Neitherland

Neitherland
Season II, Tim Aera



Neitherland, Januari 2076


Dua Minggu setelah kecelakaan yang menghancurkan mobil berlambang kekaisaran. Pinggiran sungai Nil yang berada di batas NU dan NS masih dipasangi garis polisi.


Bunyi berisik dari monitor elektrokardiogram menarik kesadaran Aera. Sebelum dia menyadari apa yang terjadi, di sekitarnya para perawat dan dokter menghampiri kasur sebelah dan mulai memainkan defribrilator. Suara tegas sang Dokter memaksanya membuka mata. Bertepatan di saat bunyi panjang bagaikan lonceng kematian berdering nyaring. Aera menoleh. Di antara selang infus yang menjuntai wajah pucat Epraim tampak jelas.


"Waktu kematian 03.00 dini hari 13 Januari 2076." suara seorang pria yang Aera taksir berada di kisaran usia 35 sampai 40.


Nafasnya terasa sesak. Dadanya seolah saling menindih. Katup matanya berat, di saat seperti ini dia sangat ingin menjadi manusia biasa. Hanya fokus pada sakitnya, tidak mengerti informasi luar yang tanpa sengaja hinggap ke terminal otaknya. Tidak mengapa, jika itu kabar baik. Tidak dengan duka yang kini membuatnya berpikir mati jauh lebih hidup dibandingkan hidup itu sendiri. Ironi.


Di saat semua rasa sakit itu ********** mentah-mentah, ingatan tentang kematian ibunya yang ternyata ulah ayahnya sendiri membayang dan menjadi tamparan kuat di ulu hatinya. Sebelum cairan hangat merah itu menyembur, dan teriakan dari monitor elektrokardiogram kembali menjerit, Aera menyadari perlahan orang-orang disekitarnya menghilang. Kedipan selanjutnya wajah Aiwan adalah yang pertama menyapa penglihatannya.


***


Gian berdiri di depan dua peti mati. Rasanya baru kemarin mereka berdiri bersama di depan peti Leah. Kini ke dua orang yang selalu menyapanya dengan senyum ramah sekalipun reaksinya selalu dingin telah tiada. Sebutir demi sebutir air matanya berjatuhan. Kenangan di masa kecil mereka berlarian di dalam benaknya.


"Reim yang menemukan Ayahmu dalam kondisi sekarat, dia membawanya menuju rumah sakit sayangnya luka lebar di sekujur tubuhnya mengundang maut lebih cepat dibanding dokter."


Gian menggeleng dengan senyum sinis,


"Kau mengatakan ini agar aku terlihat buruk 'kan? tapi bagaimana mungkin kebenaran itu bahkan luput dari publik? Bukankah aku juga adikmu?"


"Karena kalian semua adikku maka aku mengatakan yang sebenarnya."


"Jika itu yang sebenarnya kenapa dia tidak menyangkal semua berita yang membuatku ingin meledakkan kepalanya tiap kali bertemu!"


Kali ini Ibrael tersenyum tetapi sudut bibirnya menurun. "Kau tahu lebih dari siapapun, Epraim tidak pernah menyangkal apapun yang diberitakan jika itu hanya menyangkut dirinya."


Gian menghirup udara dengan rakus. Dadanya terasa sempit dan semakin mengecil. Ini aneh, dia yang merupakan pangeran paling sehat seketika mengidap asma akut dan membuatnya nyaris tewas. Air matanya terus mengalir. Kepalannya berkali-kali menyapa dadanya yang sesak. Berharap tinjunya bisa menghilangkan perasaan aneh yang mengganjal.


Satu yang pasti, kini dia benar-benar sebatang kara ....


Tidak kuat menahan emosi, Gian merosot ke lantai sembari memegang ke dua peti dengan tangannya yang kehilangan nafsu mengepal. Suaranya terbang ke alam bebas dengan tingkat kekuatan setara geledek.


"Bangun kalian brengsek!" teriaknya sebelum upacara pemakaman digelar.


***


Media elektronik, baik berupa siaran digital ataupun e-koran ramai memperbincangkan runtuhnya kekaisaran Neitherland yang telah berdiri setengah abad lamanya. Pergantian sistem pemerintahan beserta jajarannya menjadi topik hangat dari ujung gang Provdiv yang kini menjadi ibu kota NS hingga ke Cronus ibu kota NU. Di cafe-cafe hingga di antara kubikel pegawai kantor, di tengah seruputan kopi mereka yang hangat melawan gigitan dingin wilayah NU, atau di tengah coklat panas saat hujan badai di NS.


"Waktu yang tepat untuk perang," komentar Ries tepat setelah Mao Zemin memaparkan visi misinya sebagai presiden baru Neitherland Selatan.


"Maksudmu dengan Dmitry Fredkov? ya agak aneh mereka menjadi rival setelah bersekutu sekian lama."


"Sebatas itulah definisi teman dalam dunia politik. Tapi bukan mereka yang akan perang. Hanya salah satu di antara mereka, tepatnya siapa yang terpilih. Lawannya yang mulia Roschiil." Antonius menambahkan. Dia adalah prajurit khusus yang selama ini menyusup di antara anggota FSB, di bawah Dmitry Fredkov.


Ries menatap Aera yang sejak tadi membisu. Sebulan terakhir dia lebih banyak diam dan murung. Mereka memaklumi sikapnya tetapi juga tidak membiarkannya berlarut terlalu lama. "Kau ingin membalas mereka yang berada dibalik kematian keluarga kerajaankan?"


Aera masih bergeming, tetapi tatapannya seolah bisa memecah kaca tv, menampilkan perdebatan dua kubu politik yang berebut kursi presiden.


"Alasan mereka melakukan semua itu hanya untuk posisi terkutuk itu?" ucapnya tidak berniat bertanya pada siapapun.


"Bukan, lebih dari itu. Mereka ingin menekan Roschiil dan memegang kendali Neitherland." Kali ini Stego yang menjawab.


Tepat di hari Aiwan membawa Aera dari rumah sakit NS. Mereka berkumpul dan mengantisipasi pembatasan gerak para prajurit dan ilmuan. Hal yang benar terjadi dibawah perintah Mao Zemin. Tampaknya diabtahu benar langkah yang akan Roschiil ambil dan titik lemah yang membuatnya sedikit terkendali.


Semua yang berada di dalam ruangan seketika membisu mereka bergidik mendengar suara tawa Aera. "Bahkan kematian saja tidak cukup untuk mereka," lirih Aera.


Membuat siapa pun yang mendengar merinding ketakutan. Untuk kali pertamanya dia menatap semua orang yang berada di ruangan. Jumlah mereka kurang dari sepuluh. Aera mulai mengeluarkan racun yang selama ini dipendamnya. "Bukankah kalian semua ada disini untuk menghukum mereka? apa yang kalian ketahui tentang mereka?"


Karakter Aera yang mendominasi setiap moment kembali dengan cara seram. Masa inkubasi duka kepergian Epraim dan Ibrael dimulai setelah bulan pertama berakhir. Wajahnya kini berubah menjadi iblis bertopeng malaikat. Diamnya selama ini rupanya menjadi momok berubahnya seorang Aera. Dia mulai memaparkan keinginannya dan mengatur strategi. Semua tampak sistematis bercampur tragis untuk sebuah rencana yang lahir dari benak gadis berwajah rupawan sepertinya.


Mereka saling menatap. Ries dan Moana yang sebelumnya pernah bertemu Aera telah memahami karakter sang Ilmuan, bossy, tegas, dan selalu mengagumkan. Dia tersenyum mengabaikan beberapa pendatang baru yang merengut kesal setelah diusir keluar karena mengintrupsi Aera dan transparan mencela tindakannya yang berlagak seorang pemimpin kelompok.


"Aku telah mengatur misi pembasmian runut, rapi dengan tingkat efisiensi dan profesionalisme paling sadis. Jika harus hancur karena lalat sepertimu lebih baik keluar sekarang atau kau akan menjadi salah satu target yang akan menyesal karena pernah terlahir ke dunia yang busuk ini."


Jawaban Aera yang membungkam protes Aletta Van Jeer. Seorang Ilmuan bioteknologi yang masih dalam satu gedung dengan departemen fisika. Dia adalah Ilmuan terbaik dibidangnya yang bertugas mengontrol dan merevisi memori para mutan Roschiil dan para rekannya termasuk Dmitry Fredkov dan Mao Zedong.


"Jika ada yang tidak bisa bekerja sama dengan baik s baiknya keluar. Aku tidak cukup baik untuk menampung kalian dengan gratis di kediamanku yang sempit." Tiga dari delapan orang dalam ruangan yang baru mengenal Aera merasa tertohok. Harga diri menuntun mereka keluar dan memilih tidak peduli. Keputusan yang kelak akan mereka sesali seumur hidup.


***


(Maaf ya, semalem updatenya tanpa rencana. sepertinya aku gak sadar ngetik dan berakhir terbit dengan sangat kacau. Setelah bangun baru nyadar dan segera dibenahi. Untuk yang udah terlanjur baca maaf 🙏😊)