."


Aera mencibir, "Enak saja, pendamping putri atau pangeran itu adalah orang yang bisa menggunakan otaknya dengan maksimal." Tanpa sadar Aera meladeni obrolan absurd Cyma, tetapi yang lebih mengejutkan dia tidak menolak ide akan memiliki anak bersama Epraim.


"Apa maksud ucapanmu itu?" Cyma bertanya polos.


"Hmmm, maksudnya dibandingkan menjadi teman belajar keturunan kerajaan kau lebih layak menjadi pendamping raja," jelasnya setengah berdusta.


Cyma yang mendengar kebohongan sahabatnya merasa senang. Apa-apaan ekspresi itu?


"Jangan bilang kau tertarik pada Ibrael?" tuding Aera setengah ngeri.


Cyma kembali tersenyum manis, "Kenapa tidak? kakak sepupumu itu memiliki ketampanan yang menggugah selera," jelasnya santai.


"Iihh, dasar!" Aera mendorong tubuh Cyma yang tengah duduk hingga terbaring di atas kasur. "Jangan membicarakan pria seolah-olah mereka adalah makanan. Itu hal yang menjijikkan!"


Cyma tergelak, dia tahu sahabatnya itu masih sangat polos jika menyangkut hubungan pria dan wanita dalam tanda kutip.