
Waktu telah menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh lima malam. Jarak menuju Istana Wazner kurang lebih tiga puluh menit lagi. Kendaraan umum Neitherland masih sibuk beroperasi. Beberapa single car air milik para anggota dewan dan kelas bangsawan tampak hilir mudik.
Aera melirik Epraim yang tengah mengemudi di samping kanannya. Sejak tadi matanya mengintai spion dan kaca di depannya. Aera juga merasa mereka sedang diawasi oleh sesuatu tetapi dia tidak peduli. Ucapan Gian di Maison Nil masih menyita perhatiannya.
Kira-kira apa pendapat Epraim? Aera tersentak oleh pikirannya sendiri. Apa peduliku tentang pendapatnya? sebagian dari dirinya mengingkari. Tapi aku sangat penasaran bagaimana pendapatnya. Sebagiannya lagi bersikukuh menghancurkan harga diri yang dibatasi dinding super tinggi.
"Kau berdebat lagi dengan pikiranmu," gumam Epraim melihat Aera menggeleng-geleng kesal.
"Mana mungkin!" Dia tidak tahu dan hanya menebak 'kan?
Dari sudut matanya Aera bisa melihat bibir sang Pangeran melungkung lebar. Dia meledekku?
"Kau penasaran mengenai jawabanku untuk tawaran Gian?" tanyanya yang membuat Aera ketar-ketir, takut Epraim memiliki teknologi yang mampu membaca pikiran. Jika benar bukankah itu sangat memalukan? bukan mengenai permintaan Gian yang ingin kembali menyatukan Neitherland dengan syarat perjodohan mereka dibatalkan. Namun, pada fakta Aera berharap Epraim memilih dirinya dibanding semua alasan politik yang sekarang tampak konyol dan menyebalkan.
"Kau berharap aku penasaran? jika kau ingin mengatakannya kenapa tidak langsung saja, berhenti melakukan hal yang konyol dan akan membuatmu kecewa!" ketus Aera bagaikan artis papan atas.
"Aktingmu luar biasa. Ternyata ungkapan yang mengatakan temanmu adalah cermin dirimu itu benar." Epraim tertawa sarkas tapi langsung terdiam saat Aera menatap dengan sorot tajam. "Jika kau memilihku aku tidak akan melepasmu."
Kedua mata Aera melebar, pengakuan Epraim yang tiba-tiba membuatnya sedikit bingung. "Hanya jika kau tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Jika benar begitu ...,"
"Aku bukan orang bodoh yang meninggalkan tunanganku demi suami wanita lain." Aera memotong ucapan Epraim yang terdengar ragu. Kini dia tahu pria di sampingnya tengah tersenyum penuh makna.
"Mungkin kau pernah mendengar atau merasa dulu aku tidak nyaman di dekatmu, kau tahu kenapa?"
Aera melempar tatapannya keluar jendela. Tekanan cepat yang menghantam tubuh limosinnya terasa kuat. Sesuatu tengah mengintai mereka. Kini pikirannya bercabang, pada hal yang asing di luar sana, dan kenangan percakapan dengan Leah sesat usai pertemuan mereka. Kini, Epraim menanyakan langsung seolah yang akan mereka bicarakan adalah perasaan orang lain. Atau, mungkin dia hanya ingin mengalihkan perhatian Aera agar tidak merasa takut?
Kedua netra biru Aera menyapu hangat tangan kanannya yang kini berada dalam genggaman Epraim. Dengan rengkuhannya yang hangat pria itu seolah mengatakan--jangan khawatir kita akan baik-baik saja. Aera mengangkat pandangannya menuju tepat ke arah mata sang Pangeran. Sebilah alisnya terangkat dan menunjuk dashboard.
"Kau bisa melihat sesuatu yang tidak tampak bukan?"
Ya, selama mereka bukan makhluk halus. Saat itu pula Aera menyadari maksud ucapan Epraim. Segera dia mengedip dua kali. Fungsi lensa optiknya pun aktif. Dibukanya laci dashboard, sebuah desert eagle terbaring disana. Aera meraih pistol yang menjadi favoritnya itu dan fokus menatap keluar jendela.
"Huwaa ...!" jeritnya terlonjak tetapi segera kembali berusaha tenang.
"Kau melihat hantu?" desis Epraim. Seringainya membuat Aera berdecak sebal.
"Mereka membidik dengan grenade launcher!"
Sebenarnya ini kali pertama Aera melihat jenis senjata itu. AI dari lensanya yang mengindentifikasi jenisnya.
"Aku harap kau juga tahu kita memiliki teknologi anti rudal. Epraim masih menjawab santai, tetapi laju mobilnya terasa melampaui batas normal.
Usai kembali menata pikirannya, Aera Aera merangkak naik ke atas kursi. Badannya berbalik dan membuka kaca belakang. Tubuhnya sedikit membungkuk dan berada dalam posisi membidik kendaraan lawan yang tertinggal satu meter dari arah depan.
Duuuuaarrrr ...!
"Bangssss ..." Aera menahan umpatannya karena tembakannya hanya meledak sia-sia. Mereka bahkan menggunakan pelindung yang sama tapi menyerang dengan cara curang. Dia melirik Epraim yang justru tersenyum.
"Kau bisa melihat berapa batas gempuran yang bisa mereka terima?"
Aera kembali fokus menatap ke arah lawan, "Enam kali. Bahkan mereka lebih unggul dua kali dari kita." Rasanya dia ingin kembali mengumpat tapi malas mendengar ceramah Epraim. Tentang tata krama kekaisaran. Tentang norma bahasa wanita bangsawan. Tentang semua hal yang telah dilenyapkan dari chip memorinya. Hal yang benar-benar tidak berguna dan membosankan dari sudut pandang seorang Aera.
Seketika sebuah gempuran kembali dari sisi kiri. Aera yang belum berbalik tanpa sabuk pengaman langsung terhuyung ke samping. Tubuhnya menindih Epraim yang tengah menyetir dan membuat stir berbelok tajam. Terkejut mendapat serangan tak terduga tanpa sengaja Epraim menginjak pedal gas dan membuat mobil mereka menerobos pembatas jalan. Terjun dari jalan layang tertinggi sepanjang sejarah, langsung menuju permukaan Nil yang gigil.
***
Bunyi derit mobil yang melaju dan berpacu dengan batas akhirnya. Wangi tubuhnya yang menggoda dan benturan demi benturan yang membawa kami menuju gelapnya Nil tanpa batas adalah hal terakhir yang merekat dalam benakku. Dekapannya yang semakin mengerat ketika gravitasi menarik kami hingga degup jantung seolah membeku. Dan tekanan air yang memecah semua kaca dan menyayat kulit. Dalam semua siksa neraka itu aku masih bisa mendengar ucapanmu yang seolah menjelma wahyu ilahi.
Aku mencintaiku, bisikmu sebelum melepas sebuah kecupan. Kita terurai oleh ribuan cahaya terang yang entah datang dari mana.
"Anda sudah sadar yang mulia?" Monect! pandanganku mengitari seisi ruangan. Tidak ada marmer berlapis ember yang menghiasi langit-langit kamar ketika mataku menatap vertikal menghadap matahari. Tidak ada jam analog yang seketika berubah menjadi aliran Nil setiap sepuluh menit berlalu. Tidak ada AI yang membacakan berita dan mengabari jadwalku hari ini.
Aku kembali menatap Monect. Ya, dia benar Monect, pelayan setia yang selalu di gnsampingku sejak dinobatkan menjadi putra mahkota. Pintu baja berlapis emas itu terbuka. Seorang wanita paruh baya berwajah peri tampak dan berjalan menujuku. Ibuku, dia masih hidup. Wajahnya jelas dipayungi awan mendung tetapi tidak menutupi rasa syukurnya melihatku kembali hidup.
Baiklah, ternyata aku telah kembali ke zamanku. Masa di mana tidak mungkin ada Aera di sini. Masa tanpa layar hologram dan AI yang kadang membuatku kesal. Masa 4000 tahun sebelum Neitherland menambah daftar peradaban umat manusia di bumi. Sebelumnya aku memang berharap bisa segera kembali. Tidak, aku telah berusaha sekuat tenaga untuk dapat kembali. Memburu The Art adalah salah satunya. Namun, setelah aku berhasil kembali. Setelah aku di sini. Setelah Neitherland dan semua kerusuhannya berhasil aku tinggalkan. Aku merasa ada yang hilang. Ada yang kurang. Ada yang terlupakan.
"Syukurlah, syukurlah kau selamat." Ibu memelukku sesegukan. Rambutnya yang wangi dan panjang mengingatkanku pada Aera.
Aku mencintaimu
Aku seolah bisa mendengar suaranya yang bergetar menantang gigil dalam rengkuhan derasnya Nil.
Kenapa aku harus kembali sekarang?
Aku bahkan belum membalas ucapannya yang tulus. Aku juga belum menunjukkan hatiku yang sesungguhnya. Hal yang paling aku sesali adalah kebodohanku yang tidak menyadari sosok Aera yang sesungguhnya. Selama ini aku hanya menatapnya sebagai seseorang gadis cantik yang membuat Epraim dilema karena membawa darah dari Roschiil, orang yang membunuh ibunya dengan cara paling keji.
Sepuluh tahun aku berdoa bisa kembali bertemu dengannya. Namun, ketika bertemu aku justru tidak mengenalinya. Jika ada yang paling aku benci setelah dewa, dia adalah takdir. Dengan memasang wajah polos dia menyaksikan drama kehidupanku tetapi tidak mengucapkan apapun kecuali di akhir waktu bersamanya. Kenapa pula aku tidak bisa melihat kalung itu sebelumnya.
Kekesalan Khufu membuat air matanya meluncur tanpa henti.
" Tidak apa-apa sayang, kau telah kembali dengan selamat." Ibunya mencoba menghibur. Usapan pada punggungnya terasa menenangkan. Kedua matanya terpejam. Ingatan pada sosok Aera yang terhempas oleh pukulan arus Nil dan menyibak sebagian bajunya hingga menampakkan kalungnya, membuatnya sadar dia adalah penyelamatnya. Gadis kecil yang tampak bagai malaikat. Gadis kecil yang menyelamatkan hidupnya dari ritual gila pendeta aliran sesat di hutan Thebes.
***
Holla, maaf ya baru bisa up lagi. Bulan ini aku digempur oleh dua kematian kerabat terdekat. Juga dihadiahi beragam kesibukan yang membuat waktu menulisku nyaris musnah. Untuk yang setia menunggu, Syukron katsiran 😁